NovelToon NovelToon
Mr And Mrs Adiputra

Mr And Mrs Adiputra

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Obsesi
Popularitas:16.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Bagi Arunika Nirmala, mencintai Marsellino adalah luka yang paling dalam. Namun, saat Marsellino memilih wanita lain, sebuah tawaran gila datang dari Thomas Adiputra—kakak Marsel sekaligus CEO dingin bermulut pedas yang selalu menghinanya.
Sebuah kontrak pernikahan disodorkan. Thomas butuh tameng dari perjodohan ibunya, dan Arunika butuh harga diri di depan pria yang membuangnya.
Arunika pikir ini hanya transaksi bisnis dua tahun yang hambar. Ia tidak tahu bahwa bagi Thomas, kontrak ini adalah rencana sepuluh tahun untuk menjerat satu-satunya gadis yang pernah ia cintai dalam diam.
"Hapus sampah itu dari ponselmu, Arunika. Sekarang, kamu adalah milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34

Langkah Marcell terasa begitu ringan saat ia keluar dari lift gedung apartemen Thomas. Tangannya berkali-kali meraba saku dalam jaketnya, memastikan kertas kontrak yang ia curi masih ada di sana. Sensasi kertas itu di jemarinya terasa lebih nikmat daripada kemenangan bisnis apa pun yang pernah ia raih. Ini adalah tiketnya untuk menghancurkan dominasi Thomas dan merebut kembali harga dirinya yang telah diinjak-injak.

Namun, sebelum ia memberikan "bom" ini kepada Mami, Marcell merasa butuh merayakannya. Ia butuh pelampiasan untuk adrenalin yang sedang memuncak di nadinya. Ia pun memutar kemudi mobilnya menuju apartemen Aletta.

Begitu pintu apartemen Aletta terbuka, Marcell langsung merangsek masuk tanpa mengucapkan salam. Aletta, yang sedang bersantai dengan segelas wine di tangannya, hampir tersedak melihat ekspresi wajah Marcell yang tampak begitu liar dan penuh kemenangan.

"Marcell? Kamu kenapa? Mukamu... kenapa kelihatannya senang banget?" tanya Aletta bingung, namun ia segera meletakkan gelasnya di atas meja.

Marcell tidak menjawab dengan kata-kata. Ia langsung menarik pinggang Aletta, memojokkan wanita itu ke dinding di dekat pintu masuk. Ia mencium Aletta dengan kasar, sebuah ciuman yang sarat akan nafsu dan rasa puas yang meluap-luap.

"Gue dapet, Al. Gue dapet hartanya," bisik Marcell di sela ciumannya, suaranya parau dan penuh gairah gelap.

"Apa maksud kamu? Kamu dapet apa?" Aletta terengah-engah, tangannya mulai merayap di dada bidang Marcell yang napasnya memburu.

"Kontrak itu. Kontrak pernikahan Thomas dan Arunika. Semuanya ada di tangan gue sekarang," Marcell menyeringai, matanya berkilat-kilat jahat. "Benteng Thomas runtuh, Al. Dia bakal hancur, dan gue bakal ada di sana buat liat dia memohon-mohon sama gue."

Aletta tertegun sejenak, namun kemudian senyum licik ikut terukir di bibirnya. Ia tahu betapa berartinya ini bagi Marcell. "Jadi... sekarang kita menang?"

"Kita menang besar, Sayang," sahut Marcell. Ia kembali menyerang bibir Aletta, kali ini lebih dalam dan menuntut.

Marcell mengangkat tubuh Aletta, membuat kaki wanita itu melingkar di pinggangnya. Ia membawa Aletta menuju kamar utama dengan terburu-buru, tidak membiarkan satu detik pun terbuang. Gairah yang ia rasakan bukan hanya karena nafsu pada Aletta, tapi karena rasa kuasa yang baru saja ia curi dari kakaknya.

Begitu sampai di atas ranjang king-size yang empuk, Marcell menanggalkan jaketnya—setelah sebelumnya meletakkan kontrak itu dengan hati-hati di atas nakas, seolah itu adalah benda keramat. Ia kemudian menanggalkan pakaiannya dengan gerakan cepat, memperlihatkan otot-otot tubuhnya yang tegang karena adrenalin.

