NovelToon NovelToon
Sisa Rasa Yang Terlarang

Sisa Rasa Yang Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Drama / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: HebiKage

Usai memutuskan hubungan dua setengah tahun dengan Reza, Tari merasa lelah dengan drama cinta dan tekanan keluarga. Belum sembuh sepenuhnya, ia dipaksa ibunya mengikuti kencan buta—dan takdir malah mempertemukannya dengan Aldo, adik kandung mantan pacarnya sendiri.

Wajahnya mirip, tapi sikapnya sangat berbeda: lebih dingin, lebih tajam, dan seolah menyimpan rahasia serta dendam tersembunyi. Pertemuan yang dipaksa keluarga perlahan membangkitkan perasaan yang tak seharusnya ada. Di tengah gosip lingkungan dan luka lama yang mulai terbuka kembali, Tari dihadapkan pada satu pertanyaan berat:

Apakah ia berhak merasakan bahagia di samping orang yang masih terikat erat dengan masa lalunya yang menyakitkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HebiKage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Minggu Yang Terindah

Dua minggu.

Empat belas hari. Tiga ratus tiga puluh enam jam. Dua puluh ribu seratus enam puluh menit. Angka-angka itu terasa begitu singkat jika dibandingkan dengan kerinduan yang telah mengendap dalam hati selama satu tahun penuh. Namun, aku berjanji pada diriku sendiri: akan membuat setiap detik yang terlewati menjadi bermakna, setiap menitnya menjadi berharga, dan setiap jam yang kami lalui bersama menjadi kenangan yang tak akan pernah terlupakan seumur hidup.

***

Hari Pertama: Kedatangan dan Kebahagiaan Sederhana

Setelah selesai menjemput Aldo di bandara dan menikmati makan siang yang sederhana namun hangat di apartemen, kami menghabiskan sisa waktu hingga menjelang malam hanya dengan duduk berdampingan di atas kursi kecil di balkon. Kami menikmati hembusan angin sore Melbourne yang sejuk, memandang langit yang perlahan berubah warna, dan berbicara tentang apa saja—mulai dari hal-hal sepele hingga hal-hal yang paling dalam di hati kami.

“Aku sangat merindukan suaramu,” ucapku lembut sambil menyandarkan kepala di bahunya yang terasa kokoh dan menenangkan. “Suara yang asli, yang bisa aku rasakan getarannya, bukan hanya suara yang terdengar lewat layar ponsel saja.”

Aldo tertawa pelan, lalu tangannya terangkat dengan lembut membelai helai demi helai rambutku. “Aku pun merindukan suaramu, Tari. Suaramu yang selalu mampu menenangkan hatiku yang sedang kacau, kapan pun itu.”

“Kamu ini bisa saja bicara berlebihan,” godaku sambil tersenyum.

“Mungkin terasa berlebihan, tapi semuanya keluar dari kejujuran hatiku,” jawabnya tenang.

Aku mengangkat wajahku, lalu menatap lekat-lekat matanya yang berwarna cokelat gelap di balik kacamata berbingkai tipis yang selalu ia kenakan. Di sudut matanya kini terlihat ada kerutan-kerutan halus yang baru terbentuk—tanda bahwa selama satu tahun ini ia pun tidak selalu bisa tidur nyenyak, sama sepertiku, terpisah oleh jarak dan waktu.

“Aldo… apakah kamu benar-benar baik-baik saja selama berada di Jakarta?” tanyaku pelan, ingin memastikan keadaannya yang sesungguhnya.

Aldo menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. “Secara lahiriah, semuanya baik-baik saja. Sibuk bekerja, banyak tugas yang harus diselesaikan, dan hariku terasa terisi penuh. Tapi…” ia berhenti sejenak seolah mengatur kata-katanya, “…ada kalanya di malam hari, saat aku sendirian di dalam apartemen yang sunyi, rasa rindu itu datang begitu saja dan terasa sangat berat. Saat itulah aku paling merindukan kehadiranmu.”

