Perjodohan adalah sebuah hal yang sangat
di benci oleh Abraham, seorang pengusaha
muda penerus kerajaan bisnis keluarga nya.
Dia adalah sosok yang sangat di puja dan di
damba oleh setiap wanita, dia merupakan
calon menantu yang sangat ideal dan di
impikan oleh setiap pengusaha dan para
bangsawan yang memiliki anak gadis, jadi
baginya hanya dengan menjentikkan jari
saja, wanita manapun akan dengan senang
hati memasrahkan dirinya untuk merangkak
di bawah kakinya.
Tapi..justru kakeknya, sang pemilik dan
penguasa serta pemegang kendali penuh
dari semua kekayaan keluarganya malah
memilihkan jodoh untuknya.
Dan sialnya lagi..wanita pilihan kakeknya
bukanlah wanita dengan kriteria dan tife
yang selama ini selalu menjadi standard nya.
Abraham sangat membenci keputusan sang
kakek. Namun demi warisan dan kendali penuh
atas segala kekuasaan yang telah di janjikan
padanya. Dengan terpaksa Aham menerima
semua keputusan kakeknya tersebut..
Dan bagi wanita yang juga terpaksa menerima
perjodohan ini..bagaimana kah dia akan bisa
menjalani hidupnya bersama seorang pria yang
sama sekali tidak menginginkan kehadirannya.?
Takdir seakan menjungkir balikan kehidupan
seorang gadis biasa terpaksa yang harus
masuk ke dalam kehidupan sebuah keluarga
yang di penuhi dengan keangkuhan dan
kesombongan akan dunia yang hanya
tergenggam sementara saja..
**Tetaplah untuk selalu di jalanNya..**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shan Syeera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Kau Memang Istriku
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
♥️♥️♥️♥️♥️
Aham bisa bernapas lega setelah kondisi Naya
kini mulai stabil. Dia sudah di pindahkan ke
ruang rawat inap kelas VVIP yang ada di lantai
teratas. Dokter mengatakan kalau dia harus
menjalani perawatan dulu selama semalam
untuk memulihkan kondisinya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 3 dini hari.
Saat ini Naya masih terbaring lemah di atas
ranjang pasien dengan selang infus terpasang
di tangan kiri nya. Aham menatap lekat wajah
cantik Naya yang masih terlihat pucat. Tidak
ada yang tahu bagaimana bahagia nya dia saat
ini, melihat Naya bisa kembali sadar membuat
dia seakan menemukan kembali nyawanya.
"Tuan, maaf saya sedikit terlambat.!"
Leo masuk kedalam ruangan, langsung berdiri
di samping Aham dengan membungkukan badan.
"Bagaimana hasilnya.?"
Aham bertanya dengan mata yang tidak pernah
berpaling dari wajah Naya.
"Orang nya sudah di tangani Tuan.!"
"Apa yang terjadi ?"
"Masih dalam tahap penyelidikan Tuan. Orang
itu belum bersedia buka mulut ."
Tangan Aham terkepal dengan kuat. Wajahnya
terlihat semakin dingin.
"Aku yang akan menanganinya nya langsung.
Akan ku pastikan orang itu mengingat semua ini.!"
"Sebenarnya kami masih melakukan penyelidikan
lebih lanjut Tuan, karena terdapat sedikit
kejanggalan di sini.!"
Aham melirik, menatap tajam wajah Leo yang
menunduk dalam.
"Apa maksudmu ? Apa cara Kerja kalian sudah
menurun sekarang ?"
"Maafkan kami Tuan ."
"Aku tidak ingin ada kesalahan !"
"Saya mengerti Tuan ."
Keduanya terdiam. Perlahan tangan Aham
meraih jemari Naya, di genggamnya kuat .
"Dia hampir kehilangan nyawa malam ini. Aku
tidak akan memberi toleransi pada siapapun
yang ada di balik kejadian ini.!"
Tangan Aham bergerak mengelus kening Naya
yang sedikit berkeringat. Walau intonasi suara
nya terdengar datar, namun rahang nya tampak
mengeras. Leo hanya bisa diam sedikit tegang.
"Tuan..sebaiknya anda istirahat sekarang."
