Li Yunru tiba-tiba bertransmigrasi ke zaman kuno setelah memakai cincin naga perak berisi ruang spiritual misterius. Bukan itu saja, dia juga menjadi koki spiritual yang mampu menyembuhkan segala jenis penyakit dan keracunan.
Berkat cincin naga perak juga, Li Yunru ditakdirkan menjadi pasangan sang raja naga putih penguasa wilayah utara—Bai Muzhi. Pria berwajah dingin yang jiwanya terluka akibat pedang antar benua ratusan tahun lalu itu, akhirnya menemukan satu-satunya penyembuh yang mampu mengobatinya. Perlahan, perasaan cinta tanpa sadar tumbuh di antara keduanya.
Rupanya kemunculan Li Yunru bukan hanya mengungkap banyak rahasia masa lalu, tapi juga membuat musuh di kegelapan mulai mengincar kekuatan tersembunyi dalam dirinya. Menghadapi misteri ribuan tahun lalu yang mulai tersingkap, mampukah Li Yunru melewati cobaan tersebut sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayah Kandung
Bukan hanya Li Yunru yang terkejut sekaligus bingung, Bai Muzhi dan Hong Maxing pun demikian. Bahkan Ruu yang sedari tadi memperhatikan ikut menegakkan kedua telinga panjangnya.
Lan Peijun sudah tidak sanggup menahan diri. Ia ingin segera mengakui Li Yunru sebagai adik perempuannya, sehingga langsung berbicara mewakili ayahnya. Dengan mata penuh haru dan rindu, ia menatap Li Yunru.
"Yunyun, aku tahu ini mungkin terdengar gila. Tapi kamu adikku. Ternyata kita bukan sepupu, melainkan saudara kandung ...," jelasnya terburu-buru, takut Li Yunru marah atau kecewa.
Semalaman mendengar cerita ayahnya tentang kehidupan Li Yunru, hati Lan Peijun dipenuhi penyesalan. Jika bisa, ia bahkan ingin menggantikan posisi gadis itu. Dikirim ke dunia lain dan tumbuh tanpa mengetahui siapa orang tua kandungnya tentu bukan hal yang mudah.
Li Yunru memang terkejut. Namun, kebingungannya jauh lebih besar hingga kepalanya terasa pening. Baru kemarin ia mengira hubungannya dengan Lan Peijun hanyalah sepupu. Sekarang tiba-tiba berubah menjadi saudara kandung?
"Apakah ... apakah kalian benar-benar ayah kandung dan saudaraku? Tidakkah kalian salah mengenali orang?"
Alih-alih merasa senang, Li Yunru justru khawatir semua ini hanyalah sebuah kesalahpahaman. Bagaimana jika mereka salah mengenali orang? Harapan yang terlalu besar sering kali berakhir dengan kekecewaan yang sama besarnya.
Bai Muzhi juga tidak langsung percaya. Tatapannya tertuju pada Lan Homian. "Mana buktinya? Raja ini tidak akan membiarkan siapa pun mengaku sebagai keluarganya tanpa alasan yang jelas."
Hong Maxing yang sudah lama tidak bertemu Lan Peijun ikut merasa curiga. Jarang sekali ia sependapat dengan Bai Muzhi. Ia memang tidak seberani Bai Muzhi untuk mempertanyakan Lan Homian secara langsung, tetapi masih berani berhadapan dengan Lan Peijun.
"Benar! Mana buktinya? Bagaimana bisa tiba-tiba menjadi saudara kandung? Burung jambul, apa kamu begitu terobsesi memonopoli seorang koki spiritual sampai ingin menipu gadis manusia itu?"
Tidak sulit bagi Hong Maxing menyelidiki asal-usul Li Yunru. Ia tahu gadis itu tiba-tiba muncul di Istana Shing tanpa asal-usul yang jelas.
Sekarang Lan Peijun datang bersama ayahnya dan tiba-tiba mengaku sebagai keluarga Li Yunru. Lagi pula, Hong Maxing tidak berada di sana saat mereka pertama kali bertemu. Bukankah semua itu sangat mencurigakan?
Ucapannya terdengar begitu meyakinkan hingga Li Yunru dan Bai Muzhi tanpa sadar ikut menatap Lan Peijun dengan penuh kecurigaan.
Bai Muzhi jelas mulai tidak sabar. "Bicaralah yang jelas dan jangan mencoba berbohong di depan raja ini!"
Lan Homian masih menangis. "Aku bersumpah demi Dewa Binatang, aku ayah kandung Xiaoyun."
Tatapannya kembali jatuh kepada Li Yunru. Dengan suara bergetar, ia berkata, "Ibumu, Li Shiyun, yang memberimu nama itu setelah kamu lahir. Lalu kamu diserahkan kepada sepupu ibumu, Li Beiyun, untuk dibawa ke dunia lain agar terhindar dari musuh."
Wajah Li Yunru seketika memucat. Ekspresi tidak percayanya begitu jelas.
Li Beiyun adalah nama ayahnya—yang ternyata paman kandungnya setelah ia mengetahui asal-usulnya. Nama itu hanya pernah ia ceritakan kepada Bai Muzhi dan Hei Sanfeng. Jadi mustahil Lan Homian mengetahuinya jika memang tidak mengenal keluarganya sejak lama.
Mungkin Li Shiyun memang mengirimnya ke zaman modern demi keselamatannya. Persis seperti dugaan Ruu saat ia sempat berpikir buruk tentang orang tua kandungnya.
"Kamu ... benarkah kamu ayahku?"