“Aldo…” panggilku lembut, merasakan hatiku ikut terasa perih mendengar pengakuannya.

“Aku tahu ini bukan hal yang mudah bagi kita berdua. Tapi aku berjanji, aku akan terus berusaha melewatinya. Demi masa depan kita,” lanjutnya dengan nada yang lebih tegas dan penuh keyakinan.

Aku segera menggenggam kedua tangannya erat-erat, menyampaikan dukungan yang tak perlu diucapkan dengan banyak kata. “Aku pun akan melakukan hal yang sama, Aldo. Aku akan bertahan dan terus melangkah maju. Demi kita.”

***

Hari Kedua: Menjelajahi Kota Melbourne

Keesokan harinya, aku mengajak Aldo berkeliling kota untuk menunjukkan tempat-tempat yang sudah menjadi bagian dari keseharian dan kenanganku selama tinggal di sini. Kami mengunjungi Perpustakaan Negara Bagian Victoria yang megah dengan ruang baca berbentuk lingkarannya yang indah, lalu berjalan-jalan di Pasar Ratu Victoria yang ramai dan penuh warna dengan berbagai macam barang dagangan, serta berakhir di Pantai St Kilda yang tenang dengan deburan ombaknya yang menenangkan.

“Kemari sebentar,” panggilku sambil menarik tangannya menuju salah satu deretan lapak di dalam pasar itu. “Aku ingin membeli oleh-oleh untuk Mama.”

“Oleh-oleh apa yang ingin kamu cari?” tanyanya penasaran sambil mengikuti langkahku.

“Syal. Mama sangat menyukai aksesoris seperti itu,” jawabku.

Kami berjalan menyusuri lorong pasar, memeriksa satu per satu koleksi syal yang dipajang dengan rapi. Aldo pun ikut membantu memilih, memegang satu per satu kainnya dan memperhatikan kualitas serta warnanya dengan teliti. Hingga akhirnya ia berhenti di depan satu potong syal.

“Ini yang paling cocok,” katanya sambil mengangkat syal berwarna biru tua dengan motif kotak-kotak yang halus dan tidak terlalu mencolok. “Terlihat elegan, sederhana, namun tetap terasa berkualitas. Pas sekali untuk ibumu.”

Aku melihatnya sekilas, lalu mengangguk setuju. “Kamu benar. Pilihanmu sangat pas.”

Setelah membayarnya, aku memasukkan syal itu ke dalam tas, merasa senang karena sudah menemukan barang yang tepat. “Pintar sekali kamu memilih barang.”

“Wajar saja. Pekerjaanku sebagai psikolog melatihku untuk membaca karakter dan selera orang lain,” jawabnya sambil tersenyum bangga.

“Kalau begitu, bisakah kamu menjelaskan lebih banyak tentang sifat Mama?” tanyaku penasaran.

“Tentu saja. Ibumu adalah tipe wanita yang hidup sederhana, namun memiliki harga diri yang tinggi dan tidak ingin dianggap remeh. Ia menyukai barang-barang yang memiliki kualitas baik, namun tidak harus mahal atau terlihat mewah. Ia juga…”

Kalimatnya terputus tiba-tiba. Matanya beralih ke arah sebuah lapak perhiasan kecil yang terletak di sudut pasar itu.

“Ada apa?” tanyaku mengikuti arah pandangannya.

Aldo segera melangkah mendekati lapak itu, lalu matanya tertuju pada sebuah cincin yang tergeletak di atas alas beludru hitam. Cincin itu terbuat dari perak polos yang sederhana, dengan satu batu berwarna biru muda yang tertanam rapi di bagian tengahnya. Batu itu tidak terlalu besar, namun memancarkan kilau lembut saat terkena sinar matahari.

“Ini,” ucapnya sambil mengambil cincin itu dengan hati-hati. “Warnanya mengingatkanku pada warna matamu.”