"Dia belum membuka matanya."
Leo menautkan alis nya. menatap wajah Naya.
Tapi kembali menunduk.
"Dokter mengatakan kondisi Nona sudah stabil Tuan..dia hanya perlu istirahat. Anda juga sama,
butuh istirahat."
Aham membuang napasnya perlahan. Dia
memang lelah, beberapa jam yang lalu dia baru
saja melakukan penerbangan. Badannya terasa
sedikit lelah saat ini.
"Kau sangat cerewet !"
Desis Aham sambil kemudian merebahkan
kepalanya di pinggir ranjang di samping tubuh
Naya. Tangannya masih menggenggam kuat
jemari Naya seakan tidak ingin terlepas.
Leo menarik napas panjang setelah memastikan
Tuannya itu tertidur walau tidak dengan posisi
nyaman, tapi setidaknya dia memejamkan
matanya.
----- -----
Naya membuka matanya saat sinar matahari
masuk menyinari wajahnya dari sela-sela jendela
kamar rumah sakit. Dia berusaha mengumpulkan
kesadaran nya dan mengingat segala kejadian
yang telah menimpa nya. Apa yang terjadi dengan
dirinya semalam setelah dia tenggelam ?
Dia mengedarkan pandangan, matanya tampak terkejut saat melihat Aham tertidur di samping
nya dengan posisi yang tentunya sangat tidak
nyaman. Satu tangannya kini melingkari perutnya. Wajah Naya langsung memerah saat menyadari
telapak tangan Aham begitu kuat memeluk perut
datar nya. Apakah Laki-laki ini menunggui dirinya semalaman ? Oohh..sulit di percaya !
Naya menatap tenang wajah tampan Aham.
Tidak tahan, tangannya yang masih terpasang
selang infus membelai rambut Aham penuh
dengan perasaan. Hatinya tiba-tiba menghangat
saat tangannya kini menyentuh rambut halus
laki-laki itu. Bagaimana bisa rambut seorang
pria bisa selembut sutra seperti ini.?
Naya tersentak saat Aham membuka matanya,
mata mereka bertemu dan saling pandang lekat
dengan sorot mata yang sama-sama tidak
terbaca. Dengan cepat Naya segera menarik
tangan nya dari rambut Aham.
"Maaf Tuan..aku tidak bermaksud lancang.."
Lirih Naya seraya menundukan wajahnya yang
kini memerah. Aham menggerakkan kepalanya
yang terasa sedikit pegal.
"Kau memang sudah lancang !"
Naya mendongak, dia meringis dengan tatapan
yang kini terlihat sedikit tegang. Dia berusaha
untuk menegakkan tubuhnya.
"Sekali lagi maaf."
"Kau harus di hukum.!"
Bisik Aham di dekat wajah Naya membuat gadis
itu kembali tersentak.
"Apa ? kenapa harus ada hukuman lagi.?"
Naya memalingkan wajahnya. Aham tampak
menyeringai kecil.
"Cium aku sekarang.!"
"Aahh.. apa-apaan ini.? "
Naya menggeleng protes. Seringai di wajah Aham
semakin lebar, dia kembali duduk sambil melipat
kedua tangan di dadanya seraya tumpang kaki.
"Hei..aku sudah menolong mu semalam ! lalu
barusan kau sudah berbuat lancang padaku.!
tidak ada yang berani memegang kepalaku.
Kau adalah orang pertama.."
Naya menatap Aham dengan wajah semakin
merasa bersalah, tapi juga tidak terima.
"Maaf..Dan terimakasih telah menyelamatkan ku.."
Naya menunduk. Aham mendekat, tangan nya bergerak meraih dagu Naya, mengangkatnya
hingga kini mereka saling menatap kembali.
"Kenapa kau bisa selalu ceroboh dalam segala
hal, hingga membahayakan nyawamu sendiri ?
Apa kau tidak bisa menjaga dirimu sendiri heh?"
"A-apa maksudmu ?"
"Kenapa bisa jatuh kedalam kolam ? Apa kau
sangat ingin berenang ?"
"Apa ? tidak ! siapa juga yang mau berenang.!"
