NovelToon NovelToon
Cinta Sebening Embun

Cinta Sebening Embun

Status: tamat
Genre:Romantis / Perjodohan / Tamat
Popularitas:18.7M
Nilai: 4.9
Nama Author: Shan Syeera

Perjodohan adalah sebuah hal yang sangat
di benci oleh Abraham, seorang pengusaha
muda penerus kerajaan bisnis keluarga nya.

Dia adalah sosok yang sangat di puja dan di
damba oleh setiap wanita, dia merupakan
calon menantu yang sangat ideal dan di
impikan oleh setiap pengusaha dan para
bangsawan yang memiliki anak gadis, jadi
baginya hanya dengan menjentikkan jari
saja, wanita manapun akan dengan senang
hati memasrahkan dirinya untuk merangkak
di bawah kakinya.

Tapi..justru kakeknya, sang pemilik dan
penguasa serta pemegang kendali penuh
dari semua kekayaan keluarganya malah
memilihkan jodoh untuknya.

Dan sialnya lagi..wanita pilihan kakeknya
bukanlah wanita dengan kriteria dan tife
yang selama ini selalu menjadi standard nya.

Abraham sangat membenci keputusan sang
kakek. Namun demi warisan dan kendali penuh
atas segala kekuasaan yang telah di janjikan
padanya. Dengan terpaksa Aham menerima
semua keputusan kakeknya tersebut..

Dan bagi wanita yang juga terpaksa menerima
perjodohan ini..bagaimana kah dia akan bisa
menjalani hidupnya bersama seorang pria yang
sama sekali tidak menginginkan kehadirannya.?

Takdir seakan menjungkir balikan kehidupan
seorang gadis biasa terpaksa yang harus
masuk ke dalam kehidupan sebuah keluarga
yang di penuhi dengan keangkuhan dan
kesombongan akan dunia yang hanya
tergenggam sementara saja..


**Tetaplah untuk selalu di jalanNya..**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shan Syeera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Kau Memang Istriku

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

♥️♥️♥️♥️♥️

Aham bisa bernapas lega setelah kondisi Naya

kini mulai stabil. Dia sudah di pindahkan ke

ruang rawat inap kelas VVIP yang ada di lantai

teratas. Dokter mengatakan kalau dia harus

menjalani perawatan dulu selama semalam

untuk memulihkan kondisinya.

Waktu sudah menunjukkan pukul 3 dini hari.

Saat ini Naya masih terbaring lemah di atas

ranjang pasien dengan selang infus terpasang

di tangan kiri nya. Aham menatap lekat wajah

cantik Naya yang masih terlihat pucat. Tidak

ada yang tahu bagaimana bahagia nya dia saat

ini, melihat Naya bisa kembali sadar membuat

dia seakan menemukan kembali nyawanya.

"Tuan, maaf saya sedikit terlambat.!"

Leo masuk kedalam ruangan, langsung berdiri

di samping Aham dengan membungkukan badan.

"Bagaimana hasilnya.?"

Aham bertanya dengan mata yang tidak pernah

berpaling dari wajah Naya.

"Orang nya sudah di tangani Tuan.!"

"Apa yang terjadi ?"

"Masih dalam tahap penyelidikan Tuan. Orang

itu belum bersedia buka mulut ."

Tangan Aham terkepal dengan kuat. Wajahnya

terlihat semakin dingin.

"Aku yang akan menanganinya nya langsung.

Akan ku pastikan orang itu mengingat semua ini.!"

"Sebenarnya kami masih melakukan penyelidikan

lebih lanjut Tuan, karena terdapat sedikit

kejanggalan di sini.!"

Aham melirik, menatap tajam wajah Leo yang

menunduk dalam.

"Apa maksudmu ? Apa cara Kerja kalian sudah

menurun sekarang ?"

"Maafkan kami Tuan ."

"Aku tidak ingin ada kesalahan !"

"Saya mengerti Tuan ."

Keduanya terdiam. Perlahan tangan Aham

meraih jemari Naya, di genggamnya kuat .

"Dia hampir kehilangan nyawa malam ini. Aku

tidak akan memberi toleransi pada siapapun

yang ada di balik kejadian ini.!"

Tangan Aham bergerak mengelus kening Naya

yang sedikit berkeringat. Walau intonasi suara

nya terdengar datar, namun rahang nya tampak

mengeras. Leo hanya bisa diam sedikit tegang.

"Tuan..sebaiknya anda istirahat sekarang."

"Dia belum membuka matanya."

Leo menautkan alis nya. menatap wajah Naya.

Tapi kembali menunduk.

