Selama sembilan tahun, Jena percaya bahwa cintanya dengan Jovian Ardhana akan berakhir di pelaminan.
Saat Jovian masih merintis mimpi, Jena selalu ada di sisinya. Menemani, mendukung, dan mencintainya tanpa pernah melihat harta ataupun status.
Hingga akhirnya Jovian menjelma menjadi CEO muda pewaris keluarga Ardhana yang sukses dan dikagumi banyak orang.
Namun semuanya berubah sejak hadirnya Michelle Ayu Suroso. Gadis cantik, kaya raya, dan berasal dari keluarga terpandang.
Perlahan, lelaki yang dulu begitu romantis itu mulai berubah.
Jena mencoba bertahan. Sampai suatu malam, Jovian mengundangnya menghadiri makan malam keluarga di rumah mewah Ardhana.
Jena datang dengan penuh harapan.
Namun di hadapan para kolega bisnis dan keluarga besar, ayah Jovian justru mengumumkan sesuatu yang menghancurkan dunia Jena dalam sekejap mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. Ini Kan ...?
"Huh! Akhirnya selesai juga," cakap Jovian setelah menyelesaikan beberapa berkas yang harus ditandatangani. Lelaki itu menyandarkan punggung pada kursi kebesarannya.
Perlahan, kedua matanya terpejam. Sejak pagi, pikirannya tak pernah lepas dari Jena.
Senyum perempuan itu, tawanya, tatapan matanya. Semuanya terus berputar di dalam benaknya. Lalu, sebuah kenangan lama kembali menyelinap.
"Mas ..."
"Iya, Sayang?"
"Kalau suatu saat nanti kita berjodoh dan menikah ..." Jena tersenyum malu-malu. "Aku ingin cepat-cepat punya anak."
Jovian terkekeh. "Aku juga."
"Mas mau punya anak berapa?"
"Sebelas."
Jena membelalakkan mata. "Sebelas?"
"Iya."
Jena langsung tertawa lepas. "Wah ... kita bisa langsung bikin tim sepak bola dong?"
Jovian ikut tertawa. "Iya."
Jena pura-pura mengerucutkan bibirnya. "Berarti aku harus hamil tiap tahun dong?"
"Hooh." Jovian mengangguk.
"Ih ... tega!" Jena memukul pelan lengan Jovian, membuat keduanya kembali tertawa bersama.
Kenangan itu lenyap.
Jovian perlahan membuka matanya.
Tatapannya kosong mengarah ke langit-langit ruangan. Tanpa disadari, kedua matanya telah dipenuhi air mata.
Setetes bening akhirnya jatuh membasahi pipinya.."Jena ..." bisiknya lirih. Dadanya amat sesak. "Maaf ..." Ia menundukkan kepala, lalu mengepalkan kedua tangannya erat. "Meski tubuhku nanti menjadi milik Michelle ... hatiku tetap milikmu, Jena."
Kalimat itu meluncur pelan, dipenuhi penyesalan.
Jovian sadar. Ia telah memilih jalan yang akan membuatnya memiliki segalanya, kecuali perempuan yang benar-benar dicintainya.
Ketukan di pintu membuyarkan lamunan Jovian. Ia segera mengusap sudut matanya dengan punggung tangan, menarik napas dalam, lalu merapikan ekspresi wajahnya seolah tak terjadi apa-apa. "Masuk."
Pintu ruangan terbuka perlahan. Michelle melangkah masuk dengan senyum cerah yang sejak tadi tak pernah lepas dari wajahnya. "Hai, Sayang." Tanpa ragu, ia langsung menghampiri Jovian. Begitu tiba di samping Jovian, Michelle membungkukkan badan sedikit lalu memeluk Jovian dengan erat. "Hari ini aku senang banget ..." ucapnya penuh antusias. "Akhirnya pertunangan kita benar-benar akan segera terlaksana."
