NovelToon NovelToon
Penyesalan Yang Terlambat

Penyesalan Yang Terlambat

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Penyesalan Suami / Single Mom
Popularitas:578
Nilai: 5
Nama Author: Amak Mpis

"Rain, ini aku Bintang suamimu, kamu boleh menghukumku dengan cara apapun tapi tolong jangan pura-pura melupakan aku, aku sudah sangat menyesali perbuatanku dulu sama kamu."

"Bukan aku yang pura-pura tidak mengenalmu tapi aku memang tak kenal siapa kamu bahkan bertemu kamu saja baru dua kali ini."

Penyesalan itu memang terkadang datang terlambat tapi apa jadinya jika sosoknya kembali datang setelah 4 bulan Bintang kehilangannya, akankah Bintang masih bisa menerima kenyataan jika orang didepannya ini bukan orang yang selama ini dia rindukan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amak Mpis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tante

Bintang masih terpaku sambil memegang pundak Black dengan Black yang juga masih terdiam. 

“Sayang, maafin aku, tolong jangan hukum aku seperti ini, aku tahu aku salah.”Air mata Bintang terus mengalir dan itu membuat dada Black sedikit sakit. 

Sira yang mendapat laporan terjadi kesalah pahaman di meja no 11 berlari menuju kesana karena dia tahu bagaimana Black, dia takut terjadi baku hantam disana. 

Sira memegang pundak Black dan setelah Black menoleh dia hanya menggeleng karena dia tahu kalau Sira akan bertanya Kenapa? 

“Sebentar, kalau saya boleh tahu ada apa ya?” Tanya Sira sambil menatap orang-orang yang duduk tanpa mampu berkata apapun. 

“Pak, bisa kita duduk dulu?” Tanya Sira sambil memegang pundak Bintang yang kini sedang memeluk Black. 

“Saya akan duduk disebelah bapak, tapi tolong lepaskan saya dan jelaskan sama saya semuanya terlebih dahulu,” Ucap Black dan Bintang menuruti dengan melepas pelukannya dan mengajaknya duduk disebelahnya dengan tangan masih menggandeng tangan Black, disini Black tak menepis tangan itu, ada sesuatu yang bahkan dia sendiri tak bisa untuk mengartikannya. 

“Jadi, bisa tolong jelaskan siapa Rain dan kenapa bapak menganggap saya Rain?” Tanya Black, disini Sira ikut duduk sambil memegang tangan Black yang sebelah lagi karena dia tahu ketenangan yang Black pancarkan sekarang berbanding terbalik dengan apa yang sebenarnya dia rasakan. 

“Kak, biar gue yang jelasin siapa Rain,” Ucap Hexa, adik Bintang. “Rain itu istri Bintang, kakak gue yang sudah meninggal 4 bulan lalu akibat kecelakaan pesawat.”

“Rain belum meninggal, ini Rain,” Tegas Bintang sambil menatap Black. 

“Kak, ingat sebelum ke sini kita baru dari makam Rain, lo jangan menutupi takdir, muka dia memang mirip sama Rain tapi gue yakin dia bukan Rain.”

“Dari mana lo yakin dia bukan Rain?”

“Dia gak punya tanda lahir di tengkuk belakang sedangkan Rain punya, jangan bilang hal sekecil ini lo juga gak tahu?”

Bintang terdiam, dia memang tidak tahu detail kecil dari diri Rain yang bahkan adiknya saja tahu. 

“Dari mana kamu tahu kalau saya tidak punya tanda lahir di tengkuk belakang saya,” Tanya Black yang juga kaget karena seingetnya dia tidak pernah bertemu Hexa. 

“Kamu lupa kita pernah ketemu satu minggu yang lalu dipantai tidak jauh dari sini?”

“Kamu orang yang jalan ketengah laut itu?”

“Iya itu saya, awalnya saya juga mengira kamu itu kakak ipar saya tapi nyatanya bukan.”

“Kenapa muka kamu sama persis dengan Rain?” Tanya Bintang yang mencoba mencerna. 

“Untuk itu saya tidak tahu karena saya lahir sudah dengan muka seperti ini dan saya juga tidak pernah mengenal kalian.”

“Lo harus menerima kenyataan kalau dia bukan Rain, kak,” Ucap Hexa sambil memegang tangan Rain, Hexa tahu kalau Bintang sudah cukup menyesali perbuatannya pada Rain setelah kepergiannya dan dia tidak mau terus keras kepala dengan membenci Bintang. 

Hexa adalah satu-satunya orang yang slalu membela Rain saat semua orang menyalahkan Rain dan dia termasuk orang yang paling dekat dengan Rain. 

“Baik, saya tidak akan menganggap kamu Rain tapi bolehkah saya slalu datang kesini untuk melihat wajah kamu sekedar melepas kangen saya pada istri saya. 

“Boleh, tapi jangan anggap saya Rain dan berperilakulah selayaknya kamu menganggap saya Black orang yang baru kamu kenal, bisa?”

“Baik, saya akan mencobanya,tapi ada satu pertanyaan yang ingin kita semua tahu yang membuat kita semua datang kesini mencari kamu?” tanya Bintang. 

“Pertanyaan apa?”