Lan Homian menyeka air matanya. "Tentu saja aku ayah kandungmu. Yunyun, Ayah sudah lama merindukan dan menantikan kepulanganmu. Ayah percaya pada ibumu dan tahu betapa besar harapannya saat menantikan kelahiranmu. Yunyun, bisakah ... bisakah Ayah memelukmu?"
Air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuk mata Li Yunru akhirnya jatuh membasahi pipinya. Ia tidak pernah menyangka ayah kandungnya sama sekali tidak membencinya. Orang tua kandungnya ternyata tidak pernah membuangnya.
Tangisnya pun pecah. Li Yunru segera berjalan cepat menghampiri Lan Homian. Ia ingin memeluk pria itu. Perasaan lega, tidak percaya, dan takut semua ini hanyalah mimpi bercampur menjadi satu. Namun, beberapa langkah sebelum mencapainya, pandangannya tiba-tiba menggelap. Tubuhnya limbung, lalu ambruk tak sadarkan diri.
"Yunyun!"
"Adik perempuan!"
"Tuan!"
Semua orang langsung panik melihat Li Yunru jatuh pingsan. Untungnya, Bai Muzhi yang sejak awal memperhatikannya sigap menangkap tubuh gadis itu sebelum membentur lantai.
Ruu langsung meronta dari pelukan Deng Gubo, melompat turun, lalu berlari menghampiri Bai Muzhi yang membopong Li Yunru ke kursi malas.
"Deng Gubo, pergilah panggil tabib istana!" titah Bai Muzhi tanpa berusaha menyembunyikan kekhawatirannya.
Namun sebelum Deng Gubo sempat melangkah, Lan Peijun buru-buru menyela dengan nada yang sama paniknya.
"Tidak perlu! Bai Muzhi, apakah kamu lupa bahwa aku seorang tabib spiritual?"
Bai Muzhi baru teringat. Ia segera memberi jalan. Bahkan Lan Homian mendorong putranya dengan kasar agar cepat memeriksa keadaan Li Yunru.
"...."
Sesaat, Lan Peijun curiga dirinya tidak lebih berharga daripada kemampuan medisnya. Ia segera menepis pikiran itu dan menghampiri kursi malas. Tangan rampingnya meraih pergelangan tangan Li Yunru untuk memeriksa denyut nadinya. Beberapa saat kemudian, alisnya perlahan berkerut.
"Bagaimana?" tanya Lan Homian begitu melihat ekspresi rumit di wajah putranya.
"Ini aneh. Adik perempuan baik-baik saja. Denyut nadinya normal dan vitalitasnya juga stabil. Dia hanya terlihat seperti sedang tertidur."
"Tidur?" Bai Muzhi mengangkat sebelah alis. Ia berpikir sejenak sebelum teringat sesuatu. "Hal seperti ini pernah terjadi sebelumnya."
"Kapan?"
"Saat pertama kali datang dan diculik Hei Sanfeng ke istananya sebelumnya. Dia juga pingsan setelah bersikeras ingin kembali ke dunia asalnya."
Bai Muzhi tidak berniat menyembunyikan hal itu. Deng Gubo bukan orang luar dan telah lama setia kepada Klan Bai, sehingga ia tidak menghindari pembicaraan tersebut.
"Kemudian dia bangun dengan sendirinya?" tebak Lan Peijun.
Bai Muzhi mengangguk. "Ya. Dia tidak menjelaskan apa pun. Setelah itu, dia perlahan menerima keadaannya."
Lan Peijun dan Lan Homian saling pandang. Keduanya sama-sama merasa ada sesuatu yang tidak beres.
"Apakah ada sesuatu yang aneh atau istimewa setelah dia bangun?" tanya Lan Homian, mencoba menggali lebih jauh.
"Dia memiliki ruang penyimpanan spiritual, tetapi tidak pernah mengatakan dari mana asalnya."
Bai Muzhi memang tidak tahu seperti apa kehidupan Li Yunru di dunia yang serba maju itu. Namun, peralatan memasaknya tidak jauh berbeda dengan yang ada di dunia ini. Hanya saja, banyak bumbu dan rempah yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Sangat ajaib ...," gumam Lan Homian pelan. Ia benar-benar tidak mengetahui hal itu.
Ia yakin istrinya tidak meninggalkan apa pun untuk Li Yunru saat Li Beiyun membawanya pergi. Saat itu, satu-satunya yang mereka lakukan hanyalah menyegel kekuatan spiritual ras peri hutan di dalam tubuh putri mereka.
......................
Li Yunru tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di luar. Saat tiba-tiba pingsan, kepalanya terasa sangat berat dan berdenyut.
Kini ia bahkan tidak bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali. Yang dapat ia rasakan hanyalah kegelapan tanpa batas di sekelilingnya, disertai suara tangisan bayi yang menggema begitu keras hingga memenuhi seluruh ruang.
Tak lama kemudian, di tengah kegelapan itu terdengar suara seorang wanita muda. Suaranya lembut, seolah berbisik tepat di telinganya.
"Anakku, ini bukan saatnya kamu mengingat semuanya. Ketika waktunya tepat, secara alami kamu akan mengingatnya. Hiduplah dengan baik dan nikmati masa kecilmu ...."
Li Yunru semakin bingung. Ia tidak dapat melihat apa pun. Entah mengapa, suara itu terasa begitu akrab, seolah pernah ia dengar sejak lama.
Suara siapa itu? Dan kepada siapa wanita itu berbicara?
mungkin kita juga bisa mencoba resepnyaa 😂