menceritakan tentang seorang pemuda bernama royy yang tereinkarnasi menjadi entitas bayangan dan membangun peradaban serta menjadi raja iblis...
(Kage no Karada toshite Tensei Shita node, Saikyō no Danjon Ōkoku o Tsukurimashita!)
(reinkarnasi menjadi entitas bayangan, dan membangun kerajaan terkuat di dalam dungeon)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon royco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(perjalanan 2,bagian 2 : raja yang menghilang) misi pemusnahan petra
Di sisi lain koordinat teritorial benua, tepatnya pada kurasi kurun waktu satu minggu sebelum wujud raga manusiaku meluncurkan operasi draf misi pembebasan diri dari sektor sel bawah tanah Eldiana...
Suasana di dalam aula pertemuan utama Istana Kerajaan Shadow Aethelgard bener-bener sedang digelar sebuah agenda Rapat Darurat Sektoral kasta tertinggi.
Seluruh jajaran jenderal divisi utama andalan dungeonku tampak hadir duduk mematung mengitari meja bundar strategi—mulai dari asisten utama Alpha, Jenderal Udara Delta, Jenderal Polisi Militer Zeta, petinggi penelitian Beta, kepala diplomasi kerajaan Epsilon, Pendeta Agung Upsilon, Gamma si saudagar agung semi-elang, hingga Komandan Elizabeth sebagai jendral pemimpin pasukan khusus pengintai milik aethelgard yaitu shadow assasin.
Satu-satunya perwira tinggi yang tidak menampakkan batang hidungnya di dalam ruangan tersebut murni hanyalah Jenderal angkatan darat Theta, yang detik ini posisinya masih didekam disekap di dalam sel kurungan isolasi akibat pasal pembangkangan.
BRAKKKKKKKK!!!!!!!
Keheningan jalannya rapat birokrasi tersebut mendadak pecah berkeping-keping tatkala sepasang telapak tangan kecil Elizabeth mendadak dihempaskan, dibantingkan secara kasar ke atas permukaan meja kayu strategi.
"Kunci fokus kalian... Aku secara personal bener-bener telah merancang sebuah rencana serangan..." Ucap Elizabeth berbisik lirih dengan nada suara dingin yang teramat bergetar ketat menahan luapan hasrat tempur.
Melihat letusan emosinya, Alpha yang bertindak sebagai pemimpin takhta sementara perlahan menautkan jemari tangannya, menatap teduh ke arah gadis berambut merah tersebut.
"Baiklah... Tarik napasmu sejenak, Elizabeth. Silakan beberkan dan beritahu kepada kami semua tentang apa sebenarnya draf skenario rencanamu itu..." Ucap Alpha memberikan alokasi waktu bicara.
Elizabeth tidak langsung menguras suaranya. Ia perlahan menegakkan punggung kecilnya, mengedarkan sebilah sorot tatapan matanya yang teramat tajam menusuk, memandang satu per satu wajah para jenderal divisi utama yang sedang menyimak gerakannya.
"Konfigurasi draf target operasional unitku bener-bener sudah lurus bulat... Kita secara masif akan meluncurkan agresi serangan terbuka murni untuk memburu, menghabisi, dan meratakan seisi kedaulatan wilayah kerajaan barat... Yaitu, Kerajaan Petra...!!!" Ucap Elizabeth lirih berat memutus keheningan ruang perjamuan.
DEGGG...!!!
Mendengar bait kalimat deklarasi perang sepihak yang teramat sangat radikal nan di luar nalar tersebut, Jenderal Udara Delta seketika langsung tersentak kaget setengah mati, hingga tubuh tingginya secara refleks langsung bangkit berdiri tegak dari kursi empuknya.
"Gak mungkin parah... Logika gila dari mana yang kau pakai itu, hah?! Kita semua bener-bener gak bakalan pernah sudi meluncurkan tindakan konyol nan bodoh sekonyol itu malam ini, Elizabeth...! Hoii, tolong pakai otakmu itu secara waras, keparat kecil! Apakah kau sengaja meluncurkan ide bunuh diri ini murni hanya demi menyia-nyiakan pasokan nyawa dari seluruh prajurit peleton kita lagi di medan tempur luar, hah?! Setelah faksi kita baru saja kehilangan koordinat keberadaan Sang Raja Agung kita, dan sekarang kau malah bersikeras mau meluncurkan hal bodoh menjijikkan seperti ini?! Aku bersumpah secara legal, aku tidak akan pernah sudi menerima ide koplokmu ini...!!!" Bentak Jenderal Delta meledak penuh luapan emosi kemurkaan yang menekan batin.
