NovelToon NovelToon
Istri Bisu Pilihan Ibu

Istri Bisu Pilihan Ibu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Pembantu / Orang Disabilitas / Cinta setelah menikah / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:21.8k
Nilai: 5
Nama Author: penyuka ungu

​Azizah, seorang wanita bisu dari desa yang merantau ke kota untuk bekerja sebagai pembantu baru. Namun kelembutan hatinya justru memikat sang nyonya majikan yang kemudian bersikeras menjodohkannya dengan putra sulungnya, Ezra.

​Ezra menolak keras karena sudah memiliki kekasih, begitu pula Azizah yang tidak ingin menikah tanpa cinta. Namun demi menyelamatkan sang nyonya yang terkena serangan jantung, pernikahan itu terpaksa digelar. Di tengah dinginnya sikap Ezra, mampukah ketulusan Azizah menyentuh hati suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tuntutan Paksa

Langit sore telah berubah warna menjadi jingga keemasan yang sempurna. Waktu kepulangan Amisha akhirnya tiba. Seorang sopir keluarga telah menunggu di samping mobil, siap membawa Amisha dan Clara kembali ke rumah.

Ezra dan Azizah berdiri di teras untuk mengantar kepergian mereka. Suasana terasa emosional. Amisha memeluk Azizah cukup lama, seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatannya pada menantu yang ia anggap seperti anak sendiri itu.

“Jaga diri baik-baik ya, Zah,” bisik Amisha lembut sebelum melepas pelukannya.

Di sampingnya, Clara tampak tidak rela. Ia terisak dan enggan melepaskan lengan Azizah.

“Mbak Azizah, jangan lupa hubungi aku ya,” rengeknya.

Amisha tertawa kecil, lalu mencubit hidung putrinya dengan gemas, “Jangan cengeng, Clara. Kalau Clara rindu, nanti Mama yang akan mengantarmu ke sini lagi, ya?”

Azizah mengangguk setuju dengan senyum haru, lalu mengusap pipi Clara yang basah oleh air mata.

Sebelum benar-benar masuk ke mobil, Amisha melirik Ezra dengan tatapan yang penuh harap, “Oh ya, Ezra. Mungkin minggu depan, kau bisa mengantar Azizah berkunjung ke rumah Mama?”

Ezra hanya mengangguk tipis, sementara raut wajahnya tetap sedatar tembok.

Setelah dirasa cukup, Amisha dan Clara segera masuk ke dalam mobil. Amisha melambaikan tangan dari balik kaca jendela yang terbuka. Azizah membalas lambaian Amisha dengan senyuman dan menunggu sampai mobil berwarna putih itu perlahan menjauh dan hilang dari pandangan.

Begitu mobil itu tidak lagi terlihat, suasana berubah drastis. Senyum di wajah Azizah luntur seketika. Ia menoleh ke samping, namun Ezra sudah tidak ada di sana. Pria itu bahkan tidak menunggu mobil ibunya benar-benar pergi.

Azizah terdiam sejenak, merasakan dinginnya kesepian yang kembali menyergap. Dengan bahu yang sedikit terkulai, ia kembali masuk ke dalam rumah.

Wanita itu langsung menuju meja ruang tamu. Dengan gerakan yang diatur agar tetap tenang, ia mulai mengumpulkan gelas-gelas kosong dan piring camilan sisa-sisa kehangatan dari obrolan rianya bersama Amisha dan Clara beberapa saat lalu. Namun fokusnya buyar ketika mendengar derap langkah kaki yang menuruni anak tangga dengan tegas.

Azizah menoleh. Ezra muncul dengan penampilan yang sudah rapi. Jaket kulit hitam tampak membungkus tubuh tegapnya. Dari tampilannya, sangat jelas pria itu hendak pergi.

Melihat suaminya berjalan lurus menuju pintu utama, Azizah meletakkan kembali nampannya lalu bergegas mendekat.

“Ada apa?!” tanya Ezra ketus. Ia bahkan tidak menatap Azizah, sibuk mengganti sandal rumahannya dengan sepasang sepatu Oxford berwarna hitam.

Azizah dengan cepat mengetik di layar ponselnya, lalu menyodorkannya ke hadapan Ezra.

‘Mas mau kemana? Sebentar lagi malam.’

