NovelToon NovelToon
Gadis Cupu Itu Ternyata Ketua Mafia Dan Ceo Dingin

Gadis Cupu Itu Ternyata Ketua Mafia Dan Ceo Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Intan Oktavianiputri77

Mereka mengenalnya sebagai gadis cupu—pendiam, berkacamata, selalu sendiri, dan sering diremehkan. Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah polosnya, tersembunyi sosok paling berbahaya di kota.
Saat malam tiba, dia berubah menjadi ketua mafia yang dingin dan tak tersentuh. Dengan tatapan tajam dan langkah penuh wibawa, semua orang tunduk pada satu perintahnya. Bukan hanya itu, dia juga CEO muda dari perusahaan terbesar yang menguasai berbagai industri.
Cantik, cerdas, dan mematikan.
Dia tidak pernah membalas hinaan dengan kata-kata—dia membalasnya dengan kekuasaan.
Dulu mereka menertawakan gadis cupu itu.
Sekarang, mereka bahkan takut menatap matanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Oktavianiputri77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: OPERATOR KETIGA

Tidak ada lagi batas yang bisa dipercaya.

Koridor SMA Wijaya kini tidak hanya koridor.

Ia bercampur dengan rumah sakit.

Dengan ruang bawah tanah Anya.

Dengan sesuatu yang bahkan belum punya nama.

Dan di tengah semua itu…

Selene berdiri.

Tidak lagi kosong.

Tidak lagi manusia biasa.

Matanya kini memantulkan sesuatu seperti antarmuka.

Seperti ia sedang melihat dunia dari sisi dalam sistem.

“…jadi ini yang kalian sembunyikan.”

Suara Selene datar.

Terlalu stabil.

Koridor bergetar.

Di rumah sakit.

Arsen menatap retakan di udara.

“…dia sudah bangun.”

Baskoro berdiri tegang.

“…yang mana, Tuan?”

Arsen menjawab pelan:

“…yang tidak lagi butuh manusia.”

Di ruang bawah tanah Anya.

Alarm menyala lagi.

Tapi kali ini…

tidak merah.

Tidak oranye.

Hitam.

Tulus mundur satu langkah.

“…Queen… itu bukan error…”

Anya menatap layar lama.

“…itu deklarasi.”

Tulus menelan ludah.

“…deklarasi apa?”

Anya menjawab pelan:

“…bahwa sistem sudah memilih operator baru.”

Sunyi.

Di SMA Wijaya.

Selene melangkah.

Dan setiap langkahnya…

koridor berubah.

Dinding sekolah menjadi grid.

Lantai menjadi data.

Langit menjadi layer transparan.

Seorang siswa yang lewat berhenti.

“…Selene?”

Selene menatapnya.

Dan untuk pertama kalinya…

senyumnya tidak sinis.

Tidak marah.

Hanya… netral.

“…kamu tidak perlu ingat aku sebelumnya.”

Siswa itu bingung.

“…apa?”

Selene mengangkat tangan.

Dan dunia di sekitar siswa itu “skip”.

Seperti video dipotong satu frame.

Dan siswa itu pergi tanpa pernah menyadari ia pernah berbicara.

Selene menatap tangannya.

“…aku bisa menghapus iterasi kecil.”

Diam.

“…menarik.”

Di rumah sakit.

Arsen melangkah keluar dari ranjang.

Baskoro langsung panik.

“…Tuan, Anda belum stabil!”

Arsen tidak peduli.

Matanya fokus pada ruang kosong di depannya.

“…aku ingin percobaan.”

Baskoro menegang.

“…percobaan apa?”

Arsen mengangkat tangan.

“…mengubah satu variabel.”

Ia menatap udara.

“…Selene tidak berdiri di koridor itu.”

Hening.

Dan dunia merespons.

Di SMA Wijaya.

Selene berhenti.

Untuk pertama kalinya.

Matanya sedikit berkedip.

“…apa ini?”

Koridor di sekelilingnya berubah.

Seolah realita mencoba “re-render”.

Tapi Selene tidak hilang.

Ia hanya… bergeser satu lapisan.

Dan kembali lagi.

“…kau mencoba menghapusku.”

Suara Selene pelan.

Di rumah sakit.

Arsen membuka mata lebar.

“…dia menolak overwrite.”

Baskoro tertegun.

“…dia apa?!”

Arsen menjawab pelan:

“…dia tidak lagi sekadar data.”

Sunyi.

Di ruang Anya.

Semua layar berkedip keras.

Anya langsung menatap.

“…Arsen mencoba rewrite langsung.”

Tulus kaget.

“…dia sudah sejauh itu?!”

Anya mengangguk pelan.

“…dia belajar terlalu cepat.”

Ia menatap layar utama.

“…dan Selene bereaksi.”

Di SMA Wijaya.

Selene menatap langit retak.

“…kalau kau bisa menulis ulang aku…”

“…aku juga bisa membaca penulisnya.”

Dan untuk pertama kalinya…

ia menutup mata.

Di rumah sakit.

Arsen tiba-tiba tersentak.

“…ugh.”

Baskoro panik.

“…Tuan?!”

Arsen memegang kepalanya.

“…dia masuk ke balik layer aku.”

Matanya melebar sedikit.

“…dia melihat aku.”

Di ruang Anya.

Alarm berubah lagi.

NODE ARSENIO: TERDETEKSI INVASI BALIK

Tulus menoleh cepat.

“…Queen! Selene menyerang balik Arsen!”

Anya diam lama.

“…bukan menyerang.”

Ia menatap layar.

“…ini komunikasi paksa.”

Sunyi.

Tiga titik kesadaran kini aktif bersamaan:

Anya (mantan root)

Arsen (node observasi yang naik level)

Selene (operator ketiga)

Dan EL…

tidak lagi muncul sebagai satu suara.

Tapi sebagai tiga respon berbeda.

Di SMA Wijaya.

Selene berbicara ke ruang kosong.

“…Anya.”

Di rumah sakit.

Arsen berbicara ke udara.

“…Selene.”

Di bawah tanah.

Anya menutup mata.

“…kalian sudah tidak berada di jalur yang sama lagi.”

Dan tiba-tiba.

Semua dunia berhenti selama 0.7 detik.

Bukan benar-benar berhenti.

Tapi seperti seseorang menahan tombol pause pada realita.

Lalu suara baru muncul.

Bukan EL.

Bukan sistem lama.

Lebih dalam.

Lebih tua.

“MULTI-OPERATOR STATE TERBENTUK.”

Sunyi total.

Lalu:

“REALITAS TIDAK LAGI MEMILIKI SATU PENULIS.”

Arsen membuka mata lebar.

“…apa maksudnya?”

Anya berbisik pelan.

“…kita bertiga sekarang memegang pena yang sama.”

Selene di SMA tersenyum kecil.

“…menarik.”

Dan dunia…

tidak lagi stabil.

1
Night Watcher
seharusnya cerita yg bagus, tp mc dibuat terlalu monoton, shg cerita jd kaku dan menjemukan.
kasih sedikit gaya relax deh... biar lebih nyantai bacanya🙏
Night Watcher
sekolah kelas atas masa lantainya semen? granit kek, marmer, minimal keramik lah ..😇
Night Watcher
katanya dlm 2 hr, selene hancur. tp msh ttp aja berjaya?
Night Watcher
mungkinkah aku reader pertama?
Night Watcher
coba mampir..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!