Naya menepis tangan Aham dari dagunya. Lalu
memalingkan muka dengan raut wajah penuh
kekesalan. Aham tersenyum setengah menahan
tawa melihat reaksi wanita itu. Entah kenapa dia sangat suka menjahili wanita ini.
"Sekarang cepat cium aku.!"
Wajah Naya kembali memerah, dia menggeleng
kuat, menundukkan kepalanya.
"Hei..kau harus bertanggung jawab !"
"Aku kan sudah minta maaf.."
"Itu tidak cukup ! Ayo cepat, atau aku akan
menambahkan hukumannya.!"
Aham semakin bersemangat menjahili wanita
ini saat Naya meremas jemarinya kalut.
"Aku tidak mau !"
"Kalau begitu, malam ini kau harus melayaniku
di tempat tidur.!"
"Apa ?? Aku tidak mau..!"
Pekik Naya dengan membulatkan matanya.
Dia benar-benar syok mendengar hal itu.
Namun justru Aham kini menautkan alisnya.
"Kenapa ? bukankah itu adalah kewajiban mu?
Kau tidak boleh menolak apapun yang aku
inginkan !"
Keduanya terdiam, hati Naya saat ini bergemuruh.
Kemana arah pembicaraan ini sebenarnya ? apa
Aham sedang menyentil masalah hak nya sebagai
seorang suami, benarkah ? itu tidak mungkin !
"Apa maksudmu sebenarnya ? "
Suara Naya sedikit bergetar. Aham kembali
mengangkat dagu Naya, ibu jarinya membelai
lembut bibir Naya hingga membuat gadis itu
menegang. Tubuhnya kini bergerak mundur
sampai membentur kepala ranjang.
"Bukankah aku memiliki hak atas dirimu ? aku
punya hak untuk mendapatkan dirimu seutuhnya.?"
Tubuh Naya semakin tegang, tangannya bergetar
melepaskan pegangan tangan Aham di dagunya.
Benar ! laki-laki ini berbicara tentang hubungan
mereka, tapi kenapa ? ini sedikit aneh !
"A-aku memang istrimu..Kau berhak atas diriku
seutuhnya, tapi..aku tidak bisa memberikan nya
sebelum kau menerimaku.."
Naya berucap gemetar. Mata Aham semakin
menatap tajam wajah Naya. Dia mendekatkan
wajahnya ke wajah Naya membuat napas Naya
serasa sesak.
"Iya kau istriku..dan aku suamimu.! apalagi
yang ingin kau dengar sekarang.?"
Naya terhenyak. Kedua mata mereka kini bertaut
saling mengunci satu sama lain. Detak jantung
Naya semakin berkejaran. Dia masih mencoba
mencerna ucapan Aham barusan.
"Kau mengakui aku sebagai istrimu.?"
Aham tersenyum tipis membuat mata Naya
mengerjap. Apa, Aham tersenyum, padanya?
Tenang Naya..kau jangan terkecoh dengannya !
Tapi.. sungguh senyum itu membuat debaran
di dadanya makin menggila.
"Kau memang istriku ! sejak aku mengucapkan
ijab kabul, kau sudah sah menjadi istri ku.!"
Naya terdiam. Dia menunduk, mencoba untuk
menguasai dirinya. Jadi laki-laki ini sebenarnya
sudah tahu posisinya ?
"Tapi, aku belum menerima mu .!"
Sontak Naya kembali mendongak. Sudah dia
duga, lelaki ini tidak akan dengan mudah
menerima dirinya.
"Sebelum kau menyerahkan dirimu seutuhnya
padaku !"
Aham berbisik di telinga Naya yang membuat
wajah gadis itu langsung di penuhi semburat
merah, dan itu sangat di sukai Aham. Gadis ini
benar-benar sensitif.! Aham kembali tersenyum
tipis, dia berdiri kemudian dengan santai berjalan
melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
Naya menarik napas lega. Dia menatap punggung
Aham yang menghilang di balik pintu kamar
mandi. Pikirannya kini kembali kacau, apa yang sebenarnya terjadi ? sungguh dia masih belum
bisa mencerna atas apa yang di dengarnya
barusan. Naya menutup wajahnya dengan
kedua telapak tangan.
