NovelToon NovelToon
Mencintai Badai

Mencintai Badai

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Anissah

Menyandang status janda di usia muda, bukan hanya sekali, tapi tiga kali. Membuatku membangun benteng pertahanan yang angker.

Bagiku, laki-laki hanyalah makhluk lemah yang datang untuk memanfaatkan atau meninggalkanku. Keangkuhan itu menjadi perisai utamaku.

Sampai hari itu, ketika ego tinggiku berhadapan dengan mas Barraq, seorang pemuda keturunan berada yang dengan berani mengutarakan ketulusannya padaku.

Dengan lidahku yang tajam, kulontarkan kalimat-kalimat penuh racun yang meremukkan harga dirinya. Aku menghakiminya seolah dia tidak punya hak untuk mencintai wanita berpengalaman sepertiku.

Dadaku sesak oleh rasa bersalah yang teramat sangat. Di tangan pemuda yang dulu kuanggap remeh inilah, titik balik hidupku terpampang nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anissah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 33. Momen terganggu

“Sialan kau memang, Dea!" Ia menarik pinggulku ke atas, ia memaksa yang berada di antara kami agar terlepas.

Ia mengatur napasnya, ia menggelengkan kepalanya dan memejamkan matanya.

Ia akan kalah, aku paham itu. Ia tidak tahan dengan pemberianku.

Aku membimbingnya kembali agar terkondisikan dengan baik. Namun, ia malah menepisnya dan membanting tubuhku ke sampingnya.

Ia enggan memasukiku kembali, ia malah berniat mengerjaiku. Terbaca, aku mengerti ia tengah mengatur gejolaknya sendiri.

Aku bukanlah perempuan tanpa pengalaman.

“Sepele banget kamu, Mas," ledekku dengan kekehan geli, ketika ia tengah menghirup aroma ketiakku.

Entah apa yang menarik untuknya di area itu.

“Mas lupa siapa kamu," sahutnya dengan menyambar tawaku dengan malu-malu.

“Laki-laki macam apa kek gitu?" Aku menoleh ke arah jam dinding. “Belum ada lima menit, tapi Mas udah mau meledak," ledekku kembali dengan puas.

Ia manggut-manggut dengan rahang yang mengeras. Ia tersinggung, ia tidak terima dengan ucapanku.

Aku sengaja merendahkannya, agar ia mengerahkan semua kemampuannya padaku. Aku ingin dipuaskan juga tentunya.

“Setelah kejadian ini, Mas pastikan mulut pahitmu itu tak bisa lagi ngeledekin Mas,” ancamnya dengan senyum miring.

Ia mengambil alih situasi, aku membiarkannya menguasai diriku. Aku ingin tahu, bagaimana stamina bujangan dua puluh lima tahun ini? Aku ingin tahu, semaksimal mana skillnya untuk memberikan rasa candu?

Aku memeluknya, membiarkan di bawah sana dipenuhi oleh miliknya. Aku memejamkan mataku, mencoba menikmati ayunan yang ia berikan.

Bunyi suara air menggenang yang tengah dimainkan ini menunjukkan aku menerima hasil yang ia coba berikan. Aku membiarkannya, sampai ayunan lembut itu berubah menjadi tumbukan yang kasar. Aku yakin bentukku tak indah lagi karena perlakuannya.

“Mas, Mas…” Aku mengusap dada bidangnya, ketika pelukan kami terlepas.

Aku menarik napas dalam-dalam, ketika kakiku berpindah satu ke bahunya. Kemudian satunya lagi ia rentangkan selentur mungkin.

"Mas tau kan???” Aku menjeda ucapanku, karena napasku begitu pendek dan cepat. Aku ingin ia tidak mempermainkanku menjelang aku mendapatkan tujuanku.

Aku akan segera sampai.

Ia hanya mengangkat satu alisnya dalam meresponku. "Apa, Sayang?”

Detik itu juga, ia menekan amat dalam dan menukik. Suaraku lepas selepas-lepasnya, sampai aku merasakan bekapannya dengan bibirnya yang basah.

