Mikayla Rasyida Rayn atau Mika adalah sosok gadis yang ceria dan pecicilan seperti Onty-nya dulu. Dia adalah pengamat yang handal dan analisanya selalu tetap. Kelihatannya saja dia sangat pecicilan dan ucapannya ceplas-ceplos, tapi dia sangat genius.
Namun di balik wajahnya yang ceria dan menyebalkan, dia mengikuti jejak dari Opa buyutnya. Bahkan dia jauh lebih mengerikan dibandingkan Opa buyut dan Uncle-nya. Semua itu dikarenakan sesuatu yang membuatnya trauma.
Season Baru untuk cerita Mika dari (Anak Genius Milik Sang Milliarder)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi
Brugh...
Arrgh...
Lepas...
Sakit woyy...
Ini tangan bukan tanah yang bisa diinjak seenaknya,
Seorang pemuda menendang punggung seseorang yang tadi mengawasi anggota geng motor AMOR. Dia adalah Axel yang berlari cepat saat melihat seseorang hendak melarikan diri. Seseorang itu melihat anggota geng motor AMOR menyebar, seakan tahu tengah diawasi. Hal itu membuat dia paham bahwa kemungkinan pengintaiannya sudah diketahui dan membuatnya harus segera menyelamatkan diri.
Tak hanya ditendang punggungnya hingga terjatuh di tanah kebun pisang oleh Axel. Seseorang itu masih diinjak tangannya oleh kaki Axel. Seorang Axel tidak akan pernah main-main jika sudah menyangkut keamanan dari anggotanya. Bahkan Axel tidak akan segan-segan untuk melukai lawannya. Dia tidak pernah merasa kasihan pada orang-orang yang mengincar geng motor mereka. Baginya, nyawa teman-temannya adalah harga mati.
"Gue nggak peduli. Apa maumu sebenarnya? Katakan dengan jelas," tanya Axel dengan penuh penekanan.
Brugh...
"Nih..." Tiba-tiba saja El dan Reska datang sambil mendorong seorang remaja laki-laki ke hadapan Axel hingga terjatuh. Axel menatap kedua sahabatnya itu agar bisa menjelaskan siapa sosok laki-laki di depannya ini.
"Satu komplotan," ucap Reska menambahkan agar Axel mengerti bahwa yang mengintai mereka tak hanya satu orang. Axel menganggukkan kepalanya mengerti kemudian kembali menatap dua orang laki-laki yang tersungkur di atas tanah.
"Kalian mau mengaku atau mati di sini? Mumpung di kebun pisang nih. Nanti mayatnya bisa kita tanam di sini biar nggak ketahuan. Apalagi kebun ini sangat sepi dan jarang sekali ada orang lewat," ucap Axel mengancam dengan menakut-nakuti keduanya. Tampak sekali jika keduanya ketakutan dengan ancaman itu.
"Lepaskan kami," seru keduanya secara bersamaan.
Hahaha...
Bukannya marah, Axel justru tertawa mendengar permintaan mereka. Apalagi mereka sama sekali tidak memilih penawaran yang Axel tawarkan. Axel semakin menginjak tangan salah satu dari mereka hingga terdengar jeritan nyaring di kebun pisang yang sepi itu. El dan Reska menatap ngeri pemandangan itu sambil mengelus telapak tangannya. Axel memang tak pernah tanggung-tanggung kalau memberi hukuman. Makanya beberapa anggota geng motor lain memilih angkat tangan jika berurusan dengan Axel.
"Katakan apa mau kalian mengintai kami, ha? Dari geng motor mana kalian?" seru Axel dengan suara menggelegar.
"Kami hanya disuruh. Tolong lepaskan injakannya," Remaja laki-laki itu tampak memelas dengan air mata yang mengalir. Sakit sekali rasa tangannya saat diinjak oleh Axel.
"Siapa?" tanyanya tanpa mempedulikan kesakitan dari laki-laki itu.
"Kami tidak berniat jahat. Kami mengintai geng motor kalian disuruh sama bos untuk menjalin kerjasama," seru remaja laki-laki bernama Yuan itu.
Kerjasama?
Reska dan El menatap Axel yang terdiam. Namun tatapan mata Axel terus menjurus kepada wajah Yuan dan temannya. Mereka terlihat sangat meyakinkan. Axel menganggukkan kepalanya kemudian melepaskan injakan kakinya pada tangan Yuan. El dan Reska langsung berjaga di samping Yuan agar lawan tidak kabur. Yuan dan temannya pun bangun dari posisi telungkupnya di tanah kebun.
"Ya, kami ingin menawarkan kerjasama. Duitnya banyak," ucap Yuan langsung mencoba negosiasi.
"Berapa?" tanya Reska dengan raut wajah penasarannya.
