NovelToon NovelToon
The General'S Captive Lady

The General'S Captive Lady

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Dijodohkan Orang Tua / Mafia / Aliansi Pernikahan
Popularitas:528
Nilai: 5
Nama Author: indri novianti

"The General's Captive Lady" adalah novel fiksi romantis-militer yang penuh ketegangan politik, trauma masa lalu, dan pembalasan dendam.
Claudia, seorang putri yang terbuang dan disiksa sejak kecil oleh faksi Crimson Raven. Demi menutupi ketamakan mereka, reputasi Claudia dihancurkan di mata publik hingga ia dicap sebagai wanita glamor yang buruk. Saat faksi Raven kalah perang, ia dikorbankan menjadi sandera politik dan dikirim kepada Reymond Oliver Smith, seorang panglima perang aliansi yang terkenal dingin dan kejam.

Hubungan mereka awalnya dipenuhi kebencian dan kesalahpahaman, bahkan Claudia sempat dijebloskan ke ruang bawah tanah karena fitnah dari bapaknya. Namun, jeritan trauma masa kecil Claudia di tengah sakit parah akhirnya meruntuhkan dinding es di hati Reymond. Penyelidikan rahasia pun dimulai, membongkar asal-usul Claudia yang sebenarnya sebagai pewaris sah bangsa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri novianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alibi

Saat Rey menurunkan punggung tangannya dari dahi Cla, pandangannya tanpa sengaja merosot ke bawah. Selimut yang tadinya menutupi dada Cla sedikit merosot akibat gerakan wanita itu yang mencoba memberontak tadi.

Dalam jarak sekat itu, sepasang mata elang Rey menangkap pemandangan yang seketika menghentikan pasokan udara di paru-parunya.

Kulit putih susu Cla yang kontras dengan seprai gelap, lekuk indah yang selama ini tersembunyi rapat, kini terekspos begitu dekat di depan matanya. Sentuhan kulit mereka yang masih menempel erat mendadak terasa berkali-kali lipat lebih panas daripada demam Cla semalam.

Deg.

Sesuatu yang primitif bergejolak di dalam tubuh Rey. Sebagai seorang pria dewasa yang normal, stimulasi visual dan fisik sedekat itu mengirimkan sengatan listrik instan langsung ke pusat sarafnya. Darahnya mendadak berdesir hebat, berpusat pada satu titik yang membuat tubuhnya menegang kaku dalam sekian detik.

Grip tangan Rey di pinggang Cla tanpa sadar mengencang, bukan lagi karena refleks tidur, melainkan karena dorongan instan untuk menahan wanita itu agar tetap berada dalam kuasanya. Atmosfer kamar yang tadinya mulai mendingin oleh udara pagi, mendadak kembali pekat dan sarat akan ketegangan seksual yang pekat.

Cla yang merasakan perubahan mendadak pada tubuh Rey—terutama dari tatapan mata pria itu yang menggelap dan napasnya yang tiba-tiba memberat—langsung menyadari ke mana arah pandangan Rey.

"Rey... jangan lihat!" bisik Cla, suaranya bergetar panik. Mukanya merona merah padam sampai ke telinga. Ia bergegas menarik ujung selimut dengan panik untuk menutupi dadanya, sekaligus menyilangkan tangan di depan tubuh.

Suara panik Cla bertindak bagai siraman air es yang menyentak kesadaran Rey.

Rey memejamkan matanya erat-erat, rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menegang. Ia mengutuk dirinya sendiri dalam hati atas reaksi tubuhnya yang tak bisa dikontrol. Bersikap impulsif di saat wanita ini baru saja lolos dari maut adalah hal terakhir yang ingin ia lakukan.

Saat Rey kembali membuka mata, kilat gairah itu sudah ditekan habis-habisan, digantikan oleh topeng dingin yang angkuh seperti biasanya—meski dadanya masih naik turun dengan tidak teratur.

Dengan gerakan sengaja yang terkesan tak acuh, Rey melepaskan cengkeramannya dari pinggang Cla dan bergeser mundur, memberikan jarak yang cukup di antara mereka.

"Jangan percaya diri berlebihan," ucap Rey, suaranya terdengar lebih berat dan serak dari biasanya akibat menahan gejolak di dadanya. "Aku hanya memastikan pasienku tidak mati kedinginan semalam. Pakai pakaianmu, aku tunggu di luar."

Rey langsung bangkit dari ranjang, menyambar kemeja hitamnya di lantai, dan melangkah lebar keluar kamar tanpa menoleh lagi. Begitu pintu tertutup, Rey bersandar pada dinding koridor, mengembuskan napas panjang yang tertahan sejak tadi sambil meraup wajahnya dengan kasar. Pagi ini, dia nyaris kehilangan kendali sepenuhnya.

...***...

Flashback On

Naluri bertahan hidup Claudia langsung berteriak histeris. Ingatan terakhirnya sebelum pingsan adalah kemurkaan Reymond yang mencengkeram rahangnya dan melemparkan surat fitnah dari ayahnya. Otaknya yang masih diselimuti trauma masa kecil langsung berasumsi bahwa keberadaan Reymond di sisinya saat ini adalah tanda bahaya.  Pria ini pasti menunggunya bangun untuk melanjutkan penyiksaan yang sempat tertunda.

Dengan sentakan panik yang luar biasa, Cla menarik tangannya dari genggaman Reymond secara paksa. Ia menyeret tubuhnya mundur dengan tergesa-gesa hingga punggungnya membentur sandaran ranjang yang keras.

"Jangan... jangan mendekat!" pekik Cla, suaranya terdengar parau, pecah, dan penuh dengan ketakutan yang teramat sangat.

Kedua tangan Cla refleks terangkat di depan dada, melindungi kepala dan wajahnya dengan posisi defensif. Selimut sutra yang membungkusnya terlepas, memperlihatkan tubuhnya yang bergetar hebat bagai daun kering yang diterpa badai. Sepasang mata indahnya melotot lebar, menatap Reymond bukan lagi dengan tatapan menggoda atau angkuh, melainkan dengan tatapan korban yang sedang memohon belas kasihan dari sang algojo. 

"Aku mohon... aku bersumpah aku tidak tahu apa-apa tentang surat itu..." Cla meratap histeris, air matanya kembali tumpah membasahi pipinya yang tirus. "Jangan kurung aku lagi di sana... jangan siksa aku... Aku akan melakukan apa saja, aku mohon..."

Melihat reaksi histeris Claudia yang begitu ekstrem, Reymond tertegun di kursinya. Gerakan tangannya yang hendak menenangkan Cla mendadak membeku di udara.

Selama ini, Reymond selalu melihat Claudia sebagai wanita berdarah dingin yang penuh tipu daya, yang bahkan sanggup tersenyum menggoda setelah lehernya dicekik. Namun, pemandangan di depannya saat ini meruntuhkan seluruh asumsi tersebut. Ketakutan yang terpancar dari mata Claudia terlalu nyata, terlalu murni untuk sebuah sandiwara. Seorang mata-mata terlatih dari Raven tidak akan menunjukkan kerapuhan sekacau ini di hadapan musuhnya.

Reymond perlahan menurunkan tangannya, menatap lekat-lekat pada leher Claudia yang masih menyisakan bekas memar keunguan akibat ulah kejamnya tempo hari.

Flashback Off

"Oh aku sangat pusing" keluh Rey mengingat kejadian setelah Cla membuka matanya.

...----------------...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!