Aletta menatap Marcell dengan penuh pemujaan. Gairah Marcell malam ini terasa sangat berbeda—lebih dominan, lebih liar, dan lebih... berbahaya.

"Buat aku lupa kalau hari ini ada orang lain yang lebih hebat dari kamu, Marcell," bisik Aletta sambil menarik Marcell ke dalam pelukannya.

"Nggak akan ada orang lain yang lebih hebat dari gue malam ini, Al. Liat aja," balas Marcell tajam.

Ia mulai mencium Aletta, mulai dari leher hingga turun ke bagian-bagian sensitif wanita itu. Setiap sentuhan Marcell terasa panas, seolah-olah ia sedang menyalurkan seluruh energi kemenangannya ke dalam tubuh Aletta. Aletta mengerang keras, tangannya meremas sprei hingga berantakan, kakinya melengkung mencari kontak yang lebih intens.

Di dalam kamar yang dingin karena AC, suhu tubuh mereka justru meroket. Marcell bergerak dengan ritme yang cepat dan penuh tenaga, menunjukkan dominasi yang mutlak. Di pikirannya, ia seolah-olah sedang menghancurkan semua bayangan Thomas dan Arunika. Setiap erangan Aletta adalah musik kemenangan baginya.

"Marcell... ah! Pelan-pelan..." rintih Aletta, meski tubuhnya justru meminta lebih.

"Nggak bisa, Al. Gue lagi pengen ngerayain ini. Lo harus rasain betapa senengnya gue sekarang," sahut Marcell serak. Ia membalikkan tubuh Aletta, mencengkeram bahunya dan melanjutkan aksinya dengan kegilaan yang semakin menjadi-jadi.

Keringat bercucuran, membasahi tubuh mereka yang saling bertautan dalam gelapnya kamar. Suara napas yang memburu dan benturan kulit menjadi satu-satunya bunyi yang mengisi ruangan itu. Marcell tidak memberikan kesempatan bagi Aletta untuk bernapas, ia terus memacu gairah itu hingga mencapai titik puncaknya.

"Sebut nama gue, Al! Bilang kalau gue yang paling hebat!" perintah Marcell dengan suara yang sangat rendah.

"Marcell... kamu... kamu pemenangnya... ah!" jerit Aletta saat gelombang kenikmatan yang luar biasa menghantam mereka berdua sekaligus.

Marcell ambruk di samping Aletta, napasnya tersengal-sengal, dadanya naik turun dengan cepat. Ia menatap langit-langit kamar dengan perasaan puas yang tak terlukiskan. Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar berada di atas Thomas Adiputra.

Beberapa saat kemudian, suasana menjadi sunyi. Aletta bersandar di bahu Marcell, mencoba mengatur napasnya kembali. "Jadi... kapan kamu mau kasih itu ke Mami?"

Marcell melirik ke arah nakas, tempat kertas kontrak itu tergeletak. "Nanti siang. Gue mau liat Thomas pergi ke kantor dengan wajah sombongnya itu untuk terakhir kali, sebelum semuanya hancur berantakan."

"Kamu kejam banget ya," gumam Aletta, meski nada suaranya terdengar sangat mendukung.

Marcell tertawa dingin, ia menarik Aletta lebih dekat dan mencium keningnya. "Dunia ini kejam, Al. Thomas yang ngajarin gue. Sekarang, waktunya muridnya yang kasih pelajaran balik."

Di balik jendela apartemen Aletta, kota Jakarta masih terus berputar dengan segala hiruk-pikuknya. Tak ada yang tahu bahwa di dalam salah satu unitnya, sebuah rencana besar telah matang, dipupuk oleh gairah dan dendam yang akan mengubah hidup Thomas dan Arunika selamanya. Marcell tertidur dengan senyum kemenangan, memeluk "senjata" yang akan segera ia tembakkan tepat di jantung keluarga Adiputra.

***

Lantai eksekutif Adiputra Group biasanya terasa kaku dan penuh tekanan, namun siang itu, suasana di ruangan kerja Thomas terasa sedikit lebih santai. Thomas menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya, melepaskan kacamata bacanya, lalu menatap Arunika yang sedang merapikan beberapa dokumen di meja kerjanya.