"Selamat pagi Nyonya Aham.."
Naya terperanjat, dia tertegun saat melihat Leo
dan seorang Dokter tampan kini telah berdiri di
samping tempat tidur.
"Pa-pagi Dokter.."
"Bagaimana perasaan anda sekarang.?"
Dokter Rama tampak menatap tenang wajah
Naya. Sungguh cantik, walaupun masih sedikit
pucat ! batin Dokter Rama dengan tersenyum tipis.
"Saya merasa lebih baik Dokter, terimakasih."
Rama maju mendekat. Dia menyiapkan alat
tensimeter. Sedang Leo terdiam memperhatikan.
"Maaf Nona Muda.. saya akan memeriksa
kondisi anda, untuk memastikan semuanya."
Naya mengangguk ragu sambil melirik ke arah
Leo yang hanya terdiam tanpa ekspresi. Setelah
itu Dokter Rama mulai melakukan pengecekan.
Naya sebenarnya risih saat Dokter itu melakukan
pemeriksaan pada dirinya.
"Siapa yang mengijinkan mu memeriksa nya ?"
Mereka bertiga menoleh. Aham sedang berjalan
kearah mereka dengan tatapan kesal terhadap
Dokter Rama.
"Sorry..aku hanya ingin memastikan kondisinya.
Kelihatannya dia masih sedikit lemah."
"Jangan mencari alasan ! dia sudah baik-baik
saja, tidak perlu lagi di periksa !"
Ketus Aham sambil berdiri di dekat tempat
tidur dengan memasukan kedua tangannya
kedalam saku celana. Saat ini Aham tampak
sudah segar dan berganti pakaian. Rambutnya
terlihat masih sedikit basah dan berantakan.
Tapi justru malah terlihat seksi dan menarik.
"Aku tidak mencari alasan Tuan, dia masih
harus di pantau sampai siang ini."
Aham terdiam. Dia menatap wajah Naya.
Memang masih terlihat sedikit pucat. Rona
kemerahan di pipinya yang sangat dia sukai
masih belum terlihat di sana.
"Lakukan saja yang terbaik untuk kesehatan
nya. Berikan semua obat terbaik di sini.!"
"Tentu saja ."
Dokter Rama tersenyum cerah. Aham terlihat
geram melihat reaksi Dokter pribadinya itu.
"Sudah selesai kan ? kau bisa keluar sekarang !"
Senyum cerah Dokter Rama berubah kecut. Dia merapihkan alat-alat nya.
"Kalau begitu saya permisi Nyonya Aham, selamat beristirahat."
Naya mengangguk seraya tersenyum tipis. Aham
semakin kesal melihat Naya tersenyum pada
Dokter itu. Dia menatap tajam wajah Naya.
"Apa kau selalu melakukan hal itu pada semua
laki-laki ?"
Naya melirik, menautkan alisnya tidak mengerti.
"Apa ? melakukan apa ?"
"Memberikan senyum mu secara cuma-cuma.!"
"Aahh.? Dasar aneh ! "
Naya menggeleng bingung dengan sikap aneh
pria ini .Leo tampak memalingkan muka sambil
beranjak kearah sofa. Dia tersenyum kecil.
Tuan..kenapa anda jadi aneh begini ?
"Mulai sekarang, kau tidak boleh lagi tersenyum
pada sembarang orang.!"
Naya semakin di buat bingung. Tapi dia tidak
ingin memperpanjang masalah ini.
"Baiklah Tuan..aku mengerti."
Aham tersenyum tipis. Dia kembali duduk di
kursi samping tempat tidur.
"Keringkan rambut ku..!"
Apa ?? Naya bengong, Aham memberikan handuk
kecil ke tangan Naya. Ini gila ! apa dia tidak lihat
kalau tangannya ini masih di lilit selang infus.
Tuhan..nih orang benar-benar aneh !
"Cepatlah ! bukankah kau sangat suka dengan
rambutku ini.! ini sebuah anugerah untukmu bisa
memegang rambutku sepuasnya.!"
Ya Tuhan..narsis nya kelewatan ! Bibir Naya
cemberut. Tapi perlahan dia mulai mengusap
rambut halus Aham memakai handuk kecil tadi. Aroma wangi dari rambut dan tubuh Aham
membuat jiwa Naya sedikit gelisah.
