Tim gabut generasi delapan dan tim gabut generasi sembilan
Sambungan GD 2, GD 3 dan The Buwono Family.
Tiga sepupu yang satu sekolah dan satu kelas di SMP PRC, dikenal memiliki jiwa kepo tinggi. Seperti hal para ayah mereka, Sheva Sasono, Kenzie Buwono dan Zane Sihasale, sering tidak sengaja terlibat ( melibatkan diri ) dalam kasus kriminal. Bersama tim ayah mereka, ketiganya saling bahu membahu memecahkan misteri.
Generasi ke delapan klan Pratomo
Generasi ke sembilan klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengawasi Club XX
"Bang Naga pacaran sama Mbak Ela?" tanya Sheva saat mereka berada di dalam mobil Naela. Mereka hendak mengunjungi museum negara.
"Belum. Ela masih tarik ulur," jawab Dragon sambil menoleh ke arah Naela yang fokus menyetir.
"Ya ampun Mbak. Sekian tahun lho sama Bang Naga," timpal Kenzie.
"Eh, gue itu masih kuliah. Belum nanti penempatan. Masih mumet ini!" balas Naela sambil membelokkan mobilnya ke arah museum nasional. "Kalian yakin mau bawa-bawa nama Oom Victor dan Oom Steven?"
"Lho? Kan ada Mbak Ela. Anak kolong salah satu Jendral Kopassus. Kita memanfaatkan itu," jawab Zane santai.
Naela melongo. "Astaga Dragon Ball! Jadi kalian itu sengaja bawa-bawa aku? Apa kata Pak Wiro Sableng nanti?"
"Yaaaa bilang saja ... Bawa nama Oom Wiro Sableng demi penyelidikan barang-barang berharga milik negara," sahut Kenzie dengan wajah acuh.
Dragon terbahak. "Nepotismenya maut ya, Ela."
Naela menggelengkan kepalanya. "Wis kalau ada apa-apa, kalian yang menghadap Pak Wirasana Gardapati ya!"
Ketiga adiknya hanya memberikan hormat. "Siap!"
***
Kelimanya pun masuk ke dalam museum nasional. Seorang petugas di sana, terkejut melihat kelima orang yang berbeda ras. Dia melihat seragam PRC School dan tahu yang datang dari sekolah elit di Jakarta.
"Selamat sore. Maaf tapi museum akan tutup setengah jam lagi," ucap petugas itu.
Naela melihat tag nama petugas itu. "Selamat sore Pak Antoni. Nama saya Naela Gardapati. ini sahabat saya, Dragon dari Belanda dan tiga adik saya. Kami ingin bertemu dengan direktur dan kurator museum nasional."
"Kurator dan direktur museum. Soal apa?" tanya Antoni.
"Artifak palsu dari Gunung Kawi," jawab Zane. "Saya Zane Sihasale, ayah saya Brigjen Victor Sihasale."
Antoni teringat pria berbadan besar yang datang bersama dengan pria berkulit putih mirip aktor Korea. Sampai dia bingung, kenapa ada polisi ganteng seperti itu. Karena selama ini dia jarang melihat polisi dengan good looking. ( padahal salah orang, karena yang diingat adalah Kombes Arief ).
"Tapi kenapa adik-adik mau tahu?" tanya Antoni.
"Karena kami yang menemukan jenazah Akbar Maulana," jawab Sheva serius.
"Dan kami juga yang menemukan artifak itu," timpal Kenzie.
***
Kelima orang itu memeriksa artifak yang dinyatakan aspal, asli tapi palsu. Dragon mengakui yang membuat super niat.
"Kalau ada Oma Wening, bisa tahu ini jenis tanahnya," gumam Sheva.
"Lha Oma Wening lagi pameran di Seoul," ujar Naela.
"Apa maksudnya? Oma ... Wening?" tanya direktur museum.
"Iya. Wening Blair. Oma kami yang artis tembikar. Tadi saya lihat ada beberapa karyanya di sini," jawab Kenzie.
"Ya Allah ... Kalian keturunan klan Pratomo?" seru kurator itu.
"Lha, nama tengah aku Pratomo," jawab Naela cuek. "Jadi ini palsu?"
"Palsu, Mbak Naela. Kita cek dari platinanya dan dibandingkan dengan yang kita punya di sekitar abad sama," jawab kurator itu.
Sore itu kelima orang disana mendapatkan pelajaran tentang komposisi logam dan tanah. Mereka juga melihat perbandingannya jauh sekali.
"Tapi untuk barang yang palsu, ini masih punya nilai seninya. Aku angkat topi buat artisnya," celetuk Dragon.
