Bandung tidak pernah ramah bagi kantong seorang perantau. Di usianya yang menginjak 23 tahun, Yasita Humaira harus memutar otak setiap akhir bulan. Demi mengirimkan rupiah untuk Ayah dan Ibunya di kampung, dia rela menahan lapar dan berhemat sedemikian rupa. Yasita sadar diri; dia bukan wanita sholeha, bukan pula muslimah taat yang rajin beribadah. Shalatnya masih bolong-bolong, penampilannya biasa saja. Jauh dari kata sempurna.
Beruntung, di kota ini dia memiliki Zulaikha—sahabat dekat seumuran yang bak langit dan bumi dengannya. Zulaikha adalah definisi wanita idaman: keturunan Arab-Indonesia dengan mata tajam yang indah, selalu anggun dengan gamis dan hijab lebar yang menjuntai. Tak hanya cantik, Zulaikha adalah putri dari pemilik Mandra Bros J, raksasa industri pakaian muslimah dan perhiasan emas tempat Yasita mengadu nasib. Namun persahabatan itu putus ketika sebuah Tawaran Dari Umi laila Ibu Zulaikha memintanya menjadi istri kedua Ayah Zulaikha yaitu Jalal Ash-Siddiq....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Aku berjalan bersisian bersama Jalal yang masih diam seribu bahasa. Suasana di antara kami terasa teramat canggung. Pria yang biasanya cerewet, manja, dan hangat ini, kali ini seolah berubah menjadi sosok asing yang begitu dingin.
Berusaha mencairkan ketegangan, aku memberanikan diri menyusupkan jemariku di antara sela-sela jarinya, berharap sentuhan ini bisa sedikit meredakan kemarahannya. Namun, dia tetap bergeming. Jemari kokoh itu sama sekali tidak membalas tautanku, membiarkan tanganku menggenggamnya sepihak.
Hatiku seketika mencelos. 'Apa dia benar-benar semarah itu?' tanyaku sedih dalam hati.
Karena tidak kunjung mendapatkan balasan hangat dari tangannya, rasa sedihku perlahan berubah menjadi kekesalan. Dengan gerakan kasar, aku melepaskan tautan tangan kami, lalu sengaja melangkah lebih dulu meninggalkannya di belakang. Hatiku rasanya sakit sekali. Memangnya apa yang salah denganku? Kenapa dia harus bersikap sekaku itu hanya karena hal sepele?
Saat berjalan mendahuluinya, mataku menangkap lapak penjual buah segar. Aku memilih singgah sebentar untuk membeli buah pir dan apel, berniat untuk membuat rujak segar siang nanti. Ketika aku berhenti, rupanya Jalal ikut menghentikan langkahnya tak jauh di belakangku. Namun, aku memilih acuh dan tidak peduli.
"Berapa pirnya sekilo, Om?" tanyaku, berusaha menjaga keramahan suaraku pada si penjual.
"Sekilo tiga puluh lima ribu," jawab si Om penjual buah.
"Kalau apelnya?" tanyaku lagi.
"Sama, tiga puluh lima ribu juga... Tapi kalau mau ambil yang satu gantung begini, harganya cuma lima puluh ribu," katanya menunjuk gantungan buah apel yang sudah dikemas di dalam kantong jaring-jaring.
Aku mengangguk pelan. "Kasi saya pir sekilo, sama apelnya satu gantung ya, Om."
Om penjual buah dengan sigap menimbang buah pir dan mengambilkan paket apel pilihanku. Setelah barang diserahkan, aku memberikan selembar uang pas kepadanya. Begitu menerima kembalian, aku langsung berbalik untuk kembali berjalan.
Sejujurnya, bawaan belanjaanku ini terasa berat sekali. Di sebelahku ada pria berbadan besar dan tegap, tetapi sama sekali tidak punya inisiatif untuk membantu. Kupikir Jalal masih setia mengekor di belakangku, namun begitu aku mendongak, rupanya pria itu sudah berjalan jauh di depanku menuju area parkiran.
Aku hanya bisa menatap punggung lebarnya yang perlahan menjauh mendekati mobil SUV putih miliknya.
