Hidup Dara runtuh dalam satu hari.
Pekerjaannya hilang tanpa peringatan. Perusahaan tempatnya kerja kini terancam bangkrut dan harus mem-PHK semua karyawannya termasuk Dara. Kini Dara merasa hidupnya runtuh, karena disaat yang sama Ibunya sedang di rawat di rumah sakit dan butuh biaya yang sangat besar. Di titik terendahnya, Dara hanya punya dua pilihan: bertahan atau menyerah.
Kini Takdir membawanya ke sebuah perusahaan besar, di sana ia menjadi sekretaris pribadi seorang CEO dingin, perfeksionis, dan penuh rahasia.
Pria itu setelah di khianati mantan istrinya tidak lagi percaya pada cinta. Namun sejak kehadiran Dara, sekretaris baru yang berani, tulus, dan penuh tekad, kini hatinya mulai goyah.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29 : Sangat menegangkan
Ibu Sandra menatap Dara lama, tatapan itu penuh penilaian, penuh ketidakpercayaan. Lalu wanita paruh baya itu perlahan melangkah mendekat.
"Alex..." suaranya terdengar berat. "Apa wanita ini yang sudah membuatmu menghancurkan pernikahanmu sendiri?"
"Mommy."
"Tidak. Mommy belum selesai."
Ibu Sandra menunjuk ke arah Dara. "Apakah dia menjebakmu?"
Deg.
Dara langsung membeku.
"Apa dia membuatmu merasa kasihan?" lanjut Ibu Sandra. "Atau dia sengaja membuat dirinya terlihat lemah di depanmu?"
"Mommy, cukup."
"Ini belum cukup!" Suara Ibu Sandra meninggi. "Mommy mengenalmu sejak kau lahir, Alexander!"
Ruangan langsung sunyi.
"Kau bukan pria yang mudah jatuh cinta." Tatapan Ibu Sandra turun naik memperhatikan Dara. "Bahkan selama dua tahun menikah dengan Sabrina pun kau tidak pernah benar-benar mencintainya."
Deg.
Sabrina langsung memejamkan mata.
"Jadi bagaimana mungkin tiba-tiba kau ingin menikahi wanita ini?" Ibu Sandra kembali menatap Dara. "Apa kau sudah menyelidiki keluarganya?"
"Mommy..."
"Apa kau tahu siapa orang tuanya?"
Alexander mulai mengepalkan tangan.
"Kalau memang kau ingin menceraikan Sabrina..." lanjut Sandra, "setidaknya carilah wanita yang sepadan dengan keluarga kita."
Wajah Dara sedikit memucat.
"Bukan wanita yang tidak jelas asal usulnya."
Pak Arga langsung mengernyit. "Sandra."
"Aku belum selesai, Mas."
Ibu Sandra tidak peduli, tatapannya tetap tertuju pada Dara. "Siapa namamu?"
Dara menelan ludah. "Saya Dara, Tante."
Wajah Sandra langsung berubah dingin. "Tante?"
Deg.
"Kau bekerja untuk Alexander."
Dara terdiam.
"Jadi seharusnya kau memanggilku Nyonya Besar."
Ruangan semakin sunyi.
"Bukan Tante."
Sandra memperhatikan pakaian Dara. Cara berdirinya, cara berbicaranya. Seolah sedang mencari kekurangan wanita itu.
"Lihat dirimu."
"Mommy!"
"Diam dulu, Alex!"
Sandra mengangkat tangan. "Mommy hanya ingin tahu." Tatapannya kembali menusuk Dara. "Apa yang sebenarnya kau ingin berikan pada anakku?"
Dara menggenggam tasnya semakin erat.
"Harta?" lanjut Ibu Sandra sinis. "Tidak. Kecantikan?" Ibu Sandra menggeleng. "Itu juga bukan sesuatu yang kau miliki."
Sabrina yang mendengar itu perlahan mulai tersenyum puas. Sedangkan wajah Alexander semakin dingin.
"Jadi apa?" Ibu Sandra menatap Dara tajam. "Apa kau sudah membuat Alex merasa bersalah jika dia meninggalkanmu?"
"Atau..." Ibu Sandra berhenti sejenak. Lalu mengucapkan kalimat yang membuat ruangan membeku. "Jangan-jangan kau memang sengaja menjebak Alex supaya dia mau menikahimu."
Deg!
"Mommy!"
Kali ini suara Alexander menggema di seluruh ruangan. Namun Sandra tetap tidak mengalihkan pandangan dari Dara.
"Sebaiknya kau mengaku saja..." ucap Sandra dingin. "Karena Aku tidak melihat alasan apa pun yang membuat Alexander Dirgantara jatuh cinta pada wanita seperti dirimu."
