NovelToon NovelToon
Penyesalan Terlambat Sang Mantan Suami

Penyesalan Terlambat Sang Mantan Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:28.9k
Nilai: 5
Nama Author: Reenie

Theo Falcon menganggap Zarlin Rahesa tidak lebih dari seorang ibu rumah tangga yang membosankan dan parasit. Demi ambisi dan pesona Bianca Amsel, Theo memfitnah, mengabaikan, dan bahkan menceraikan Zarlin tanpa memberinya sepeser pun. Dengan sebuah koper dan hati yang hancur, Zarlin pergi. Theo mengira Zarlin akan sangat terpukul. Namun, ia sangat salah. Zarlin menghilang dan kembali sebagai sosok yang sama sekali tidak dikenali, satu-satunya pewaris sebuah konglomerat yang cemerlang.

Situasi menjadi semakin kacau ketika Tristan Avalanka, CEO paling disegani dan dihormati dari perusahaan besar itu, berdiri di garis depan untuk melindungi Zarlin. Ketika bisnis Theo runtuh dan topeng Bianca terbongkar, Theo hanya bisa berlutut di tengah hujan deras, merangkak untuk memohon maaf kepada mantan istrinya. Tetapi bagi Zarlin, pintu pengampunan telah tertutup rapat, dan penyesalan Theo... sudah terlambat.

Follow tiktok : aricia.agestis6

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reenie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34. Zarlin Sakit

Fokus Zarlin benar-benar buyar. Di hadapannya, lembaran dokumen strategi untuk mendekati Siska tampak buram.

Kepalanya berdenyut semakin menyiksa. Zarlin mencoba menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan kesadarannya.

"Zarlin, kamu mendengarku?" tanya Tristan

Zarlin mendongak, mencoba memfokuskan pandangannya pada Tristan yang duduk di seberang meja.

"Ya. Lanjutkan saja."

Tristan menyipitkan mata. Ia menyadari ada yang tidak beres. Wajah Zarlin yang biasanya memancarkan aura tegas kini tampak sangat pucat, dengan rona merah yang tidak wajar di kedua pipinya.

Sebelum Tristan sempat bertanya lebih jauh, Zarlin bergerak berdiri, berniat mengambil map di ujung meja.

Namun, baru dua langkah, kedua kaki Zarlin seketika lemas. Pandangannya gelap dan tubuhnya terhuyung ke samping.

"Zarlin!"

Tristan dengan refleks langsung berdiri dari kursinya. Pria itu melompati jarak di antara mereka dan berhasil menangkap tubuh Zarlin sebelum wanita itu ambruk membentur lantai marmer.

Tristan menahan pinggang dan bahu Zarlin dengan erat. Jarak mereka sangat dekat, membuat Tristan bisa merasakan hawa panas yang ekstrem menguar dari tubuh wanita di pelukannya.

Tristan menempelkan punggung tangan ke dahi Zarlin. Saking panasnya, Tristan sampai terkejut.

"Badanmu panas sekali. Kita ke rumah sakit sekarang."

Zarlin yang masih memiliki sedikit kesadaran mencoba melepaskan diri, meski tenaganya sama sekali tidak ada.

Gengsinya sebagai seseorang yang kuat tetap nomor satu.

"Tidak usah. Aku hanya... butuh duduk sebentar." ujar Zarlin lemas.

"Jangan keras kepala!" bentak Tristan tegas, tidak menerima bantahan.

Ia langsung membawa tubuh lemas Zarlin menuju sofa panjang di dalam ruangan tersebut, lalu memanggil Christiana.

"Chris, kemari sekarang. Bawa tas Nona Zarlin."

Detik berikutnya, Christiana datang dengan wajah panik. Melihat kondisi Zarlin yang lemas di sofa, Christiana langsung berlari mendekat.

"Astaga, Nona Zarlin! Anda kenapa?"

"Zarlin demam tinggi. Saya akan membawanya ke rumah sakit sekarang memakai mobil saya," ujar Tristan sambil meraih kunci mobil dan jasnya.

"Baik, Tuan. Saya akan ikut untuk menjaga Nona Zarlin," ujar Christiana panik, langsung menggendong tas Zarlin di bahunya.

"Tidak, Chris. Kamu tetap di sini," potong Tristan.

"Seseorang harus tetap tinggal untuk mengawasi operasional perusahaan dan memantau pergerakan tim kita terkait Siska. Kamu yang paling tahu detail rencana ini."

Zarlin yang mendengar itu membuka matanya dengan susah payah. Ia mencengkeram ujung kemeja Christiana yang berada di dekatnya.

