Kirana Aqilla, 20 tahun, gadis yatim piatu yang ditinggal kedua orang tuanya karena kecelakaan Ia dijodohkan dengan ustadz beristri tiga.
Tampa sengaja Ia ketemu waria dengan blezer pink di tengah hujan deras. yang menyediakan payung dan tissue untuknya tampa diminta. Nggak ada yang sempurna di antara mereka. Kirana membawa trauma 20 tahun hidup dicecar sebagai pembawa Sial. Saqir membawa luka dibuang keluarga karena jadi dirinya sendiri. Ini bukan kisah cinta yang berisik. Ini kisah tentang dua orang patah yang belajar nerima, saling jagain pas jatuh, dan berjuang pulang bareng. Sedihnya bikin nangis. Lucunya bikin ketawa tengah malam. Romantisnya pelan. Tenangnya bikin pulang. Karena kadang, pulang itu bukan rumah. Pulang itu orangnya.
Dunia bilang mereka nggak pantas bersama. Keluarga Kirana bilang waria itu aib. Ustadz Yusuf bilang Kirana harus balik. Tapi di kontrakan sempit itu, untuk pertama kalinya Kirana merasa aman. Untuk pertama kalinya Saqir merasa diterima.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Danica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gosib Di Komplek Kontrak Saqira**
Langit Jakarta Timur jam 20.17 sudah hitam pekat. Lampu jalan di Gang Mawar mati sebelah. Yang nyala cuma neon warung kelontong, kedip-kedip kayak mau mati.
Saqira mendorong pintu kontrakan Pintu itu _kretek_, engselnya karatan. High heels 10cm warna pink fanta dia gendong di tangan kiri. Keringat + bedak + lipstik merah jadi satu di dagunya. Bau kondangan, bau catering ayam goreng, bau parfum murah nyangkut di belzer pinknya.
Di dalam, Kirana sudah nunggu. Daster biru muda, lengan 3/4. Di tangannya piring seng berisi nasi anget + telor ceplok + sambal dari sisa gula kemarin.
“Mas, makan dulu,” bisik Kirana. Suaranya serak bekas nangis siang tadi.
Saqira belum jawab. Dari luar sudah ada suara. Suara yang tiga tahun ini jadi soundtrack hidupnya: bisik-bisik tetangga.
“Eh itu Saqira ya? Kok cewe itu masih di situ?” Suara Mbak Yuni, jual gorengan.
“Ih tinggal bareng? Nggak ada muhrimnya? Amit-amit.” Suara Pak Darto, tukang tambal ban.
“Bencong bawa cewe ke kontrakan. Dosa jamaah.”
“Nanti kalo hamil siapa yang tanggung jawab? Anak sial + bencong \= dobel sial.”
Kirana menunduk. Piring di tangannya gemetar. Nasi hampir tumpah.
Tok tok.
Bu RT. Daster dasteran bunga-bunga, bawa ember plastik biru. Mukanya merah, entah karena jalan cepat atau karena marah.
Saqira buka pintu. Dia sengaja senyum lebar. Lipstik merahnya ditebalkan lagi pake jempol. “Eh Bu RT, selamat malam. Nyari mic kondangan? Saya lagi libur, Bu.”
Bu RT nggak senyum. Matanya langsung nyambar Kirana di belakang. “Saqira. Ini udah tiga hari ya cewe itu di sini? Kamu tau nggak? Ini bukan muhrim! Ini dosa! Gang kita nanti dikatain gang maksiat!”
Kerumunan makin besar. Ada Mas Adi nganggur, ada dua bocah SMP ngerekam pake HP retak. Lampu HP mereka nyorot ke muka Saqira.
Saqira nggak mundur. Dia malah nyender di kusen pintu. Satu kakinya disilang. High heels sebelah dia taruh di lantai, dipake. Yang sebelah lagi masih digendong. Gaya. Tapi dagunya naik.
“Ya ampun Bu RT... lucu banget sih Ibu,” katanya. Ketawa kecil, _kik_. Suara bencongnya keluar, melengking di ujung. Tapi matanya nggak ketawa. Matanya dingin. “Ibu ngomongin dosa? Dosa saya yang tiga tahun tidur di sofa ini, apa dosa Ibu yang tiap malam ngerumpi di warung sampai jam 12, ngomongin aib orang?”
Bu RT keselek ludah sendiri. “Kamu... kamu jangan muter Saqira!”