Jovian terdiam sesaat. Beberapa detik kemudian, barulah ia mengangkat kedua tangannya, membalas pelukan Michelle sekadarnya. "Iya."
Michelle melepaskan pelukan itu, lalu menatap wajah Jovian dengan senyum lebar. "Kamu kenapa? Kok kelihatannya lesu banget?"
Jovian menggeleng pelan. "Nggak apa-apa. Aku cuma sedikit lelah habis membaca laporan dan menandatangani beberapa berkas."
Michelle mengangguk, lalu ia berbisik. "Awas aja kalau kamu masih mikirin Jena. Aku bakal marah sama kamu," ancam Michelle sambil menjatuhkan tubuhnya di pangkuan Jovian. Lelaki itu sedikit tersentak, ia berniat mendorong Michelle, tapi Michelle keburu melingkarkan kedua tangannya di leher Jovian. "Jangan pernah nolak aku, Jovian. Karena aku nggak suka penolakan," desis Michelle. "Sekarang ... kamu harus cium aku seperti malam itu. Saat kamu datang ke apartemenku," pinta gadis berponi itu memaksa.
Seketika, bayangan malam itu kembali memenuhi benak Jovian.
Malam itu, ia datang ke apartemen Michelle bukan untuk urusan pribadi, melainkan pekerjaan. Michelle menghubunginya dan mengatakan ada beberapa dokumen penting yang harus dibahas bersama untuk acara charity fashion.
Saat tiba, Michelle langsung menyambutnya dengan ramah. "Sebentar ya, berkasnya aku ambil dulu," katanya sambil berjalan menuju meja di sudut ruangan.
Jovian hanya mengangguk. Ia berdiri sambil memeriksa beberapa pesan di ponselnya.
Tak lama kemudian, Michelle kembali membawa setumpuk map. Namun, saat langkahnya tinggal beberapa meter dari Jovian, kakinya tersangkut ujung karpet. "Aaah!" Tubuh Michelle oleng ke depan. Refleks, Jovian berlari menangkapnya.
Bukannya berhasil menjaga keseimbangan, keduanya justru terjatuh ke atas sofa. Michelle berada tepat di atas tubuh Jovian.
Karena jarak yang begitu dekat dan sama-sama kehilangan keseimbangan, bibir mereka tak sengaja bersentuhan.
Mata Jovian membelalak. Ia segera berniat menjauh. Namun sebelum sempat melakukannya, Michelle lebih dulu meraih tengkuknya, menahan pria itu agar tetap di tempat.."Michelle ..." Suara Jovian terdengar pelan, nyaris tak keluar.
Michelle hanya menatapnya dalam-dalam. Tatapannya dipenuhi rasa memiliki yang selama ini ia pendam.
Beberapa detik yang canggung itu membuat pertahanan Jovian goyah. Dalam kebingungan dan emosi yang bercampur, ia sempat larut dalam momen tersebut. Memagut bibir merah merona milik Michelle. Dan sang gadis tentu saja membalasnya dengan gerakan liar dan dalam. Ciuman itu berlangsung cukup lama, sampai suara lenguhan Michelle keluar.
Sesaat kemudian, kesadaran Jovian kembali. Ia langsung melepaskan tautan bibir dan mendorong tubuh Michelle dari atas tubuhnya. Napas Jovian memburu, sementara Michelle tersenyum tipis di sebelahnya. "Maaf ... tadi itu kecelakaan," ucap Jovian cepat sambil mengusap wajahnya.
Michelle hanya tersenyum penuh arti. "Nggak papa. Aku suka kok. Bibir kamu manis banget, dan aku rasa ... tadi itu bukan kecelakaan."
Kenangan itu lenyap secepat kilat. Jovian menatap Michelle yang masih duduk di pangkuannya.
"Ayo ..." bisik Michelle sambil menatap bibir Jovian. "Cium aku lagi seperti malam itu."
Rahang Jovian mengeras. Jemarinya perlahan melepaskan kedua tangan Michelle dari lehernya. "Michi," ucapnya pelan. "Ini di kantor. Nanti kalau Papa masuk gimana?"