Aku menatap batu itu lekat-lekat. Benar saja, warnanya mirip sekali dengan warna mataku—mungkin sedikit lebih gelap, namun memiliki kesan yang sama, tenang dan dalam.

“Aldo…”

“Bolehkah aku membelikannya untukmu?” tanyanya lembut.

“Tidak perlu mengeluarkan uang untuk hal seperti ini, Aldo—”

“Aku ingin memberikannya,” potongnya lembut namun tegas. Ia menatap mataku dengan tatapan yang tulus. “Sebagai tanda kenang-kenangan dari kota ini. Agar setiap kali kamu melihatnya, kamu selalu ingat bahwa aku pernah ada di sini, di sampingmu, dan bahwa rasa sayang ini tidak pernah berubah meski nanti kita terpisah lagi.”

Aku tak mampu menolak permintaannya. Aldo membayar cincin itu—harganya terbilang terjangkau, hanya beberapa puluh dolar saja—lalu dengan lembut dan penuh perhatian memakaikannya di jari manis tangan kiriku. Ukurannya pas, seolah-olah cincin itu memang sudah dibuat khusus untuk jari tanganku.

“Terima kasih, Aldo. Aku akan menyimpannya selamanya,” ucapku dengan suara yang sedikit bergetar karena haru.

“Terima kasih telah menerimanya dengan senang hati,” balasnya.

Kami pun melanjutkan perjalanan meninggalkan pasar itu dengan tangan yang tetap bergandengan erat. Di jari manisku, cincin perak dengan batu berwarna biru itu terus berkilau lembut terkena sinar matahari musim semi, seolah menjadi saksi bisu dari momen indah yang baru saja kami lalui.

***

Hari Ketiga hingga Hari Kedelapan: Menulis Bersama

Selama enam hari berikutnya, hari-hari kami tidak hanya diisi dengan berjalan-jalan saja. Aldo datang ke Melbourne bukan hanya untuk berlibur, melainkan juga untuk tetap menjalankan rutinitasnya—termasuk menulis. Sejak aku berhasil membangkitkan kembali rasa percaya dirinya, Aldo mulai mencurahkan kembali pikirannya ke dalam tulisan. Kali ini bukan lagi puisi seperti di masa mudanya, melainkan kumpulan cerita pendek yang terinspirasi dari pengalaman dan kasus-kasus yang pernah ia tangani selama bekerja sebagai psikolog forensik.

Setiap pagi, kami akan duduk berdampingan di meja kerjaku yang terbilang sempit. Kami bergantian menggunakan satu laptop yang ada—aku melanjutkan penulisan novel keduaku, sedangkan Aldo menyusun kalimat demi kalimat untuk cerita pendeknya. Sesekali kami berhenti sejenak untuk saling membacakan bagian yang baru saja selesai ditulis, saling memberikan masukan, hingga kadang terlibat perdebatan kecil hanya untuk menemukan satu kata yang paling tepat dan pas.

“Menurutku, kata ‘merenung’ terasa terlalu umum dan klise untuk kalimat ini,” komentar Aldo suatu hari sambil membaca naskah yang aku tulis. “Cobalah ganti dengan kata ‘bermeditasi’.”

“Bermeditasi? Itu terdengar seperti kalimat dari buku panduan latihan yoga saja,” bantahku sambil tersenyum geli.

“Lalu apa salahnya? Berpikir dalam-dalam itu sama saja dengan memusatkan pikiran, persis seperti saat bermeditasi,” jawabnya santai.

“Aldo, ini cerita tentang cinta dan perasaan, bukan buku panduan olahraga atau kesehatan jiwa,” candaku lagi.

Kami pun tertawa lepas, lalu kembali menunduk melanjutkan pekerjaan masing-masing dengan suasana yang tetap hangat dan akrab.