Perut Thomas memberikan sinyal lapar yang cukup jelas. Ia melirik jam tangan Rolex-nya—sudah pukul 12.15 siang.

"Nika," panggil Thomas lembut.

Arunika mendongak, menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga. "Iya, Mas?"

"Ayo makan siang. Aku ingin keluar, bosan kalau hanya pesan makanan di kantor terus," ujar Thomas sambil berdiri dan menyambar jasnya yang tersampir di sandaran kursi.

"Mau makan siang di mana, Sayang?" tanya Thomas sambil berjalan menghampiri meja Arunika, tangannya secara alami hinggap di pinggang sang istri.

Arunika menghentikan kegiatannya, ia mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di dagu—kebiasaan mungil yang selalu membuat Thomas gemas. "Emm, di mana ya? Aku bingung. Mas ada saran? Aku lagi nggak pengen makanan yang terlalu berat kayak rendang atau gulai, tapi aku juga nggak pengen cuma makan salad."

Thomas terdiam sejenak, otaknya yang biasa digunakan untuk memikirkan strategi bisnis kini harus berputar keras memikirkan menu makanan. "Bagaimana kalau sushi di tempat biasa? Atau mungkin pasta di resto Italia yang baru buka di seberang gedung?"

Arunika menggeleng pelan, bibirnya mengerucut. "Sushi kayaknya baru kemarin lusa kita makan sama Kak Ardi, Mas. Kalau pasta... aku lagi nggak pengen yang creamy. Rasanya pengen sesuatu yang... apa ya? Yang seger tapi mengenyangkan."

Thomas terkekeh, ia menarik Arunika lebih dekat hingga hidung mereka bersentuhan. "Ciri-ciri wanita kalau ditanya mau makan di mana: bingung, terserah, tapi semua saran ditolak."

"Iih, Mas Thomas!" Arunika mencubit perut Thomas pelan. "Aku beneran bingung tahu. Efek habis ngerjain laporan keuangan tadi pagi, otakku rasanya kayak diperes."

"Oke, oke," Thomas mengangkat tangan tanda menyerah. "Bagaimana kalau Steak? Ada tempat baru yang punya saus chimichurri seger, atau kita cari makanan Indonesia yang lebih ringan? Soto ayam? Atau... bakso?"

Mata Arunika berbinar saat mendengar kata terakhir. "Bakso! Mas, aku pengen bakso yang uratnya berasa, terus pake sambal yang banyak dan perasan jeruk nipis yang melimpah. Wah, membayangkan kuahnya yang gurih seger aja udah bikin aku laper banget!"

Thomas mengerutkan dahi, mencoba membayangkan dirinya—seorang CEO dengan setelan jas seharga ribuan dolar—duduk di warung bakso pinggir jalan atau di pujasera yang ramai.

"Bakso? Kamu yakin? Tidak mau restoran yang lebih... nyaman?" tanya Thomas memastikan.

"Mas, kenyamanan itu ada di rasanya, bukan cuma di sofanya," sahut Arunika semangat. Ia sudah membereskan tasnya dan bersiap pergi. "Ada langganan aku dulu pas zaman kuliah, tempatnya bersih kok, meskipun nggak ada AC-nya. Tapi rasanya... juara banget! Mas belum pernah coba kan makan bakso pake tetelan yang melimpah?"

Thomas menghela napas pasrah, namun tatapan antusias Arunika adalah kelemahannya. "Baiklah, Nyonya Adiputra. Hari ini kita ikuti seleramu. Tapi janji, jangan terlalu pedas sambalnya. Aku tidak mau meeting jam dua nanti kamu malah sibuk bolak-balik ke toilet karena sakit perut."

"Siap, Mas CEO! Tenang aja, perut aku udah terlatih," Arunika merangkul lengan Thomas dengan manja saat mereka berjalan menuju lift.

Sepanjang perjalanan di dalam lift menuju lobi, mereka berpapasan dengan beberapa karyawan. Thomas kembali ke mode "dingin"-nya, namun tangannya tidak sedikit pun melepaskan genggaman pada tangan Arunika. Para staf hanya bisa berbisik iri melihat kemesraan bos mereka yang biasanya sedingin es itu.

"Mas, nanti kalau di sana Mas jangan pasang muka kaku gitu ya," bisik Arunika saat mereka keluar dari lift. "Nanti abang baksonya takut mau kasih kembalian."