"Dokter mengatakan kondisi Nona sudah stabil Tuan..dia hanya perlu istirahat. Anda juga sama,

butuh istirahat."

Aham membuang napasnya perlahan. Dia

memang lelah, beberapa jam yang lalu dia baru

saja melakukan penerbangan. Badannya terasa

sedikit lelah saat ini.

"Kau sangat cerewet !"

Desis Aham sambil kemudian merebahkan

kepalanya di pinggir ranjang di samping tubuh

Naya. Tangannya masih menggenggam kuat

jemari Naya seakan tidak ingin terlepas.

Leo menarik napas panjang setelah memastikan

Tuannya itu tertidur walau tidak dengan posisi

nyaman, tapi setidaknya dia memejamkan

matanya.

----- -----

Naya membuka matanya saat sinar matahari

masuk menyinari wajahnya dari sela-sela jendela

kamar rumah sakit. Dia berusaha mengumpulkan

kesadaran nya dan mengingat segala kejadian

yang telah menimpa nya. Apa yang terjadi dengan

dirinya semalam setelah dia tenggelam ?

Dia mengedarkan pandangan, matanya tampak terkejut saat melihat Aham tertidur di samping

nya dengan posisi yang tentunya sangat tidak

nyaman. Satu tangannya kini melingkari perutnya. Wajah Naya langsung memerah saat menyadari

telapak tangan Aham begitu kuat memeluk perut

datar nya. Apakah Laki-laki ini menunggui dirinya semalaman ? Oohh..sulit di percaya !

Naya menatap tenang wajah tampan Aham.

Tidak tahan, tangannya yang masih terpasang

selang infus membelai rambut Aham penuh

dengan perasaan. Hatinya tiba-tiba menghangat

saat tangannya kini menyentuh rambut halus

laki-laki itu. Bagaimana bisa rambut seorang

pria bisa selembut sutra seperti ini.?

Naya tersentak saat Aham membuka matanya,

mata mereka bertemu dan saling pandang lekat

dengan sorot mata yang sama-sama tidak

terbaca. Dengan cepat Naya segera menarik

tangan nya dari rambut Aham.

"Maaf Tuan..aku tidak bermaksud lancang.."

Lirih Naya seraya menundukan wajahnya yang

kini memerah. Aham menggerakkan kepalanya

yang terasa sedikit pegal.

"Kau memang sudah lancang !"

Naya mendongak, dia meringis dengan tatapan

yang kini terlihat sedikit tegang. Dia berusaha

untuk menegakkan tubuhnya.

"Sekali lagi maaf."

"Kau harus di hukum.!"

Bisik Aham di dekat wajah Naya membuat gadis

itu kembali tersentak.

"Apa ? kenapa harus ada hukuman lagi.?"

Naya memalingkan wajahnya. Aham tampak

menyeringai kecil.

"Cium aku sekarang.!"

"Aahh.. apa-apaan ini.? "

Naya menggeleng protes. Seringai di wajah Aham

semakin lebar, dia kembali duduk sambil melipat

kedua tangan di dadanya seraya tumpang kaki.

"Hei..aku sudah menolong mu semalam ! lalu

barusan kau sudah berbuat lancang padaku.!

tidak ada yang berani memegang kepalaku.

Kau adalah orang pertama.."

Naya menatap Aham dengan wajah semakin

merasa bersalah, tapi juga tidak terima.

"Maaf..Dan terimakasih telah menyelamatkan ku.."

Naya menunduk. Aham mendekat, tangan nya bergerak meraih dagu Naya, mengangkatnya

hingga kini mereka saling menatap kembali.

"Kenapa kau bisa selalu ceroboh dalam segala

hal, hingga membahayakan nyawamu sendiri ?

Apa kau tidak bisa menjaga dirimu sendiri heh?"

"A-apa maksudmu ?"

"Kenapa bisa jatuh kedalam kolam ? Apa kau

sangat ingin berenang ?"

"Apa ? tidak ! siapa juga yang mau berenang.!"

Naya menepis tangan Aham dari dagunya. Lalu

memalingkan muka dengan raut wajah penuh

kekesalan. Aham tersenyum setengah menahan

tawa melihat reaksi wanita itu. Entah kenapa dia sangat suka menjahili wanita ini.

"Sekarang cepat cium aku.!"

Wajah Naya kembali memerah, dia menggeleng

kuat, menundukkan kepalanya.

"Hei..kau harus bertanggung jawab !"

"Aku kan sudah minta maaf.."

"Itu tidak cukup ! Ayo cepat, atau aku akan

menambahkan hukumannya.!"