Senyum Michelle perlahan memudar. Tatapannya berubah tajam. "Tadi aku kan udah bilang sama kamu, Jo. Kalau aku nggak suka ditolak. Pokoknya kamu harus nyium aku. Sekarang!" desaknya penuh tekanan.
Jovian memejamkan mata sejenak untuk mengumpulkan keinginan, tapi yang muncul malah wajah Jena. Dan itu membuatnya makin tak mau menuruti permintaan calon tunangannya.
"Jo ... buruan!" Rengekan Michelle berhasil mengenyahkan wajah Jena dari benak Jovian. Akhirnya dengan terpaksa, Jovian menyambar bibir Michelle.
"Yess!" seru Michelle dalam hati. Ia langsung menelusupkan lidahnya ke dalam rongga mulut Jovian.
***
Sementara itu, di ruang kerja Presiden Direktur Ardhana Group, Bimo Ardhana dan Mario Suroso duduk berhadapan sambil menikmati secangkir kopi.
Setelah membahas kerja sama kedua perusahaan, Mario perlahan mengalihkan topik pembicaraan. "Besan."
Bimo mengangkat pandangannya.
"Bagaimana dengan Jena?" tanya Mario terus terang. "Apa dia tidak akan mengganggu hubungan Jovian dan Michelle?"
Bimo tersenyum tipis, seolah pertanyaan itu sudah ia duga. "Tidak." Jawabannya terdengar mantap. "Gadis itu pasti akan pergi jauh dari kehidupan Jovian."
Mario mengangguk pelan, tetapi raut wajahnya masih menyiratkan keraguan. "Setahu saya, selama ini Jena tinggal di unit apartemen milik Jovian, bukan?"
"Iya."
"Lalu ... apakah sekarang dia masih tinggal di sana?"
Bimo meletakkan cangkir kopinya dengan tenang. "Iya, Besan. Tapi tenang saja." Sorot matanya berubah tajam. "Masalah itu biar saya yang urus."
Mendengar jawaban tersebut, senyum Mario akhirnya mengembang. "Kalau begitu saya lega." Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Terus terang, saya tidak ingin Michelle bersedih karena bayang-bayang masa lalu Jovian."
Bimo mengangguk. "Saya mengerti."
Mario menatap Bimo dengan wajah serius. "Kalau Jena masih berusaha mengusik hubungan Jovian dan Michelle ..." ucapnya tegas. "Saya tidak akan tinggal diam."
Bimo membalas tatapan itu tanpa sedikit pun mengubah ekspresinya. "Tenang saja, Besan. Semua akan berjalan sesuai rencana. Jika Jena sampai melakukan itu ... saya juga tidak akan tinggal diam."
***
Kereta yang ditumpangi Jena akhirnya tiba di Bandung. Begitu pintu kereta terbuka, ia melangkah turun sambil menarik kopernya. Hawa kota yang lebih sejuk langsung menyambutnya.
Jena menghirup napas panjang. "Bandung ... aku datang," gumamnya pada diri sendiri sambil tersenyum tipis. Ia pun segera keluar dan menyetop taksi. "Ke hotel Parahyangan, Pak."
"Baik, Mbak." Mobil melaju pelan meninggalkan area stasiun.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil berhenti di depan hotel Parahyangan.
Setelah proses check-in selesai, Jena menerima kartu akses kamar dan langsung menuju lantai tempat kamarnya berada.
Pintu kamar terbuka. Jena melangkah masuk sambil menyeret koper. Ia meletakkannya di dekat tempat tidur, lalu kembali dan menutup pintu.
"Huhhh ..." Embusan napas lega keluar dari bibirnya. Jena merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk sambil memandang langit-langit kamar.
Hari itu terasa begitu panjang.
