NovelToon NovelToon
Kamu Satu Dari Sejuta

Kamu Satu Dari Sejuta

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hsnwy

Seseorang yang mengharapkan cinta dari orang yang paling ia cintai, justru adalah orang yang paling menyakiti. Hingga suatu saat mungkin harapan itu akan muncul dan menemukan seseorang jauh dan mampu memberikan rasa nyaman dan cinta.

Raisa adalah gadis yang baik, namun dia tidak seperti wanita pada umumnya yang di berikan cinta seluas samudera, berharap bahwa suatu saat nanti akan ada cahaya di balik kegelapan yang menyelimuti hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 - Hari Pernikahan 1

Bab 23 - Hari Pernikahan 1

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Pernikahan Senopati dan Raisa akan dilangsungkan pukul sepuluh pagi. Sudah banyak tamu undangan dan kerabat yang datang, memenuhi tempat duduk yang telah disiapkan.

Di sebuah kamar hotel, Senopati sedang bersiap didampingi hanya oleh Radit. Ia mengenakan jas berwarna hitam elegan, disematkan setangkai bunga di saku jasnya. Pria itu selalu memancarkan pesona, dibalut dengan aura dingin yang menjadi ciri khasnya.

“Tuan, Anda sudah terlihat sangat tampan,” ujar Radit sambil terakhir kali merapikan kerah jas Senopati.

“Hm, aku sadar itu,” jawab Senopati tanpa ekspresi, namun dengan rasa percaya diri yang tinggi tanpa ragu.

“Tuan, apakah Anda benar-benar tidak berniat mengundang Tuan Doni dan Tuan Lingga?” tanya Radit hati-hati. Lingga adalah sepupu Senopati, putra dari Doni—saudara kandung ayah Senopati. Namun, hubungan keduanya memang tidak pernah terasa dekat.

“Untuk apa? Kami tidak sedekat itu,” jawab Senopati singkat. Ia memang sengaja tidak mengundang mereka. Sejak ayahnya meninggal dunia, ia sudah berniat untuk menjauh dan enggan bertemu keduanya.

“Tapi Tuan, bukankah ketidakhadiran mereka nanti akan menjadi sorotan dan bahan perbincangan orang banyak?”

Radit paham betul betapa sulitnya hal ini, apalagi mengingat sifat kedua orang itu. Namun bagaimanapun juga, menurutnya mereka tetaplah keluarga terdekat.

“Aku tidak peduli. Kehadiran mereka hanya akan menimbulkan pertanyaan dan masalah yang tidak perlu, dan aku tahu itu tidak akan membawa kebaikan apa pun,” jawab Senopati sambil terus merapikan penampilannya. “Lagipula, ini adalah pernikahanku. Siapa saja yang boleh hadir di sini haruslah atas persetujuanku.”

Setelah mengucapkan kalimat itu, Senopati berjalan keluar meninggalkan kamar. Radit hanya bisa menghela napas panjang. Ia tahu, jika keputusan sudah bulat diambil oleh tuannya, maka itulah yang akan terjadi.

Sementara itu, di kamar lain, Raisa juga sedang bersiap-siap. Tak lama lagi ia akan turun ke lantai dasar, tempat upacara pernikahan akan dilangsungkan. Raisa tampak memukau dalam balutan gaun pengantin putih yang sangat mewah. Riasan yang rapi dan lembut membuat wajahnya tampak bersinar dan semakin anggun.

Ia didampingi oleh dua sahabat karibnya, Tiara dan Angel. Tak lama kemudian, Indri masuk ke dalam ruangan. Gadis itu tertegun melihat kakaknya yang tengah bersiap, terpesona melihat betapa cantiknya Raisa dengan gaun panjang yang menjuntai indah menyentuh lantai.

“Kak Raisa, kamu benar-benar luar biasa cantiknya!” seru Indri takjub.

“Kamu juga terlihat sangat cantik hari ini, Dri. Kakak senang melihatmu tampil begitu anggun,” puji Raisa. Indri mengenakan kebaya berwarna ungu lembut yang membentuk lekuk tubuh rampingnya dengan sangat serasi.

“Benarkah? Terima kasih banyak, Kak,” jawab Indri sambil tersipu malu mendengar pujian itu.

“Raisa benar, Indri. Penampilanmu hari ini tak kalah menawan dengan calon pengantin kita,” tambah Tiara ikut memuji.

“Setuju! Aku juga bilang, hari ini Indri terlihat berbeda dan memukau!” timpal Angel sambil mengacungkan kedua jempolnya. Sikap ceria itu membuat Raisa dan Tiara tertawa melihat tingkah sahabat mereka.

