NovelToon NovelToon
Ditinggal Tunangan, Dinikahi Petugas Damkar

Ditinggal Tunangan, Dinikahi Petugas Damkar

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Pelakor jahat / Rebirth For Love
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lover

Dikhianati suami tercinta selama tujuh tahun, Nadira baru tahu Raka sengaja menghalangi kehamilannya demi cinta lamanya. Saat nyawanya hampir habis, ia terlahir kembali ke malam kebakaran sebelum hari akad.
Melihat Raka meninggalkannya di api demi wanita itu, Nadira membatalkan pernikahan dan menikah kilat dengan Bima, petugas Damkar yang menyelamatkannya. Pernikahan kontrak demi balas dendam ini justru memberinya cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1

Kiana Lim membuka mata di tengah panas yang seperti menempel langsung ke kulit.

Asap hitam menggulung di langit-langit bar. Lampu gantung yang tadi pasti mewah kini bergoyang patah, memercikkan api kecil ke lantai kayu. Alarm kebakaran menjerit tanpa henti, bercampur teriakan orang-orang yang berlari saling dorong menuju pintu keluar.

Kiana mencoba bangkit.

Rasa sakit langsung menyambar dari pergelangan kakinya.

Ia jatuh lagi ke atas pecahan kaca. Telapak tangannya tergores, darah hangat merembes di sela jari. Gaun putih yang ia pakai sudah kotor oleh abu dan air sprinkler yang terlambat menyala. Setiap tarikan napas terasa seperti menelan pasir panas.

Di depannya, hanya beberapa langkah dari tubuhnya, Jovian Loe muncul dari balik asap.

Untuk satu detik, jantung Kiana seperti menemukan jalan pulang. Tujuh tahun kebiasaan hampir membuat namanya keluar dari bibir.

"Jovian..."

Pria itu menoleh.

Matanya bertemu mata Kiana.

Kiana melihatnya jelas. Bukan panik. Bukan terkejut. Bukan tatapan pria yang baru menemukan tunangannya tergeletak dengan kaki terluka.

Itu tatapan seseorang yang sudah tahu.

Tatapan yang dingin, berat, dan penuh keputusan.

"Tolong aku," suara Kiana pecah, tertahan asap. "Kakiku..."

Jovian hanya berhenti setengah detik.

Lalu, dari balik meja yang roboh, terdengar suara lemah seorang perempuan.

"Jovian..."

Vanya Pai.

Nama itu seperti pisau kecil yang sudah lama tertanam di dada Kiana, lalu malam ini diputar sekali lagi.

Jovian langsung bergerak.

Ia melewati Kiana.

Sepatu kulit hitamnya hampir menyentuh ujung gaun Kiana. Bahkan ketika Kiana secara refleks meraih celananya, Jovian menarik kaki tanpa melihat ke bawah. Ia berlari ke arah Vanya yang pingsan di dekat sofa, mengangkat tubuh perempuan itu ke dalam pelukannya, lalu berbalik menuju pintu keluar.

Kiana menatap punggungnya.

Punggung yang pernah ia tunggu pulang selama tujuh tahun. Punggung yang pernah ia peluk dari belakang ketika Jovian pulang larut dan berkata ia lelah. Punggung yang sama, malam ini, memilih menjauh saat api merambat ke arahnya.

Asap menutup pandangannya. Tenggorokan Kiana perih. Namun anehnya, yang paling sakit bukan luka di kaki atau kaca di telapak tangan.

Yang paling sakit adalah ingatan.

Bau asap berubah menjadi bau disinfektan rumah sakit.

Dalam ingatan itu, Kiana duduk di kursi panjang koridor klinik fertilitas. Tubuhnya lemas setelah prosedur inseminasi yang ketiga. Perut bawahnya nyeri, punggungnya dingin, dan tangannya memegang hasil pemeriksaan yang lagi-lagi berakhir dengan satu kalimat singkat.

Gagal.