"Tidak... Christiana harus ikut. Aku tidak mau kalau hanya berdua denganmu, Tristan."

Tristan menghembuskan napas frustrasi. Di saat darurat seperti ini, Zarlin masih sempat-sempatnya memikirkan batasan di antara mereka.

Tepat di saat perdebatan kecil itu terjadi, pintu ruangan kerja Tristan kembali terbuka. Pak Bramasta Rahesa masuk dengan kening berkerut.

Pengusaha senior itu sengaja datang kembali karena ada beberapa poin strategi yang ingin ia bincangkan langsung dengan Tristan dan putrinya. Namun, apa yang dilihatnya di dalam ruangan langsung membuat senyumnya sirna.

"Ada apa ini? Zarlin?" Pak Bramasta bergegas mendekati sofa, menatap cemas pada anak tunggalnya yang sudah basah oleh keringat dingin.

"Nona Zarlin tiba-tiba drop dan demam tinggi, Tuan Bramasta. Tuan Tristan mau membawanya ke rumah sakit, tapi Nona Zarlin ingin saya ikut, sementara Tuan Tristan meminta saya menjaga perusahaan," lapor Christiana dengan cepat, menjelaskan situasi itu.

Pak Bramasta langsung menoleh ke arah Tristan, lalu ke arah Christiana. Sebagai seorang ayah dan pebisnis senior, ia langsung mengambil keputusan bijak.

"Christiana, kamu ikut Zarlin ke rumah sakit. Biar saya yang tinggal di sini dan menjaga Avalanka Group bersama tim Tristan. Kebetulan saya memang berniat membahas kelanjutan proyek ini hari ini." ujar Bramasta.

Tristan ingin membantah, namun ia segera mengangguk patuh.

"Baik, Tuan Bramasta. Terima kasih. Chris, ayo cepat."

Tristan kembali memapah Zarlin dengan sigap, memastikan tubuh wanita itu tetap seimbang hingga mereka mencapai parkiran dan masuk ke dalam mobil mewah milik Tristan.

Selama perjalanan menuju rumah sakit, Christiana duduk di kursi belakang bersama Zarlin, memeluk sahabatnya yang terus menggigil, sementara Tristan mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi di atas rata-rata.

...****************...

Sesampainya di ruang pemeriksaan rumah sakit, Zarlin langsung dibaringkan di atas ranjang periksa. Seorang dokter perempuan muda memeriksa suhu tubuh Zarlin dan menggelengkan kepala.

"Suhu badannya mencapai tiga puluh sembilan derajat. Ini karena kelelahan ekstrem dan stres, Nona Zarlin. Anda harus benar-benar istirahat," ujar dokter itu dengan tegas.

Zarlin yang tidak suka berlama-lama di rumah sakit langsung berusaha menegakkan punggungnya.

"Dok, berikan saja saya obat yang paling cepat efeknya. Saya tidak punya waktu untuk rawat inap ataupun diinfus, pekerjaan saya di kantor menumpuk."

Dokter itu menghela napas, menatap pasiennya yang keras kepala.

"Kalau begitu, saya akan berikan suntikan penurun demam di lengan Anda sekarang agar panasnya cepat turun. Tapi setelah ini, Anda harus pulang dan tidur total. Jangan menyentuh pekerjaan dulu."

Zarlin hanya mendengus pasrah. Ia meringis sedikit saat jarum suntik menembus kulit lengan kirinya, sementara Christiana memegang tangan kanannya untuk menenangkan.

Selesai disuntik dan diberikan resep obat, dokter akhirnya mengizinkan Zarlin untuk langsung pulang supaya dapat beristirahat.

...****************...

Sore harinya, mobil Tristan berhenti di depan rumah mewah keluarga Rahesa. Tristan kembali membantu memapah Zarlin masuk ke dalam rumah, diikuti oleh Christiana yang membawakan kantong obat dari apotek rumah sakit.

Di dalam rumah, Ibu Zarlin sudah menunggu dengan wajah penuh kecemasan setelah dikabari oleh Bramasta.

Wanita paruh baya yang anggun itu langsung mengambil alih posisi Zarlin, membantu putrinya untuk bersandar di ranjang kamar tidurnya yang nyaman.

Zarlin yang sudah merasa sedikit lebih mendingan efek obat suntik tadi, menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal. Matanya melirik ke arah pintu kamar, di mana Tristan dan Christiana masih berdiri memastikan kondisinya.

Melihat Christiana bersiap untuk pamit karena jam kerja sudah hampir habis, Zarlin langsung bersuara dengan nada lemah tapi menuntut.