Suara ketukan pintu terdengar, lalu masuklah Ardi dengan langkah pelan. Wajahnya terlihat penuh haru, matanya berkaca-kaca menatap putri pertamanya yang sudah berdiri tegak dalam balutan gaun pengantin itu.

“Raisa… putri papa,” ucapnya lirih sambil mendekat, lalu mengusap lembut bahu putrinya. “Hari yang papa tunggu-tunggu akhirnya tiba juga, tapi maafkan papa karena hari ini kamu menikahi pria yang bukan pilihanmu." Air mata yang sejak tadi di tahan akhirnya menetes juga. "Mama kamu pasti ikut bahagia melihatmu dari atas sana, melihatmu tumbuh menjadi wanita sebaik ini.” lanjutnya sambil memeluk putrinya semakin erat.

Marla yang berada di belakang Ardi menunjukkan wajah tidak suka dan kesal, karena menurutnya Ardi terlalu lebay, putrinya hanya menikah bukan meninggal dunia.

Raisa tersenyum tipis, air mata bahagia menggenang di sudut matanya. Ia menggenggam tangan Ardi dengan erat. “Terima kasih, Pa. Terima kasih sudah menjaga dan mendidik Raisa selama ini. Raisa berjanji akan menjadi istri yang baik, dan tidak akan membuat Papa kecewa.”

Di lantai dasar, suasana sudah semakin meriah. Musik pengiring mengalun lembut, ruangan dihias dengan bunga segar dan cahaya lampu yang hangat. Semua tamu sudah duduk menunggu, sesekali melirik ke arah pintu masuk dengan rasa penasaran.

Sementara itu, Senopati sudah turun ke bawah didampingi Radit. Pria itu melangkah dengan tenang dan penuh wibawa, wajahnya tetap datar namun setiap langkahnya memancarkan karisma yang membuat banyak tamu terpesona.

“Semua sudah siap, Tuan. Tidak ada kendala apa pun,” lapor Radit sambil memastikan segalanya berjalan lancar.

“Bagus. Pastikan tidak ada gangguan yang bisa merusak hari ini,” jawab Senopati singkat.

“Baiklah, Tuan. Sebaiknya Anda duduk di tempat yang telah disediakan. Saya permisi sebentar untuk memeriksa beberapa hal.”

Setelah mengucapkannya, Radit pun pergi meninggalkan tempat itu. Senopati hanya mengangguk singkat sebagai tanda mengerti.

Di mata orang lain, ia terlihat tenang dan biasa saja, seolah tidak ada hal istimewa yang sedang terjadi. Namun jauh di dalam hatinya, perasaan gugup sebenarnya menyelimuti batinnya. Ini adalah kali pertama dalam hidupnya ia akan berada di ruangan seluas ini, mengucapkan janji dan sumpah suci pernikahan kepada wanita yang sebentar lagi akan resmi menjadi pendamping hidupnya.

Suara bisik-bisik tamu terdengar samar, namun cukup jelas terdengar oleh telinganya.

“Wah, bukankah calon suaminya itu sangat tampan?”

“Benar sekali. Penampilannya begitu memukau dan memancarkan wibawa yang kuat.”

“Wanita beruntung mana yang berhasil memikat hatinya hingga bisa berdiri di sampingnya hari ini?”

Senopati tetap diam dan tidak menanggapi perkataan itu. Wajahnya masih terlihat datar, namun di dalam hatinya ia hanya memikirkan satu nama—Raisa. Ia membayangkan bagaimana penampilan wanita itu hari ini, dan rasa penasaran bercampur penasaran perlahan tumbuh mengusir sedikit rasa gugupnya.

Senopati berharap waktu cepat berlalu dan ia bisa pergi dari ruangan itu, baginya di depan banyak orang membuatnya sangat tidak suka, apalagi menjadi perhatian sedemikian rupiah oleh mata-mata yang tampak terus membicarakan dirinya.

Tak lama Radit terlihat berjalan mendekat ke arah Senopati, lalu menunduk berbisik ke telinga Senopati. Senopati yang mendengar apa yang di katakan oleh Radit, sempat terkejut lalu pergi meninggalkan tempatnya, di susul oleh Radit yang terlihat tergesa-gesa.

"Tuan, tunggu? Sebaiknya Anda, tidak perlu kesana biar saya saja yang menyelesaikan masalah ini, acara sebentar lagi akan di mulai?"

"Tidak, ini adalah urusanku, berani-beraninya dia datang kesini dan membuat keributan." Langkah Senopati semakin ia percepat meninggalkan aula pernikahannya.

"Hentikan...? Apa yang kamu lakukan di sini, apa pembicaraan kita semalam kurang jelas?" Teriak Senopati sekali lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!