Ezra mendengus meremehkan. Sambil menegakkan tubuh, ia menatap Azizah dengan pandangan menusuk.

“Bukan urusanmu!” jawabnya tajam.

Tanpa membuang waktu lagi, Ezra menyambar kunci mobil di dekat pintu, lalu melangkah keluar rumah.

Azizah tidak tinggal diam. Ia segera berlari kecil mengejar hingga ke teras. Namun usahanya sia-sia. Deru mesin mobil Ezra sudah terdengar dan dalam hitungan detik, kendaraan itu melesat membelah jalanan. Hanya meninggalkan kepulan asap dan debu, serta meninggalkan Azizah yang terpaku sendirian menatap jalanan yang kembali sepi.

......................

Musik DJ berdentum keras, mengguncang dinding club dan jantung setiap pengunjung. Di tengah kelap-kelip lampu strobo yang menyilaukan mata, Ezra duduk sendirian di meja bar sambil meneguk minumannya tanpa henti. Berbagai wanita penghibur sempat mencoba mendekat, namun Ezra mengusir mereka mentah-mentah dengan tatapan tajam dan isyarat tangan yang dingin. Ia tidak butuh pelampiasan nafsu. Ia hanya butuh alkohol untuk mengenyahkan bayang-bayang Azizah yang terus menghantui pikirannya.

Tiba-tiba, dua pria muncul dan duduk di kursi kosong di sampingnya.

“Ezra! Itu benar-benar kau, kan?” sapa salah satu dari mereka.

“Benar. Lama tidak bertemu!” sahut satunya.

Ezra menyipitkan mata, berusaha memfokuskan pandangannya yang mulai kabur.

“Tiko... Bagas,” gumamnya sambil menunjuk mereka satu per satu.

Tiko tersenyum lebar dan memberi isyarat pada Bagas untuk duduk, “Luar biasa, akhirnya kita bertemu lagi. Bagaimana kabarmu? Sejak wisuda, aku tidak pernah melihatmu langsung. Hanya bisa memantau kesuksesan perusahaanmu lewat media sosial.”

Ezra terkekeh pahit, “Perusahaanku memang berjalan baik, tapi kabarku? Tidak sama sekali,” jawabnya sambil menenggak sisa minuman di gelas.

Tiko dan Bagas saling berpandangan. Menyadari hawa negatif yang terpancar dari sahabat lama mereka.

“Emm... Ezra, sebaiknya kau pulang saja. Kau sudah terlalu mabuk,” saran Bagas hati-hati.

Ezra menaruh gelasnya ke meja dengan kasar dan menatap mereka dengan sorot mata yang penuh kebencian, “Untuk apa aku pulang dan bertemu Azizah, si wanita bisu itu! Aku tidak tahan berada satu atap dengannya!” Ia meremas rambutnya sendiri dengan frustrasi, seolah ingin menarik keluar beban di kepalanya.

“Siapa itu Azizah?” tanya Tiko penasaran, diikuti anggukan setuju dari Bagas.

“Istri yang dijodohkan ibuku,” desis Ezra.

Keduanya terperangah, “Kau sudah menikah?!” seru mereka berbarengan.

Tiko mengernyitkan dahi, “Tunggu dulu, bukankah kau dulu selalu menempel dengan model cantik itu? Siapa namanya, Gas? Aku lupa.”

“Sienna,” sahut Bagas cepat.

“Ya, itu dia,” lanjut Tiko, “Bagaimana bisa kau setuju menikahi wanita asing seperti itu?”

“Sudah! Jangan bertanya lagi!” Ezra memukul meja dengan keras, “Otakku pusing hanya karena memikirkannya!”

Tiko dan Bagas terdiam, merasa tidak enak telah mengorek luka lama. Suasana pun menjadi canggung.

“Kalau begitu, lebih baik kau pulang, Zra. Atau mau kami antar?” tawar Tiko.

“Tidak!” Balas Ezra cepat, lalu meraih botol minuman dan menuangkannya lagi ke gelas dengan tangan bergetar, “Aku belum selesai. Aku masih ingin minum!”

......................

Di ruang tamu, Azizah duduk dengan gelisah. Perasaannya terusik oleh kecemasan. Terutama mengingat kepergian Ezra dalam keadaan yang begitu murka. Ia menatap ke luar jendela, ke arah jalanan yang sudah gelap gulita. Berharap melihat sorot lampu mobil suaminya.