'Tega banget sih, Pak...' batinku berbisik lirih.
Sudut mataku mendadak terasa panas dan mulai berkaca-kaca. Namun, sekuat tenaga aku menahannya agar air mata ini tidak tumpah di tempat umum. 'Oke! Kalau kamu mau marah tidak jelas begitu, aku juga bisa bakalan marah sama kamu. Jangan harap aku mau naik ke dalam mobil itu lagi!'
Aku menghentikan langkah kaki sejenak di tepi jalan lorong pasar. Merogoh ponsel dari dalam saku, aku segera menekan nomor kontak Andri. Begitu panggilan tersambung, aku langsung berbicara tanpa memberi jeda.
"Halo, Andri... jemput Kakak di pasar sekarang, ya. Jangan dibantah!" ucapku cepat dan tegas, lalu langsung mematikan sambungan ponsel sepihak.
Setelah itu, aku kembali melangkah dengan dagu terangkat, menjinjing kantong-kantong belanjaan yang terasa makin berat dan menyiksa jemariku. Saat langkahku mulai mendekati posisi mobil SUV putih milik Jalal, aku sengaja tidak berbelok ataupun menoleh sedikit pun ke arah pintu penumpang. Aku tetap berjalan lurus melewati moncong mobil mewah itu dengan pandangan mata yang menatap tajam ke depan. Rasa jengkel, kesal, dan harga diri yang terluka kini telah sepenuhnya menguasai hatiku.
Aku terus melangkah dengan langkah kaki yang dihentak-hentak, berjalan melewati para pemuda penjaga parkir pasar. Mereka semua menatapku dengan pandangan heran. Mungkin di dalam hati mereka bertanya-tanya, kenapa wanita ini memilih berjalan kaki padahal ada mobil mewah nan nyaman yang terparkir di belakangnya. Namun, aku sudah terlanjur tidak peduli. Aku terus melangkah lebar, mengabaikan jalanan tanah desa yang super duper becek dan mengotori alas kakiku.
Setelah aku berjalan sekitar lima ratus meter menjauhi area pasar, suara deru mesin mobil milik Jalal terdengar menyusul dari arah belakang. Pria itu memelankan laju kendaraannya, lalu sengaja menghentikan moncong mobilnya tepat di depanku. Seolah memintaku untuk segera membuka pintu dan masuk.
Karena hatiku masih telanjur jengkel setengah mati, aku memilih melengos dan terus berjalan melewatinya. Aku tidak sudi peduli.
"Yas, naik ke mobil," ucapnya dari balik kaca yang terbuka dengan nada suara datar.
'Tuh kan... bicaranya saja masih ketus begitu. Jangan harap deh aku bakalan mau naik!' gerutuku kesal dalam hati.
Aku mempercepat langkah kakiku. Namun lagi-lagi, pria matang itu dengan keras kepala memajukan mobilnya untuk menyusul dan memotong jalanku.
"Naik, Yas!" ucapnya lagi, kali ini dengan intonasi yang penuh penekanan dan penegasan, seolah tidak menerima bantahan apa pun dari mulutku.
Aku menghentikan langkah, berdiri diam menatap arah lain tanpa mau melihatnya. Menyaksikan respons dinginku, Jalal seketika membuka pintu kemudi, lalu menutupnya kembali dengan bantingan yang cukup keras hingga menimbulkan suara berdentum. Dengan langkah lebar yang mengintimidasi, dia mendekat lalu mencengkeram pergelangan tanganku dengan kuat, memaksaku untuk bergerak naik ke dalam mobil.
'Sakit...' batinku menjerit.
Tekanan jarinya di pergelangan tanganku terasa begitu kuat saat dia menarik tubuhku. "Sakit, Pak! Lepas!" ringisku kesakitan sembari mencoba berontak, namun pria itu seperti tidak peduli karena diselimuti emosi.
Sudut mataku seketika mendadak basah dan berkaca-kaca. Karena terlanjur jengkel dan sakit hati, aku mengangkat kaki lalu dengan sekuat tenaga menginjak punggung kakinya.