Tak butuh waktu jeda lama, letusan penolakan tersebut secara dinamis langsung dibalas ketat oleh luapan amarah dari takhta Jenderal Polisi Militer, Zeta.
"Ya...! Perkataan Delta bener-bener tepat 100% mutlak...! Kami dari satuan divisi besar Korps Polisi Militer istana juga bersumpah tidak akan pernah sudi memberikan draf persetujuan terhadap ajakan agresi konyol ini, Komandan Elizabeth...!" Ucap Zeta tegas memicingkan sepasang mata rubahnya.
Di kala sekujur barisan perwira tinggi takhta serentak meluncurkan kalimat penolakan ketat berlapis, hanya bocah semi-elang berusia 10 tahun—Gamma—yang memilih tetap diam membisu mematung, sama sekali tidak meluncurkan sepatah kata kalimat taktis pun dari mulut kecilnya.
Mendapat kepungan penolakan dari rekan sejawatnya, Elizabeth hanya bisa mengepalkan erat kedua bidang tinju tangannya hingga sekujur otot kecilnya bergetar hebat, menundukkan kepalanya dalam-dalam menghadap permukaan meja.
“Sialan parah... Bajingan-bajingan pengecut... Kenapa... Kenapaaa... Kenapaaa di saat seperti ini bener-bener sama sekali gak ada satu pun dari kalian yang sudi berjalan mengikuti apa yang menjadi kemauan batinku, hah...?!” Gumam Elizabeth geram setengah mati, meratapi batinnya yang dirundung penyesalan terdalam akibat hilangnya Miko.
Atmosfer seisi Ruang Pertemuan Agung seketika berubah drastis menjadi teramat sangat sunyi, senyap, nan mencekam pekat; seluruh Jenderal legendaris hanya bisa terdiam membisu, murni hanya mendengarkan desis suara gumaman kemurkaan Elizabeth yang kian mendingin ekstrem di bawah pengaruh 10% suntikan kekuatan kosmik Sang Pencipta.
BRAKKKKKKKKKK!!!!!!!
Tanpa ada sebilah aba-aba peringatan, Elizabeth secara brutal langsung menendang dihempaskan kursi miliknya hingga terlempar hancur membentur dinding istana dipicu luapan emosi amarah yang tak lagi terkendali.
"PERSETAN DENGAN LOGIKA KALIAN... AKU SUDAH GAK PEDULI LAGI DENGAN REKAYASA ATURAN KALIAN SEMUA...!!! Silakan kalian jalankan sirkulasi hidup kalian sesuka hati kalian sendiri... Tapi AKU...! Aku bersumpah demi nama darahku, aku tetap akan bergerak mengeksekusi apa yang menurut kapasitas instingku adalah sebuah hal yang benar...!!!" Teriak Elizabeth lantang meluapkan emosi tiraninya yang luar biasa gila mengguncang ruangan.
"Jaga mulut kotormu itu, Elizabeth...! Di bawah hukum tata negara Aethelgard yang berlaku, tindakan sepihakmu itu bener-bener bisa membuatmu ku-tangkap kurung ke dalam sel isolasi kapan pun aku mau! Jangan bertindak gegabah atau kau akan menyesal...!" Ucap Zeta berteriak lantang memberikan maklumat peringatan Polisi Militer.
Mendengar ancaman Zeta, Elizabeth perlahan menolehkan kepalanya, melempar sebilah sorot tatapan mata yang teramat tajam nan menekan jiwa seisi perwira.
"Ha? Mengeluarkan ancaman kurungan padaku, Zeta...? Dengar aku baik-baik, Sampah kontinental... Satu-satunya Entitas Absolut yang memegang hak hukum suci untuk bisa menghukum, mencaci, dan mengontrol komando pergerakan fisikku murni hanyalah sosok Ibu seorang, bukan makhluk fana kelas pejabat sipil sekelas kalian...! AKU...! Selaku pimpinan tertinggi Korps Batalion Pasukan Khusus independen Shadow Aethelgard, secara hukum memiliki kebebasan mutlak untuk beraspirasi, bebas berpendapat, dan bebas dalam mengambil segala draf keputusan operasional sepihak, tanpa akan pernah sudi bisa disentuh dihukum oleh barisan pejabat birokrasi seperti kalian... Aku akan tetap Pergi.. mampus kalian semua...!!!" Ucap Elizabeth dengan nada suara yang teramat sangat keras berwibawa, sebelum akhirnya memutar tubuh zirahnya, melangkah kaki cepat berjalan menggebrak keluar meninggalkan Ruang Rapat.
