Rubi Casandra, seorang yatim piatu yang hidup di panti asuhan, mendadak bertransmigrasi ke tubuh wanita lain yang memiliki nama sama dengannya. Ia terkejut saat mengetahui dirinya sedang hamil empat bulan dan telah menjadi istri dari Alexander Dimitri, seorang pengusaha sekaligus mafia paling ditakuti di Eropa.
Terjebak dalam kehidupan yang bukan miliknya, Rubi harus menghadapi berbagai rahasia, intrik, dan bahaya yang mengancam. Di tengah pernikahan yang terpaksa, akankah ia mampu bertahan atau justru jatuh cinta pada sang mafia yang berhati dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Satu Langkah Lagi Menuju Keluarga
Pagi itu Rubi terbangun karena sesuatu yang berbeda.
Bukan karena tendangan kecil dari bayinya.
Bukan juga karena suara pelayan yang datang membangunkannya.
Melainkan karena aroma makanan yang samar-samar tercium dari luar kamar.
Perutnya langsung berbunyi pelan.
Rubi mengusap wajahnya sambil menghela napas.
"Kenapa akhir-akhir ini aku lapar terus?"
gumamnya.
Kehamilan delapan bulan benar-benar membuat tubuhnya berubah. Kadang ia ingin makan tengah malam, kadang tiba-tiba menginginkan makanan tertentu tanpa alasan yang jelas.
Saat ini yang paling diinginkannya adalah roti manis dengan selai stroberi.
Padahal biasanya ia tidak terlalu menyukai makanan manis.
"Aneh."
gumamnya lagi.
Namun sebelum sempat bangun dari tempat tidur, bayi dalam kandungannya bergerak cukup kuat.
Membuat Rubi refleks memegang perutnya.
"Nak, jangan ikut-ikutan ya."
ucapnya sambil tertawa kecil.
Gerakan lain kembali terasa.
Seolah bayi itu memang sedang menjawab perkataannya.
---
Setelah membersihkan diri, Rubi turun menuju ruang makan.
Seperti yang sudah ia duga, Alexander sudah berada di sana.
Pria itu sedang membaca laporan di tabletnya sambil menikmati kopi hitam.
Namun begitu mendengar langkah kaki Rubi, perhatian Alexander langsung beralih.
"Kau bangun lebih pagi."
ucapnya.
Rubi duduk di kursinya.
"Aku lapar."
jawabnya jujur.
Alexander mengangkat alis.
"Lapar?"
"Iya."
Rubi mengangguk serius.
"Sangat lapar."
Alexander melirik kepala pelayan yang langsung memahami situasi.
Dalam waktu singkat berbagai makanan dihidangkan di atas meja.
Biasanya Rubi makan secukupnya.
Namun pagi itu berbeda.
Ia menghabiskan hampir semuanya.
Bahkan para pelayan terlihat terkejut.
Alexander sendiri hanya memperhatikan dengan tenang.
Sampai akhirnya berkata,
"Aku mulai khawatir."
Rubi menoleh.
"Kenapa?"
"Kau makan lebih banyak dariku."
ucap Alexander datar.
Membuat Rubi langsung tertawa.
"Bayi kita yang lapar."
Pria itu mengangguk pelan.
"Kalau begitu aku tidak bisa menyalahkannya."
---
Setelah sarapan selesai, dokter keluarga datang untuk pemeriksaan rutin.
Karena usia kandungan Rubi sudah mendekati waktu persalinan, pemeriksaan dilakukan lebih sering.
Seperti biasa, Alexander ikut menemani.
Dokter sampai terbiasa melihat pria itu berdiri di dekat Rubi selama proses pemeriksaan.
"Semuanya baik."
ucap dokter setelah selesai memeriksa.
Rubi langsung tersenyum lega.
"Benarkah?"
"Tentu."
Dokter mengangguk.
"Bayi tumbuh sehat."
Alexander yang sejak tadi diam akhirnya bertanya,
"Kapan perkiraan persalinannya?"
Dokter tersenyum.
"Dalam beberapa minggu ke depan."
Kalimat itu membuat suasana berubah.
Karena untuk pertama kalinya mereka benar-benar menyadari bahwa waktu kelahiran anak mereka sudah sangat dekat.
Beberapa minggu.
Tidak lama lagi.
Dokter kembali memberikan beberapa nasihat sebelum akhirnya pergi.
Dan setelah pintu tertutup, ruangan menjadi hening.
Rubi dan Alexander saling memandang.
Entah kenapa keduanya terlihat sedikit gugup.
"Kita akan menjadi orang tua."
gumam Rubi pelan.
Alexander menatapnya.
Kemudian mengangguk.
"Iya."
Meski hanya satu kata, Rubi bisa melihat sesuatu di mata pria itu.
Kekhawatiran.
Harapan.
Dan kebahagiaan.
Semuanya bercampur menjadi satu.
---
Siang harinya, Rubi memutuskan menghabiskan waktu di kamar.
