Demi Rp 288 juta untuk pengobatan adiknya, Senja menikah kontrak dengan Damar Adiwangsa, konglomerat dingin yang sepuluh tahun lebih tua dan memiliki seorang putri kecil. Mereka sepakat tidak melibatkan perasaan. Namun ketika Bintang mulai memanggil Senja Mama, rumah yang semula dingin berubah menjadi keluarga. Damar yang dahulu menganggap Senja matre perlahan menjadi suami posesif yang tak sanggup melepaskannya. Saat kontrak berakhir dan Senja bersiap pergi, Damar justru menagih satu hal yang tidak pernah tertulis dalam perjanjian: cintanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Bab 34
Camping di Lembang
Senja baru tertidur menjelang subuh.
Setiap kali memejamkan mata, ia kembali merasakan tarikan dasi di tangannya dan kehangatan bibir Damar. Ia sudah mandi, minum dua gelas air, bahkan menghitung mundur dari seratus. Tidak ada yang mampu menenangkan detak jantungnya.
Di kamar utama, Damar mengalami malam yang sama buruknya. Setelah berdiri terlalu lama di bawah pancuran dingin, ia kembali ke ranjang dan menemukan satu helai rambut Senja tersangkut di lengan bajunya, mungkin dari saat perempuan itu hampir jatuh. Benda kecil itu cukup membuat ingatannya berputar lagi.
Ia membuka laptop untuk bekerja, menutupnya setelah membaca surel yang sama tiga kali, lalu keluar ke balkon. Udara malam tidak cukup dingin untuk menghapus sensasi bibir Senja. Yang lebih mengganggu adalah kalimat perempuan itu sebelum keluar: hanya untuk menenangkan Bintang.
Jika hanya sandiwara, mengapa Senja bertahan beberapa detik? Mengapa nadinya begitu cepat ketika ia memegang sikunya? Damar menyusun pertanyaan seperti laporan, tetapi tidak satu pun menghasilkan jawaban yang dapat dipercaya.
Pada pukul dua, ia hampir mengirim pesan singkat: `Kamu belum tidur?` Jarinya berhenti di atas layar. Menghubungi istri yang tidur dua kamar dari dirinya terasa lebih memalukan daripada menghadapi rapat pemegang saham. Pesan itu akhirnya dihapus sebelum dikirim.
Di kamar Bintang, Senja juga sempat membuka percakapan mereka. Tidak ada pesan baru. Ia merasa bodoh karena kecewa, lalu membalikkan ponsel dan memaksa diri tidur.
Pagi berikutnya, Senja terlambat turun.
Bintang sudah duduk di meja makan dengan pakaian santai. Damar mengenakan kaus gelap dan celana khaki, tanpa jas atau dasi. Penampilannya membuat ia terlihat lebih muda, tetapi juga menonjolkan bahu yang semalam sempat disentuh Senja.
"Mama bangun!" seru Bintang. "Semalam Mama muter-muter terus. Pagi juga susah dibangunin."
Senja hampir tersandung anak tangga terakhir. "Bintang belum tidur waktu Mama masuk?"
"Sudah, terus bangun sedikit. Mama pegang bibir sambil senyum."
Damar menunduk pada kopinya. Ujung bibirnya bergerak.
"Mama enggak senyum. Mungkin Bintang mimpi."
"Papa juga kurang tidur," lanjut anak itu. "Matanya merah."
Kini giliran Senja menahan senyum. Tatapan mereka bertemu, lalu sama-sama dialihkan.
Damar mendorong segelas susu ke arah Senja. "Kalau masih tidak enak badan, kita kontrol hari ini."
"Saya sehat. Cuma tidur terlambat."
"Bahu?"
"Enggak sakit."
"Pemeriksaan osteoporosis tetap bulan depan. Jangan lupa."
Nada Damar jauh lebih lembut daripada kemarin. Senja bertanya-tanya apakah ciuman itu benar-benar mengubah sesuatu, kemudian segera melarang dirinya berharap.
Bintang mengangkat kedua tangan. "Hari ini kita camping!"
"Tidak ada rencana camping," kata Damar.
"Sekarang ada. Nara pernah camping di Lembang. Ada tenda, danau, sama api. Papa-Mama harus ikut."
Damar melihat Senja, bukan langsung menolak. "Kamu sanggup perjalanan jauh?"