Dengan emosi yang kian mendingin pekat, Elizabeth melangkah kaki tegap berjalan menyusuri labirin koridor kastil batu kuno, bergerak turun menuju ke pangkalan markas operasional bawah tanah miliknya murni untuk mengumpulkan seluruh jajaran personil aktif batalion hantunya.
"Aku bener-bener sudah gak ambil pusing lagi dengan ketakutan konyol kalian semua... Aku bersumpah akan menuntaskan draf pembalasan ini menggunakan caraku sendiri yang jauh lebih berdarah dingin..." Dengus Elizabeth kesal sembari langkah kakinya menyusuri kegelapan koridor bawah tanah.
Sesampainya langkah kaki Elizabeth tepat berada di depan gerbang pintu kayu raksasa ruang barak barisan hantunya, ia langsung mengerahkan sisa tenaga fisiknya murni untuk mendobrak buka pintu tersebut secara kasar.
DORRRRRRR!!!!!!!
Daun pintu dibanting membentur dinding batu secara ekstrem oleh Elizabeth, menampakkan siluet kasual tubuh kecilnya di ambang pintu.
SREKKK... CHRRK...
Mendengar letusan kedatangan komandan tertinggi mereka, dua puluh personel aktif gabungan kasta ras monster, manusia semi-hewan, dan ksatria pilihan itu seketika langsung berdiri tegak lurus, menyatukan tumit sepatu zirah Mirthil mereka murni meluncurkan penghormatan militer paling takzim.
"SELURUH KORPS PASANG ATENSI PERHATIAN KALIAN SEKARANG JUGA...!!! Pada kurasi kurun waktu beberapa menit ke depan, faksi kita secara legal akan bergerak meluncurkan agresi serangan terbuka langsung ke jantung kedaulatan kerajaan lawan... Dan perang kolosal ini murni hanya akan digempur oleh kekuatan unit kita saja...! Tidak akan pernah ada sebilah pun pasokan bala bantuan atau pembelaan taktis dari divisi jenderal istana luar... Ini adalah sebuah draf misi pembersihan berskala yang teramat sangat besar... Target perimeter yang akan kita ratakan sampai mati adalah satu kesatuan Kerajaan raksasa, satu pusat ibu kota, bersanding dengan puluhan koordinat desa sekutu mereka...!!!" Teriak Elizabeth lantang membakar atmosfer barak bawah tanah.
"SIAP, PERINTAH DITERIMA, KOMANDAN ELIZABETH!!!" Jawab dua puluh prajurit hantu tersebut serentak dengan teriakan yang bener-bener lantang bergemuruh.
Elizabeth memajukan langkah kakinya, menatap lekat satu per satu wajah pasukannya dengan tingkat keseriusan taktis yang luar biasa mendingin ekstrem.
"Tanamkan hal ini di dalam lubuk batin kalian... Mungkin saja, draf peperangan kali ini bener-bener bakal bertransformasi menjadi sebuah draf misi terakhir bagi salah satu atau bahkan bagi kita semua yang berada di dalam ruangan ini... Ini adalah misi spionase pembantaian paling berbahaya sepanjang sejarah dungeon kita...! Kita dipaksa bertempur habis-habisan murni hanya mengandalkan kapasitas amunisi unit kita sendiri tanpa ada pasokan bala bantuan sedikit pun dari tanah air...!!!" Ucap Elizabeth penuh dengan balutan tekanan aura hawa membunuh predator yang luar biasa pekat nan mengintimidasi.
"SIAP, KAMI SIAP MATI DEMI KEJAYAAN AETHELGARD, KOMANDAN!!!" Jawab mereka serentak penuh dengan kapasitas rasa percaya diri yang membara, meskipun butiran-butiran keringat dingin mulai mengucur deras keluar dari sekujur kulit mereka akibat merasakan ngerinya atmosfer hawa membunuh sang komandan.
“Sialan parah... Kenapa... Kenapa mulut kotor ragaku bisa meluncurkan bait kalimat perintah se-mengerikan itu di hadapan mereka...? Apakah detik ini juga, seisi kesadaran otakku bener-bener telah resmi kehilangan silsilah kewarasanku sendiri akibat didera rasa bersalah atas hilangnya Ibu...?” Ucap Elizabeth bergumam parau meratapi batinnya yang kian hancur lebur di dalam lubuk jiwanya.
"Segera kemas dan siapkan seluruh pasokan amunisi persenjataan kalian secepatnya... Tepat pada kepungan malam hari ini, faksi kita akan langsung bergerak meluncur menyusup menuju ke perimeter garis perbatasan luar... Agenda rapat darurat barak resmi selesai bubar...!" Ucap Elizabeth tegas, sebelum akhirnya melangkah cepat berjalan keluar meninggalkan ruang barak pasukan menuju ke dalam kamar pribadinya murni untuk mengemas alutsista sniper Rickly Magia 001 miliknya.
