Erina Hutomo, single mom yang harus berjuang sendiri mengatasi kekacauan hidup--anak sulung yang beranjak remaja dan banyak ulah, anak bungsu yang autis, tetangga yang selalu nyinyir karena dia janda--hingga tumpukan pekerjaan yang terus menghantuinya di kantor.
Sampai suatu ketika, petir terbesar menyambarnya--Erina divonis mengidap kanker otak, dan usianya tak akan lama.
Di tengah badai, Erina tak sempat menangis. Garis akhir itu seperti bom waktu. Dan ia memilih mati-matian mempersiapkan segalanya, terutama untuk buah hati yang paling dicintainya. Ia hanya ingin anak-anaknya hidup layak dan bahagia--bahkan setelah ia tak ada lagi di dunia.
Termasuk, memberi mereka sosok ayah yang bisa menjaga dan menyayangi mereka seperti darah daging sendiri, sampai akhir.
Berhasilkah Erina menuntaskan misi dan harapan terakhirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. DILARANG JUALAN MANTAN & MERTUA
"Kalau Om beli semua, dijamin nggak akan di-ghosting sama Rosè Blackpink?"
Alvin menyambut kelakar Saga ketika menawarkan dagangannya dengan tak kalah kocak, meski sepasang netra cokelatnya menyorot sendu.
Saga membuang napas panjang, raut mukanya berubah memelas.
"Om..."
"Ya?"
"Please... jangan bilang Mama."
Alvin menatap Saga lekat, ekspresinya melembut.
"Ya... Om nggak akan bilang Mama."
Netra Saga seketika melebar.
"Serius...?"
Alvin mengangguk.
"Ya... tapi dengan syarat."
Saga membeku sejenak. Firasatnya mendadak tak enak.
"Syarat... apa?"
"Bukan syarat yang sulit. Tapi Om nggak bisa bahas itu di sini... ayo ikut Om."
"Ke mana?" tanya Saga waspada.
"Makan bakso. Hujan-hujan begini enaknya makan yang berkuah dan hangat, kan? Ayo," ajak Alvin ramah.
Alvin pun tanpa ragu membukakan pintu mobil penumpang depan untuk Saga--membuat remaja tanggung itu kaget hingga terpaku karena tak menyangka akan diperlakukan seperti itu.
"Masuklah, Ga. Lebih baik kamu masuk ke mobil daripada masuk angin," ujar Alvin masih dengan gaya bergurau, sebab Saga masih bungkam dan diam sekaku batu. "Jangan khawatir, Om nggak akan menculik dan menjual organmu. Fans-nya Rosè Blackpink dan Donald Bebek nggak ada yang jahat, kamu tahu..."
Saga enggan menanggapi, tetapi ia juga tak bisa menolak--ia masih harus berkompromi agar rahasia besarnya tak bocor dan sampai ke telinga Erina.
"Trims, Om..."
Saga duduk dan memasang sabuk pengaman dengan kikuk. Alvin tersenyum dan duduk di kursi kemudi, lantas dengan mulus mengemudikan mobilnya hingga sampai di sebuah restoran hot pot mewah di hotel bintang lima.
"Katanya makan bakso...," protes Saga saat mau tak mau mengikuti Alvin memasuki restoran dan duduk di salah satu private room yang dekorasinya seperti ruang makan raja di drama kerajaan China.
"Bakso di sini yang paling enak--fresh dibuat setiap hari dari Wagyu A5 lho," kata Alvin cerah. "Om jamin kamu suka."
Hidangan hot pot kali itu tak bisa dipungkiri merupakan makanan paling lezat yang pernah mampir di lidah Saga. Itu pertama kalinya ia mencicipi Wagyu A5 dalam bentuk bakso maupun irisan daging, berpadu dengan kaldu berempah yang pekat--rasanya begitu lezat dan lumer dengan menakjubkan di mulut.
"Enak, kan?" Alvin tersenyum lebar saat melihat Saga makan dengan lahap di depannya.
Saga mendongak dari mangkuknya dan menatap Alvin--seketika ingat tujuan utamanya mengikuti laki-laki yang dicapnya sebagai buaya berbahaya. Ia pun berhenti menyuap dan meletakkan sumpitnya.
"Om tadi mau bicara soal syarat itu... bisa Om jelaskan sekarang?" pinta Saga tanpa basa-basi.
"Ah, ya," Alvin pun meletakkan sumpitnya dan meneguk teh hijau hangat tanpa gula. "Om janji tak akan bilang apapun ke Mamamu... asal kamu berhenti jualan tahu anti-ghosting dan kembali bersekolah."
Saga seketika merengut.
