Sepuluh tahun lalu, orang tua Halra Wiragata tewas mengenaskan setelah sistem mobil listrik mereka diretas secara sadis oleh Dinasti Joharo. Kini, tepat di usianya yang ke-17, takdir mempermainkan Halra dengan cara yang paling kejam: ia dipaksa menikah dengan Sano Joharo, putra bungsu dari pembunuh orang tuanya.
Terjebak di dalam mansion siber milik Sano yang serba otomatis, paranoia Halra memuncak. Demi melindungi diri dari sang suami yang dingin dan berbahaya, Halra nekat menyewa Tazam, pengawal pribadi tampan untuk berpura-pura menjadi kekasih gelapnya demi memicu kecemburuan Sano.
Namun, permainan api itu justru membongkar konspirasi berdarah yang jauh lebih besar. Saat topeng-topeng mulai runtuh di bawah satu atap, Halra harus menghadapi kenyataan mengerikan: Siapakah yang sebenarnya menjadi tameng terakhirnya, dan siapa musuh dalam selimut yang siap melenyapkannya dari balik server?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellsqueen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai di Balik Pintu Paviliun
Hujan turun dengan intensitas yang mengerikan malam itu. Guntur menggelegar di atas langit Wiragata, seolah menjadi latar belakang yang sempurna untuk kekacauan yang sedang berlangsung.
Sano Joharo duduk di dalam mobilnya yang terparkir di depan paviliun, kepalanya terasa berdenyut hebat akibat alkohol yang belum sepenuhnya hilang dari sistem tubuhnya.
Sebelum ia mematikan mesin, ponselnya bergetar hebat. Notifikasi demi notifikasi muncul di layar—pembelian set perhiasan berlian seharga miliaran, butik desainer kelas atas, dan perlengkapan kecantikan eksklusif.
Sano menatap angka-angka tersebut dengan alis berkerut. Ini adalah pertama kalinya Halra menyentuh kartu utamanya dengan jumlah yang begitu fantastis.
Anehnya, Sano tidak merasa marah karena uang yang hilang. Ia justru merasakan sensasi aneh di dadanya.
Apakah ini cara Halra untuk "memakainya"? Apakah ini cara istrinya untuk menyatakan perang? Sano mendengus pelan, sebuah senyum getir tersungging di bibirnya.
Baginya, uang itu hanyalah kertas; yang membuatnya sesak bukanlah nominalnya, melainkan jarak yang kini diciptakan Halra di antara mereka.
Dengan langkah sempoyongan karena pengaruh alkohol yang tersisa, Sano keluar dari mobil. Hujan mengguyur tubuhnya hingga basah kuyup dalam hitungan detik. Ia berjalan menuju paviliun dengan tatapan tajam yang menyimpan sejuta lelah.
Saat ia tiba di depan pintu paviliun, ia tertegun. Tazam, pengawal yang biasanya menjadi bayangan Halra, tidak ada di posnya. Keadaan paviliun begitu sunyi, hanya suara gemericik air hujan yang menghantam jendela.
Tanpa berpikir panjang—karena hasrat untuk melihat wajah istrinya sudah tak tertahankan—Sano mendorong pintu paviliun yang ternyata tidak terkunci rapat.
Ia masuk tanpa suara. Suasana di dalam begitu hangat dan harum, sangat kontras dengan dinginnya dunia luar.
Sano berjalan menuju kamar utama, langkahnya yang berat diredam oleh karpet tebal. Pintu kamar sedikit terbuka, dan di sana, pemandangan itu menyambutnya.
Halra sedang terlelap dalam kenyamanan sutra. Gaun tidur tipisnya tersingkap, memperlihatkan paha yang jenjang, putih, dan mulus di bawah temaram lampu tidur yang remang-remang. Rambut hitamnya tergerai indah di atas bantal. Sano berdiri di ambang pintu, menahan napas.
Ia merasa seperti pengintip di rumahnya sendiri. Hasrat, rasa bersalah, dan kerinduan bercampur menjadi satu.
Perlahan, Sano merayap naik ke tempat tidur. Setiap gerakannya sangat hati-hati agar tidak membangunkannya.
Ia membaringkan tubuhnya di balik punggung Halra, merasakan hangat tubuh istrinya yang selama dua minggu ini terasa begitu jauh. Dengan jemari yang gemetar, Sano melingkarkan lengannya di pinggang Halra, memeluknya dengan erat seolah takut wanita itu akan menguap jika ia melepaskan rengkuhannya.