Saat malam tiba dan pekerjaan sudah selesai, kami akan duduk bersandar di atas kasur, masing-masing membawa buku kesukaan. Aku membaca novel terjemahan yang baru saja aku beli, sedangkan Aldo asyik dengan buku tebal berisi kajian tentang kriminologi dan psikologi kejahatan. Sesekali kami berhenti membaca untuk saling bertukar kalimat yang paling menarik perhatian, atau sekadar tertawa mendengar komentar satu sama lain.

“Ini bagian yang paling aku sukai dari buku ini,” ucap Aldo suatu malam sambil menunjuk satu baris kalimat dengan jarinya. “Kejahatan tidak pernah mendatangkan keuntungan yang abadi. Namun sayangnya, dalam banyak kasus, keadilan pun tidak selalu bisa terwujud sepenuhnya.”

Aku mengernyitkan dahi sedikit. “Kedengarannya cukup berat dan menyedihkan. Bukan kalimat yang biasanya membuat orang merasa senang.”

“Memang bukan kalimat yang lucu, tapi sangat menyentuh hati dan membuka pikiran,” jawabnya pelan.

Aku membaca ulang kalimat itu dalam hati, lalu mengangguk setuju. Aldo benar—kalimat itu menyentuh. Ia mengingatkanku pada semua kasus yang pernah ia ceritakan, tentang kejahatan yang sulit diungkap, serta banyaknya korban yang belum mendapatkan keadilan yang sesungguhnya.

“Aldo… apakah kamu sering merasa sedih atau kecewa melihat kenyataan seperti itu?” tanyaku lembut.

“Tidak merasa sedih berlebihan, tapi sering kali membuatku berpikir dan merenung dalam-dalam,” jawabnya jujur.

“Berpikir dan… bermeditasi?” godaku lagi sambil tersenyum nakal.

Aldo pun tertawa mendengarnya. “Kamu tidak akan pernah membiarkan aku melupakan usulan kata itu, ya?”

“Tentu saja tidak. Ini akan menjadi kenangan kita selama menulis bersama,” jawabku riang.

Kami pun kembali terdiam dan melanjutkan membaca. Di saat-saat seperti ini, rasanya dunia terasa begitu sempurna—tenang, damai, dan lengkap dengan kehadiran satu sama lain.

***

Hari Kesembilan: Janji di Tepi Pantai

Pada hari kesembilan, aku mengajak Aldo kembali mengunjungi Pantai St Kilda—tempat yang sering menjadi tempatku melepas lelah dan menenangkan pikiran saat merasa kesepian. Di musim semi ini, suasana pantai mulai terasa lebih hidup. Beberapa wisatawan berjalan santai di sepanjang garis pantai, anak-anak bermain dengan riang di pinggir air, dan sekawanan burung camar terbang rendah mencari makanan di atas permukaan laut.

“Anginnya terasa cukup sejuk, ya,” ucap Aldo sambil menarik kerah jaketnya lebih rapat menutupi lehernya.

“Baru sadar sekarang? Awalnya aku sudah bilang, Melbourne ini terasa dingin dan sejuk sepanjang tahun, tidak seperti kota-kota lain di Australia yang panas dan kering,” jawabku sambil tersenyum.

“Memang berbeda dari dugaanku. Aku kira seluruh wilayah Australia terasa panas seperti di kota Sydney,” katanya sambil tertawa kecil.

Kami berjalan beriringan menyusuri tepi pantai yang berpasir lembut, meninggalkan jejak kaki yang segera terhapus kembali oleh air ombak yang surut. Suara deburan ombak yang datang dan pergi terasa teratur, seperti sebuah lagu lembut yang selalu siap menenangkan hati yang gelisah.

“Aldo,” panggilku tiba-tiba, memecah keheningan yang menyenangkan itu.

“Iya, sayang?” jawabnya sambil menoleh ke arahku.

“Ada satu hal yang ingin aku tanyakan. Sangat penting bagiku.”

“Silakan saja. Tanyakan apa pun yang ada di pikiranmu.”