Kalimat terakhir Ibu Sandra membuat seluruh ruangan membeku. Dara berdiri diam, tidak membantah, tidak menangis. Namun jemarinya yang menggenggam tas terlihat sedikit gemetar.
Alexander melihatnya dan hal itu justru membuat rahangnya mengeras. "Mommy sudah selesai?" tanyanya dingin.
Sandra menoleh.
Alexander mengangguk pelan. "Kalau sudah, sekarang giliran aku yang bicara."
Suasana langsung berubah, karena semua orang bisa merasakan sesuatu yang berbeda dari Alexander. Pria itu marah, namun bukan kemarahan yang meledak-ledak. Justru kemarahan dingin yang jauh lebih menakutkan.
Alexander berdiri tepat di depan Dara. Tatapannya tetap tertuju pada ibunya. "Mommy bilang Dara menjebakku?" suaranya rendah.
Ibu Sandra tidak menjawab.
Alexander tertawa pendek. Namun sama sekali tidak terdengar lucu. "Kalau memang ada yang harus disalahkan..." rahangnya mengeras. "Maka orang itu adalah aku."
Semua orang membeku.
Ibu Sandra mengernyit. "Apa maksudmu?"
Alexander menatap Dara sesaat. Wanita itu langsung menegang. "Karna Dara tidak salah, aku yang mendekatinya."
Ruangan sunyi.
"Bukan Dara juga yang mengejarku."
Sabrina perlahan kehilangan warna wajahnya.
Alexander kembali menatap ibunya. "Aku yang sudah menodainya, aku juga yang sudah merebut kehormatannya."
Deg!
Mata Sandra membesar. "Alex..." suara Sandra mulai bergetar.
"Sekarang... Aku yang tidak bisa melepaskannya begitu saja."
Dara langsung menunduk. Jantungnya berdegup sangat keras. Lalu Alexander mengucapkan sesuatu yang membuat seluruh ruangan membeku.
"Tanpa restu dari Mommy aku akan tetap menikahi Dara, aku akan tetap bertanggung jawab dengan semua perbuatanku."
Pak Arga langsung mengangkat kepala.
Sabrina membelalak. Sedangkan Ibu Sandra menatap putranya dengan tidak percaya.
"Alex..."
Alexander tidak mengalihkan pandangan. "Mommy setuju ataupun tidak." Tatapan Alexander berubah tegas. "Aku tetap akan menceraikan Sabrina."
"Alex!"
"Karena dia telah mengkhianati pernikahan ini lebih dulu."
Ruangan kembali sunyi.
Alexander melanjutkan. "Dan setelah semuanya selesai..." tatapannya menjadi dingin. "Aku harap jangan ada yang menghalangi aku untuk menikahi Dara."
Deg!
Kalimat itu menghantam semua orang.
"Mommy tidak setuju!" bentak Ibu Sandra.
Alexander tidak bergeming. "Itu hak Mommy."
Lalu tanpa mengatakan apa pun lagi, ia meraih tangan Dara. "Ayo kita pergi dari sini."
Dara yang masih syok hanya bisa mengangguk pelan. "I-iya, Tuan."
Alexander langsung membawanya menuju pintu keluar mansion.
"Alex! Berhenti!" teriak Ibu Sandra.
Namun Alexander tidak menoleh. Pak Arga hanya bisa memejamkan mata. Sedangkan Sabrina, wanita itu berdiri membeku. Selama ini ia masih menyimpan harapan bahwa Alexander hanya sedang marah. Bahwa suatu hari pria itu akan kembali kepadanya.
Namun hari ini, Alexander mengaku di depan keluarganya sendiri. Dan itu menghancurkan sisa harapan yang ia miliki.
"Tidak..." bisik Sabrina. Air matanya jatuh semakin deras. "Tidak..."
Melihat Alexander dan Dara yang semakin mendekati pintu keluar, sesuatu dalam dirinya akhirnya runtuh.
"Aku tidak terima!" Sabrina berlari.
"Sabrina...!" Pak Arga langsung berdiri.
Terlambat, Sabrina mengejar mereka dengan wajah penuh amarah. Dara yang sedang berjalan di samping Alexander bahkan tidak sempat bereaksi.
Brak!
Sabrina menarik rambut Dara dari belakang dengan keras.
"Akh!"
Tubuh Dara langsung terhuyung.
"Dasar wanita perebut suami orang!"
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Dara.
Deg!
Seluruh ruangan membeku. Dara bahkan tidak sempat melindungi diri, tubuhnya kehilangan keseimbangan.
"Sabrina!" teriak Ibu Sandra.