Halra tersentak. Ia terbangun seketika, matanya melebar saat menyadari ada seseorang yang memeluknya dari belakang. Aroma alkohol yang menyengat dan parfum maskulin yang sangat ia kenali membuat bulu kuduknya berdiri.
"Sano?!" Halra memutar tubuhnya dengan cepat, matanya membelalak penuh kemarahan. Ia hendak melontarkan makian paling tajam yang ia miliki, namun suaranya tersangkut di tenggorokan saat melihat kondisi suaminya.
Sano terlihat hancur. Wajahnya pucat, matanya merah karena kelelahan dan mabuk, dan rambutnya basah karena air hujan. Tatapan mata Sano yang biasanya penuh intimidasi kini tampak begitu rapuh, seolah ia adalah pria yang baru saja kalah dalam perang besar.
"Jangan berteriak," bisik Sano parau, hampir menyerupai permohonan. Kepalanya ia sandarkan di bahu Halra, napasnya yang berat terasa hangat di kulit leher istrinya. "Kumohon... biarkan aku seperti ini saja untuk malam ini. Hanya malam ini saja, Halra."
Amarah yang sudah di ujung lidah Halra tertahan. Ia ingin mendorong pria ini, ingin memukulnya karena telah berani menyentuhnya setelah apa yang ia lihat di klub malam, namun ada sesuatu dalam cara Sano memeluknya , sesuatu yang jujur dan tak berdaya yang membuatnya ragu.
Halra menegang, matanya menatap langit-langit kamar dengan napas yang memburu. Ia teringat Nenek Daisa. Neneknya sedang menginap di rumah utama malam ini. Jika ia membuat keributan, jika ia berteriak dan memanggil Tazam, Nenek Daisa pasti akan mendengar.
Ia tidak bisa membiarkan wanita tua itu melihat retakan di rumah tangganya, apalagi melihat Sano dalam kondisi yang memalukan seperti ini.
"Kau mabuk, Sano," ucap Halra dingin, meski tangannya tidak lagi mencoba melepas pelukan itu.
"Kau bau alkohol dan kau menjijikkan."
"Aku tahu," jawab Sano pelan.
Pelukannya justru semakin mengerat. "Aku tahu aku telah membuat banyak kesalahan. Aku tahu kau membenciku. Tapi tolong... jangan buat aku merasa lebih hancur dari ini."
Halra memejamkan mata.
Kebencian di hatinya tidak hilang, namun ia memilih untuk membiarkan keadaan tetap tenang demi menjaga kehormatan keluarga Wiragata di depan sang nenek. Ia menahan napas saat Sano semakin menenggelamkan wajahnya di lehernya.
Halra merasa seolah-olah ia sedang terjebak di tengah badai—di luar sana hujan sedang mengamuk, dan di dalam sini, pria yang seharusnya ia cintai sedang mencoba menghancurkan pertahanannya.
"Tidurlah," ucap Halra akhirnya dengan nada yang datar, seolah ia sedang berbicara dengan orang asing.
"Besok pagi, aku ingin kau keluar dari paviliun ini sebelum matahari terbit. Dan jangan pernah berpikir bahwa pelukan ini mengubah fakta bahwa aku membencimu, Sano Joharo."
Sano tidak menjawab. Ia hanya terus memeluknya, memejamkan mata dengan air mata yang hampir menetes di sudut matanya—sebuah pemandangan yang tidak akan pernah dilihat oleh siapa pun.
Sano tahu bahwa Halra sudah tidak lagi miliknya, bahwa ia sedang memeluk cangkang dari wanita yang dulu pernah ia miliki.
Di balik pintu yang tertutup rapat, suasana paviliun menjadi sunyi. Hanya suara detak jantung mereka yang saling bersahutan di tengah malam yang dingin. Bagi Halra, ini adalah malam yang panjang, di mana ia harus tetap terjaga, menahan benci di balik topeng diam, sementara Sano terlelap dalam pelarian yang menyakitkan.
Halra menatap keluar jendela, ke arah kilatan petir yang menyambar. Ia tahu badai di luar sana akan reda, namun badai di antara mereka baru saja mencapai puncaknya. Dan besok, saat matahari terbit, ia akan memastikan bahwa Sano membayar setiap detik dari malam yang memuakkan ini.
Malam yang sangat intens bagi keduanya. Bagaimana perasaan Halra besok paginya saat dia melihat Sano yang tertidur pulas, dan apakah dia akan benar-benar mengusir Sano seperti yang dia katakan?