NovelToon NovelToon
Naruto : Sistem Shinobi Tanpa Batas

Naruto : Sistem Shinobi Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Naruto / Sistem / Reinkarnasi
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Barr

Ren, seorang pemuda yang hidupnya hancur di dunia modern, terbangun di dunia yang ia kenal hanya melalui layar kaca—dunia Shinobi yang penuh dengan darah, air mata, dan pengkhianatan.

​Tepat saat ia lahir di tengah kekacauan serangan Kyuubi, Ren menyadari bahwa ia tidak memiliki garis keturunan klan hebat, tidak memiliki chakra yang melimpah, dan hanya dianggap sebagai sampah oleh dunia.

​Namun, tepat saat ia menginjak usia 6 tahun, sebuah layar transparan muncul di depannya: [Selamat datang, Ren. Sistem Evolusi Shinobi telah aktif.]

​Dengan pengetahuan tentang masa depan yang pahit dan sistem yang memungkinkan segalanya, Ren bersumpah untuk mengubah nasib. Dari seorang anak yatim piatu yang diabaikan, ia akan bangkit, melampaui para Hokage, hingga menantang para dewa yang bermain-main dengan takdir dunia ini.

​Bukan sebagai pahlawan, bukan pula sebagai penjahat. Dia adalah Faktor X yang akan mengubah dunia Shinobi selamanya.



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelatihan Pertama Di Hutan Berkabut

Kabut tebal subuh menggantung rendah di antara barisan pohon raksasa di hutan belakang Konoha, menciptakan atmosfer sunyi yang membeku. Namun, kesunyian itu pecah oleh lesatan bayangan kecil yang bergerak dengan kecepatan yang tidak wajar untuk anak seusianya.

​Itu adalah Ren. Kedua kaki kecilnya mencengkeram tanah yang basah oleh embun, mendorong tubuh kurusnya maju ke depan dengan daya ledak yang luar biasa. Setiap kali kakinya menapak, tanah di belakangnya sedikit terangkat, menyisakan jejak tipis yang langsung tersamarkan oleh kabut. Berkat atribut Kecepatan 34 dan Ketahanan 36 yang baru saja dia miliki, tubuh Ren terasa seringan angin. Dia mampu melompati akar pohon yang meliuk besar, menghindari dahan yang melintang rendah, dan menjaga momentum larinya tanpa kehilangan keseimbangan sedikit pun. Sensasi memiliki kekuatan fisik setara Genin Muda di dalam wadah anak enam tahun ini sungguh menakjubkan.

​Namun, Ren tidak membiarkan kekuatan ini membuatnya sombong. Sebagai seorang pria dewasa yang pragmatis, dia segera menyadari sebuah detail taktis yang krusial. Sistem memang telah mengubah struktur otot, tulang, dan merombak jalur tenketsunya menjadi seefisien ninja profesional. Tetapi, kapasitas paru-paru dan ukuran organ dalam dari tubuh bocah enam tahun miliknya tetap memiliki batas anatomi alami. Ototnya belum kelelahan, tetapi dadanya sudah mulai terasa sesak. Udara subuh yang dingin dan menusuk masuk ke tenggorokannya, membuat paru-parunya terasa seperti terbakar. Napasnya mulai terengah-engah, memburu dengan ritme yang berat.

​Hah... Hah... Jangan berhenti! batin Ren meraung, memotong rasa sakit yang mulai merayap di dadanya. Jiwa dewasanya yang sekeras baja menolak untuk berkompromi dengan kelemahan fisik tersebut. Dia memaksa sepasang kaki kecilnya untuk terus melaju membelah kabut, mengabaikan sinyal protes yang dikirimkan oleh sistem pernapasan tubuhnya. Di dunia yang kejam ini, berhenti berarti mati konyol.

​Saat pelariannya memasuki kilometer ketiga, Ren sengaja melenceng dari jalur setapak yang biasa dilalui oleh para pencari kayu bakar atau ninja patroli bawah. Dia bergerak semakin jauh ke dalam wilayah hutan yang lebih pekat dan rimbun, tempat di mana semak belukar tumbuh setinggi dada orang dewasa. Setelah menembus barisan pohon berduri, langkah Ren melambat ketika dia tiba di sebuah area lingkaran kecil yang terisolasi dari dunia luar.

​Tempat itu tersembunyi dengan sangat baik di balik tebing batu kecil yang tertutup lumut. Di tengahnya, terdapat beberapa tunggul pohon raksasa yang telah lapuk, serta sisa-sisa tiang kayu yang telah membusuk dan dipenuhi bekas goresan senjata tajam. Berdasarkan pengetahuannya tentang sejarah desa, Ren langsung menyimpulkan bahwa tempat ini kemungkinan besar adalah bekas tempat latihan kuno yang sengaja ditinggalkan dan dilupakan sejak era Perang Dunia Shinobi Ketiga. Lokasinya yang terpencil, minim akses, dan tertutup vegetasi liar membuatnya menjadi pangkalan rahasia yang sempurna. Di sinilah dia akan membangun kekuatannya, jauh dari mata-mata ANBU ataupun intaian ninja sensor Konoha.

