Malam itu, kelab privat paling elit di pusat kota Solaria, The Velvet Lounge, tampak sangat meriah. Musik berdentum keras, lampu neon warna-warni menyinari lantai dansa, dan botol-botol minuman mahal berjejer di atas meja marmer.
Malam ini adalah pesta kelulusan SMA angkatan mereka. Anak-anak dari kalangan paling berkuasa di Solaria berkumpul, merayakan berakhirnya masa sekolah dengan cara yang biasa mereka lakukan: menghamburkan uang orang tua.
Di salah satu sofa VIP paling empuk, Ghea sedang duduk dengan anggun. Di tangannya ada segelas jus jeruk segar—dia tidak minum alkohol, tapi gaya hidup mewahnya tidak kalah dari siapa pun. Di sampingnya, tiga tas belanja dari butik ternama dunia tergeletak begitu saja.
"Ghe, lo serius besok mau langsung terbang ke Paris buat self-reward kelulusan?" tanya salah satu temannya, seorang cewek berambut pirang hasil salon mahal.
Ghea mengibaskan rambut panjangnya yang berkilau. "Ya iyalah. ......
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sukses yang Mengintai, Ego yang Bertahan, dan Kontrak Penyelamat
Dua bulan berjalan, ruko kecil di sudut jalan Sukaasih itu kini tidak lagi sepi.
Aroma wangi arabika premium dari kedai Kopi Karsa milik Ghea berhasil menarik perhatian para mahasiswa dan pekerja kantoran sekitar. Di sebelahnya, pikap hitam milik Arkan juga semakin jarang terparkir lama. Arka-Logistics mulai kebanjiran orderan pengiriman dari pedagang pasar tradisional Sukaasih yang merasa puas dengan layanan kurir Arkan yang cepat dan tepercaya.
Namun, semakin tinggi pohon tumbuh, semakin kencang pula angin berembus.
Sore itu, Sukaasih sedang diguyur hujan gerimis. Ghea berdiri di balik meja bar kayunya dengan wajah muram. Di hadapannya, berdiri Pak Udin, pemilik ruko berkumis tebal yang sedang melipat kedua tangannya di dada dengan ekspresi tidak enak hati.
"Aduh, Neng Ghea, Bapak sebenarnya juga gak enak," kata Pak Udin sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tapi kontrak ruko ini kan sebentar lagi habis bulan depan. Terus, kemarin ada manajemen kedai kopi franchise besar dari kota sebelah yang nawar mau sewa seluruh ruko ini, termasuk teras yang Neng sewa. Mereka berani bayar tiga kali lipat dari harga sewa Neng Ghea."
Ghea menahan napasnya, dadanya terasa sesak. "Tapi Pak, saya kan baru mulai jalan usahanya. Kalau dipindah sekarang, pelanggan saya yang baru mulai ramai bisa hilang semua, Pak. Apa gak bisa saya perpanjang dulu?"
"Bisa saja, Neng. Tapi ya itu, harganya harus disesuaikan. Uang sewanya naik dua juta sebulan, dan minimal harus langsung bayar kontrak satu tahun di muka. Kalau Neng Ghea gak sanggup minggu depan, terpaksa teras ini harus dikosongkan karena mereka mau mulai renovasi," jelas Pak Udin tanpa kompromi sebelum akhirnya berpamitan pergi.
Ghea terduduk lemas di kursi plastiknya. Dua puluh empat juta rupiah tunai dalam waktu satu minggu? Itu tidak mungkin. Semua keuntungan Kopi Karsa selama dua bulan ini sudah habis dia putar kembali untuk membeli stok biji kopi berkualitas dan susu segar.
Air mata Ghea mulai menggenang di pelupisnya. Untuk pertama kalinya setelah lulus kuliah, dia merasa ingin menyerah dan menelepon ayahnya di Solaria. Tapi ego dan gengsinya melarang keras.
Di sebelah ruko, Arkan yang baru saja selesai mencuci pikap hitamnya tidak sengaja mendengar seluruh percakapan tersebut dari balik dinding seng pembatas.
Arkan terdiam di tempatnya, memegang kanebo basah yang mulai dingin. Dia menatap ke arah kedai Ghea. Di sana, cewek yang biasanya sangat berisik dan angkuh itu kini sedang menunduk layu di dekat mesin espressonya, mengusap air matanya dengan tisu dengan gerakan pelan agar tidak terlihat orang lain.
Dada Arkan berdenyut tidak nyaman. Rasa tidak tega yang sangat familier kembali merayapi hatinya.
"Dasar cengeng," gumam Arkan pelan, tapi ekspresi wajahnya berubah sangat serius.
Malam harinya, setelah Ghea menutup kedainya dengan langkah gontai dan pulang ke kosan terlebih dahulu, Arkan tidak langsung pulang. Dia mengendarai pikap hitamnya menuju rumah Pak Udin yang berada di gang belakang pasar.
Pak Udin terkejut melihat kedatangan Arkan. "Lho, Mas Arkan? Ada apa malam-malam ke sini? Mau bayar uang sewa garasi kantor juga?"
Arkan duduk di ruang tamu Pak Udin yang sederhana. Tanpa banyak basa-basi, dia meletakkan sebuah map hitam di atas meja. Di dalamnya terdapat surat kontrak kerja sama operasional.
"Pak Udin, saya dengar Bapak punya usaha distribusi grosir sembako di pasar tradisional yang selama ini sering terkendala armada pengiriman?" tanya Arkan langsung pada intinya, suaranya terdengar sangat profesional.
Pak Udin mengernyit heran. "Iya, bener. Memangnya kenapa, Mas?"