“Saya nggak muter, Bu. Saya lurus.” Saqira colek alisnya yang sudah digambar ulang. “Lurus kayak alis saya tiap pagi, sejam di depan kaca. Ibu bilang ‘bukan muhrim’. Iya, Bu, benar. Kirana bukan adik saya. Bukan istri saya. Kirana itu tamu Allah. Allah yang nitip dia ke saya pas saya lagi MC nikahan di gedung sebelah. Allah bisik di kuping saya: ‘Saqira, tuh ada hamba-Ku kedinginan di bangku taman. Lu yang angkat’. Saya nurut. Ibu nurut apa nggak?”
Pak Darto maju. Bau keringat + bau ban kebakar. “Tapi tetep aja! Laki-laki sama cewe di kontrakan sempit! Pikiran orang bisa ke mana-mana! Fitnah!”
Saqira balik badan. Tangannya meraih sajadah gulung di pojok kamar. Sajadah tipis, bunganya sudah luntur, ujungnya basah. Dia bentangkan ke muka Pak Darto. Nggak dilempar. Cuma dibentangkan.
“Pak Darto,” suara Saqira pelan. Nggak pake gaya bencong lagi. Suara Saqir, laki-laki 30 tahun yang kakinya kapalan karena tiga tahun keliling bawa mic. “Tiga tahun saya tinggal di gang ini. Bapak tiap malam main gaple sampai subuh di warung. Bapak pernah ngetok pintu saya nanya ‘Saqira, lu sholat nggak?’ Nggak pernah. Sekarang Kirana tiga hari di sini. Sholat lima waktunya nggak pernah bolong. Subuh dia bangunin saya. Tahajud dia bacain Al-Mulk sampai saya nangis di sofa. Bapak mau ngitung dosa? Hitung dulu sajadah ini. Ini basah air mata Kirana tiap sujud. Bapak punya nggak?”
Mbak Yuni bisik ke temannya, tapi cukup keras buat kedengeran: “Tapi... tetep nggak pantas...”
Saqira noleh. Senyumnya luntur. Yang tersisa cuma lelah. “Mbak Yuni... saya bencong. Dari lahir sudah ‘nggak pantas’ di mata dunia. Saya pake lipstik \= nggak pantas. Saya MC kondangan \= nggak pantas. Saya nolongin orang \= nggak pantas. Ya udah. Sekalian aja saya nggak pantas sekampung. Tapi satu yang pantas: saya nggak tega lihat orang mati kedinginan di bangku taman. Ibu-ibu pantas nggak?”
Sepi. HP yang ngerekam pelan-pelan diturunkan. Bocah SMP saling lirik.
Bu RT masih keras kepala. “Terserah kamu Saqira. Tapi kalau ada apa-apa, tanggung sendiri. RT nggak mau tau!”
Saqira menutup pintu. Pelan. _Kretek_. Nggak dibanting. Nggak ngusir. Tutupnya kayak menutup luka orang biar nggak kemasukan angin.
Di dalam, Kirana sudah duduk di lantai. Lutut dipeluk. Bahunya guncang. “Mas... maaf ya... Kirana ngerepotin Mas... Kirana bikin Mas dijelekin orang sekampung...”
Saqira jongkok. Sebelah high heels dia lepas. Kakinya merah, lecet, ada kapalan tebal. Dia peluk Kirana dari samping. Nggak kencang. Pelukan orang yang sudah tiga tahun nggak dipeluk siapa-siapa.
“Ra... denger saya,” bisiknya di kuping Kirana. Suaranya serak. Nggak ada lengkingan bencong. “Tadi saya bentak mereka, iya. Gaya bencong saya keluar, iya. Tapi di dalam hati... saya takut, Ra. Saya takut beneran dosa. Saya laki-laki. Kamu cewe. Kita tinggal seatap. Orang ngomong ada benarnya juga.”
Kirana mengangkat muka. Mata bengkak, tapi jernih. “Terus... Mas ngusir Kirana?”
Saqira menggeleng keras. Kedua tangannya memegang bahu Kirana. “Nggak, Ra. Denger. Yang benar itu: kita nggak muhrim. Yang benar juga: saya nggak rela kamu tidur di emperan lagi. Jadi kita cari jalan tengahnya. Jalan tengah orang yang sama-sama telat pulang ke Tuhan.”
“Jalan tengahnya apa, Mas?”
Saqira senyum. Tapi senyumnya pahit, kayak kopi tanpa gula. “Besok kita cari kerja buat kamu, Ra. Kerja yang ada mess-nya. Atau kerja yang gajinya cukup buat kamu ngontrak kamar sendiri. Dekat sini. Lima menit jalan. Jadi malam kamu tidur sendiri, aman. Siang kamu ke sini, masak, ngaji bareng saya. Deal?”