"Kalau gitu, Saga jualan nasi campur kenangan mantan--"
"Itu juga nggak boleh," sergah Alvin sambil menahan tawa. "Kamu jangan berjualan apapun lagi di jalanan seperti tadi... fokuslah sekolah, oke?"
Saga menghela napas berat.
"Sayangnya, Saga nggak bisa..."
"Kamu memang nggak bisa lagi sekolah di SMP Tunas Emas, tapi bukan berarti kamu nggak bisa sekolah di tempat lain, Saga," sela Alvin lembut.
Saga terperangah.
"Om... tahu...?"
"Soal kamu 'dipaksa' keluar dari Tunas Emas? Ya," Alvin mengangguk, ekspresinya tiba-tiba berubah geram. "Juga soal kamu di-blacklist dari sekolah-sekolah lainnya... hanya karena kamu membela dan melindungi anak perempuan Om yang dianiaya. Itu sangat kejam dan tidak adil!"
Saga menundukkan kepala. Air mukanya berubah hampa, namun ia memutuskan tak berkata apa-apa.
"Karena itu Om mencarimu... Om sangat menyesalkan hal-hal buruk yang tidak seharusnya menimpamu. Sebagai ayah Nia, Om akan membantumu keluar dari masalah ini," lanjut Alvin perlahan.
Saga pelan-pelan meluruskan wajah kembali.
"Bantu apa...?"
"Kamu akan bersekolah lagi. Om sudah bertemu dan bicara dengan pemilik Bravo International School--kamu diterima menjadi siswa di sana."
Saga mengerjap beberapa kali dan hampir mengorek telinganya sendiri--yakin telinganya kemasukan air hujan hingga mendadak tuli atau salah dengar.
"Aku... diterima sekolah... di... apa?"
"Bravo International School. Itu sekolah internasional terbaik di sini--jauh lebih bagus daripada SMP Tunas Emas--"
"Om, biaya sekolah di sana seharga mobil baru setahunnya... mana bisa Saga bayar--"
"Ah, yaa, Om lupa bilang, kamu diterima sebagai siswa berprestasi, jadi kamu akan sekolah di sana dengan tanggungan beasiswa--alias tanpa biaya sama sekali. Jadi kamu tinggal bawa diri dan rajin belajar seperti dulu lagi," sela Alvin ceria.
Saga sama sekali tak terkesan--ia justru menatap tajam Alvin seakan ingin mencelupkannya di dalam rebusan kaldu hot pot saat itu juga.
"Om bohong!"
Giliran Alvin mengerjap.
"Bohong gimana? Beneran kamu bisa sekolah--"
"Ya, tapi nggak mungkin juga dengan beasiswa--Saga tahu betul BIS nggak pernah menyediakan beasiswa dalam bentuk apapun. Itu sekolah paling mahal dan paling bergengsi--cuma anak-anak orang kaya dan pintar yang bisa bersekolah di sana... lagipula, prestasi terbaru Saga adalah bikin hidung anak orang patah. Pemerintah sekalipun nggak akan sudi kasih beasiswa untuk prestasi macam itu..."
"Pemerintah sih bisanya cuma kasih MBG di omprengan jorok, apa yang bisa diharapkan?" dengus Alvin.
Saga mengangkat alisnya.
"Jadi soal beasiswa itu bohong, kan?"
Alvin menghela napas panjang, namun wajah tampannya tetap tersenyum ramah.
"Om nggak bohong. Kamu beneran dapat beasiswa... dari yayasan Om."
Alis Saga terangkat makin tinggi.
"Sejak kapan ada Alvin Foundation di kota ini?"
"Habis ini Om bikin," cetus Alvin buru-buru.
"Om--"
"Saga, tolong jangan khawatirkan soal biaya--itu urusan Om sebagai lelaki dewasa dan pekerja keras bagai kuda. Yang penting kamu bisa sekolah lagi, dan--"
"Saga nggak mau, terima kasih!" ketus Saga. "Saga nggak mau hutang budi apapun lagi, ke siapapun! Lebih baik Saga jualan minuman sedingin hati mertua daripada harus menggantungkan nasib ke tangan orang berpunya lagi, atau harus membalas jasanya suatu hari nanti!"
Alvin mendesah panjang.
"Om sama sekali nggak minta kamu balas budi suatu hari nanti..."
"Terus? Mintanya apa? Direstui nikah sama Mama?" Saga melotot, kentara makin naik darah.
Alvin mengerjap--bahkan membeku beberapa detik.
"Memangnya di mata kamu, Om se-modus itu, ya...?" keluh Alvin dengan ekspresi sedih--yang justru membuatnya semakin tak meyakinkan di mata Saga.