Keempat orang yang bersamanya, menatap sebal ke pria ganteng itu. "Pemalsuan tetap pemalsuan. Sama seperti plagiarisme!" sungut Naela.
"Oh come on, Naela sayang. Niet elke kunstenaar is in staat om iets met dit detailniveau te creëren. Geef de nodige erkenning waar die op zijn plaats is ( Tidak semua artis atau seniman mampu membuat sedetail ini. Berikanlah kredit sedikit )," ucap Dragon sambil tertawa.
Naela terdiam begitu juga dengan ketiga adiknya. "Tunggu ... artis." Gadis itu menatap cepat ke kurator. "Apakah bapak menemukan ciri khas atau tanda khusus? Oma Wening selalu memberikan tanda di setiap karyanya. Ada huruf WN atau huruf WB, inisialnya dari Wening atau Wening Blair."
"Benar itu Mbak Ela. Apakah ada?" tanya Sheva penuh semangat.
Kurator dan direktur museum saling berpandangan. Mereka tidak kepikiran sampai ke sana.
"Kita menemukan tanda itu, kita bisa melacaknya. Seorang seniman pasti ada khasnya. Apalagi ini tidak mungkin dibuat secara AI. Teknologinya belum sampai," ucap Kenzie.
"Belum ada alat Doraemonnya juga," sahut Zane dengan wajah datar.
Keenam orang disana menatap ke arah Zane.
"Kan benar?" jawab Zane lagi.
***
Iptu Cristiano dan Dean Thomas mengawasi club yang merupakan tempat terakhir Marwan dan Andy terlihat. Mereka duduk di depan mini market sambil menikmati roti dan kopi. Kebetulan mini market itu ada coffee shop nya.
"Kita nggak masuk Oom Dean?" tanya Iptu Cristiano sambil makan rotinya.
"Yakin kamu nggak diincar?" goda Dean Thomas.
Iptu Cristiano nyengir. "Bisa jadi. Kan fisik aku mendukung banget. Padahal aku normal."
"Tapi penyakit lagi bete itu memang menular. Aku sendiri tidak tahu, apa sih enaknya main ke sesama jenis? Tuhan sudah menciptakan Adam dan Hawa. Bukan Adam dan Bambang!" sungut Dean Thomas membuat Iptu Cristiano tersedak.
"Ya Tuhan Ooommmm ... Jangan vulgar-vulgar Bulgaria dong!" protes Iptu Cristiano sambil menenggak air putihnya.
"Heran aku. Pensiun kok makin aneh-aneh kelakuan anak jaman sekarang," ucap Dean Thomas cuek.
Mereka pun kembali makan rotinya namun mata terlatih mereka melihat sosok yang mencurigakan. Seorang pria datang bersama dengan pemuda yang usianya sekitar dua puluh tahun. Mereka pun masuk ke dalam club itu.
"Bagaimana kita bisa masuk ke sana?" gumam Iptu Cristiano.
"Biar aku dan Gaban yang masuk, Cris."
Kedua orang itu saling berpandangan. "Kamu yakin Van?"
"Yakin Pak Dean," jawab AKP Samsudin yang tetap dipanggil Sharivan lewat earpiece di Dean Thomas dan Iptu Cristiano.
"Sudah pakai CCTV kancing?" tanya Dean Thomas.
"Sudah Pak Dean."
Dean Thomas mengambil tabletnya dan meminta kode CCTV kancing Samsudin. "Oke, sudah terlihat."
"Casey dimana?" tanya Iptu Cristiano.
"Di mobil bersama dokter Wayan, Mbak Lilis dan Tole katanya," jawab AKP Ghafar.
"Ban, kamu hati-hati ya. Jules lagi hamil," ucap Dean Thomas.
"Siap Pak Dean."
AKP Samsudin dan AKP Ghafar pun masuk kedalam club itu. Dean Thomas dan Iptu Cristiano melihat bagaimana di dalam.
"Oh ya Tuhan. Mereka saling berciuman?" seru Iptu Cristiano saat mereka melihat target di dalam.
"Pak Dean, bolehkan saya mandi kembang tujuh rupa nanti? Saya takut kena sawan," tanya AKP Ghafar yang sontak membuat keempat orang yang berada di mini market dan mobil, tertawa terbahak-bahak.
"Kamu minta diruqyah di karet Bivak pun boleh kok Gaban!" kekeh Dean Thomas.
"No, Thank you Pak!" seru AKP Ghafar tegas.
***
Yuhuuu up Sore yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
sukury
ternyata sudah dicekoki pak Tommy sejak kecil to kalo Elina calon jodohmu
kan kena karma juga akhirnya🤣