Aku sibuk mengurus ibumu di atas pembaringan, sedangkan kamu sibuk menggoyang bosmu yang haus belaian. -Wulan-
Seperti cahaya purnama yang tertutup mega, semua kebaikan dan juga bakti yang sudah diberikan oleh Wulan untuk keluarganya sama sekali tak nampak di mata Awan. Wulan yang sudah dengan sabar merawat sang mertua yang lumpuh karena stroke di sela-sela kewajibannya menjadi seorang ibu muda sampai membuat wanita itu tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri tidak lantas membuat wanita itu mendapatkan balasan kesetiaan.
Wulan memilih untuk berpisah saat memergoki Awan berselingkuh. Wanita itu rela menjanda daripada batinnya selalu tersiksa karena Awan telah terpikat pada seorang janda kaya yang merupakan bos di tempat sang suami bekerja.
Lantas, bagaimanakah Wulan menjalani hari-harinya sebagai seorang janda? Dan bagaimana kehidupan Awan setelah kepergian Wulan? Apakah istri baru Awan bisa menjadi sosok istri dan menantu yang sempurna atau justru durhaka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laviolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PTM 15. Kejang
"Jadi, ini siapa Mas?"
Duduk di hadapan Mega dan Awan, Ambar meminta penjelasan langsung dari sang kakak. Melihat kedekatan yang terjalin di antara Awan, Mega dan juga Tasya semakin meyakinkan Ambar jika hubungan mereka tidak hanya sekedar saling mengenal.
Awan dan Mega saling bertatap netra. Mereka seakan saling mengirim sinyal rasa kalut yang luar biasa hingga membuat keduanya bingung akan jawaban apa yang pantas mereka berikan.
"Ini adalah Mega, Mbar. Mega ini adalah kekasihku!"
Akhirnya Awan memutuskan untuk tidak menutup-nutupi perihal hubungannya dengan Mega. Ia percaya penuh jika sang adik bisa diajak bekerja sama dalam hal ini. Terutama untuk menyembunyikan perselingkuhan ini dari Wulan.
"Pacar?" tanya Ambar meyakinkan. "Itu artinya kamu selingkuh, Mas?"
"Apapun itu namanya, aku dan Mega sama-sama saling membutuhkan Mbar. Jadi, menurutku ini bukan perselingkuhan."
Ambar hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sang kakak yang nekat seperti ini. Ia melirik ke arah Mega yang raut wajahnya juga terlihat santai.
"Memang apa sih Mbak yang bikin kamu terpikat sama mas Awan?" tanya Ambar kepada Mega. Kali ini ia benar-benar sangat penasaran.
"Emmm jika itu yang kamu tanyakan, aku sendiri juga bingung mau menjawab apa. Namun aku merasakan kenyamanan ketika berada di dekat mas Awan sama seperti anakku."
Ambar melirik ke arah Tasya yang gelendotan di tubuh sang kakak. Dari gestur gadis kecil ini memang terlihat nyaman sekali di pelukan Awan.
"Memang kamu tidak kasihan sama mbak Wulan Mas? Dia pasti akan sangat kecewa kalau tahu kamu berselingkuh."
Ambar mencoba memastikan bagaimana sebenarnya yang dirasakan oleh Awan. Ia ingin tahu apakah Awan benar-benar melibatkan perasaannya atau hanya ingin bermain-main saja.
"Sudahlah, tidak perlu lagi membahas soal Wulan, Mbar. Itu nanti akan menjadi urusanku. Lagipula saat ini aku sudah naik jabatan menjadi seorang wakil direktur dan itu semua berkat Mega yang langsung memilihku."
"Hah, wakil direktur?" tanya Ambar seakan tidak percaya.
"Ya, itu benar Mbar. Aku yang sudah memilih kakakmu untuk menjadi wakil direktur. Jadi saat ini posisi kakakmu ini tidak kaleng-kaleng di kantor."
Waaowww gila.. Kalau seperti ini aku bisa ketularan banyak uang. Minta apapun pasti dibelikan sama mas Awan. Hebat juga nih kakakku bisa menggaet seorang direktur utama. Mungkin aku memang harus ikut merahasiakan perselingkuhan mas Awan.
Ambar bermonolog dalam hati. Melihat wanita simpanan sang kakak merupakan orang kaya, ia memutuskan untuk masa bodoh dengan apa yang terjadi. Ia berpikir akan lebih banyak mendapatkan keuntungan apabila ia tetap pura-pura tidak tahu.
"Jadi aku minta kamu tetap diam Mbar. Jangan sampai Wulan tahu tentang hal ini," pungkas Awan memberikan satu peringatan.
"Hmmmm.. Menjaga rahasia itu merupakan satu hal yang sulit Mas. Kira-kira aku dapat imbalan apa?" tantang Ambar mencoba mencari keuntungan.
"Astaga, hanya perkara seperti ini saja kamu minta imbalan Mbar?" protes Awan yang seakan keberatan dengan permintaan Ambar.
"Ya, terserah kamu saja Mas, mau rahasia ini tetap aman atau kamu pi..."