"Kalau berhenti untuk istirahat dan saya enggak disuruh angkat barang, bisa."
"Kita berangkat setelah sarapan."
"Mas enggak ada jadwal?"
"Hari Minggu."
"Biasanya hari Minggu juga kerja."
"Hari ini tidak."
Damar menjawab sambil melihat Bintang, tetapi Senja menangkap bahwa keputusan itu dibuat setelah menanyakan kesanggupannya. Sesuatu yang hangat berkembang di dada, lalu buru-buru ia tekan dengan alasan bahwa perjalanan ini demi anak.
Bik Inah menyusun daftar obat, jaket, makanan ringan yang aman untuk perut Bintang, serta bantal penyangga pinggang Senja. Damar memeriksa semuanya sendiri. Ia menolak membawa staf rumah tangga dan hanya meminta petugas lokasi menyiapkan perlengkapan berat.
"Camping kok bawa obat satu tas," protes Bintang.
"Supaya kita tidak pulang cepat," jawab Senja.
Anak itu langsung membantu memasukkan termometer, meski meletakkannya di antara krayon dan boneka.
Bintang menjerit senang dan berlari mencari tas. Bik Inah segera mengejar untuk mencegahnya membawa seluruh boneka.
Menjelang siang, mereka melaju dari Jakarta menuju Lembang melalui Tol Cipularang. Damar menyetir sendiri. Bintang bernyanyi di kursi belakang sampai tertidur, kepalanya jatuh ke paha Senja.
Melalui kaca tengah, Damar mengamati istrinya. Tubuh Senja tidak sampai bahunya, wajahnya polos tanpa riasan, dan rambutnya diikat sederhana. Perbedaan sepuluh tahun terasa semakin jelas ketika ia memakai celana jins dan sepatu olahraga putih.
Ketika Senja tertidur sebentar, kepalanya miring ke jendela. Damar menurunkan kecepatan saat jalan bergelombang. Ia juga mengecilkan musik tanpa sadar.
"Papa lihat Mama terus," gumam Bintang yang ternyata belum benar-benar tidur.
"Papa lihat jalan."
"Jalannya di depan. Mama di belakang."
Senja membuka mata. Damar berdeham dan mengganti jalur. "Tidur lagi."
Bintang tersenyum licik seperti anak yang baru menemukan rahasia, lalu menutup mata sambil tetap menggenggam tangan Senja.
Menikahi perempuan semuda itu kadang terasa seperti melakukan kesalahan, pikir Damar. Namun Senja sendiri yang menyetujui akad, lalu justru membangun tembok setiap kali ia mendekat.
"Kenapa lihat-lihat?" tanya Senja tanpa mengangkat kepala.
Damar mengembalikan pandangan ke jalan. "Memastikan kamu tidak pusing."
"Saya baik."
"Kamu selalu bilang begitu."
Mereka berhenti di rest area. Damar menyuruh Senja berjalan pelan selama sepuluh menit dan membelikan air hangat, sementara ia sendiri menggendong Bintang yang masih tidur. Beberapa orang memandang keluarga kecil itu, tetapi kali ini tidak ada yang mengenali Damar dalam pakaian santai.
Udara Lembang lebih dingin ketika mereka tiba. Pinus mengelilingi area tenda, dan permukaan danau memantulkan langit pucat. Senja menarik napas panjang, menikmati aroma tanah basah yang tidak pernah ada di pusat Jakarta.
Bintang langsung berlari mengejar kupu-kupu, membuat kedua orang dewasa memanggilnya bersamaan. Ia berhenti di batas jalur batu dan kembali dengan wajah berseri.
"Papa-Mama kompak."
"Kami kompak kalau kamu hampir jatuh ke danau," kata Damar.
Petugas lokasi menjelaskan batas aman, lokasi toilet, titik api, dan nomor darurat. Damar mengulang aturan kepada Bintang: tidak mendekati air tanpa orang dewasa, tidak keluar dari area tenda sendirian, dan tidak menyentuh kompor. Bintang mengangguk pada setiap larangan, lalu bertanya kapan boleh makan marshmallow.
Senja menyimpan nomor petugas dan memeriksa sinyal ponsel. Naluri perawatnya membuat ia juga melihat jarak ke klinik terdekat. Damar memperhatikan tanpa mengejek. Kehati-hatian Senja adalah satu dari sedikit hal yang selalu ia percayai sejak awal.