"Saya menawarkan kontrak eksklusif dari Arka-Logistics," kata Arkan tenang. "Kami akan mengurus seluruh pengiriman sembako milik Pak Udin ke luar kota secara gratis selama enam bulan ke depan. Sebagai gantinya, saya ingin Bapak membatalkan tawaran dari kedai kopi waralaba itu, dan membiarkan kedai Kopi Karsa tetap menyewa teras ruko Bapak dengan harga lama untuk satu tahun ke depan."
Pak Udin membelalakkan matanya terkejut. "Lho? Gratis enam bulan? Nilai jasa angkutan itu kan jauh lebih mahal daripada kenaikan sewa ruko saya, Mas Arkan! Mas yakin?"
"Saya yakin, Pak. Tapi ada satu syarat mutlak," tegas Arkan, matanya menatap tajam. "Jangan pernah beri tahu Neng Ghea tentang kesepakatan ini. Bapak bilang saja pada dia kalau Bapak salah hitung, atau bilang saja manajemen franchise itu tiba-tiba membatalkan kontraknya karena lokasi ruko Bapak kurang strategis, jadi Bapak memutuskan memberikan diskon sewa khusus untuk pengusaha lokal."
Pak Udin menatap Arkan dengan senyum penuh arti yang sangat lebar. "Oalah, Mas Arkan... Mas ini ternyata diam-diam perhatian banget ya sama tetangga sebelah rukonya. Baik sekali Mas ini."
"Saya cuma tidak mau operasional kantor saya terganggu kalau di sebelah ada renovasi besar-besaran, Pak," bohong Arkan dengan wajah lempeng andalannya, meskipun telinganya sedikit memerah. "Bagaimana, Pak? Setuju?"
Pak Udin tertawa renyah. "Setuju sekali, Mas! Kontrak gratis enam bulan dari Arka-Logistics ini sangat menguntungkan buat toko sembako saya. Berkasnya biar saya tanda tangani sekarang."
Keesokan paginya, Ghea datang ke kedainya dengan langkah malas dan mata yang sedikit sembap karena kurang tidur semalaman. Dia sudah bersiap-siap untuk mengemasi stoples kopinya dengan pasrah.
Namun, baru saja dia membuka gembok kedai, Pak Udin sudah menghampirinya dengan senyum lebar yang sangat ramah.
"Neng Ghea! Untung ketemu," sapa Pak Udin riang. "Gini, Neng. Bapak mau minta maaf soal kemarin sore. Ternyata setelah Bapak pikir-pikir lagi, kedai kopi waralaba itu ribet sekali persyaratannya. Bapak pusing ngurusnya. Jadi, Bapak batalkan saja tawaran mereka."
Ghea membelalakkan matanya tidak percaya. "Hah? Serius, Pak? Dibatalkan?"
"Iya, Neng! Dan sebagai gantinya, karena Neng Ghea ini sudah rajin dan kedainya bikin ruko Bapak jadi ikutan wangi, Bapak putuskan untuk memperpanjang kontrak teras ini satu tahun lagi dengan harga sewa yang lama! Tidak jadi naik!" bohong Pak Udin dengan sangat lancar sesuai instruksi Arkan semalam.
Mulut Ghea menganga lebar, lalu sedetik kemudian dia melompat kegirangan. "Ya ampun, Pak Udin! Makasih banyak ya, Pak! Bapak baik banget! Saya janji bakal bikin kopi paling enak buat Bapak gratis setiap hari!"
"Sama-sama, Neng. Sukses terus ya usahanya," ucap Pak Udin sebelum pamit pergi dengan senyum geli di bibirnya.
Ghea memeluk tiang kayu kedainya dengan perasaan lega yang luar biasa membuncah di dadanya. Beban seberat puluhan juta rupiah itu mendadak hilang begitu saja seperti tertiup angin pagi Sukaasih.
Tepat saat itu, pintu garasi sebelah terbuka. Arkan berjalan keluar sambil memutar kunci pikapnya di jari telunjuk dengan gaya angkuh andalannya.
Begitu melihat Arkan, Ghea langsung mematikan senyum bahagianya dan memasang wajah judes andalannya. Dia melipat kedua tangan di dada dengan gaya menantang.
"Ngapain lo lihat-lihat?" ketus Ghea dari seberang ruko. "Sirik ya lihat muka gue yang lagi bahagia hari ini?"
Arkan mendengus sinis, menyembunyikan rasa lega yang teramat sangat di dalam dadanya, lalu menatap Ghea dengan pandangan meremehkan yang sangat menyebalkan.
"Bahagia karena apa?" ejek Arkan lempeng. "Palingan karena pelanggan lalat lo hari ini nambah satu. Gak usah lebay deh, manja."
"Heh! Mulut lo bener-bener gak pernah sekolah ya!" semprot Ghea galak, meremas kain lapnya dengan gemas. "Asal lo tahu ya, kedai gue ini bakal bertahan lama di sini! Gak akan bangkrut kayak perkiraan otak kaku lo itu!"
"Kita lihat aja nanti siapa yang bertahan," sahut Arkan santai sebelum masuk ke dalam kabin pikap hitamnya untuk mulai mengantar barang grosir milik Pak Udin secara cuma-cuma demi mengamankan teras ruko gadis judes tersebut.
Ghea menjulurkan lidahnya ke arah mobil Arkan yang mulai melaju pergi meninggalkan kepulan debu tipis. Di balik wajah kesalnya, Ghea kembali tersenyum lebar menatap mesin espressonya, sama sekali tidak menyadari bahwa roda pikap hitam yang baru saja pergi itu berputar hari ini hanya karena separuh tenaga fisik dan keuntungan bisnis Arkan dikorbankan demi melindunginya dari balik bayangan.