Aham semakin bersemangat menjahili wanita

ini saat Naya meremas jemarinya kalut.

"Aku tidak mau !"

"Kalau begitu, malam ini kau harus melayaniku

di tempat tidur.!"

"Apa ?? Aku tidak mau..!"

Pekik Naya dengan membulatkan matanya.

Dia benar-benar syok mendengar hal itu.

Namun justru Aham kini menautkan alisnya.

"Kenapa ? bukankah itu adalah kewajiban mu?

Kau tidak boleh menolak apapun yang aku

inginkan !"

Keduanya terdiam, hati Naya saat ini bergemuruh.

Kemana arah pembicaraan ini sebenarnya ? apa

Aham sedang menyentil masalah hak nya sebagai

seorang suami, benarkah ? itu tidak mungkin !

"Apa maksudmu sebenarnya ? "

Suara Naya sedikit bergetar. Aham kembali

mengangkat dagu Naya, ibu jarinya membelai

lembut bibir Naya hingga membuat gadis itu

menegang. Tubuhnya kini bergerak mundur

sampai membentur kepala ranjang.

"Bukankah aku memiliki hak atas dirimu ? aku

punya hak untuk mendapatkan dirimu seutuhnya.?"

Tubuh Naya semakin tegang, tangannya bergetar

melepaskan pegangan tangan Aham di dagunya.

Benar ! laki-laki ini berbicara tentang hubungan

mereka, tapi kenapa ? ini sedikit aneh !

"A-aku memang istrimu..Kau berhak atas diriku

seutuhnya, tapi..aku tidak bisa memberikan nya

sebelum kau menerimaku.."

Naya berucap gemetar. Mata Aham semakin

menatap tajam wajah Naya. Dia mendekatkan

wajahnya ke wajah Naya membuat napas Naya

serasa sesak.

"Iya kau istriku..dan aku suamimu.! apalagi

yang ingin kau dengar sekarang.?"

Naya terhenyak. Kedua mata mereka kini bertaut

saling mengunci satu sama lain. Detak jantung

Naya semakin berkejaran. Dia masih mencoba

mencerna ucapan Aham barusan.

"Kau mengakui aku sebagai istrimu.?"

Aham tersenyum tipis membuat mata Naya

mengerjap. Apa, Aham tersenyum, padanya?

Tenang Naya..kau jangan terkecoh dengannya !

Tapi.. sungguh senyum itu membuat debaran

di dadanya makin menggila.

"Kau memang istriku ! sejak aku mengucapkan

ijab kabul, kau sudah sah menjadi istri ku.!"

Naya terdiam. Dia menunduk, mencoba untuk

menguasai dirinya. Jadi laki-laki ini sebenarnya

sudah tahu posisinya ?

"Tapi, aku belum menerima mu .!"

Sontak Naya kembali mendongak. Sudah dia

duga, lelaki ini tidak akan dengan mudah

menerima dirinya.

"Sebelum kau menyerahkan dirimu seutuhnya

padaku !"

Aham berbisik di telinga Naya yang membuat

wajah gadis itu langsung di penuhi semburat

merah, dan itu sangat di sukai Aham. Gadis ini

benar-benar sensitif.! Aham kembali tersenyum

tipis, dia berdiri kemudian dengan santai berjalan

melangkah masuk ke dalam kamar mandi.

Naya menarik napas lega. Dia menatap punggung

Aham yang menghilang di balik pintu kamar

mandi. Pikirannya kini kembali kacau, apa yang sebenarnya terjadi ? sungguh dia masih belum

bisa mencerna atas apa yang di dengarnya

barusan. Naya menutup wajahnya dengan

kedua telapak tangan.

"Selamat pagi Nyonya Aham.."

Naya terperanjat, dia tertegun saat melihat Leo

dan seorang Dokter tampan kini telah berdiri di

samping tempat tidur.

"Pa-pagi Dokter.."

"Bagaimana perasaan anda sekarang.?"

Dokter Rama tampak menatap tenang wajah

Naya. Sungguh cantik, walaupun masih sedikit

pucat ! batin Dokter Rama dengan tersenyum tipis.

"Saya merasa lebih baik Dokter, terimakasih."

Rama maju mendekat. Dia menyiapkan alat

tensimeter. Sedang Leo terdiam memperhatikan.

"Maaf Nona Muda.. saya akan memeriksa

kondisi anda, untuk memastikan semuanya."

Naya mengangguk ragu sambil melirik ke arah

Leo yang hanya terdiam tanpa ekspresi. Setelah

itu Dokter Rama mulai melakukan pengecekan.