Hentakannya memiliki power, ia pun mengulurkan lebih tinggi. Kedua kakiku berpindah semua ke bahunya, dengan ia sedikit condong ke depan membuatku mengeluarkan racauan yang tidak jelas.

Aku menegang, aku merasakan kaku di sekujur tubuhku. Kepalaku mendongak, dengan jemari yang mencengkram erat lengan kokohnya.

Suaraku benar-benar lepas, caraku bernapas pun sampai bisa kudengarkan jelas. Aku merasakan sensasi yang lama tak pernah aku dapatkan kembali.

Bukan hanya klimaks biasa yang bisa aku raih sendiri ketika malam menjelang tidur. Tapi ini benar-benar perpaduan yang sempurna, aku merasakan diriku terbang tiba-tiba dan dihempaskan dari langit secara bersamaan.

Bunyi ponselnya yang berdering membuat fokusku terbagi.

“Dea… kau tak apa, Sayang?” Ia berhenti sejenak dengan memperhatikan wajahku dengan lekat.

Aku tersadar bahwa masih ada yang menancap di sana. Apa ia khawatir dengan multi yang aku dapatkan barusan?

Sudah aku bingung di posisi ini, aku merasakan hentakannya kembali. Fokusnya tidak terusik dengan suara ponsenya yang berdering kembali. Menurutku itu cukup mengganggu, ia orang penting dan aku tau hubungi ini salah.

"Mas…" Aku mengusap rambutnya, ia bersembunyi di ceruk leherku.

“Biarin, De. Jangan pikirin HP Mas," bisiknya perlahan. Suaranya seksi sekali, ketika ia dalam pengaruh alkohol dan ***hi.

Aku sudah seperti korban lilitan ular.

"Mas, coba cek dulu siapa yang nelpon.” Aku benar-benar terusik, ketika ponselnya berbunyi kembali.

Siapa orang yang menelpon tengah malam begini?

“Ouhhh…”

Aku merasa tolol sekali, karena tak bisa mengkondisikan diriku sendiri ketika aku mendapatkan sesuatu yang baru.

Aku tengah diaduk lembut oleh mas Barraq.

"Dea, kamu buat aku khawatir. Mas belum pernah lihat kamu kek gitu," ucapnya di sela aktivitasnya.

“Mas, coba lihat dulu siapa yang nelpon," pintaku dengan mengusap lengannya.

Ia tidak menghentikan aktivitasnya, ia tetap mengadukku dengan tenang. Tangannya terulur mengambil ponselnya dan melihat ke arah layarnya terus menerus.

Aku menoleh, ingin tahu siapa nama yang terus mengganggu waktu kami. Belum sempat aku melihat jelas, detik dalam panggilan telepon sudah berjalan.

Sialnya, detik-detik itu membuat adrenalinku terpacu. Intiku memusat, aku menegang keras dan suara becek yang amat sangat. Aku menyentuh pinggangnya, membuatnya memalingkan pandangannya sekilas dari ponselnya. Kemudian, ia membuat gerakan aduk di sana lebih kencang.

"Mas…” Dadaku terangkat membusung ke depan, tarikan napas panjangku tak bisa lekas aku buang. Napasku seperti tengah bingung di dalam paru-paruku.

Aku klimaks, dengan suara orang ditelepon yang berbicara cepat. Aku tidak bisa mendengar jelas siapa orang yang menelponnya itu, yang pasti mas Barraq kembali memelukku dan tetap memberikan rasa itu.

Ia tahu jika aku tengah mendapat momen keduaku.

Aku merasakan pelukan mas Barraq semakin erat. “Tak mungkin!" tegas mas Barraq kemudian dengan seseorang di telepon itu.

Dari suaranya saja, mas Barraq sudah terdengar tengah dikuasai hawa n****.

Aku merasakan miliknya berkedut-kedut, apa ia tidak tahan dengan tegangan yang aku berikan bertubi-tubi ini?

“Umhhhhhh.” Ia menggeram tertahan, dengan pelukan padaku yang semakin melilit kuat.

Aku masih berusaha menggapai napasku yang entah hilang dimakan situasi. Kepalaku masih mendongak, dengan mulut yang terbuka.

