Dien Moretz adalah sarjana pengangguran yang selalu gagal dalam wawancara kerja, karena memiliki kekurangan bibir sumbing yang menyebabkan komunikasinya tidak lancar dan dianggap sebuah beban. Suatu hari saat sedang mencari pekerjaan, tiba-tiba ada monster yang muncul dan memangsa orang-orang. Dien yang selamat akhirnya menyadari bahwa ada dunia lain, dunia yang berbeda dari yang dia jalankan selama ini. Dien yang tertarik dan tidak mendapatkan pekerjaan akhirnya memilih menjadi bagian dari dunia tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YT FiksiChannel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ramalan Tarot
Nenek Rose yang hampir gila dan bermutasi mengangkat tangan meminta agar Dien tenang dan tidak panik. Wajah nenek Rose perlahan-lahan kembali normal seperti semula. Nenek Rose tersenyum menyakinkan Dien bahwa dia sudah kembali.
“Guru?” Dien masih waspada.
“Nak Dien apa tujuanmu datang menemuiku kali ini. Jangan katakan kau datang hanya untuk membunuhku yang hampir bermutasi. Haha.” Nenek Rose tertawa ringan.
Dien menatap tajam.
Nenek Rose tersenyum kecil.
Dien bernafas lega dan sedikit mengurangi kewaspadaan ketika melihat nenek Rose yang berwajah pucat tidak lagi menunjukkan tanda-tanda kegilaan ataupun akan bermutasi menjadi monster tanpa akal.
“Guru, apakah kamu tahu siapa anggota keluargaku itu?” Tanya Dien khawatir juga pada akhirnya.
Nenek Rose batuk dua kali dan berkata dengan lemah “Aku tidak melihatnya dengan jelas, namun kamu sangat menyayangi wadah itu. Mungkin itu ayah atau adik laki-lakimu.”
“Lupakan saja! Yang harus kamu lakukan saat ini adalah terus berlatih dan berlatih. Berlatihlah dengan sangat keras hingga mencapai tahta dewa dan mendapatkan kekuatan yang cukup untuk melawan entitas agung itu.” Ucap nenek Rose tersenyum ramah.
Dien mengerutkan kening karena ada sesuatu yang mengganjal.
“Guru, sebenarnya entitas itu jahat atau baik? Kenapa guru memanggilnya entitas agung? Bukankah lebih cocok disebut entitas jahat karena mengambil alih tubuh orang lain?” Tanya Dien heran, karena entitas itu jelas jahat namun kenapa nenek Rose malah menyebutnya entitas agung.
“Tentu saja itu berbahaya.” Ucap nenek Rose kaget mendengar pertanyaan Dien.
Nenek Rose mengangkat tangannya yang tampak lemah, menunjuk wajah Dien.
“Mungkin sekarang dia melihatmu dari suatu tempat.” Ucap nenek Rose tersenyum tipis.
Dien tertegun mendengarnya dan tanpa sadar melihat ke segala arah dengan bulu kuduk berdiri dan merinding.
“Semoga Tuhan melindungi kita semua.” Ucap Dien saleh karena tiba-tiba merasa merinding seakan-akan ada seseorang yang menatapnya dari kegelapan.
Nenek Rose mengangguk, menyentuh dada kanan, kiri, menangkup kedua tangan, dan berkata dengan saleh “Semoga Tuhan melindungi kita semua.”
Seseorang datang meminta ramalan. Nenek Rose dengan senang hati meramal nasib pelanggannya. Setelah pelanggan itu pergi, pelanggan lain datang dan tersenyum ramah kepada Dien, lalu melihat nenek Rose sang peramal.
“Wanita tua beritahu aku. Apakah aku masih dapat mempertahankan hidupku?” Tanya pelanggan bermata biru cerah tersebut.
“Siapa namamu anak muda?” Nenek Rose tersenyum menanyakan nama pemuda bermata biru tersebut.
“Loki Thorfinh.” Balas pemuda dengan senyuman ramah.
Nenek Rose mengangguk mengerti dan dengan ahli memainkan peran sebagai peramal, wanita tua itu menggunakan kartu tarot untuk meramal nasib pelanggannya tersebut.
Nenek Rose menyusun tiga kartu di depan dan menatap Loki.
“Pilih satu anak muda.” Nenek Rose tersenyum.
Loki tampak memilih dengan serius, lalu memilih kartu kiri. Nenek Rose mengerti dan membuka kartu tersebut.
Kartu tersebut adalah kartu Death yang melambangkan kematian.
“Kematian?” Nenek Rose menatap wajah Loki dan mulai menerima bisikan halus.
“Masa hidup abadimu sudah habis. Kamu akan mati meskipun berganti tubuh, memakan buah keabadian, melakukan ritual pengorbanan, naik tingkat spiritual, atau apapun yang bisa membuatmu abadi. Terimalah kematianmu dengan tenang.” Ucap nenek Rose memberitahu bisikan yang dia terima.
“Begitu ya. Haha.” Loki tertawa mendengar hasil ramalannya.
Dien seketika menoleh melihat Loki karena mendengar kata ‘berganti tubuh’. Loki tersenyum kepada Dien, lalu mengeluarkan lima lembar kertas emas dengan nilai 100 ribu.
“Terima kasih!” Ucap Loki melangkah pergi meninggalkan Dien dan nenek Rose yang penuh tanda tanya.
Seseorang datang dengan langkah elegan, penuh keangkuhan, dan memandang rendah siapapun. Pria paruh baya itu menatap nenek Rose tajam, lalu tersenyum seramah mungkin dan memperbaiki kacamatanya.