Naya sebenarnya risih saat Dokter itu melakukan

pemeriksaan pada dirinya.

"Siapa yang mengijinkan mu memeriksa nya ?"

Mereka bertiga menoleh. Aham sedang berjalan

kearah mereka dengan tatapan kesal terhadap

Dokter Rama.

"Sorry..aku hanya ingin memastikan kondisinya.

Kelihatannya dia masih sedikit lemah."

"Jangan mencari alasan ! dia sudah baik-baik

saja, tidak perlu lagi di periksa !"

Ketus Aham sambil berdiri di dekat tempat

tidur dengan memasukan kedua tangannya

kedalam saku celana. Saat ini Aham tampak

sudah segar dan berganti pakaian. Rambutnya

terlihat masih sedikit basah dan berantakan.

Tapi justru malah terlihat seksi dan menarik.

"Aku tidak mencari alasan Tuan, dia masih

harus di pantau sampai siang ini."

Aham terdiam. Dia menatap wajah Naya.

Memang masih terlihat sedikit pucat. Rona

kemerahan di pipinya yang sangat dia sukai

masih belum terlihat di sana.

"Lakukan saja yang terbaik untuk kesehatan

nya. Berikan semua obat terbaik di sini.!"

"Tentu saja ."

Dokter Rama tersenyum cerah. Aham terlihat

geram melihat reaksi Dokter pribadinya itu.

"Sudah selesai kan ? kau bisa keluar sekarang !"

Senyum cerah Dokter Rama berubah kecut. Dia merapihkan alat-alat nya.

"Kalau begitu saya permisi Nyonya Aham, selamat beristirahat."

Naya mengangguk seraya tersenyum tipis. Aham

semakin kesal melihat Naya tersenyum pada

Dokter itu. Dia menatap tajam wajah Naya.

"Apa kau selalu melakukan hal itu pada semua

laki-laki ?"

Naya melirik, menautkan alisnya tidak mengerti.

"Apa ? melakukan apa ?"

"Memberikan senyum mu secara cuma-cuma.!"

"Aahh.? Dasar aneh ! "

Naya menggeleng bingung dengan sikap aneh

pria ini .Leo tampak memalingkan muka sambil

beranjak kearah sofa. Dia tersenyum kecil.

Tuan..kenapa anda jadi aneh begini ?

"Mulai sekarang, kau tidak boleh lagi tersenyum

pada sembarang orang.!"

Naya semakin di buat bingung. Tapi dia tidak

ingin memperpanjang masalah ini.

"Baiklah Tuan..aku mengerti."

Aham tersenyum tipis. Dia kembali duduk di

kursi samping tempat tidur.

"Keringkan rambut ku..!"

Apa ?? Naya bengong, Aham memberikan handuk

kecil ke tangan Naya. Ini gila ! apa dia tidak lihat

kalau tangannya ini masih di lilit selang infus.

Tuhan..nih orang benar-benar aneh !

"Cepatlah ! bukankah kau sangat suka dengan

rambutku ini.! ini sebuah anugerah untukmu bisa

memegang rambutku sepuasnya.!"

Ya Tuhan..narsis nya kelewatan ! Bibir Naya

cemberut. Tapi perlahan dia mulai mengusap

rambut halus Aham memakai handuk kecil tadi. Aroma wangi dari rambut dan tubuh Aham

membuat jiwa Naya sedikit gelisah.

Tubuhnya semakin terasa panas dingin di kala

tatapan Aham kini terfokus pada wajahnya.

Dengan cepat dia mengakhiri usapan handuk

di rambut Aham.

"Sudah Tuan.."

Naya merapihkan rambut Aham dengan jari-jari

tangannya. Aham terdiam setengah terpejam.

Gerakan tangan Naya terhenti saat Aham tiba-tiba memegang tangan nya yang masih berada di kepalanya itu. Di bawanya jemari itu ke bibirnya,

di kecupnya perlahan membuat tubuh Naya

kembali tegang sekaligus panas dingin.

"Kau belum menjalankan hukumanmu.!"

Duhh..kok dia masih ingat aja sih.! Naya

menunduk.Dia mencoba menarik tangannya

yang masih di pegang kuat oleh Aham.

"Ayo lakukan sekarang.!"

Naya menggeleng. Aham terlihat mulai kesal.

"Kau mau aku yang mencium mu ?"

"Tidak ! biar aku saja !"

Naya mendongak, Aham menyeringai. Dengan

ragu dan memejamkan mata, Naya mendekat.

Keduanya saling pandang lekat. Jantung Naya

seakan ingin meloncat keluar dari tempatnya.