Di balik pintu yang tidak tertutup rapat, suara dokter terdengar lirih, tetapi cukup jelas untuk menghancurkan seluruh hidupnya.

"Tubuh Bu Kiana sudah terlalu kacau. Kalau konsumsi obat pencegah kehamilan itu terus berlangsung, program apa pun akan sulit berhasil."

Suara perawat terdengar ragu. "Tapi suaminya bilang jangan beri tahu beliau, Dok."

"Saya tahu. Tapi ini sudah keterlaluan. Tujuh tahun dia datang ke sini, menahan sakit, sementara prianya sendiri tidak ingin dia hamil."

Kiana ingat bagaimana ia berdiri di koridor itu dengan tangan gemetar. Dunia tidak runtuh dengan suara keras. Dunia runtuh pelan, seperti kaca retak dari satu titik kecil, lalu menyebar ke seluruh permukaan.

Tujuh tahun ia meminum ramuan yang dikatakan Jovian baik untuk rahimnya. Tujuh tahun ia menahan suntikan, pemeriksaan kesuburan, komentar keluarga, dan tatapan kasihan orang-orang.

Padahal, pria itu sejak awal tidak pernah menginginkan anak darinya dan dengan licik memberinya ramuan agar rahimnya kering, dan berdusta bahwa itu ramuan penyubur kandungan.

Api di bar meledak di sisi kiri. Kiana tersentak kembali ke kenyataan. Sebuah botol minuman pecah oleh panas. Cairan alkohol menyambar lidah api, membuat kobaran merayap lebih cepat.

Ia menyeret tubuh mundur, tetapi pergelangan kakinya seperti dihantam palu. Lututnya gemetar. Napasnya makin pendek.

Dalam kilatan panas berikutnya, ingatan lain menerobos.

Rumah Keluarga Loe. Malam hujan. Kiana berdiri di ruang kerja Jovian setelah pembantu mengatakan tas kerja Jovian tertinggal. Ia hanya ingin mengambil dokumen yang diminta Jovian lewat telepon.

Namun resleting kompartemen samping tas itu terbuka.

Sebuah blister pil kecil jatuh ke karpet.

Kiana memungutnya. Nama obat itu tidak ia kenal, tetapi ia sudah terlalu sering membaca forum kesuburan dan artikel medis selama bertahun-tahun. Ia tahu bentuk pil pencegah kehamilan. Ia tahu, meski hatinya menolak sebelum pikirannya sempat menyusun bukti.

Di bawah kotak obat itu, ada selembar foto lama.

Jovian muda berdiri di halaman sekolah, masih dengan seragam putih abu-abu. Di sampingnya, Vanya tersenyum dengan rambut panjang tergerai, tangan mereka saling bertautan. Di belakang foto, tertulis dengan tinta biru yang sudah sedikit pudar.

Terima kasih karena selalu memilihku.

V.

Kiana ingat lututnya melemas malam itu.

Ia juga ingat Jovian masuk, mengambil foto itu dari tangannya, lalu berkata dengan suara yang sangat tenang, "Jangan berpikir macam-macam. Itu masa lalu."

Masa lalu.

Namun yang lebih menyakitkan dari foto itu adalah kenangan tentang bagaimana ia bisa sampai di titik itu. Kiana mengingat awal semuanya.

Ibunya, Lily Lim, sejak awal tidak pernah menyetujui hubungannya dengan Jovian. Bukan karena Jovian miskin atau tidak berpendidikan. Lily Lim melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain.

"Anak itu tidak mencintaimu," kata ibunya suatu malam.

Tetapi Kiana sudah terlanjur buta. Tujuh tahun ia mengejar, menunggu, berharap. Ketika akhirnya mereka berpacaran lalu bertunangan diam-diam, Lily Lim masih setengah hati. Frustasi dengan ibunya, Kiana nekat ingin membuat dirinya hamil.