Kirana menangis lagi. Kali ini bukan karena takut diusir. Karena ada orang yang mikirin ‘aman’ dia, bukan ‘aman’ nama dia. “Mas... Mas nggak jijik sama Kirana?”
Saqira mencubit pipi Kirana pelan. Jempolnya kasar, bekas megang mic. “Jijik? Ra, tiga puluh tahun orang jijik sama saya. Saya sudah kebal. Sekarang giliran saya yang nggak mau kamu ngerasain jijik dari dunia.”
----------+++
Bau kain + bau oli mesin jahit nyengat. Mas Jono, pemilik konveksi, kaos oblong + rokok Gudang Garam di kuping. Dia lihat Kirana dari atas sampai bawah.
“Bisa jahit lurus nggak, Mbak?”
Kirana duduk di mesin jahit tua Singer. Nginjak pedal. _Trrr... trrr..._ Jarumnya naik turun. Jahitannya kecil-kecil, rapi, jaraknya sama. Bekas sepuluh tahun jahit mukena + sarung Bibi di pondok.
Mas Jono mengangguk. “Lolos. Gaji tujuh puluh lima ribu per hari. Lembur sepuluh ribu per jam. Tapi maaf saya gak menyediakan mess untuk karyawan.
Kirana menunduk. “Makasih, Mas Jono. Gak apa-apa mas. Nanti saya bisa cari kontrakan...” Kirana cuma berharap untuk sementara cukup ada perkerjaan dulu. Nanti bisa cari kosan.
Keluar konveksi, mereka jalan sampai bangku rel kereta. Nggak gandeng tangan. Jaga jarak satu meter. Jaga Kirana. Jaga nama Saqira.
Saqira duduk duluan. “Ra... saya ngomong ya. Jujur.”
Kirana duduk di ujung bangku. “Iya, Mas.”
“Saya senang kamu dapat kerja. Gaji lebih besar dari nimbang cabai. Saya lega. Tapi...” Saqira mengusap tengkuk. Lipstiknya luntur kena keringat. “Tapi kamu belum ada tempat tinggal. Kamu tetap diKontrakan saya ya sampai kamu dapat kontrakan yang sesuai dengan bajet kamu.
Kirana menunduk. Bandana pink Saqira dia pegang erat. “Kirana juga sedih, Mas. Tiga hari di kontrakan Mas... itu tiga hari paling hangat seumur hidup Kirana. Tapi Mas benar. Kita nggak muhrim. Kita jaga diri, jaga nama Mas juga. Kirana nggak mau Mas dijelekin orang karena Kirana.”
Saqira melepas bandana pink di kepalanya. Dipasangkan ke kepala Kirana. Wanginya bedak bayi + keringat + parfum murah. “Nih, buat kamu".
Kirana mencium bandana itu pelan. “Mas... kita masih sholat bareng kan”
Saqira ketawa kecil. “Iya, Kirana kita tetap bisa sholat bareng. Nanti urusan tetangga gue bisa urus".
“Deal, Mas.”
Kereta lewat. _Trrrt... trrrt..._ Anginnya myibak rambut Saqira.. Kencang.
Saqira berbisik: “Ra, ingat ya. Omongan tetangga itu ada benarnya. Kita jaga batas. Tapi yang mereka nggak tahu: batas itu nggak bikin kita jauh. Batas itu yang bikin kita hormat. Hormat sama Allah, hormat sama diri sendiri.”
Kirana mengangguk. Air matanya jatuh ke bandana pink. “Kirana ngerti, Mas. Makasih udah milih ‘aman’ Kirana daripada ‘nyaman’ Mas.”
Saqira berdiri. High heels sebelah dipakai lagi. “Udah, Mbak Rumah. Besok jam tujuh masuk kerja. Malam saya ajarin kamu motong kain. Saya MC, kamu desainer. Kita tim.”
Mereka jalan pulang. Jaraknya tetap satu meter. Tapi hati mereka lebih dekat dari semalam. Karena sudah sama-sama memilih: “Allah dulu, baru kita.”
Sampai kontrakan, Bu RT mengintip dari jendela. Nggak ngomong. Cuma melihat.
Saqira menoleh. Senyum. Senyum bencong + senyum laki-laki. “Bu, doain ya. Biar Kirana betah kerja. Biar saya betah di sofa. Biar gang kita nggak ada yang kedinginan lagi.”
Pintu tertutup. _Kretek._