Aham tidak sabar, dia kini mengirimkan tatapan

penuh ancaman.

Cup !

Naya mencium lembut bibir Aham. Setelah nya

segera menjauh dengan rasa malu yang tiada

tara. Ingin rasanya dia mengubur dirinya sendiri

untuk menyembunyikan rasa malunya. Bibir

Aham terangkat manis, dia kemudian berdiri.

"Itu masih belum cukup. Aku akan menagihnya

nanti !"

Naya membulatkan matanya protes. Tapi

Aham tidak peduli. Leo mendekat, memakaikan

jas ke tubuh gagah Aham. Naya hanya terdiam memperhatikan interaksi antara Bos dan asisten

nya itu. Aham mengambil dasi lalu kembali duduk

di kursi di samping Naya. Dia mengasongkan

dasi tersebut pada Naya.

Dengan telaten Naya memasangkan dasi di leher

laki-laki yang sudah mengakui kalau dia adalah

suaminya itu. Aham menatap intens seluruh

detail wajah cantik Naya. Kenapa semakin hari

dia merasa kalau wajah ini semakin menarik?

dia seolah tidak pernah bosan memandang nya.

"Pak Ali akan menjemputmu nanti siang. Aku

banyak urusan yang harus di selesaikan.."

Tiba-tiba ucap Aham yang membuat Naya

tertegun. Laki-laki ini berbicara normal

padanya ? Tuhan..ini bukan mimpi kan.?

Naya mengusap lembut dasi Aham untuk

kembali merapihkannya.

Aham berdiri tegak, merapihkan jas nya. Dia

kembali menatap lurus ke arah Naya yang kini menunduk.

"Hei..kenapa kau suka sekali menunduk ?

sini lihat wajahku.!"

Titah Aham. Naya mendongak, dan sekejap

kemudian dia memejamkan matanya saat

bibir Aham mendarat lembut di kening nya.

Keduanya terdiam saling memejamkan mata

mencoba meresapi segala perasaan yang kini menguasai hati dan jiwa mereka.

Naya menatap kepergian Aham dengan serbuan

perasaan yang di penuhi dengan tanda tanya

akan segala yang terjadi barusan. Dia masih

seorang Aham yang sama kan ? yang angkuh,

arogan dan terkadang sangat menyebalkan !

Naya memegang dadanya yang sampai saat ini

masih saja berdebar hebat. Tuhan.. laki-laki ini

memang sangat berbahaya ! dia bisa membuat

jantungnya tidak berfungsi semestinya.

\*\*\*\*\*\*\*\*\*

Bersambung...

Like dan koment dulu yaa.. Author perlu dorongan

semangat nih..! Hehee..TQ..😁😘🙏

1
ayu cantik
bagus
Nunung Suwandari
Hai aku kembali untuk membaca ini 😍
Marhaban ya Nur17
klo ama melani terjadi keren neh Noah 😄😄😄😄 soalnya ama feli jg dapet
Marhaban ya Nur17
tinggal ngomong gtu doank banyak drama
Marhaban ya Nur17
naya diem bae y klo di tarik Noah wkwkkw
Marhaban ya Nur17
g habis pikir cerita wkwkkwk satu masalah belum kelar ada lg yg datang wkkwkwk aneh
Marhaban ya Nur17
dri part pertama ampe sekarang gw belum dapet fill nya
Marhaban ya Nur17
ngapa aham g bilang ke semua orang gtu msh nutup"
Marhaban ya Nur17
muter" itu aja deh kayanya wkkwkwkw alurnya lama, pembahasannya itu" aja gw mau udh n tp udh setengah jalan
Marhaban ya Nur17
bar" se yara wkekke
Marhaban ya Nur17
makanya jan sombong
Marhaban ya Nur17
elah lambat banget thor kek kura" alurnya
Marhaban ya Nur17
Lola amat se alurnya
Marhaban ya Nur17
kapan bucinnya aham 🤔🤔🤔
Rohayani
udh 2x baca tetep aja suka...
ditunggu karya yg lainnya othor ku sayang...love sekebonnn😍
rindu juga ceritanya sherinda sma mayra thor..nnt mampir lg aaah💪💪💪
Marhaban ya Nur17
knp se semua orang enteng banget tangannya
Marhaban ya Nur17
nah klo kaya gini kan ok àham
Marhaban ya Nur17
ternyata feli ama naya saudara an y
Marhaban ya Nur17
dri part pertama ampe sekarang gw benci ama pemain cowoknya wkwkkwkkw
Marhaban ya Nur17
pusing gw jg klo banyak harta wkwkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!