"Memangnya mukaku kenapa? Ini muka normalku, Nika," balas Thomas datar.

"Muka normal Mas itu kayak mau pecat orang. Senyum dikit kenapa sih?" Arunika menarik sudut bibir Thomas dengan jarinya, membuat Thomas terpaksa menyeringai tipis.

"Nah, gitu dong! Kan jadi tambah ganteng. Nanti aku kasih bonus suapan tetelan paling gede deh," goda Arunika.

Thomas hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Sejak menikah dengan Arunika, hidupnya yang tadinya hanya berisi hitam-putih angka dan kontrak, kini penuh dengan warna-warna yang tidak terduga—termasuk agenda makan bakso urat di tengah jam kantor yang sibuk.

Thomas tidak tahu bahwa sementara ia sedang menikmati momen manis ini bersama Arunika, Marcell sedang bersiap untuk meledakkan bom waktu yang ia curi dari apartemen mereka. Namun untuk saat ini, bagi Thomas, masalah terbesar hanyalah bagaimana caranya makan bakso tanpa meneteskan kuahnya ke kemeja putih mahalnya.

"Ayo Mas, buruan! Keburu jam istirahat kantor lain, nanti kita nggak dapet tempat duduk!" Arunika menarik tangan Thomas menuju mobil, tawa cerianya memenuhi area parkir, seolah tak ada beban yang menanti mereka di depan sana.

***

Minta bintang 5 nya dong hehe.

1
ummu sulaim
🥰🥰🥰
Yoanna Ratnasari
lanjut thor
Emi Sudiarni
wah marcel perhatian bangat
Emi Sudiarni
bagus bngat ceritany
ayamgeprek_
bagus banget wajib baca. yang laki definisi siap jadi suami banget ihh
ayamgeprek_
ehen yaaa punya suami kayak mas thomas🤭
ayamgeprek_
bagusss banget suka🤣
Nurminah
orang tua Thomas dan jika goblok kalo si marcel mau perkosa nika baru ke buka tuh mata hadeh
Nurminah
zaman now harga diri haha
mending nikah kontrak la ngangkang gratisan gimana ceritanya
untuk pelajaran orang tua zaman now terkadang sering masalah harga diri yg dipikirkan tapi kondisi anak nggak dipikirkan ditanya kek duduk bareng itulah yg terjadi pada orang tua zaman now anak tidak menganggap orang tua rumahnya tempat berkeluh kesah akhirnya banyak perbuatan yg membuat malu keluarga terjadi saat ketahuan sudah tidak bisa diperbaiki lagi
ana
lNjut thor
Wulan
apaan ya tuh gladi bersih 🤔🤔🤔
Kusii Yaati
kenapa nggak di musnahkan saja sih thom perjanjian kontrak pernikahannya.jangan cari masalah Napa, kalau sampai surat kontrak itu jatuh ke tangan orang tua Nika, nggak bisa di bayangkan sekecewa apa mereka sama kamu 😔
Kusii Yaati
Thomas sama Marcel Gantengan mana sih Thor, penasaran aq🤭
Penulis GenZ: sama-sama ganteng kak. tapi masih matengan si Thomas hehe.
total 1 replies
Kusii Yaati
gemas nggak sih kalau ketemu cewek kayak arunika...di getok dulu kepalanya baru peka😂
Kusii Yaati
pasti nanti Marcel akan merasa kehilangan arunika udah nggak ngejar" dia lagi... biasa kalau udah kehilangan baru terasa, bahwa hanya arunika yang tulus mencintainya,BASI cel😒
Alex
ku tunggu thor🤭
merry
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/nungu dh lm tu ank org Ardi 🤣🤣🤣 dh lm bljr juga jdi bisa bkin ank perwan org baper🤣🤣🤣
merry
klo dh cinta diksh hal kcil pun dh bhgia y tom 🤭🤭🤭🤭
merry
moga aj nika gk terpengaruh lg sm Marcel biar Marcel nyesel dan Aleta nyesel yg di incar bukn CEO🤣🤣🤣
merry
msh polos 🤣🤣🤣mklum blm pnh pcran trs yg di kejar mn cuek Bebek
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!