​Tanpa membuang waktu satu detik pun untuk beristirahat, Ren langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas tanah berumput yang dingin di tengah area tersebut. Batas waktu satu setengah jam dari sistem terus berjalan mundur di sudut matanya, mendesaknya untuk segera mengeksekusi sisa menu latihan neraka ini.

​Ren memulainya dengan push-up. Satu... dua... tiga... Gerakannya konstan, cepat, dan presisi. Kekuatan otot Genin yang dia miliki membuat tubuhnya naik-turun dengan mudah pada lima puluh hitungan pertama. Namun, ketika angka beralih ke sit-up dan berlanjut ke squat, tempaan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

​Sistem beraliran keras ini tidak memberikan kekuatan secara cuma-cuma. Sistem memberikan potensi dan struktur fisik yang unggul, tetapi Ren tetap harus memeras setiap tetes keringat dan darahnya sendiri untuk mengaktifkan dan membiasakan tubuhnya dengan potensi tersebut. Asam laktat mulai menumpuk di seluruh jaringan otot paha dan lengannya, menciptakan rasa panas yang menyengat seolah-olah dagingnya sedang dipanggang di atas bara api. Keringat bercucuran deras dari dahinya, menetes ke tanah dan membasahi pakaian panti asuhannya yang usang. Pandangan matanya mulai kabur, bergetar hebat karena kelelahan ekstrem yang menghantam sistem sarafnya.

​Tepat saat Ren berada di tengah-tengah gerakan squat yang melelahkan, sebuah layar holografis merah berkedip agresif di depan matanya, mengeluarkan suara peringatan yang monoton.

​[Peringatan: Detak jantung inang melampaui batas normal tubuh anak-anak (180 BPM). Menyalurkan energi cadangan minimum untuk mencegah gagal jantung...]

​[Progress Misi Harian: Berlari 5/5 KM (Selesai) | Push-up 100/100 (Selesai) | Sit-up 100/100 (Selesai) | Squat 85/100]

​[Sisa Waktu: 04 menit, 12 detik.]

​Sensasi hangat yang sangat tipis mengalir dari jantung Ren, menstabilkan detak dadanya yang bergemuruh layaknya genderang perang, mencegah organ dalamnya hancur akibat tekanan latihan yang tidak masuk akal ini. Melihat sisa waktu yang kurang dari lima menit dan lima belas squat terakhir yang harus diselesaikan, Ren tidak merasa ngeri. Sebaliknya, di tengah pandangannya yang mengabur dan napasnya yang tercekat, sebuah seringai lebar yang sinis dan mengerikan justru terukir di wajah kecilnya.

​Dia menikmati rasa sakit ini. Dia memuja setiap detik siksaan fisik yang dia rasakan. Baginya, rasa sakit yang membakar otot-ototnya saat ini adalah bukti nyata yang paling jujur bahwa dia sedang tumbuh, bahwa dia sedang menghancurkan takdir lamanya sebagai "si sampah sipil" dan merayap naik menuju puncak kekuatan.

​Sembilan puluh... sembilan puluh lima... sembilan puluh sembilan... seratus!

​Tepat ketika semburat cahaya matahari pertama memecah ufuk timur dan mengusir kabut hutan, Ren menyelesaikan gerakan squat terakhirnya. Detik itu juga, seluruh kekuatan di kakinya lenyap. Tubuh kecil bocah enam tahun itu tumbang, jatuh telentang di atas tanah yang basah dengan dada yang naik-turun secara drastis, mencoba meraup oksigen sebanyak-banyaknya.

​Bersamaan dengan tubuhnya yang lumpuh karena kelelahan, sebuah nada denting yang paling memuaskan bergema di dalam lubuk jiwanya.

​[TING!]

​[Misi Harian: 'Fondasi Sang Anomali' -> BERHASIL SELESAI.]

​[Mendapatkan Imbalan: +10 EXP Sistem, +1 Poin Atribut Bebas.]

​[EXP Saat Ini: 10/100 (Menuju Level Sistem Berikutnya)]

​Ren menatap layar keberhasilan itu dengan napas yang perlahan mulai teratur berkat efek pasif dari trait 'Semangat Bertahan Hidup' miliknya. Satu poin atribut bebas pertamanya telah berhasil didapatkan. Ini adalah langkah kecil, namun konstan. Sebuah bukti bahwa sains evolusi sistemnya bekerja dengan mutlak tanpa bisa diganggu gugat oleh siapa pun.

Tatapan Ren tertuju pada satu poin atribut bebas yang melayang di sudut pandangnya. Tanpa ragu, dia mengarahkan perintah batinnya. 'Sistem, alokasikan poin ini ke Kapasitas Chakra.'

​[Alokasi Poin Berhasil. Kapasitas Chakra: 2 -> 3.]