“UMHHHHHH" Suara mas Barraq seperti dibekap dengan sebuah bantal.

"Akhhhhh…” Napasku kembali dengan tulang-tulang yang rasanya seperti dipresto.

Aku merasakan berat tubuh mas Barraq dibebankan padaku. Ia terkulai lemas, dengan napas cepat tak beraturan.

Apa jangan-jangan ia???

"Mas, kamu keluar di dalam?” tanyaku panik dengan menepuk punggungnya pelan.

Ia tidak segera menjawab, membuatku semakin termakan prasangkaku sendiri. Ia masih mengatur napasnya, dengan berat tubuhnya yang ia topang kembali secara perlahan.

Namun, aku mengenali bau-bau ini. Aroma airnya yang bercampur dengan milikku, meski ia belum mencabutnya.

"Mas, kamu nggak seharusnya buang di dalam, Mas!” Aku semakin panik dengan kemungkinan yang akan terjadi nanti.

Kenapa ia keluar juga?

Itu pun jika benar ia keluar. Tapi ia tak kunjung menjawab, membuatku semakin diselimuti rasa takutku.

Ia menopang tubuhnya dengan sempurna dan melepaskan diri antara dadaku dan dadanya. Ia memandang wajahku dengan tatapan mesumnya, kilat b*r**nya masih terlihat jelas dari kondisi mukanya.

"Mas, jawab!” Aku mengguncangkan kedua lengannya.

Minatku hilang seketika. Aku dirundung kepanikan mendadak.

Bukannya menjawabku, tangannya malah aktif memainkan bentuk serupa dengan gundukan yang sempurna tepat berada di depan dada bidangnya itu. Aku menepuk tangannya, aku tak mau terpancing kembali dengan kecerobohannya itu.

Bagaimana bisa laki-laki dan perempuan berpengalaman, malah teledor seperti ini?

"Raq, dengar tak?!” Suara yang bersumber dari telepon itu terdengar menjadi fokusku.

Jadi, panggilan itu masih terhubung? Dengan aku berbicara?

1
Fitri Ristina
rer the best pokoknya...ga pernah bosan dengan cerita keluarga mamah dinda
Batriani
tak sanggup ku berkata kata ingin mencela takut kualat pula aku ... jaga diri aja kau ya de' . dr awal udah kata urus cerai kau..... ya sudah lah ikutin aja kisah kau ama siberraq itu......
Rini qi: jgn anggap remeh dea...
total 1 replies
Christine
hahahaha itu jagung Afika dea....
Christine
astaga....rasanya gmna itu goyang sambil tlpn ora konsen ak mas
Miss F
urs de ceraimu
barrack jgn blg kamu badboy,,kyk mantan pcrnya adiknya canda,,ceria skalane😠😠
Miss F
jgn SMP de kamu cm dicicipi barrack tok tp g dtanggung jwbi...
Batriani
pak suami mana pak suami.... permainan apa ini, geli2 basah.....🤭
Miss F
KLO BNR garis 2 nangis loe de dipojokan🤣🤣🤣
Christine: 🤭🤭🤭🤭👍👍👍
total 3 replies
Christine
aku kok ikut menegang de
Christine
jangan.....ihhh ak mlh berdoa jgn ada yg dtng takut ihh tetiba digrebek ...
Rini qi
🫣
Fitri Ristina
suami mana suami...
Miss F
abis baca sidea koq JD cenat cenut🤣🤣🤣
Christine: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 kesetrum say
total 1 replies
Miss F
de,,kamu dminta baik2 dksh status gakk mau malah milih yg haram😞
Christine
hahahaha serang balik de dibilangin kelamaan klu nungguin dia
Miss F
yg minum mas barrack ehhh authornya yg kena pngaruh alkohol jg JD mabok🤣🤣
Miss F
tak ingat kau de pesan ayah wiya n ayah bara😞
Batriani
wah...😟. jebol pertahanan nya...
Christine
wahhh besar uhhh aku kok ikut nahan de..ya ampun de bagi2 atuh de
Christine
hahahahaha....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!