NovelToon NovelToon
Jejak Bintang Di Ujung Mantra

Jejak Bintang Di Ujung Mantra

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Akademi Sihir / Fantasi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Kyushine / Widi Az Zahra

Aurelia hanyalah seorang anak yatim piatu yang diadopsi keluarga penyihir terpandang. Dibesarkan bersama tiga putra berbakat, ia tumbuh ditengah kasih sayang sekaligus harapan untuk menjadi bagian dari keluarga itu selamanya.

Namun takdir berkata lain.

Dibalik senyumnya, Aurelia menyimpan kekuatan langka yang mampu mengubah dunia. Saat masa lalunya perlahan terungkap, ia dipertemukan kembali dengan sosok yang pernah menyelamatkannya di masa kecil—seseorang yang tak pernah berhenti mencarinya, sementara ia telah melupakannya.

Di antara takdir, sihir, dan perasaan yang tak pernah terduga, siapa yang akan dipilih oleh hati seorang penyihir terakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 – Konstelasi yang Terpilih

Seluruh Arena Celestia kini diselimuti cahaya putih keperakan yang memancar dari tongkat Astralis. Empat aliran cahaya itu terus berputar mengelilingi Aurelia, Lyra, Aeron, dan Selene, membentuk garis-garis tipis yang saling terhubung seperti gugusan bintang di langit malam.

Tak seorang pun disana bergerak atau pun berani untuk memutus lingkaran itu, bahkan Armand yang masih bertarung di udara sempat melirik ke arah putrinya. Tatapannya berubah, bukan karena terkejut, tetapi karena sesuatu yang selama ini ia khawatirkan akhirnya benar-benar terjadi.

“Akhirnya.” Gumamnya pelan.

Di bawah arena, Selena ikut memandang ke arah empat cahaya itu. Wajahnya sedikit memucat, ia mengetahui simbol tersebut, simbol yang selama bertahun-tahun hanya muncul dalam naskah kuno keluarga Arvendis—Konstelasi Astralis. Legenda yang bahkan sebagian besar penyihir menganggapnya hanyalah dongeng.

“Profesor.” Suara Cedric terdengar lirih. “Sebenarnya apa itu?” Aldric tidak menjawab. Tatapannya masih terpaku pada empat cahaya yang terus berputar.

“Aku baru melihatnya sekali.” Cedric langsung menoleh cepat.

“Kapan?” Aldric menghembuskan napasnya perlahan mendengar pertanyaan Cedric.

“Lima puluh tahun yang lalu.” Seluruh professor membelalak, bahkan Elowen yang biasanya tenang ikut terdiam.

“Lima puluh tahun itu saat…” Aldric mengangguk pelan. “.. perang Astralis.” Profesor Elowen melanjutkan. Nama itu kembali membuat suasana menjadi sunyi. Aurelia yang mendengar percakapan mereka semakin kebingungan.

Sejak kecil, ia sering mendengar nama Astralis. Namun tidak pernah ada seorang pun yang mau menjelaskan apa sebenarnya Astralis itu. Mengapa semua orang selalu menghindari pembahasan tersebut? Mengapa ayah dan ibunya selalu mengganti topik setiap kali ia bertanya? Kini, nama itu kembali muncul, dan semua orang terlihat ketakutan.

Suasana di Arena Celestia kembali tenggelam dalam keheningan. Tidak seorang pun berani mengucapkan sepatah kata setelah nama Perang Astralis disebutkan oleh Aldric, bahkan para murid yang sejak awal tidak memahami apa yang sedang terjadi dapat merasakan perubahan suasana di wajah para professor.

Nama itu bukan sekedar bagian dari sejarah, melainkan sebuah luka lama yang masih belum benar-benar sembuh. Aurelia memperhatikan satu per satu wajah orang-orang di sekelilingnya.

Professor Cedric menundukkan pandangannya, seolah sedang mengingat sesuatu yang tidak ingin ia kenang kembali. Bahkan Kael, Rowan, dan Lucien yang biasanya selalu terlihat tenang kini menunjukkan ekspresi yang belum pernah Aurelia lihat sebelumnya.

