NovelToon NovelToon
Titik Nadir: Menyesal Setelah Kau Buang

Titik Nadir: Menyesal Setelah Kau Buang

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:10.7k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

Tiga tahun lamanya Andini mencurahkan seluruh pengabdiannya sebagai istri saleha, namun ia justru dihempaskan ke titik terendah dalam hidupnya. Ia diusir tanpa membawa uang sepeser pun oleh Reno, suaminya sendiri, yang lebih memilih Siska karena pengakuan kehamilannya. Setelah kenyang menerima hinaan sebagai perempuan mandul yang sekadar menumpang hidup, Andini bersumpah untuk bangkit dari puing-puing kehancurannya.

Saat Andini akhirnya berhasil bertransformasi menjadi sosok wanita karier yang mandiri, elegan, dan sulit digapai, Reno datang kembali sambil merangkak penuh penyesalan. Namun, sebuah map cokelat yang telah disiapkan Andini siap meruntuhkan sisa-sisa kesombongan pria itu. Sebuah rahasia medis yang mencengangkan akhirnya terungkap: Reno sebenarnya mandul, dan anak yang selama ini ia puja-puja hanyalah buah dari pengkhianatan Siska. Inilah saatnya karma instan mulai bekerja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: Pertemuan di Batas Ambisi

Malam itu, restoran privat di lantai teratas Hotel Langham Jakarta menyuguhkan panorama metropolitan yang berkilauan di balik dinding kaca raksasa. Gemerlap lampu gedung-gedung pencakar langit di kawasan Sudirman seolah menjadi latar panggung bagi perebutan kekuasaan yang senyap namun mematikan. Ruangan tersebut sengaja dikosongkan dari tamu lain atas permintaan khusus Wijaya Corps, menyisakan sebuah meja makan bundar panjang yang dihiasi lilin aromaterapi serta jajaran porselen mewah.

Adrian Wijaya duduk bersandar di kursi kulitnya dengan santai. Kemeja putih yang kancing atasnya dibiarkan terbuka dipadukan dengan jas hitam yang tersampir di sandaran kursi, mempertegas kesan penguasa muda yang penuh percaya diri. Di hadapannya, segelas whisky dengan es batu yang perlahan mencair terus berputar mengikuti ketukan jemarinya.

Pintu geser ruangan terbuka dengan suara halus. Karisma yang pekat seketika menyeruak saat Farhan Al-Fatih melangkah masuk. Di sampingnya, Andini Larasati berjalan dengan keanggunan mutlak, mengenakan gamis satin berwarna abu-abu mutiara dengan hijab sutra senada yang terbalut rapi. Penampilan mereka sama sekali tidak mencerminkan raut wajah pengusaha yang proyek triliunannya baru saja dibekukan oleh kementerian.

Adrian menegakkan punggung, senyum tipis sarat intrik terukir di wajah tampannya. "Selamat malam, Tuan Farhan, Ibu Andini. Suatu kehormatan bagi saya melihat musuh paling tangguh di Jakarta bersedia meluangkan waktu untuk memenuhi undangan ini."

Farhan tidak langsung menanggapi basa-basi itu. Ia menarik kursi untuk Andini dengan penuh perhatian sebelum akhirnya duduk tepat di hadapan Adrian. Sepasang mata elang Farhan mengunci tatapan Adrian dengan dingin.

"Kita tidak perlu membuang waktu dengan formalitas yang tidak berguna, Adrian," buka Farhan, suaranya yang berat dan bariton langsung membuat atmosfer ruangan terasa menekan. "Kamu menggunakan jaringan birokrasimu untuk menangguhkan proyek CBD Menteng. Sekarang, katakan apa maumu sebenarnya."

Adrian terkekeh pelan, menyesap minumannya sejenak sebelum meletakkan kembali gelas kaca itu ke meja dengan ketukan yang disengaja. "Lugas seperti biasa, Farhan. Sifat itulah yang membuat Al-Fatih Group bertahan lama. Namun sayangnya, di dunia modern, ketegasan saja tidak cukup jika Anda tidak tahu kapan harus melangkah mundur."

Adrian kemudian mengalihkan pandangan kepada Andini, menatap wanita itu dengan binar mata yang memuji sekaligus meremehkan. "Ibu Andini, saya akui langkah Anda minggu lalu mengenai formula sutra anti-radiasi sangat brilian. Anda berhasil mempermalukan Wijaya Corps di mata publik internasional. Namun, lihat apa akibat dari kesombongan itu? Proyek impian suami Anda di CBD Menteng sekarang lumpuh total dalam semalam."

Andini menatap Adrian dengan pandangan yang sangat jernih. Tidak ada sedikit pun ketakutan atau getaran emosi di wajahnya. Ia justru membalas dengan senyuman tenang—sebuah senyum yang mendadak membuat Adrian merasa tidak nyaman.

"Tuan Adrian Wijaya," suara Andini terdengar lembut namun berwibawa. "Anda menyebut inovasi keselamatan kami sebagai 'kesombongan'. Di mata pebisnis murni seperti Anda, nyawa manusia dan integritas mungkin hanya sekadar angka di atas kertas laporan keuangan. Namun bagi kami di Nadir Label, itu adalah fondasi. Kami tidak akan pernah mundur untuk mempertahankan apa yang benar."