Aku berhenti melangkah, lalu menatap lurus ke arah hamparan laut yang luas membentang hingga ke ujung cakrawala. Napasku terasa sedikit tercekat sebelum akhirnya aku mengucapkannya.

“Apakah kamu… apakah kamu pernah berpikir untuk pindah dan menetap di Melbourne? Bukan hanya untuk berkunjung sebentar, tapi untuk tinggal selamanya bersamaku?”

Aldo terdiam sejenak, seolah mempertimbangkan jawabannya dengan matang.

“Aku tahu ini pertanyaan yang terasa mendadak dan mungkin terasa mustahil,” lanjutku cepat, takut ia salah mengartikan. “Tapi aku hanya ingin tahu… apakah kita memiliki masa depan yang jelas. Bukan hanya untuk dua minggu ini, bukan hanya untuk satu atau dua tahun ke depan, tapi untuk selamanya.”

Aldo segera melangkah mendekat, lalu memegang kedua tanganku erat-erat. Tangannya terasa dingin karena hembusan angin laut, namun genggamannya menghangatkan hatiku.

“Tari, percayalah padaku. Sejak hari pertama kamu berangkat ke sini, pertanyaan itu sudah sering terlintas di pikiranku. Aku sudah memikirkannya berulang kali.”

Aku menatap matanya, berharap mendengar jawaban yang bisa menenangkan kegelisahan hatiku.

“Aku sudah mencari informasi tentang syarat dan cara mendapatkan izin tinggal serta visa kerja di Australia. Memang tidak mudah, banyak persyaratan yang harus dipenuhi dan prosesnya memakan waktu yang lama. Tapi…” ia tersenyum lebar, “…aku tidak akan menyerah hanya karena itu terasa sulit.”

“Aldo…”

“Aku tidak bisa menjanjikan waktunya secara pasti. Mungkin baru bisa terwujud tahun depan, mungkin dua tahun lagi, atau mungkin memakan waktu hingga lima tahun ke depan. Tapi satu hal yang pasti: aku akan berusaha sebisa mungkin. Aku akan datang ke sini, menetap di kota ini, dan membangun masa depan kita bersama-sama.”

Mendengar janji itu, air mataku tumpah membasahi pipiku. “Kamu serius mengatakannya?”

“Aku sangat serius, Tari. Aku tidak akan bermain-main dengan perasaanmu, apalagi dengan masa depan kita. Aku pun tidak ingin terus hidup dalam kerinduan seperti ini selamanya.”

Aku segera memeluk tubuhnya erat-erat, seolah tak ingin melepaskannya lagi. “Aku akan menunggumu, Aldo. Berapa pun waktunya, aku akan tetap menunggumu.”

“Aku tidak ingin kamu hanya menunggu saja. Teruslah melangkah dan kejar semua mimpimu yang lain. Aku akan berusaha secepat mungkin untuk menyusulmu ke sini,” ucapnya lembut sambil membalas pelukanku.

Di tepi Pantai St Kilda, di bawah langit biru yang cerah, diiringi suara ombak dan kicauan burung camar, kami berdiri berpelukan erat. Janji itu terucap dengan sepenuh hati, menjadi ikrar yang tidak akan pernah kami ingkari, apa pun rintangan yang akan datang menghadang.

***

Hari Keempat Belas: Perpisahan yang Hanya Sementara

Dua minggu terasa berlalu begitu cepat, seolah baru saja dimulai dan kini sudah berakhir. Rasanya baru kemarin Aldo tiba di bandara dengan senyum lebar dan koper besarnya, dan hari ini kami harus berdiri kembali di tempat yang sama—namun kali ini aku yang mengantarnya pergi kembali ke Jakarta.

Kami berdiri tepat di depan pintu keberangkatan Bandara Tullamarine, posisi yang sama persis seperti saat ia datang dua minggu lalu. Namun suasana hatinya kini terasa sangat berbeda.

“Aldo…” suaraku terdengar pecah dan tercekik, tak sanggup menahan kesedihan yang mulai meluap.