Tubuhnya semakin terasa panas dingin di kala
tatapan Aham kini terfokus pada wajahnya.
Dengan cepat dia mengakhiri usapan handuk
di rambut Aham.
"Sudah Tuan.."
Naya merapihkan rambut Aham dengan jari-jari
tangannya. Aham terdiam setengah terpejam.
Gerakan tangan Naya terhenti saat Aham tiba-tiba memegang tangan nya yang masih berada di kepalanya itu. Di bawanya jemari itu ke bibirnya,
di kecupnya perlahan membuat tubuh Naya
kembali tegang sekaligus panas dingin.
"Kau belum menjalankan hukumanmu.!"
Duhh..kok dia masih ingat aja sih.! Naya
menunduk.Dia mencoba menarik tangannya
yang masih di pegang kuat oleh Aham.
"Ayo lakukan sekarang.!"
Naya menggeleng. Aham terlihat mulai kesal.
"Kau mau aku yang mencium mu ?"
"Tidak ! biar aku saja !"
Naya mendongak, Aham menyeringai. Dengan
ragu dan memejamkan mata, Naya mendekat.
Keduanya saling pandang lekat. Jantung Naya
seakan ingin meloncat keluar dari tempatnya.
Aham tidak sabar, dia kini mengirimkan tatapan
penuh ancaman.
Cup !
Naya mencium lembut bibir Aham. Setelah nya
segera menjauh dengan rasa malu yang tiada
tara. Ingin rasanya dia mengubur dirinya sendiri
untuk menyembunyikan rasa malunya. Bibir
Aham terangkat manis, dia kemudian berdiri.
"Itu masih belum cukup. Aku akan menagihnya
nanti !"
Naya membulatkan matanya protes. Tapi
Aham tidak peduli. Leo mendekat, memakaikan
jas ke tubuh gagah Aham. Naya hanya terdiam memperhatikan interaksi antara Bos dan asisten
nya itu. Aham mengambil dasi lalu kembali duduk
di kursi di samping Naya. Dia mengasongkan
dasi tersebut pada Naya.
Dengan telaten Naya memasangkan dasi di leher
laki-laki yang sudah mengakui kalau dia adalah
suaminya itu. Aham menatap intens seluruh
detail wajah cantik Naya. Kenapa semakin hari
dia merasa kalau wajah ini semakin menarik?
dia seolah tidak pernah bosan memandang nya.
"Pak Ali akan menjemputmu nanti siang. Aku
banyak urusan yang harus di selesaikan.."
Tiba-tiba ucap Aham yang membuat Naya
tertegun. Laki-laki ini berbicara normal
padanya ? Tuhan..ini bukan mimpi kan.?
Naya mengusap lembut dasi Aham untuk
kembali merapihkannya.
Aham berdiri tegak, merapihkan jas nya. Dia
kembali menatap lurus ke arah Naya yang kini menunduk.
"Hei..kenapa kau suka sekali menunduk ?
sini lihat wajahku.!"
Titah Aham. Naya mendongak, dan sekejap
kemudian dia memejamkan matanya saat
bibir Aham mendarat lembut di kening nya.
Keduanya terdiam saling memejamkan mata
mencoba meresapi segala perasaan yang kini menguasai hati dan jiwa mereka.
Naya menatap kepergian Aham dengan serbuan
perasaan yang di penuhi dengan tanda tanya
akan segala yang terjadi barusan. Dia masih
seorang Aham yang sama kan ? yang angkuh,
arogan dan terkadang sangat menyebalkan !
Naya memegang dadanya yang sampai saat ini
masih saja berdebar hebat. Tuhan.. laki-laki ini
memang sangat berbahaya ! dia bisa membuat
jantungnya tidak berfungsi semestinya.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Bersambung...
Like dan koment dulu yaa.. Author perlu dorongan
semangat nih..! Hehee..TQ..😁😘🙏
ditunggu karya yg lainnya othor ku sayang...love sekebonnn😍
rindu juga ceritanya sherinda sma mayra thor..nnt mampir lg aaah💪💪💪