"Ya. Setajir apapun, mana ada orang mau buang-buang duit ratusan juta bahkan milyaran tanpa alasan atau motif yang jelas dan menguntungkan? Saga nggak bodoh, ya--"
"Amal."
Saga ternganga beberapa detik.
"Hah?"
"Om melakukannya demi amal. Supaya masuk surga. Mamamu yang mengajari Om itu... sejak Om kecil, kamu tahu. Sampai mati, Om nggak akan bisa lupa itu..."
Saga mengerutkan keningnya, tatapannya makin tajam menghujam Alvin yang ekspresinya kian sendu.
"Om... kenal Mama sejak kecil?"
"Bukan hanya kenal--Mamamu sudah menyelamatkan hidup Om," jelas Alvin pelan. "Kalau bukan karena mamamu... Om nggak akan ada lagi di dunia ini, nggak akan bisa ajak kamu makan bakso wagyu seperti sekarang. Jadi sebenarnya Om yang sedang berusaha balas budi... meski uang sebanyak apapun rasanya juga nggak akan pernah cukup membalas kebaikan Mamamu..."
Sejenak, Saga terhenyak.
"Aku mencintaimu, Alvin..."
Igauan Erina saat dirawat di kamar ICU kembali mengiang di benak Saga. Meski batinnya teriris pedih, Saga kini mulai memahami mengapa ibunya bisa membuka hati dan bahkan menyimpan cinta kepada laki-laki yang kini duduk dengan lesu di depannya seperti prajurit kalah perang--rupanya Erina dan Alvin memiliki kisah masa lalu tersendiri. Ikatan itu tanpa sadar sudah tersimpul sejak dini.
"Tapi tetap saja... Saga nggak bisa menerima bantuan sebesar itu, Om...," gumam Saga seraya menunduk.
Alvin tersenyum lembut.
"Saga, Om nggak akan memaksa... tapi kalau Om boleh memohon, pertimbangkanlah baik-baik... demi masa depan kamu, dan terutama, demi Mama," tutur Alvin halus. "Kalau Mama tahu kamu putus sekolah dan bekerja kasar sedini ini karena tak punya pilihan, bagaimana perasaannya nanti? Bukankah jauh lebih baik kalau kamu kembali sekolah dan rajin belajar hingga menjadi siswa berprestasi--lantas kamu bisa membanggakan dan membahagiakan Mama dengan masa depan yang lebih bersinar?"
Kalimat Alvin telak menyentuh titik paling rapuh di hati Saga. Netranya bahkan sempat berkaca-kaca--seakan benteng beku yang selama ini dipaksanya meredam lara sendiri seketika hampir luruh dalam sunyi.
Demi Mama...
Saga kembali menatap lurus Alvin, keteguhan kini memancar di netra hitam dan wajahnya yang muda dan tampan.
"Baik... Saga terima bantuan Om, tapi dengan syarat."
"Syarat apa?" tanya Alvin hati-hati.
"Saga akan kembalikan semua biaya sekolah itu saat Saga sudah dewasa dan bekerja nanti," tegas Saga. "Perkara Om punya hutang budi sama Mama bukan urusan Saga--tapi Saga nggak mau punya hutang budi sama Om Alvin, sampai kapan pun!"
Alvin tak bisa lagi menahan senyum, bahkan tertawa kecil. Sisi keras kepala Saga sungguh mengingatkannya pada Erina.
"Oke. Deal," katanya ringan--ia memutuskan mengiyakan saja supaya urusan tak makin panjang. "Jadi, mulai besok kamu berhenti jualan mantan dan mertua, dan kembali ke sekolah ya..."
Saga mau tak mau ikut tertawa.
"Deal," sahutnya. Sejurus kemudian, ekspresi dan suaranya melembut--untuk pertama kalinya sejak bertemu dan bertukar kata dengan Alvin. "Terima kasih, Om..."
Alvin tersenyum, hatinya terasa hangat.
"Kembali kasih, Saga."
Sesaat, tak ada percakapan yang mengudara--keduanya kembali sibuk mencemplungkan aneka bahan berkualitas premium ke dalam kuah yang terus mengepulkan uap beraroma sedap, dan menyantapnya dengan sukacita.
"Tapi kalau boleh tahu...," Saga tak tahan lagi untuk bertanya di sela mengunyah irisan daging wagyu dan jamur shiitake. "Memang Mama dulu nolongin Om seperti apa? Kayaknya Om hampir berakhir tragis... apa Om kecebur sumur waktu main petak umpet?"
Alvin hampir tersedak tofu karena tak bisa menahan tawa.
"Hmm... kasih tahu nggak, ya?"
***