"Seratus juta jika berhasil. Kalau tidak berhasil, hanya dapat 5 juta." jawab Yuan dengan yakin.
"Berkaitan sama apa?" tanya Axel yang tak mau salah langkah. Axel tak mau terlibat kriminal atau hal yang membahayakan anggotanya.
Apa?
Yuan menjelaskan dengan suara pelan kepada Axel. Bahkan target pun sudah ditentukan. Axel, Reska, dan El yang mendengar hal itu tentu saja tak terima saat ada nama seseorang yang mereka kenal disebut. Tangan mereka mengepal sangat erat mendengar setiap kata yang terlontar dari mulut Yuan
Bugh...
Arghh...
Kenapa memukulku?
Kamu tahu? Targetmu itu adalah sahabat dan saudara kami,
Apa?
Jangan harap kalian bisa menyentuhnya.
Reska, El... Bawa mereka ke markas. Jangan biarkan mereka bebas. Buat mereka gila biar lupa sama rencananya,
Siap, Xel.
Lepaskan kami,
Bugh...
Bodoh. Kenapa langsung diajak kerjasama dengan sebut target? Seharusnya pakai kertas perjanjian dulu,
Mika dalam bahaya,
***
"Mau kemana kalian berdua?" tanya Ralia saat melihat Mika menggendong Callie.
Ralia menginap di rumah Papa Fabio untuk mengawasi Mika. Ralia khawatir dengan Mika karena mengetahui fakta yang baru saja mereka dengar. Ralia melihat Mika menggendong Callie dengan pakaian yang sedikit mencurigakan. Mika menggunakan celana jeans, jaket kulit dan membawa ransel, begitu juga dengan Callie. Keduanya seperti akan menjalankan suatu misi.
"Ke supermarket," jawab Mika dengan santai agar tidak ketahuan oleh Ralia.
"Supermarket? Bawa ransel dan pakai jaket kulit?" tanya Ralia dengan tatapan aneh.
"Lho ada masalah? Ndak papa kan kalau ke supelmalket pakai begini? Ini tas lho isinya kaltu mimited edison," seru Callie mencoba meyakinkan Ralia.
"Kalian malah mirip orang mau balapan atau nongkrong," ucap Ralia mengatakan kecurigaannya.
"Iya, balapan pakai sepeda nanti. Plastik Mika pakai sepedanya ngebut sepelti olang balapan,"
Ralia menghela nafasnya kasar. Berbicara dengan Callie ini benar-benar menguras tenaga. Ralia kesal karena sedari tadi Callie nyerocos terus. Sedangkan Mika tampaknya sangat senang karena Callie bisa diandalkan untuk mengalihkan perhatian. Ralia pun memilih pergi daripada mengurus dua orang aneh itu. Walaupun perasaannya sedikit tak enak tentang mereka berdua.
"Bagus. Biasanya kamu selalu menurut dan keceplosan kalau sama Ralia. Untungnya ini bibirmu bisa diajak kerjasama," ucap Mika memuji Callie.
"Ini misi selius. Ini demi keamanan Callie juga. Kalau Kak lalia tahu, belalti dia nanti lihat Callie yang ambil alatnya Uncle Onand dong. Bisa diadukan sama Mama Achel dan Papa untung telus Callie dimalahi." ucap Callie dengan polosnya. Ternyata Callie sengaja berbohong kepada Ralia agar ulahnya yang mengambil alat milik Ronand itu tidak ketahuan.
"Bagus. Pintar sekali kamu ini, kali mambu."
Padahal Mika tadi sudah was-was kalau Callie akan keceplosan di depan Ralia. Pasalnya bocah cilik itu sangat penurut dan selalu jujur di hadapan Ralia. Walaupun aslinya Callie sedang mengamankan dirinya sendiri agar tidak diomeli kedua orangtuanya. Lagi pula salah Callie sendiri yang main ambil alat atau barang milik oranglain. Apalagi ini barang yang diambil itu bukan sembarangan.
"Ayo buruan kita pergi. Nanti keburu malam," ajaknya pada Callie.
"Kan situ yang gendong. Ngapain ajak-ajak? Callie mah cuma ngikut langkah kaki dan gerak badannya plastik Mika," ucap Callie menatap sinis pada Mika yang malah cengengesan.
Oh iya lupa,
Kuy... Misi membasmi orang jahat segera dimulai,
Oh... Ternyata yang ambil alatnya Papa tuh si Callie. Mana nggak ajak-ajak aku lagi? Awas saja kalian berdua,
Aku akan mengikuti dan menjaga kalian,
.BER AKSI👏👏👏👏👏👏👏❤️❤️❤️
tq thor🙏😍
lanjuttttt💪😄
lanjuttttt💪😄