"Lepas! Kamu gila, ya?! Kamu menyakiti saya, tahu tidak?!" bentakku marah dengan air mata yang akhirnya lolos menetes membasahi pipi.
Pria itu seketika terdiam kaku, cengkeramannya agak melonggar. Tanpa menunggu reaksinya lebih lanjut, aku segera mengempaskan kantong-kantong belanjaanku ke atas tanah, lalu berbalik dan berlari kencang meninggalkannya begitu saja. Aku tidak peduli lagi dengan barang-barang berat itu; yang kuinginkan saat ini hanyalah pergi sejauh mungkin darinya.
'Jahat... Pak Jalal jahat sekali. Dia berani menyakitiku,' tangis pembelaanku bergemuruh di dalam dada.
Aku mencoba mengerahkan seluruh tenaga untuk berlari di atas jalanan yang becek. Namun, kekuatan langkah kakiku tentu saja tidak akan pernah bisa mengalahkan kecepatan mesin mobil miliknya. Jalal kembali mengejarku. Dengan satu gerakan setir yang ekstrem, dia memotong dan memblokir jalanku sepenuhnya menggunakan badan mobil, lalu dengan cepat keluar dari pintu kemudi.
Tanpa memberikan aba-aba atau peringatan apa pun, pria bertubuh kekar itu langsung menyergap dan membopong tubuhku ke dalam dekapan besarnya. Dia membawaku berjalan cepat lalu memasukkan tubuhku secara paksa ke kursi penumpang bagian depan.
Aku terus memberontak, memukul-mukul punggung lebarnya dengan kepalan tangan, meminta untuk diturunkan. "Lepasin! Aku tidak mau naik mobil sama kamu! Lepas!" jeritku histeris diiringi aliran air mata yang semakin deras mengalir.
Melihatku yang terus berteriak, Jalal dengan cepat memajukan wajahnya dan membungkam bibirku dengan sebuah ciuman dalam yang intens, mengunci seluruh protesku selama beberapa saat hingga aku kehabisan kata. Setelah kurasa tubuhku mulai melemas karena syok, dia perlahan menjauhkan wajahnya.
"Syuuuth... diam, Sayang. Maaf ya... maafkan saya karena sudah menyakiti kamu tadi... Maaf," ucapnya lirih dengan napas yang memburu di depan wajahku.
Jalal kemudian menarik seluruh tubuhku ke dalam pelukan eratnya, mendekapku sangat dalam ke dada bidangnya sembari berulang kali mengecup pucuk kepalaku yang masih basah. Sementara itu, aku hanya bisa menangis sesenggukan di dalam dekapannya, meluapkan seluruh rasa kesal yang tersisa.
Pria itu perlahan meraih tangan kananku yang sempat dicengkeramnya tadi. Dengan jemarinya yang besar, dia mengusap lembut permukaan kulit pergelangan tanganku yang tampak memerah.
"Sakit sekali ya, Sayang?" tanyanya dengan nada suara yang berubah parau dan penuh penyesalan.
Aku tidak menjawab, hanya menganggukkan kepala pelan sembari menyembunyikan wajahku di dadanya.
"Maafkan saya, Sayang. Saya benar-benar minta maaf karena sudah menyakiti kamu... Tadi saya terlanjur jengkel. Saya cemburu setengah mati waktu penjual ikan tadi memanggilmu dengan sebutan 'Cantik'. Ditambah lagi saat kamu bertemu dengan cowok itu... kamu kelihatan senang sekali sampai seolah lupa kalau ada saya di sampingmu. Kamu tidak mengingat saya sama sekali saat mengobrol dengannya... Maafkan saya ya, Yas. Saya cemburu berlebihan... Maaf," bisiknya teramat lembut tepat di dekat daun telingaku.
Seiring dengan pengakuan jujurnya itu, pelukan hangat Jalal di tubuhku terasa melonggar namun menjadi jauh lebih protektif dan nyaman dari sebelumnya, perlahan meruntuhkan seluruh rasa benci yang baru saja sempat singgah di hatiku.