"Chris... jangan pulang dulu. Temani aku di sini malam ini." ujar Zarlin

Christiana menatap ibunya Zarlin yang langsung mengangguk setuju.

"Iya, Christiana. Tolong temani Zarlin dulu ya. Ibu khawatir kalau dia nekat memeriksa berkas kantor lagi secara diam-diam malam ini."

"Baik, Nona. Baik, Ibu. Saya akan tinggal di sini," jawab Christiana tulus.

Zarlin tersenyum lega. Namun, sedetik kemudian, pandangannya beralih pada Tristan yang berdiri di sebelah Christiana.

Tatapan mata Zarlin kembali berubah menjadi dingin dan tegas, seolah-olah momen kedekatan fisik mereka di kantor tadi tidak pernah terjadi.

"Tristan," panggil Zarlin datar.

Tristan mendongak, menatap Zarlin. "Ya?"

"Terima kasih sudah mengantarku ke rumah sakit. Tapi sekarang aku sudah aman di rumah bersama ibuku dan Christiana. Kamu bisa pergi dari rumahku sekarang. Urus saja proyek kita," ucap Zarlin tanpa basa-basi, langsung mengusir Tristan dari kamarnya.

Ibu Zarlin sempat terkejut dengan kelakuan ketus putrinya, namun Tristan justru hanya membuat senyum tipis.

Pria itu sudah sangat paham dengan watak keras dan gengsi setinggi langit Zarlin. Pengusiran ini justru membuktikan bahwa Zarlin sudah mulai kembali ke mode aslinya sebagai wanita tangguh.

"Baiklah. Istirahat yang cukup, Zarlin. Jangan sentuh satu pun dokumen pekerjaan jika kamu tidak mau aku membatalkan kerja sama kita secara sepihak," ancam Tristan dengan nada santai namun tegas.

Tristan kemudian menoleh ke arah Christiana. "Saya titip Zarlin ya, Chris. Pastikan dia minum obatnya."

"Baik, Tuan Tristan. Hati-hati di jalan," jawab Christiana sopan.

Tristan memberikan anggukan hormat terakhir kepada Ibu Zarlin, sebelum akhirnya membalikkan badan dan keluar dari kamar tersebut.

1
Mommy tulipp
Wajar Paulus, anak sprti itu memang harus dikasih paham👍
Mommy tulipp
Paulus menganggap dia orang tua yg gagal💔
Mommy tulipp
Jangan Pak Bram, kau memang setulus itu kpd sahabatmu, tapi melakukan kekerasan tdk membuat masalah selesai. Tahan emosi Pak Bram, ini semua gara2 Theo. Kok ada lah manusia sprti ini, tdk habis pikir Ya Allah
Mommy tulipp
Sadar Theo, kamu termakan cinta bodoh
🔵 MULIANA💦
memangnya kamu yang bodoh, gak teliti dalam semua hal 🫣
🔵 MULIANA💦
sekarang baru takut /Proud/
Tulisan__mawar
Mau pergilah, ngapain diam aja. heleh kekayaan istrimu lebih dari kamu, dia bukan wanita sambarangan yang bisa kamu sakiti terus menerus. idih, najis banget. katanya kaya, sewa art aja susah maunya zarlin. dia istrimu theo falcon bukan babu ibu dan sekertaris mu, gitu dong. kasih sianida aja di makanan mereka bertiga😤😫☺️
Aquarius97 🕊️
please yah, sabar dikittt lagi 😤
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
jadi malu kan kalian berdua sekarang
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
namanya nasib nggak ada yang tau
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
makanya jadi orang jangan rendahin orang lain
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
roda pasti berputar, itu kata orang tua dulu
Kak Umi
Karena ceritanya menarik, maka berlanjutlsh🙏🙏
Kak Umi
😍😍😍😍😍😍😍😍
Kak Umi
Lanjut lanjutkan 🙏🙏🙏
Kak Umi
Hay, aku datang turut meramaikan, datang juga turut meramaikan novel aku🙏🙏
Cimol krispy
bener banget tuh, Zarlin butuh menyembuhkan mentalnya dulu yang sudah dihancurkan habis2an oleh Theo
-Thiea-
kata-kata mu menohok hati neng zarlin.😁
-Thiea-
istirahat dulu atuh neng. yang lain bisa diawasi sama Tristan dan cristiana . bapakmu juga bisa membantu.
-Thiea-
duduk apanya neng. udah mau pingsan gitu. kamu harus sehat untuk hadepin mantan suami gila mu zarlin. ayok, turutin Tristan.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!