“Kenapa kamu bisa membuka mobil saya menggunakan sidik jari sedangkan sidik jari yang terdaftar di sana hanya saya dan istri saya?”

“Untuk itu saya juga gak tahu, mungkin mobil kamu yang eror atau karena muka saya mirip dengan istri kamu jadi sidik jarinya juga sama.”

“Jadi kamu juga gak tahu?”

“Saya tidak tahu, saya hanya asal saja.”

“Mungkin mobil saya eror.”

Tak lama terdengar tangisan dari meja kasir, tangis dari anak kecil,disini pandangan Black dan Sira bertemu dan mereka seakan tahu apa yang mereka sekarang pikirkan. 

“Biar saya yang lihat, kamu duduk disini saja,” Ucap Sira sambil berdiri lalu berpamitan dengan Bintang dan yang lainnya. 

“Terima kasih ya kamu sudah menolong anak saya, kalau gak ada kamu saya gak tahu nasib mereka gimana?” ucap Melisa mencoba mengalihkan pembicaraan agar suasana juga sedikit santai. 

“Iya bu sama-sama, saya juga heran kenapa semua preman kabur saat saya datang padahal saya juga gak kenal mereka bahkan saya sudah bersiap kabur.”

“Mungkin karena muka kamu yang mirip sama Rain,” Ceplos Resta lalu diam. “Eh maaf bukan bermaksud apa-apa,” Ucap Resta lagi sambil menutup mulutnya setelah melihat tatapan kedua orang tua Bintang. 

“Gak apa-apa, Rain jago berantem ya?” tanya Black. 

“Bukan jago lagi, dia sering nolongin Bintang tanpa sepengetahuan Bintang, tapi kalau didepan Bintang dia berlagak lemah biar dapat perhatian Bintang padahal dia tahu kalau Bintang gak akan melakukan itu.” Untuk kedua kalinya Resta menutup mulutnya. 

“Dulu saya memang sangat bersalah sama Rain bahkan saya tak pernah menganggapnya ada tanpa saya tahu banyak hal yang sudah dia lakukan untuk saya,” Ucap Bintang sambil menunduk. 

“Mungkin kamu memang salah sama istri kamu tapi sekarang kamu sudah menyadarinya meskipun sudah telat.”

“Oh iya kamu kerja disini sudah lama?” Tanya Doni yang kini mengalihkan pembicaraan. 

“Sekitar 2 bulan, dulu saya tinggal di desa sama kakek nenek dan baru ke kota 2 bulan ini.”

“Berati kamu kerja disini waktu restaurant mulai bangkit ya?”

“Iya bener pak.”

‘Kenapa waktunya pas banget sama kedatangan cucu dari pemilik Embun Pagi yang identitasnya gak pernah ada yang tahu, jangan bilang dia cucunya,’ batin Andra, teman Bintang yang dari tadi hanya diam karena dia memang jarang mau ngomong. 

Mereka kembali mengobrol dengan santai meskipun banyak pertanyaan yang bersarang di kepala Black tentang semua yang baru saja terjadi. 

Tak lama terdengar keributan di depan restaurant yang memaksa Black untuk pergi. 

“Maaf semua, saya permisi dulu,” Ucap Black lalu berlari pergi. 

“Ada apa tuh?” tanya Kevin. 

Bintang dan Hexa bangkit lalu ikut berlari keluar dan disusul dengan yang lainnya karena semua pengunjung juga ikut melihat keributan apa yang terjadi di luar. 

“Siapa yang kamu maksud penculik?” Tanya Black yang baru keluar menemui dua orang yang membuat keributan dan mengatakan anak mereka diculik dan dibawa ke restaurant ini. 

Bukannya menjawab mereka berdua malah diam setelah melihat Black seakan mereka tak percaya dengan apa yang mereka lihat. 

“Kenapa malah diam? Siapa yang kalian bilang penculik?”

“Rain?” Lirih si cowok. 

“SAYA BUKAN RAIN, SAYA BLACK. CEPAT BILANG SIAPA YANG KALIAN BILANG PENCULIK? JANGAN BILANG KALIAN ORANG TUA ANAK ITU?” Emosi Black yang sudah dia tahan sejak tadi sudah tak bisa dia tahan lagi, dia sudah muak dengan semua orang yang menganggapnya Rain meskipun tadi dia sempat menerima kalau banyak yang mengira kalau dia Rain. 

“Oh jadi lo yang udah bawa anak gue, lo yang udah nyulik anak gue?”ucap Helena. 

“Harusnya yang marah itu gue bukan lo, kalian niat jadi orang tua gak? Dua kali gue ketemu anak kalian dan dua kali juga gue ketemu dia dengan kondisi dia sendirian bahkan tadi dia hampir diserempet mobil, kalian niat jadi orang tua gak?”

“Itu karena dia yang kabur bukan salah kita.”

“Masih gak mau ngaku kalau kalian yang salah, masih mau mengelak dan menyalahkan anak kalian? Kalau bukan karena ada sebabnya gak mungkin anak kalian sampai kabur, tadi dia sempat cerita kalau orang tuanya berantem terus dan dia mau pergi nyari tantenya.”

“Ya itu karena dia mau nyari lo, lo itu tantenya, kita berantem terus juga karena lo, udah bener lo meninggal kenapa hidup lagi.”

PLAK. 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!