Cinta butalah yang membawanya ke klinik fertilitas. Jika ia hamil, maka ibunya akan merestui hubungan mereka.

Ketika akhirnya ia memberi tahu Jovian bahwa ia ingin ikut program hamil, Jovian tampak terkejut, tetapi kemudian tersenyum lembut dan berkata, "Kalau itu yang kau mau, aku dukung."

Waktu itu ia tidak tahu bahwa dukungan itu adalah kebohongan.

Di bar yang terbakar, Kiana tertawa pelan. Suaranya pecah menjadi batuk. Air mata keluar bukan karena ia ingin menangis, melainkan karena asap membuat matanya perih.

Kiana menoleh ke arah pintu keluar. Di sana, bayangan Jovian sudah hampir hilang bersama Vanya di pelukannya. Beberapa orang menjerit meminta tolong. Petugas keamanan berusaha membuka jalur, tetapi sebagian plafon jatuh dan menutup separuh pintu.

Jovian tidak menoleh lagi.

Sama seperti tujuh tahun pernikahan mereka.

Setiap kali Kiana sakit, Jovian malah menoleh ke Vanya. Setiap kali Kiana memohon jawaban, Jovian menutup pintu. Setiap kali Kiana hampir menyerah, ia datang dengan senyum lembut, menyuapi sup herbal, lalu berkata, "Bertahan sedikit lagi. Kita pasti punya anak."

Kita.

Betapa mudahnya kata itu dipakai untuk menipu seorang perempuan yang ingin percaya.

Api semakin dekat. Ujung rambut Kiana terasa kering. Suara sirene dari luar mulai terdengar, tetapi jaraknya seperti berasal dari dunia lain.

Kiana mencoba berdiri sekali lagi. Kali ini ia menggigit bibir sampai terasa asin oleh darah. Tangannya mencengkeram kaki meja yang patah. Ia berhasil mengangkat tubuh setengah, lalu jatuh lagi ketika nyeri menyambar.

"Jovian!" teriak seseorang dari luar.

"Di sini! Vanya masih bernapas!" suara Jovian membalas.

Kiana menutup mata.

Ia tidak lagi berteriak.

Ada titik ketika hati yang terlalu sering dipatahkan akhirnya berhenti meminta.

Kiana menekan telapak tangannya ke lantai. Pecahan kaca masuk lebih dalam ke kulit. Rasa sakit itu membuat kepalanya sedikit jernih. Ia tidak mau mati di sini. Tidak di malam ketika ia akhirnya melihat kebenaran kedua kalinya.

Kedua kalinya.

Pikiran itu muncul seperti kilat.

Mengapa ia tahu semua ini?

Bukankah ia sudah mati?

Ia ingat malam terakhir di kehidupan sebelumnya. Ingat ranjang rumah sakit. Ingat suara monitor yang menipis. Ingat Jovian berdiri di samping tempat tidurnya dengan wajah pucat, bibirnya bergerak seperti hendak menjelaskan sesuatu yang sudah terlambat.

Ia ingat rasa dingin menjalar dari ujung kaki sampai dada.

Lalu, ia membuka mata di bar ini.

Tanggal 18 Mei 2026.

Malam kebakaran yang seharusnya menjadi malam sebelum pernikahannya dengan Jovian.

Takdir melemparkannya kembali ke titik awal. Namun takdir juga cukup kejam untuk memperlihatkan jawaban lebih dulu.

Jovian kembali juga.

Kiana tahu dari tatapan tadi. Dari cara pria itu berhenti sejenak, bukan karena bingung, melainkan karena memilih. Dari cara ia tidak bertanya mengapa Kiana memanggilnya dengan nada seorang istri yang sudah hancur, bukan nada seorang calon pengantin.

Dia ingat kehidupan mereka sebelumnya.

Dan setelah mengingat semuanya, pilihan pertamanya tetap Vanya.

Tawa Kiana berubah menjadi batuk panjang. Dadanya seperti robek. Ia menunduk, menekan perut, berusaha mengambil udara yang sudah tercampur asap.