​Perubahan kali ini tidak membawa rasa sakit, melainkan seberkas kehangatan tipis yang mengalir lembut di sekitar perut bawahnya. Peningkatan ini memang kecil, namun Ren tahu ini adalah investasi taktis jangka panjang untuk mempercepat pemulihan stamina dan energinya selama menjalani latihan ekstrem ke depan.

​Setelah berbaring selama beberapa menit hingga tubuhnya mampu bergerak kembali, Ren bangkit dengan perlahan. Dia menyeka keringat yang membasahi wajah dan lehernya dengan lengan baju, memastikan tidak ada jejak mencurigakan yang tertinggal di area latihan rahasianya. Dengan sisa tenaga yang ada, dia menggunakan Kecepatan barunya untuk menyelinap kembali menembus hutan, bergerak selembut hantu di antara bayang-bayang pohon Konoha menuju panti asuhan.

​Ren melompat dengan sangat ringan, melewati pagar pembatas belakang panti asuhan dan menyelinap masuk melalui jendela kayu kamarnya yang sengaja dia tinggalkan sedikit terbuka. Gerakannya sangat sunyi, tanpa menimbulkan derit sedikit pun. Dia mendarat di atas dipan keras miliknya, buru-buru menarik selimut usangnya hingga sebatas dada dan memejamkan mata, memalsukan posisi tidur anak-anak dengan sempurna.

​Tepat tiga detik setelah tubuh Ren diam di atas kasur, sebuah langkah kaki yang berat dan kasar berdentum di koridor luar panti asuhan.

​BRAK!!!

​Pintu kamar kayu itu ditendang terbuka dengan kasar dari luar, menghantam dinding hingga mengeluarkan suara dentuman yang keras. Seorang wanita paruh baya dengan pakaian pengurus panti yang tampak kusam berdiri di ambang pintu dengan wajah masam dan berkacak pinggang. Mata wanita itu langsung tertuju pada ranjang Ren dengan tatapan penuh kejengkelan dan penghinaan yang tidak ditutupi.

​"Hei, sampah panti! Bangun! Jangan berani-berani kau bermalas-malasan di atas kasur!" teriak pengurus panti itu dengan suara melengking yang memekakkan telinga. "Sipil tidak berguna sepertimu harus tahu diri! Cepat bangun, ambil ember, dan timba air di sumur belakang untuk memasak sarapan anak-anak yang lain! Jika pekerjaanmu tidak selesai sebelum matahari tinggi, jangan harap kau mendapatkan jatah makan siangmu hari ini!"

​Wanita itu terus mengomel sejenak sebelum berbalik pergi dan membanting pintu kembali dengan kasar, sama sekali tidak menyadari bahwa anak kurus yang dia sebut sebagai "sampah tidak berguna" itu baru saja menyelesaikan menu latihan militer yang bahkan akan membuat seorang ninja Genin dewasa muntah darah.

​Di bawah balutan selimut usangnya yang dingin, Ren perlahan membuka sepasang matanya. Tidak ada kemarahan, tidak ada dendam kekanak-kanakan di dalam sorot mata hitamnya yang pekat. Yang ada hanyalah sebuah ketenangan yang sedingin es dan sebuah senyuman sinis yang tersembunyi dengan sangat rapi di balik kegelapan kamar panti asuhan tersebut.

Ren perlahan menyibak selimut usangnya, lalu melangkah keluar kamar menuju sumur belakang dengan ekspresi wajah yang sengaja dia atur sedemikian rupa—lesu, bermata mengantuk, dan tampak tertekan layaknya anak kecil yang ketakutan.

​Namun, begitu kedua tangan kecilnya mencengkeram gagang kayu dan mengangkat dua ember besar yang penuh terisi air, sebuah kejutan instan langsung dirasakan oleh sarafnya. Ember-ember yang biasanya terasa seperti bongkahan batu raksasa yang siap meremukkan tulang bahunya yang kurus, kini terasa seringan gayung plastik kosong. Atribut Kekuatan Fisik 43 miliknya bekerja dengan presisi yang mengerikan.

​Sambil menahan diri agar tidak mengangkat beban itu terlalu mudah, Ren sengaja membungkukkan punggungnya sedikit dan membuat langkah kakinya tampak agak gontai saat berjalan melewati pengurus panti yang mengawasinya dari jauh dengan tatapan merendahkan.

​Nikmatilah rasa superioritas palsu ini selagi kalian bisa, batin Ren sinis di balik topeng kepatuhannya. Permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

1
Akbar Rifqi
typo
Axel
seringkih bubur itu apa thor?
Axel
dan kesaduran itu apa thor?
Akbar Rifqi: typo k
total 1 replies
Klarasya
lanjutt thorr, semangattt 😻
Mitha: oyong juahattt
total 2 replies
Klarasya
semangatt thorr 😻
Mitha: oyong juahat
total 1 replies
Klarasya
lanjuttt thorrr 😻
Klarasya
semangatt thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!