Dalam satu hari, ia mengakhiri hubungan yang telah dijalani selama sembilan tahun, meninggalkan apartemen yang selama dua tahun menjadi tempat tinggalnya, kembali ke rumah peninggalan kedua orang tuanya, berziarah, lalu melakukan perjalanan ke Bandung.
"Melelahkan," ujarnya. "Tapi hatiku justru terasa lebih ringan." Jena mengambil ponselnya, lalu melihat jam.
"Waktunya istirahat." Ia tersenyum kecil. "Besok ... liburanku benar-benar akan dimulai." Akhirnya Jena memejamkan mata.
Tak terasa, waktu terus berlalu. Jarum jam akhirnya menunjukkan pukul lima sore. Begitu jam kerja usai, Jovian segera menutup map terakhir di atas meja kerjanya. Berkas-berkas yang sejak tadi diperiksanya dirapikan dengan cepat, lalu disusun menjadi satu tumpukan.
Tak ada lagi yang ingin ia kerjakan.
Pikirannya hanya tertuju pada satu orang, yaitu Jena.
Jovian meraih jas yang tergantung di sandaran kursi, lalu mengenakannya dengan tergesa-gesa. Setelah itu, ia menyambar kunci mobil dan ponselnya yang tergeletak di atas meja. "Aku harus segera ke apartemen." Ia melangkah cepat menuju pintu.
Namun, baru saja hendak membuka gagang pintu, ponselnya berdering.
Nama Michelle muncul di layar. Jovian mengembuskan napas pelan sebelum mengangkat panggilan itu."Halo."
"Sayang, kamu sudah mau pulang?" suara Michelle terdengar ceria dari seberang.
"Sudah."
"Kalau begitu kita makan malam bareng, yuk. Aku sudah booking restoran."
Jovian terdiam sesaat. "Oke. Kirim saja alamat restorannya. Nanti aku ke sana."
"Oke, Sayang. Nanti aku kirim ya."
"Iya." Panggilan pun berakhir. Jovian memasukkan kembali ponselnya ke saku celana.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, ia membuka pintu ruangannya, lalu berjalan cepat menyusuri koridor menuju lift. Dalam benaknya hanya ada satu tujuan. Ia harus segera menemui Jena.
Mobil Jovian melaju cepat hingga akhirnya memasuki area parkir Apartemen Blue Residence.
Ia segera turun. Tanpa membuang waktu, langkahnya nyaris berubah menjadi lari kecil menuju lobi. Yang ada di pikirannya hanya Jena, Jena dan Jena.
Ia ingin segera bertemu dengan Jena.
Ingin meminta maaf dan ingin menjelaskan semuanya.
Namun, baru beberapa langkah menuju lift, sebuah suara memanggilnya. "Mas Jovian!"
Jovian menghentikan langkahnya dan menoleh. Grace bergegas menghampirinya sambil membawa sebuah dompet kecil berwarna hitam. "Ada apa, Mbak Grace?"
"Ini ..." Grace menyodorkan dompet kecil itu. "Titipan dari Mbak Jena."
Jovian mengernyit. "Titipan?"
"Iya. Tadi siang sebelum-"
"Saya ke atas dulu!" potong Jovian yang tak mau membuang waktu. Lelaki itu berlari masuk ke dalam lift.
"Yah, padahal aku belum selesai ngomong," rutuk Grace sembari memandangi Jovian yang sudah menghilang di balik lift.
Di dalam lift, Jovian membuka dompet itu. Detik berikutnya ... mata Jovian membelalak lebar. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Tangannya perlahan bergetar. "Ini kan ...?"
yg di incer sifa buat jihan...
.cocok kan
q gk sekuat itu...sempat terpuruk,masih ada cinta didasar hati tp udah iklas...mesti rmh tgg mereka hancur datang ingin kembali,bagi q cukup kita bkn barang dibuang lalu mo dipungut mending sendiri menikmati sendiriqn...aaa jd ingat deh
😥🤭 moga ttp pd pendirian menjauh💪Authour...Alhamdulillah panjang banget salam sehat🙏