Pasca-membubarkan diri, dua puluh personel aktif pasukan khusus tersebut segera duduk berkumpul di meja perjamuan bawah tanah, menyantap porsi menu makan malam hangat yang di dalam lubuk batin mereka sadari mungkin saja akan bertransformasi menjadi menu makanan terakhir yang bisa mereka rasakan di dalam hidup fana ini.
"Ahh... Lumine... Perhatikan ucapanku ini sejenak..." Ucap Rachvian—salah satu personil aktif andalan Elizabeth, membuka pembicaraan sembari menatap lekat wajah sesosok prajurit wanita yang selama ini diam-diam teramat sangat ia cintai di dalam korps. "insting terdalamku sejak sore tadi bener-bener terus-menerus memuntahkan sebilah firasat buruk yang teramat pekat... Oleh karena itu... Aku bener-bener ingin mengungkapkan seluruh silsilah rasa isi hatiku kepadamu detik ini juga sebelum segalanya terlanjur terlambat dihantam takdir kelam... Aku... Aku bener-bener teramat sangat mencintaimu dari lubuk jiwaku, Lumine..." Ucap Rachvian bergetar ketat meluncurkan pengakuan cinta di ambang maut.
"Rach... Rachvian..." Ucap Lumine tertegun kaget, sepasang kelopak mata indahnya seketika menunduk canggung mematung menatap piring makannya.
Perlahan-lahan, ia kembali mendongakkan wajahnya, mengulas sebilah senyuman manis penuh arti yang teramat menyentuh batin. "Iya... Realitas faktanya, aku selama ini juga memiliki rasa suka yang sama terhadap dirimu kok, Rachvian... Jikalau raga kita berdua bener-bener ditakdirkan bisa bertahan hidup selamat melewati draf misi pembantaian maut kali ini... Maka ayok, mari kita jalani kencan berdua secara resmi pasca-perang nanti, Rachvian..." Jawab Lumine lembut mengunci janji suci mereka.
Di sudut meja perjamuan yang lain, tampak pula sepasang anggota pasukan khusus yang memiliki hubungan pertalian darah sebagai Kakak-Adik kandung, sedang saling membongkar isi rahasia batin yang selama ini mereka sembunyikan rapat-rapat.
"hmmmm... Gregory, Adik kecilku... Dengarkan ini..." Ucap Tachibana membuka suara lirih. "Aku bener-bener teramat sangat menyayangi eksistensi hidupmu, dik... Walaupun mungkin di dalam rutinitas harian tindakan kasualku kadang sama sekali tidak terlihat ramah menyerupai sosok kakak yang menyayangimu... Tapi ketahuilah, sebagai Kakak kandung laki-lakimu, aku bersumpah di dalam jiwaku selalu ingin terus bergerak siaga menjaga dan melindungi keselamatan nyawamu menembus badai apa pun..." Ucap Tachibana tulus memeluk pundak adiknya.
"Hehemm... Aku juga merasakan hal yang sama dari dalam hatiku, Kak... Mari kita bersumpah untuk saling menjaga satu sama lain di atas langit medan tempur nanti, ya..." Jawab Gregory sembari menyunggingkan sebilah senyuman hambar, berusaha menepis bayang-bayang trauma maut yang mengintai.
Tepat di saat seluruh jajaran prajurit bawah tanah sedang sibuk saling menumpahkan bait-bait kalimat terakhir yang selama ini tak pernah sanggup mereka ucapkan di dunia nyata, pintu kamar komando mendadak bergeser terbuka. Sosok Elizabeth melangkah keluar dengan zirahnya yang tampak berwibawa dan dingin, memanggul sniper raksasa AWM modifikasinya sembari meluncurkan teriakan komando terakhir.
"PERHATIAN UNTUK SELURUH KORPS... UTAMAKAN FOKUS... SEMUANYA HARAP BERKUMPUL DAN PASANG PERANGKAT JETPACK MANA KALIAN SEKARANG JUGA...!!!" Teriak Elizabeth lantang memecah atmosfer keharuan.
Dalam kurun waktu lima detik, dua puluh personel aktif tersebut secara serentak langsung bergerak sat-set mengunci barisan tegap di belakang posisi komandan mereka, mengunci draf takdir peperangan kontinental.
"Skenario agenda Pembantaian Massal... Detik ini juga resmi akan segera kita mulai... meluncur...!" Ucap Elizabeth berbisik teramat lirih berdarah dingin, sembari sepasang mata merah menyalanya berkilat melepaskan pendaran kekuatan 10% Dewa Galaxy.