“Wanita tua tolong ramal masa depanku.” Pinta pria paruh baya dengan tatapan merendahkan yang samar.
Nenek Rose tersenyum menanggapi pria paruh baya berkacamata dan tampak elegan tersebut.
“Siapa namamu tuan?” Nenek Rose mulai mengacau kartu tarot.
“Odegaard Light!” Balas pria paruh baya tegas.
Nenek Rose mengerti dan meletakkan tiga baris kartu tarot di hadapan tuan Light yang elegan dan sombong.
“Pilih satu tuan.” Pinta nenek Rose dengan senyuman.
Tuan Light menekan dan mendorong kartu tengah.
Nenek Rose mengerti dan membuka kartu tersebut. Kartu itu ternyata The Tower yang melambangkan kehancuran tak terduga. Nenek Rose memejamkan mata mendengar bisikan roh tertentu yang membantunya mengintip rahasia ilahi.
“The Tower? Kartu itu menyiratkan keruntuhan tiba-tiba dari rencana atau struktur yang sudah dibangun, seringkali dianggap sebagai kegagalan mutlak.” Batin tuan Light tidak percaya.
“Tuan kamu akan…” Nenek Rose mulai memberitahu bisikan yang dia terima dari roh tertentu.
“Aku tidak percaya itu! Jangan mengatakan apapun!!!” Potong tuan Light menolak mendengar apalagi percaya.
Tuan Light melempar sekantong emas ke nampan yang menampung uang, lalu melangkah pergi dengan langkah berat dan melepaskan aura mengerikan.
“Aura pembunuh yang sangat kuat!” Dien bergidik ngeri dan merasa rendah diri dihadapan tuan Light.
Nenek Rose berkeringat dingin dan hampir pergi meninggalkan tempat duduknya.
“Kau takut Dien?” Tanya nenek Rose dengan tangan gemetar.
Dien yang sangat terintimidasi ditarik kembali ke dunia nyata. Dien melihat nenek Rose yang tampak sangat ketakutan.
10 menit berlalu dalam diam.
Dien dan nenek Rose akhirnya dapat bernafas lega setelah memastikan tuan Light benar-benar pergi dan hawa keberadaannya yang sangat mengerikan tidak terasa lagi.
Dien menatap nenek Rose dan merasa sedikit rileks.
“Guru kenapa praktisi spiritual, roh jahat, dan monster disembunyikan dari dunia? Apakah ada alasan tertentu?” Tanya Dien mencoba kembali ceria dan memasukkan selembar uang bernilai 100 ribu kertas emas.
Nenek Rose tersenyum dan menyingkirkan ketakutannya. Nenek Rose menatap wajah Dien yang kabur karena matanya tiba-tiba rabun akibat menerima tekanan.
“Tidak ada alasan tertentu kenapa praktisi spiritual disembunyikan dari dunia. Hal itu dilakukan murni hanya untuk menekan jumlah praktisi spiritual liar, praktisi spiritual jahat, praktisi liar yang bermutasi, dan praktisi yang mengaku-ngaku sebagai Tuhan. Intinya, jika dunia tahu ada kekuatan spiritual yang didapatkan dengan meminum ramuan, maka dunia ini akan kacau dan dipenuhi berbagai praktisi spiritual yang memiliki berbagai watak dan sifat yang tidak bisa diprediksi. Untuk menekan resiko, maka para raja memutuskan untuk merahasiakan praktisi spiritual maupun cara menjadi praktisi spiritual dari masyarakat luas.” Jelas nenek Rose sesuai dengan pengetahuannya.
“Selain alasan itu, pemerintah atau praktisi resmi akan semakin sibuk menangani praktisi spiritual yang tidak terafiliasi dengan organisasi resmi jika masyarakat banyak memilih menjadi praktisi spiritual resmi maupun ilegal.” Tukas nenek Rose tersenyum, lalu batuk dua kali.
Dien mengerti garis besarnya setelah mendengar penjelasan tersebut.
“Jika seluruh manusia di dunia ini tahu tentang kita, tentang praktisi spiritual dan bagaimana caranya menjadi praktisi spiritual. Anggap saja dunia ini akan menjadi dunia animasi yang penuh dengan orang-orang yang memiliki kekuatan super. Kamu seharusnya bisa membayangkan apa yang akan terjadi, kan?” Nenek Rose menatap tajam dan tersenyum lemah.
Dien tertegun dan membayangkan apa yang akan terjadi.
“Dunia ini akan hancur akibat pertarungan antara praktisi spiritual yang memiliki perbedaan tujuan dan pandangan.” Ucap Dien tanpa sadar.
Nenek Rose mengangguk puas.
Dien mengingat beberapa anime dan donghua yang dia tonton. Semua animasi itu memiliki satu latar belakang, yaitu dunia yang hancur dan penuh dengan pertarungan menggunakan kekuatan magis atau kekuatan super. Setiap pertarungan magis, selalu meninggalkan kehancuran.
Intinya dunia animasi itu sangat berbahaya dan tidak layak ditempati.
Dien dapat membayangkan dunianya akan bernasib sama seperti dunia anime atau donghua, jika terlalu banyak praktisi spiritual yang memiliki berbagai tujuan dan pandangan berbeda-beda.
Dien menghela nafas dan menghilangkan bayangan buruk itu.
“Terima kasih bimbingannya guru.” Ucap Dien hormat, lalu berdiri dan pergi.
Bersambung.