“Tari, tolong jangan menangis,” ucapnya lembut sambil mengusap air mata yang mulai mengalir di pipiku menggunakan ujung jarinya yang hangat. “Ingatlah apa yang kita bicarakan. Ini bukan perpisahan yang selamanya.”

“Kapan kita bisa bertemu lagi? Kapan jarak ini akan benar-benar terputus?” tanyaku dengan suara yang terguncang.

“Aku belum bisa menentukan waktunya secara pasti, tapi percayalah, aku akan berusaha sekuat tenaga agar tidak menunggu terlalu lama,” jawabnya dengan nada yang berusaha tetap tegas meski terasa menyembunyikan kesedihan yang sama.

“Aldo, aku…”

Aku tak sanggup melanjutkan kalimatku. Isak tangis akhirnya meledak, dan aku tak mampu lagi menahan air mataku yang terus mengalir deras.

Aldo segera menarik tubuhku masuk ke dalam pelukannya yang hangat dan erat, seolah ingin menyatukan seluruh jiwa kami sebelum harus terpisah kembali.

“Dengarkan aku baik-baik, Tari,” ucapnya dengan suara yang sedikit bergetar karena emosi. “Aku sangat menyayangimu. Rasa sayang ini tidak akan berubah, tidak akan memudar, dan tidak akan terhalang oleh jarak apa pun. Percayalah padaku.”

“Aku pun sangat menyayangimu, Aldo. Lebih dari apa pun yang ada di dunia ini,” jawabku di sela-sela isak tangisku.

Aldo perlahan melepaskan pelukannya sedikit, lalu menatap mataku lekat-lekat, seolah ingin menyimpan gambaran wajahku dengan jelas di dalam ingatannya.

“Tahukah kamu? Saat pertama kali kita bertemu secara tidak terduga itu, aku tidak pernah membayangkan bahwa wanita yang ada di hadapanku saat itu akan menjadi alasan mengapa aku ingin menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih kuat.”

“Aldo…”

“Namun kini aku sudah tahu jawabannya. Kamu adalah alasan itu. Kamu adalah tempat pulang hatiku, di mana pun aku berada.”

Aldo lalu mencium keningku dengan lembut dan penuh makna—sebuah tanda kasih sayang yang dalam, sebuah janji yang tidak perlu diucapkan dengan kata-kata lagi.

“Pergilah, Aldo. Pergilah sebelum aku berubah pikiran dan memaksamu untuk tetap tinggal di sini bersamaku,” ucapku sambil tersenyum samar di sela air mataku.

Aldo membalas senyumanku, namun senyum itu terasa rapuh dan menyembunyikan kesedihan yang mendalam. “Sampai jumpa lagi, Tari.”

“Sampai jumpa lagi, Aldo.”

Aldo pun memutar badannya dan melangkah menuju pintu keberangkatan. Sesekali ia menoleh ke belakang, melambaikan tangannya, dan tersenyum meski air mata juga terlihat jatuh membasahi pipinya.

Aku melambaikan tangan sebagai balasan, tetap tersenyum meski hatiku terasa seperti terbelah dua karena rasa rindu yang kembali hadir.

Saat sosok Aldo akhirnya menghilang di balik pintu kaca yang tertutup rapat itu, aku tetap berdiri di tempat itu sendirian—di tengah keramaian bandara yang sibuk, menangis karena rasa kehilangan sesaat, namun tetap mampu tersenyum dengan keyakinan yang kuat.

Karena aku tahu dengan pasti: ini bukanlah akhir dari perjalanan kami.

Ini hanyalah sebuah jeda sementara.

Dan suatu hari nanti, kami pasti akan bertemu lagi—untuk selamanya.

1
Tamaa
/Toasted//Toasted/
Tamaa
Omoshiroi
Reverie_Vex: Makasih banyak! Senang banget kamu merasa ceritanya seru 🤗
Semoga tetap menyenangkan dibaca sampai bab-bab selanjutnya ya!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!