“Kak..” gumam Aurelia pelan yang membuat Lucien menoleh. “… Perang Astralis itu apa sebenarnya?” Lucien tidak langsung menjawab, ia menghembuskan napasnya perlahan sebelum menjawab.

“Aku tidak tahu semuanya, yang kutahu hanya sedikit. Aku pernah mencoba mencari catatan tentang Perang Astralis di perpustakaan Agung, namun setiap buku yang menyebut nama itu, selalu berhenti di halaman yang sama, seakan telah di segel.” Terang Lucien. Lyra yang mendengar itu pun langsung mengernyitkan keningnya.

“Disegel?”

“Semua naskah yang berkaitan dengan Astralis hanya dapat di akses oleh Kepala Akademi dan Dewan Agung Penyihir.” Jelas Lucien.

“Dan alasannya tidak pernah dijelaskan.” Sahut Rowan yang juga sedikit tahu, karena murid tingkat akhir memang diperkenalkan beberapa catatan tentang sejarah yang tidak diajarkan kepada murid lain. Selene yang sejak tadi hanya mendengarkan perlahan mengangkat wajahnya.

“Ayahku pernah mengatakan…” Semua mata langsung tertuju pada Selene. “… bahwa ada beberapa sejarah yang sengaja dilupakan, karena jika semua orang mengetahuinya, dunia akan mengulang kesalahan yang sama.” Sambungnya yang membuat kondisi di sekitar mereka kembali diselimuti oleh keheningan.

Ucapan yang dilontarkan Selene itu justru membuat bulu kuduk beberapa murid meremang. Aeron yang berdiri tak jauh dari mereka kembali menatap langit, bekas retakan hitam itu masih terlihat jelas.

“Aku tidak mengerti,” katanya pelan. “Kalau perang itu sudah berakhir puluhan tahun lalu, kenapa makhluk itu masih mencari Astralis?” Tak ada seorang pun yang mampu menjawab pertanyaan tersebut, bahkan Armand yang mendengarnya dari kejauhan hanya memejamkan matanya untuk sejenak.

Tatapan Armand kemudian beralih ke arah putrinya, ada begitu banyak hal yang ingin ia ceritakan, dan begitu banyak rahasia yang selama ini ia sembunyikan, namun belum sekarang. Menurutnya, jika semua kebenaran diungkapkan saat ini, beban di pundak Aurelia akan menjadi jauh lebih berat dari pada yang sanggup ia pikul.

Di bawah kubah cahaya, Selena tetap mempertahankan mantranya. Cahaya keemasan terus mengalir dari ujung tongkatnya menuju seluruh lapisan pelindung Aetherion. Meski pandanganya tidak pernah lepas dari lingkaran sihir yang ia pertahankan, sudut matanya sesekali terangkat ke langit.

Ia menatap suaminya yang masih bertarung seorang diri. Ada kekhawatiran yang ia sembunyikan di balik wajah tenangnya, namun ia memilih untuk tetap percaya. “Aku percaya padamu, kau pasti bisa, karena kita belum boleh kalah sekarang.” Gumamnya yang nyaris tak terdengar.

Sedangkan cahaya putih keperakan masih membentang di antara Aurelia, Lyra, Aeron dan Selene. Empat garis cahaya itu membentuk pola yang sama sekali belum pernah tercatat dalam sejarah Akademi Aetherion.

Tidak ada seorang pun yang berani mendekat, karena empat garis cahaya yang membentang itu membentuk bintang bersudut tujuh. Mana di seluruh Arena Celestia menjadi begitu tenang, angin yang sejak tadi berhembus kencang mendadak berhenti. Bahkan suara retakan langit yang beberapa saat lalu mengguncang akademi kini seolah menjauh, yang tersisa hanyalah cahaya Astralis.