Pak Arga langsung berdiri, namun orang yang paling terkejut adalah Alexander. Kini Ekspresi Alexander benar-benar berubah. Mata pria itu membelalak, karena ia melihat Dara terdorong ke samping sambil memegangi pipinya yang memerah.
Dan sesaat kemudian Alexander merasa marah dan tidak terima Dara di perlakukan seperti itu oleh Sabrina. Akhirnya Alexander berbalik perlahan, tatapannya jatuh tepat pada Sabrina.
Tatapan yang membuat wanita itu langsung membeku di tempat. Karena untuk pertama kalinya selama dua tahun pernikahan mereka. Sabrina melihat Alexander menatapnya seperti orang asing. Bahkan lebih dingin daripada orang asing.
"Sabrina." Suara Alexander kembali terdengar pelan.
Namun kini seluruh ruangan bisa merasakan kemarahan yang berusaha ditahannya. Tatapannya beralih ke tangan Sabrina yang masih menggenggam sebagian rambut Dara.
"Lepaskan tanganmu."
Sabrina langsung melepaskannya. Dara terhuyung beberapa langkah ke belakang sambil memegangi pipinya yang memerah.
Alexander langsung berbalik. "Dara."
Wanita itu menunduk.
"Apa kamu terluka?"
Dara menggeleng pelan meski matanya mulai berkaca-kaca. "Tidak apa-apa, Tuan."
Jawaban itu justru membuat wajah Alexander semakin dingin. Karena ia bisa melihat bekas lima jari yang mulai muncul di pipi Dara.
Ruangan kembali sunyi.
Lalu Alexander menoleh kepada Sabrina. "Sudah selesai?"
Deg.
Sabrina membeku. "Alex..."
"Aku bertanya."
Sabrina mulai menangis lagi. "Aku hanya marah..."
"Itu bukan alasan." Suara Alexander terdengar datar.
"Aku hanya tidak terima!"
"Dan karena itu kau memukulnya?"
Sabrina kehilangan kata-kata.
Alexander melangkah mendekat. "Selama dua tahun menikah."
Sabrina langsung menegang.
"Aku tidak pernah menyentuhmu sekalipun. Karena aku menghormatimu sebagai istriku."
Air mata Sabrina semakin deras.
"Tapi hari ini..." Tatapan Alexander jatuh lurus ke matanya. "Kau baru saja menyerang wanita yang tidak melakukan apa pun kepadamu."
"Alex, aku..."
"Cukup."
Sabrina langsung terdiam.
Alexander menghembuskan napas panjang. Kali ini ia mengucapkan kalimat yang menghancurkan seluruh harapan Sabrina. "Mulai hari ini."
Suasana mansion mendadak terasa mencekam.
"Kita tidak memiliki hubungan apa pun selain urusan hukum perceraian."
Wajah Sabrina langsung kehilangan warna. "Alex..."
"Jangan pernah hubungi aku."
Air mata Sabrina jatuh tanpa henti. "Alex, tolong..."
"Dan jangan pernah menyentuh Dara lagi."
Kalimat terakhir itu terdengar seperti peringatan. Bahkan Pak Arga ikut menegang, karena semua orang tahu. Alexander tidak sedang bercanda, jika Sabrina berani melakukannya lagi, Alexander tidak akan tinggal diam.
"Alex..." bisik Sabrina sambil terisak.
Namun Alexander tidak lagi melihat ke arahnya. Pria itu berbalik menuju Dara. Dengan hati-hati ia mengangkat dagu wanita itu. Pipinya benar-benar memerah.
Rahangan Alexander kembali mengeras. "Ayo pulang."
Dara terdiam beberapa detik. Lalu mengangguk pelan. "Iya, Tuan."
Alexander menggenggam tangan Dara. Kemudian berjalan menuju pintu keluar.
"Alexander!"
Kali ini suara Pak Arga menghentikannya. Langkah Alexander berhenti. Pria itu menoleh, Pak Arga berdiri di tengah ruangan. "Apakah keputusanmu tidak bisa diubah lagi?"
Keheningan memenuhi ruangan.
Alexander menatap ayahnya lama. Lalu menjawab dengan tenang. "Tidak."
Pak Arga memejamkan mata. Karena dari cara putranya menjawab, ia tahu semuanya benar-benar telah berakhir. Dan seluruh harapan untuk menyatukan kembali Alexander dengan Sabrina.
Alexander lalu menatap kedua orang tuanya. "Aku tetap menghormati Mommy dan Daddy."
Ibu Sandra langsung menunduk.
"Tapi untuk hidupku..." Tatapannya menjadi tegas. "Aku akan memilih jalanku sendiri."
Setelah mengatakan itu, Alexander kembali menggenggam tangan Dara. Kali ini tidak ada seorang pun yang menghentikannya. Mereka berjalan keluar dari mansion.