Tubuhnya mulai cepat lelah.
Dokter juga meminta dirinya lebih banyak beristirahat.
Saat sedang membaca buku, tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Pesan dari Alexander.
Rubi langsung tersenyum.
Padahal pria itu hanya berada di lantai bawah.
Tetapi tetap mengirim pesan.
"Sudah makan buah?"
Rubi langsung tertawa.
Kemudian membalas.
"Sudah."
Tidak sampai satu menit kemudian pesan lain masuk.
"Jangan bohong."
Rubi membelalak.
Bagaimana pria itu tahu?
Karena memang sejak pagi ia belum menyentuh buah sama sekali.
Dengan kesal ia membalas.
"Kamu memasang kamera di kamarku?"
Jawaban Alexander datang sangat cepat.
"Tidak perlu."
"Lalu?"
"Aku mengenalmu."
Untuk beberapa detik Rubi hanya menatap layar ponselnya.
Lalu tanpa sadar tersenyum sendiri.
Kalimat sederhana itu membuat hatinya hangat.
Karena memang benar.
Alexander mengenalnya.
Mungkin lebih baik daripada dirinya sendiri.
---
Sore hari.
Cuaca sangat cerah.
Rubi duduk di taman belakang sambil merajut sesuatu.
Beberapa hari terakhir ia mulai belajar membuat perlengkapan bayi sederhana.
Meski hasilnya tidak terlalu bagus.
Namun ia menikmatinya.
Saat sedang fokus menghitung rajutan, seseorang duduk di sampingnya.
Alexander.
Pria itu baru selesai bekerja.
"Kau membuat apa?"
tanyanya.
Rubi menunjukkan hasil rajutannya.
Alexander memperhatikannya cukup lama.
Kemudian berkata,
"Itu apa?"
Rubi langsung kesal.
"Selimut bayi."
Alexander kembali melihat benda di tangannya.
"Mirip syal."
Rubi memukul lengan pria itu pelan.
Membuat Alexander tersenyum tipis.
Momen sederhana seperti itu kini menjadi bagian favorit dalam harinya.
---
Menjelang malam.
Mereka makan malam bersama seperti biasa.
Namun kali ini Rubi terlihat lebih diam.
Alexander langsung menyadarinya.
"Ada yang mengganggumu?"
tanya pria itu.
Rubi menggeleng.
Namun beberapa saat kemudian ia berkata,
"Aku takut."
Alexander langsung menatapnya.
"Takut apa?"
Rubi mengusap perutnya perlahan.
"Melahirkan."
akuinya jujur.
Untuk pertama kalinya sejak hamil, ia mengucapkan ketakutan itu.
Selama ini ia selalu berusaha terlihat kuat.
Tetapi sebenarnya ia takut.
Sangat takut.
Takut terjadi sesuatu.
Takut tidak mampu.
Takut kehilangan bayinya.
Semua ketakutan itu terus menghantuinya.
Alexander terdiam cukup lama.
Lalu tanpa berkata apa-apa, ia menggenggam tangan Rubi.
Erat.
Hangat.
Membuat wanita itu menatapnya.
"Kau tidak sendirian."
ucap Alexander pelan.
Rubi merasakan dadanya menghangat.
"Aku akan ada di sana."
lanjut pria itu.
"Saat kau melahirkan."
Mata Rubi langsung membesar.
"Sungguh?"
Alexander mengangguk.
"Tentu."
"Tapi pekerjaanmu..."
"Aku akan membatalkannya."
jawab Alexander tanpa ragu.
Kalimat itu membuat Rubi terdiam.
Karena ia tahu betapa berharganya waktu Alexander.
Namun pria itu tetap memilih dirinya.
Memilih anak mereka.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, rasa takut dalam hati Rubi sedikit berkurang.
---
Malam semakin larut.
Sebelum tidur, Rubi berdiri di balkon kamar sambil menikmati udara malam.
Lampu-lampu taman terlihat indah dari atas.
Tidak lama kemudian Alexander datang.
Pria itu berdiri di sampingnya.
Mereka sama-sama diam.
Menikmati suasana tenang.
Sampai akhirnya bayi dalam kandungan Rubi bergerak cukup kuat.
Membuat wanita itu tersenyum.
Alexander langsung meletakkan tangannya di atas perut Rubi.
Seperti kebiasaannya.
Dan saat merasakan gerakan itu, senyum tipis muncul di wajah pria tersebut.
Untuk sesaat mereka hanya berdiri seperti itu.
Seorang calon ayah.
Seorang calon ibu.
Dan bayi yang sedang menunggu waktunya lahir ke dunia.
Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan.
Tidak ada yang tahu bahaya apa yang masih mengintai.
Namun malam itu keduanya hanya memikirkan satu hal.
Bahwa sebentar lagi mereka akan menjadi keluarga yang sesungguhnya.
kalo sempat mampir ya thor🤭😉