Hanya karena ia jujur kepada Amisha perihal Sienna, Ezra sudah menumpahkan seluruh kebenciannya. Pikiran itu membuat dada Azizah sesak. Ia merenung, memikirkan betapa ironis posisinya saat ini.

Azizah tiba-tiba menegakkan tubuhnya, sebuah kesadaran pahit menghantam batinnya. Untuk apa ia menunggu dengan setia pria yang bahkan tidak sudi menghargai keberadaannya? Ezra bahkan terus melontarkan kata-kata kasar dan menganggapnya tidak lebih dari butiran debu.

Azizah tersenyum tipis, sebuah senyum kecut yang sarat akan kekecewaan. Ia sadar, kepeduliannya selama ini tidak pernah sampai ke hati Ezra. Mengapa ia harus menyiksa diri dengan menanti seseorang yang justru ingin menyingkirkannya?

Dengan gerakan mantap, ia berdiri. Ia berjalan ke arah jendela, menutup tirai rapat-rapat, lalu melangkah menuju pintu utama untuk menguncinya. Ia memutuskan untuk berhenti peduli jika malam ini Ezra tidak kembali.

Setelah memastikan pintu terkunci rapat, Azizah melangkah menuju kamar yang ia gunakan sebelumnya. Sejak Ezra pergi tadi sore, ia sudah memindahkan barang-barangnya keluar dari kamar atas. Ia tahu betul, pria itu sudah merasa sangat terganggu dengan kehadirannya, dan ia tidak ingin lagi memberikan alasan bagi Ezra untuk menghinanya dengan mengungkit masalah tentang mereka yang berada di dalam satu kamar.

Baru saja Azizah menyentuh gagang pintu kamarnya, deru mesin mobil yang familiar terdengar memasuki halaman rumah. Langkahnya terhenti. Sekilas, muncul dorongan untuk membiarkan saja pria itu di luar. Membiarkannya merasakan dinginnya malam sebagai balasan atas perlakuan kasarnya. Namun suara asing yang memanggil-manggil dari arah teras memicu rasa penasaran sekaligus kekhawatirannya.

Ia berbalik dan berjalan cepat menuju pintu utama, lalu membuka kuncinya.

Begitu pintu terbuka, mata Azizah melebar. Di sana, Ezra terlihat sangat kacau, tubuhnya terkulai lemas dengan kedua bahu yang dipapah oleh dua pria asing.

“Istrinya Ezra?” tanya pria yang tampak lebih jangkung.

Azizah mengangguk pelan.

“Aku Tiko, dan ini Bagas. Kami teman kuliah Ezra. Tadi kami tidak sengaja bertemu dia di club,” jelas pria bernama Tiko itu.

Club? Mas Ezra mabuk-mabukan lagi? Astaghfirullah, batin Azizah sedih.

“Biar kami bantu Ezra masuk,” ujar Bagas.

Azizah segera menyingkir dan memberikan jalan bagi mereka untuk menyeret tubuh Ezra yang tidak sadarkan diri masuk ke dalam rumah.

“Di mana kamar Ezra?” tanya Tiko sambil memapah Ezra dengan susah payah.

Azizah segera menaiki tangga terlebih dahulu untuk menunjukkan jalan, sementara Tiko dan Bagas mengikuti di belakang dengan langkah berat. Sesampainya di kamar lantai atas, mereka merebahkan tubuh Ezra di tempat tidur dengan hati-hati.

“Kalau tidak ada hal lain... kami pergi dulu,” ucap Tiko setelah memastikan posisi Ezra nyaman.

Azizah hendak mengucapkan terima kasih, namun ia tersadar bahwa ponselnya tertinggal di bawah.

Tiko dan Bagas saling berpandangan. Teringat ucapan Ezra di club tadi mengenai ‘wanita bisu’ yang menjadi istrinya.

“Tidak usah mengantar. Pintu depan juga nanti kami tutup,” tambah Tiko dengan nada yang sedikit canggung, “Ini kunci mobil Ezra. Kalau begitu, kami permisi.“

Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, kedua pria itu bergegas keluar dari kamar.