"Mama bawa tas ini," kata Bintang sambil menyerahkan ransel kecil.
Damar mengambilnya lebih dulu. "Mama tidak bawa apa pun."
"Isinya cuma krayon."
"Tetap tidak."
Senja hendak mengambil gulungan tikar, tetapi Damar menahan pergelangannya. "Aku sudah bilang jangan angkat. Jaga Bintang."
"Saya bukan pajangan."
"Kalau kamu jatuh lagi, kita pulang sekarang."
Nada keras itu membuat Senja diam. Damar sebenarnya takut melihatnya kembali kesakitan, tetapi yang terdengar hanya perintah.
Senja membawa Bintang berjalan di tepi jalur sambil mengumpulkan daun pinus. Dari kejauhan ia melihat Damar memasang tenda sendiri meski petugas sudah menawarkan bantuan. Kausnya menempel di punggung karena keringat, dan gerakannya efisien seolah ia memang sering bekerja dengan tangan, bukan hanya menandatangani dokumen.
"Papa hebat," kata Bintang.
"Iya."
Jawaban Senja keluar terlalu lembut. Damar menoleh pada saat yang sama, seakan mendengarnya meski jarak mereka cukup jauh.
Saat ia dan petugas memasang tenda, dua perempuan muda berjalan lewat.
"Ayahnya keren juga," bisik salah satu dari mereka, cukup keras untuk terdengar. "Bawa dua anak perempuan camping sendiri."
Temannya melirik Senja. "Yang besar mungkin masih kuliah."
Palu di tangan Damar berhenti.
Senja menutup mulut agar tidak tertawa. "Ayah, perlu bantuan?"
Damar menatapnya tajam. "Jangan mulai."
"Saya enggak bilang apa-apa."
"Wajahmu mengatakannya."
Ia memilih tempat tenda yang lebih jauh dari keramaian. Setiap kali Senja mencoba membantu, ia menyuruhnya duduk dengan suara semakin dingin. Senja yang tadinya terhibur mulai merasa bersalah. Mungkin Damar memang masih menyesali ciuman semalam dan komentar orang hanya memperburuk suasana.
Setelah tenda berdiri, Bintang mengeluarkan ponsel khusus anak dari tas. "Foto keluarga!"
"Foto sama Mama saja," kata Damar sambil merapikan pasak.
"Harus bertiga."
"Papa sedang sibuk."
"Tendanya sudah jadi."
Bintang meminta seorang pengunjung perempuan membantu memotret. Gadis itu bersedia dan menunggu dengan ponsel terangkat, tetapi Damar tetap berdiri jauh.
"Papa sini!" Bintang menepuk tikar. "Papa sama Mama harus sebelahan."
"Kalian foto dulu."
Mata Bintang mulai berkaca-kaca. "Kemarin Papa janji sayang-sayangan. Sekarang foto aja nggak mau."
Senja memandang Damar. Ia ingin meminta, tetapi rasa sakit karena berkali-kali dibentak menahan suaranya. Damar melihat jarak di antara mereka, mendengar tawa samar orang-orang yang menganggapnya ayah Senja, dan merasakan usia tiga puluh dua seperti angka yang tiba-tiba terlalu besar.
Gadis pemegang ponsel tersenyum canggung. Bintang menarik tangan Senja ke tengah tikar, menyisakan tempat kosong di sebelahnya.
Senja dapat saja membujuk Bintang berfoto berdua lebih dulu. Namun gambar keluarga di dinding sekolah kembali terbayang, terutama sosok ayah yang digambar memegang tangan mereka. Foto ini mungkin hanya tersimpan di ponsel, tetapi bagi anak lima tahun, benda kecil semacam itu adalah bukti bahwa janji orang dewasa pernah nyata.
"Mas," panggil Senja akhirnya. "Satu foto saja."
Damar memandangnya. Tidak ada ejekan tentang usia di wajah Senja, hanya permintaan tenang yang membuat penolakannya terasa kekanak-kanakan. Meski begitu, langkahnya masih tertahan oleh rasa malu yang tidak bisa ia jelaskan.
"Papa harus di sini," katanya keras kepala. "Kalau enggak, Bintang enggak mau foto."
Damar berdiri dengan rahang tegang, terperangkap antara gengsi dan mata anaknya yang kembali basah.