Di balik retakan langit, makhluk bermata merah masih memperhatikan cahaya yang menyelimuti empat murid itu. Tatapannya tidak lagi tertuju hanya pada Aurelia, ia mulai memperhatikan Lyra, kemudian Aeron, lalu Selene. Senyumnya pun perlahan menghilang.

“Empat.” Suara beratnya kembali menggema. “Tidak mungkin.” Untuk pertama kalinya rasa ragu muncul dalam suaranya.

Sementara itu, Aurelia menatap cahaya yang menghubungkan tangannya dengan tiga rekannya. Saat ia mencoba menyentuh salah satu garis cahaya, seketika penglihatannya berubah, dunia di sekelilingnya lenyap, Arena Celestia menghilang, langit hitam pun menghilang, yang tersisa hanyalah hamparan langit malam yang dipenuhi jutaan bintang. Ia berdiri seorang diri.

“Dimana aku?” gumamnya pelan. Belum sempat ia melangkah, suara seseorang terdengar dari belakangnya.

“Akhirnya, kau mendengarkanku.” Aurelia membalikkan badan.

Di hadapannya berdiri seorang wanita berjubah putih panjang. Rambutnya berwarna perak keemasan menjuntai hingga hampir menyentuh tanah. Di dahinya terdapat lambang berbentuk bintang bersudut tujuh. Namun wajah wanita itu tidak terlihat jelas, seolah tertutup kabut cahaya.

“Siapa kau?” Wanita itu tersenyum lembut.

“Aku adalah penjaga terakhir Astralis.”

Di dunia sebenarnya, tubuh Aurelia masih berdiri diam, namun kedua matanya perlahan berubah. Iris birunya mulai memancarkan cahaya keperakan. Lyra yang menyadari itu pun terlihat panik.

“Relia?” Ia mencoba menyentuh bahu sahabatnya. Namun begitu tangannya menyentuh Aurelia, Lyra ikut membeku. “Apa?” gumamnya. Pemandangan dihadapannya berubah, beberapa detik kemudian hal yang sama terjadi pada Aeron dan juga Selene.

Keempat murid itu tetap berdiri di tempat yang sama, namun kesadaran mereka telah memasuki ruang yang berbeda. Melihat kejadian itu, Orion langsung membelalak.

“Ruang konstelasi.” Gumamnya. “Mustahil.” Ucap Orion.

“Kau mengenalnya?” Tanya Aldric.

Orion tetap memandang ke arah Aurelia, suaranya terdengar jauh lebih berat dari sebelumnya. “Legenda itu ternyata benar.” Ucapnya lagi yang tak mengalihkan pandangannya pada Aurelia dan ketiga lainnya.

Sementara semua perhatian tertuju pada empat murid tersebut, tak seorang pun menyadari burung gagak hitam yang sejak beberapa hari lalu mengawasi Aurelia masih bertengger di salah satu menara akademi.

Mata merah burung itu memancarkan cahaya redup, ia membuka paruhnya perlahan. Kemudian mengeluarkan suara lirih yang hanya bisa didengar oleh satu orang.

“Tuanku, konstelasi Astralis telah bangkit.”

Jauh. Di tempat yang bahkan tidak tercatat dalam perta mana pun, seorang pria bertopeng putih perlahan membuka matanya, dan senyum tipis terukir dibalik topeng itu. “Akhirnya, sudah waktunya.” Ia berdiri perlahan. Lalu meraih sebuah pedang hitam yang tertancap di singgasana batu. “Kalau begitu, biarkan permainan ini benar-benar dimulai.” Ucapnya lagi.

1
Diana Novitasari
rekomendasi dari kak Adib, aku baru baca sampai bab 5 🤭, sudah bagus👍
ujang casper
lanjut
ujang casper
ceritanya menarik, ada unsur harry potternya, keren min
Anonim
bagus ceritanya, kalimatnya tersusun rapi
Anonim
lanjut kak
kyu rin97
ceritanya sejauh bab 5 yg aku baca bagus, recommended, pertahanin kak
kyu rin97
seru kak, next
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!