Azizah menghela napas melihat punggung kedua pria itu yang menjauh. Ia menaruh kunci mobil Ezra di nakas. Matanya kemudian menatap tubuh Ezra yang terbaring lemah, sementara bau alkohol yang tajam menguar dari seluruh tubuhnya.

Walaupun hatinya hancur berkeping-keping karena perbuatan maksiat yang dilakukan Ezra, Azizah tetap melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri dengan melepas sepatu suaminya satu per satu. Ia menarik selimut hingga menutupi dada Ezra dan berniat untuk segera meninggalkan kamar itu.

Namun baru saja Azizah hendak melangkah mundur, tangan Ezra bergerak secepat kilat. Pria itu mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat. Kelopak matanya yang tadi tertutup rapat kini terbuka. Menatap Azizah dengan pandangan sayu namun penuh tuntutan.

“Kau ingin menjadi istri yang berbakti, kan?” suara Ezra terdengar parau dan berat, khas orang yang sedang di bawah pengaruh minuman keras.

Azizah mengerutkan kening. Ia menatap suaminya dengan tatapan bingung sekaligus takut. Ia berusaha melepaskan tangannya, tetapi cengkeraman Ezra justru menguat.

“Maka berikan hakku sebagai suami malam ini,” Ezra menarik tangan Azizah dan memaksanya lebih dekat ke arah tempat tidur, “Tidak akan kubiarkan kau kuceraikan dalam keadaan suci!”

1
Ariany Sudjana
waduh, siapa yang menculik Azizah? semoga Azizah baik-baik saja dan bisa diselamatkan. mana Azizah ga bisa bicara lagi /Sob/
Ariany Sudjana
wah semangat yah Azizah, kamu harus tetap bersemangat untuk bisa melanjutkan studinya
Cici Sri Yunita
bagus
Lilik Juhariah
moga Zizah bisa bersuara lagi dan jadi wanita mandiri
Lilik Juhariah
Ezra Ezra Ezra
Lilik Juhariah
syukurlah sudah lebih baik hubungan mereka
Ariany Sudjana
hahaha Ezra bucin akut
Ariany Sudjana
puji Tuhan, kehidupan rumah tangga Ezra dan Azizah semakin membaik. ayo semangat Ezra untuk bisa berjalan dengan baik, dan Azizah juga semangat untuk ikut terapi, supaya bisa berbicara lagi
Lilik Juhariah
moga Zizah bisa buat Ezra sholat dan menjalankan perintah NYA
Lilik Juhariah
baguslah , Ezra kembali jadi manusia lagi , bukan robot yg gak punya hati Krn dendam
Ariany Sudjana
iya, semoga Azizah bisa kembali berbicara, supaya tidak harus selalu membalas dengan hp setiap pertanyaan dari Ezra atau orang lain
Ariany Sudjana
puji Tuhan, Ezra sudah boleh pulang, tinggal Azizah nih, semoga bisa kembali berbicara, supaya komunikasi dengan Ezra bisa lebih lancar
Lilik Juhariah
Zizah istri Sholehah, tiap untaian kata mu bikin aku tercengang, dalam banget maknanya , aku sukaaa
Lilik Juhariah
terus dirimu dg shiena , sampe segimana hubunganmu sampe jd orang bodoh Zra
Ariany Sudjana
semangat terus yah Ezra untuk sesi terapi, bersyukur kamu punya istri yang bijak seperti Azizah, bukan pelacur murahan kesayangan kamu itu
Ariany Sudjana
puji Tuhan, hubungan Ezra dan Azizah semakin membaik. seandainya Azizah bisa bicara, komunikasi dengan Ezra bisa lebih lancar dan rumah tangga mereka bisa lebih baik
Zia Zee
Terimakasih sudah up ya kak author🥰
Ariany Sudjana
asli part ini /Sob/ Azizah sangat dewasa dalam berpikir, semoga hubungan kalian semakin membaik
Lilik Juhariah
dewasa sekali Zah , tapi coba tanya ke Ezra apa dia pernah berzina dh shiera
Lilik Juhariah
rawat aja Zah , dari awal kamu wanita berprinsip , tapi tidak cengeng, jaga jarak sesuai kesepakatan yg pernah Ezra bilang padamu , biarkan Ezra mencintaimu dan menghargai keberadaan mu dulu,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!