Saat itulah suara berat menembus kekacauan.

"Ada korban di sini!"

Kiana memaksa matanya terbuka.

Sosok tinggi berseragam pemadam masuk dari sisi yang dipenuhi asap. Helm dan masker menutupi sebagian besar wajahnya. Lampu kecil di bahunya menyapu lantai, berhenti tepat pada tubuh Kiana.

Ia bergerak cepat, tetapi tidak panik. Satu tangan menyingkirkan serpihan kayu panas, tangan lain memeriksa nadi di leher Kiana.

"Masih sadar?" tanyanya.

Kiana ingin menjawab, tetapi tenggorokannya hanya mengeluarkan suara serak.

"Jangan tidur." Suaranya rendah, tegas. "Lihat saya."

Kiana menatapnya.

Di balik masker buram itu, ia hanya bisa melihat sepasang mata. Gelap, tajam, dan tidak goyah. Tidak ada janji manis di sana. Tidak ada kata-kata yang membuat hati melunak.

Hanya keputusan yang sangat sederhana.

Dia akan mengeluarkannya dari sini.

Pemadam itu melepas sarung tangan luarnya sebentar untuk menekan kain basah ke mulut Kiana. "Tarik napas pelan. Kaki kiri cedera?"

Kiana mengangguk lemah.

"Saya angkat."

Sebelum Kiana sempat bereaksi, tubuhnya sudah terangkat dari lantai. Lengannya secara refleks melingkar di bahu pria itu. Bau asap, keringat, logam panas, dan sedikit aroma deterjen menempel pada seragamnya. Di balik semua kekacauan itu, pelukannya kokoh.

Kiana menoleh sekali lagi ke arah pintu keluar.

Asap menelan ruangan. Ia tidak lagi bisa melihat Jovian.

Aneh sekali. Tujuh tahun ia mengejar pria itu, tetapi pada malam ia hampir mati, yang tersisa justru lengan orang asing yang membawanya menjauh dari api.

Sebuah balok kayu jatuh dari langit-langit. Pemadam itu memutar tubuh, menjadikan punggungnya sebagai tameng. Kiana mendengar bunyi keras menghantam perlengkapan di belakangnya. Pria itu hanya mengerang pendek, lalu terus berjalan.

"Kamu terluka?" bisik Kiana tanpa sadar.

"Bukan urusanmu sekarang," jawabnya singkat. "Tetap sadar."

Jovian punya tujuh tahun untuk menyelamatkannya dan memilih menghancurkannya pelan-pelan.

Orang asing ini baru mengenalnya beberapa menit, tetapi memakai tubuhnya sendiri untuk menahan api.

Udara malam menghantam wajah Kiana ketika mereka akhirnya keluar. Suara sirene, teriakan petugas, dan kamera ponsel para pengunjung yang selamat langsung menyerbu. Kiana diletakkan di tandu. Petugas medis mendekat, memasang masker oksigen.

Sebelum pandangannya kabur, ia melihat pemadam itu berdiri di sisi tandu. Maskernya dilepas sebentar. Cahaya lampu ambulans jatuh di garis rahangnya yang tegas, hidungnya yang lurus, dan bibirnya yang terkatup rapat.

Wajah yang asing, tetapi entah kenapa menancap di ingatan Kiana.

"Nama..." Kiana berusaha bicara.

Pria itu menunduk sedikit.

"Jangan bicara dulu."

"Nama kamu..."

Ia diam satu detik, seolah pertanyaan itu tidak penting.

Lalu seseorang dari belakang berteriak, "Bos! Masih ada dua orang di dalam!"

Pria itu langsung mengenakan maskernya lagi. "Bawa dia ke ambulans."

Kiana hanya sempat melihat punggungnya berbalik masuk lagi ke lautan asap.

Punggung yang berbeda.