"Meskipun itu harus mengorbankan seluruh likuiditas Al-Fatih Group?" potong Adrian dengan nada meremehkan. Ia mencondongkan tubuh ke depan, meletakkan kedua lengannya di atas meja. "Mari bicara realistis. Surat penundaan dari kementerian itu bisa bertahan hingga dua tahun jika saya mau. Dalam waktu selama itu, denda komitmen kepada investor asing akan menguras habis cadangan kas kalian. Al-Fatih Group akan kolaps dari dalam."

Adrian menggeser sebuah map kulit berwarna biru tua ke tengah meja, tepat di depan Farhan dan Andini.

"Ini adalah draf nota kesepahaman yang baru," papar Adrian dengan nada kemenangan. "Syarat saya sederhana agar surat penundaan dari kementerian itu dicabut besok pagi. Pertama, serahkan hak paten penuh atas Nadir-Shield V.2 kepada Wijaya Corps. Kedua, berikan kuota saham sebesar tiga puluh persen untuk proyek CBD Menteng kepada perusahaan saya tanpa syarat modal awal. Kita bisa menjadi aliansi terkuat di Asia Tenggara, Farhan. Jangan biarkan egomu menghancurkan dinasti keluargamu."

Ruangan itu mendadak hening bagai kuburan. Tuntutan Adrian bukan lagi sekadar kerja sama bisnis; itu adalah perampokan korporasi yang terstruktur rapi untuk menundukkan Al-Fatih di bawah kendali Wijaya Corps.

Farhan melirik sekilas ke arah map biru tersebut, namun tangannya sama sekali tidak bergerak untuk menyentuhnya. Ia justru menyandarkan punggung ke kursi, membalas tatapan Adrian dengan seringai tipis yang mematikan—reaksi yang sama sekali tidak diduga oleh Adrian.

"Tiga puluh persen saham CBD Menteng dan paten Nadir-Shield..." gumam Farhan pelan, seolah sedang mengejek angka yang disebutkan. "Adrian, kamu adalah lulusan terbaik Harvard, tapi kamu membuat satu kesalahan amatir yang sangat fatal malam ini."

Dahi Adrian mengernyit tajam. "Apa maksudmu?"

Farhan merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah gawai enkripsi khusus milik divisi intelijen siber Al-Fatih Group dan meletakkannya di atas meja. Layar gawai tersebut menyala, menampilkan laporan transaksi digital dari dua jam yang lalu.

"Kamu mengira surat penundaan dari komite kementerian itu adalah kartu as untuk mengunci pergerakanku," ujar Farhan dengan suara tenang namun bertenaga. "Kamu lupa bahwa Al-Fatih Group tidak pernah mengandalkan satu pintu birokrasi. Sore ini, tim legal kami bersama Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) telah resmi mendaftarkan gugatan dugaan praktik monopoli tidak sehat dan penyalahgunaan wewenang terhadap Wijaya Corps, lengkap dengan bukti rekaman aliran dana pribadimu kepada oknum pejabat kementerian yang menandatangani surat penundaan tersebut."

Wajah tampan Adrian mendadak pucat. Ketukan jemarinya pada gelas kaca terhenti seketika.

"Bukan hanya itu," tambah Andini, suaranya memecah keheningan dengan ketegasan yang mematikan. "Sementara Anda sibuk menyusun draf ini, investor asing terbesar dari Eropa yang mendanai proyek CBD Menteng baru saja menandatangani amandemen baru bersama kami. Mereka tidak akan menarik modalnya karena mereka tahu, reputasi Nadir-Shield V.2 jauh lebih berharga daripada intrik politik lokal yang sedang Anda mainkan."

Andini bangkit dari kursinya, diikuti oleh Farhan yang merapikan kancing jasnya dengan elegan. Mereka berdiri sejajar, menatap Adrian Wijaya yang kini terpaku di kursinya dengan rahang mengeras dan tatapan mata yang dipenuhi keterkejutan.

"Simpan saja map birumu ini, Tuan Adrian," kata Farhan dingin sebelum membalikkan badan. "Sidang KPPU dan pengadilan negeri akan dimulai minggu depan. Bersiaplah, karena kali ini, 'Si Jagal' dari Harvard tidak akan menghadapi janda lemah atau pengusaha bangkrut, melainkan seluruh kekuatan Al-Fatih Group yang siap meruntuhkan keserakahanmu tanpa sisa."

Tanpa menunggu balasan, Farhan menggandeng tangan Andini dengan erat, melangkah lebar meninggalkan ruang privat restoran tersebut. Langkah awal untuk menghancurkan cengkeraman Wijaya Corps baru saja dimulai, dan kali ini, sang predator dari masa lalu itu menyadari bahwa ia telah salah memilih mangsa.

1
falea sezi
ending nya suka😍
Sahabat Oleng
Aku udah mampir nih thor 😇
Semangat 💪
banana cookie
Banyak konflik menarik namun tidak membuat bosan. Karakter Andini memberikan contoh agar wanita tidak mudah disepelekan dan harus bisa berdaya untuk dirinya dan orang lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!