Punggung yang pergi bukan untuk meninggalkannya, melainkan untuk menyelamatkan orang lain.

Di dalam ambulans, suara dunia terdengar jauh. Petugas medis membersihkan telapak tangannya, memeriksa pergelangan kaki, dan bertanya apakah ia bisa mendengar. Kiana mengangguk pelan.

"Tanggal berapa?" suara perempuan berjas medis bertanya untuk memastikan kesadarannya.

Kiana menelan sakit di tenggorokan. "Delapan belas Mei."

"Tahun?"

Bibir Kiana bergetar.

"Dua ribu dua puluh enam."

Petugas itu menghela napas lega. "Bagus. Tetap sadar, Bu. Kita bawa ke rumah sakit terdekat."

Kiana menatap langit-langit ambulans. Lampu putih di atas kepalanya bergetar mengikuti gerak kendaraan. Dunia memang kembali. Bukan mimpi. Bukan halusinasi sebelum mati.

Ia benar-benar kembali.

Lalu dari celah pintu ambulans yang belum tertutup rapat, suara Jovian terdengar dari luar.

"Vanya, bertahan. Kali ini aku nggak akan membiarkan kamu terluka lagi."

Kali ini.

Dua kata itu masuk ke telinga Kiana seperti air es.

Matanya terbuka perlahan.

Jadi benar.

Jovian juga kembali.

Ia membawa ingatan yang sama. Ia tahu masa depan yang sama. Ia tahu bagaimana tujuh tahun itu berakhir. Ia tahu apa yang sudah ia lakukan pada Kiana.

Namun ketika diberi kesempatan kedua, pria itu tetap berlari melewati tubuhnya untuk memeluk Vanya.

Kiana menatap tangannya yang dibalut kasa. Darah masih merembes sedikit di sela putih perban. Di jari manisnya, cincin pertunangan dari Jovian masih melingkar, basah oleh air dan abu.

Ia mengangkat tangan itu pelan.

Cincin berlian kecil tersebut berkilau lemah di bawah lampu ambulans. Dulu, Kiana pernah mengira kilau itu adalah janji. Malam ini, benda itu terlihat seperti borgol yang terlalu lama ia sebut cinta.

Dengan jari yang gemetar, ia menarik cincin itu.

Luka di telapak tangan membuat setiap gerakan terasa perih. Cincin itu tersangkut sebentar di sendi, lalu akhirnya lepas. Kiana menggenggamnya dalam kepalan tangan, merasakan tepi logam dingin menekan kulit.

Petugas medis menoleh. "Bu, jangan banyak bergerak."

Kiana menutup mata sebentar.

Ketika ia membukanya lagi, air mata masih ada, tetapi pandangannya sudah tidak sama.

Tujuh tahun yang lalu, ia mencintai Jovian sampai kehilangan dirinya sendiri.

Di kehidupan sebelumnya, ia mati sebagai istri yang menunggu penjelasan.

Di kehidupan ini, ia tidak akan menunggu lagi.

Kiana menoleh ke arah pintu ambulans. Di luar sana, Jovian masih membungkuk di sisi tandu Vanya, wajahnya penuh ketakutan yang dulu tidak pernah ia berikan untuk Kiana.

Baiklah.

Kalau itu pilihannya, Kiana akan mengingatnya dengan sangat jelas.

Api. Pecahan kaca. Punggung yang melangkah pergi. Sepasang lengan asing yang mengangkatnya keluar dari kematian.

Semua itu akan menjadi batas.

Kiana menggenggam cincin pertunangan sampai telapak tangannya terasa nyeri lagi. Nyeri itu membuatnya sadar. Membuatnya hidup.

Dengan suara serak, nyaris tenggelam di bawah sirene ambulans, ia berbisik kepada dirinya sendiri.

"Kali ini, aku tidak menginginkan dia lagi."

1
Ray
apakah Hans punya kembaran?
Ray
misteri 💪
Lili Inggrid
ceritanya bagus...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!