"Sudah, sudah!" Mega memotong ucapan Ambar. Ia buka dompet dan ia keluarkan sebuah kartu dari dalam sana. "Ini ada kartu kredit yang bisa kamu gunakan sesuai kebutuhanmu. Bawalah!"
Sepasang bola mata Ambar membulat sempurna melihat kartu tipis berwarna emas yang baru pertama kali ia lihat. Ia nampak sedikit ragu untuk menerimanya. Sejenak, ia menatap wajah Mega dan Mega pun hanya mengangguk pelan.
"Terima kasih ya Mbak ipar. Kalau seperti ini rahasia dijamin aman sampai kiamat," janji Ambar dengan senyum yang tiada henti tersungging di bibir.
"Sama-sama. Kamu jika butuh sesuatu jangan sungkan untuk meminta kepadaku," ucap Mega tanpa banyak berpikir.
"Hmmmmmm... Andai saja kamu bertemu dengan mbak Mega dari dulu, pasti kehidupan kita jauh lebih baik daripada sekarang Mas."
"Ssstttt.... Sudah Mbar. Jangan bikin malu aku."
"Sudah, tidak perlu membahas yang memang tidak bisa diputar ulang," ucap Mega memperingatkan.
"Kamu tidak mau menjenguk ibu Mbar?" Awan mencoba mengganti topik pembicaraan. Ia merasa sang adik sudah bisa diajak bekerja sama untuk menutupi perselingkuhan yang ia lakukan.
Ambar memasukkan kredit card yang ia terima dari Mega ke dalam tas yang ia bawa. "Aku memang berencana menginap di kontrakanmu untuk beberapa hari ke depan Mas. Jadi besok aku akan datang ke kontrakanmu."
"Mengapa tidak malam ini saja?" tanya Awan penasaran.
Ambar tersenyum gugup. Ia harus mencari jawaban yang tepat agar sang kakak tidak mengetahui apa kegiatannya selama ini.
"Malam ini aku sudah ada janji sama teman, Mas. Jadi besok saja."
"Lalu kuliahmu bagaimana? Lancar kan?"
"Oh tentu lancar jaya. Tenang saja sebentar lagi aku wisuda kok."
"Aku pegang ucapanmu Mbar."
Ambar kembali tersenyum kikuk. Saat ini ia benar-benar tidak bisa menahan jantungnya yang berdegup kencang. Ia harus hati-hati dalam berucap agar tidak terbongkar.
"Siap Mas."
***
Kamar itu nampak temaram dan sunyi. Setelah seharian mengurus rumah, mengurus anak dan mengurus sang mertua, Wulan bisa mengistirahatkan tubuhnya dengan tenang. Kini di jam satu dini hari, wanita itu nampak hanyut dan larut dalam buaian mimpi.
Tubuh Wulan sedikit mengeliat ketika merasakan posisi tidurnya yang kurang nyaman. Sedari tadi ia tidur dalam posisi miring mengingat sang anak yang ingin selalu berada di dekapannya. Ketika menggeser tubuh, tangan Wulan secara tidak sengaja mengenai kepala Bagas yang seketika membuat dua bola mata wanita itu terbuka.
"Ya Tuhan, badan kamu panas sekali, Nak!"
Wulan yang sebelumnya dalam posisi berbaring kini terduduk seketika kala suhu tubuh Bagas meningkat. Wulan bertambah panik ketika melihat sang anak yang tiba-tiba kejang.
"Ya Tuhan... Nak, kamu kenapa?"
Wulan menepuk-nepuk pipi Bagas untuk tetap membuat bayi itu memiliki kesadaran. Ia tidak tahu harus melakukan apa ketika anak dalam posisi kejang seperti ini. Hingga ingatannya tertuju pada salah satu konten edukasi seorang dokter agar tetap tenang ketika anak kejang karena demam.
Wulan memiringkan tubuh Bagas ke kiri. Ia tepuk-tepuk punggung Bagas dengan telapak tangan menguncup. Berkali-kali ia melakukan hal itu sampai Bagas berhenti kejang.
"Nak... Kamu kenapa?"
Ada satu kelegaan yang membalut hati Wulan ketika melihat sang anak berhenti kejang. Namun bagaimanapun juga rasa khawatir itu tetap merajai hati. Wulan takut jika sampai ada hal serius yang terjadi pada sang anak.
"Mas Awan!"
Wulan bangkit dari posisinya duduknya. Sembari menggendong Bagas, Wulan meraih ponsel di atas nakas dan segera menghubungi sang suami. Dahinya sedikit mengernyit ketika melihat penunjuk waktu yang ada di layar ponselnya.
"Jam satu dini hari? Kenapa mas Awan belum pulang?"
Wulan menghubungi sang suami. Berkali-kali ia melakukan panggilan tapi sama sekali tidak diangkat oleh si pemilik telepon. Wulan nampak frustrasi dan memilih untuk tidak lagi menghubungi Awan.
Ting!
Satu notif pesan whatsapp, masuk di ponsel Wulan. Dengan cepat, Wulan membaca isi pesan itu.
Aku sedang ada pekerjaan di luar kota. Jangan ganggu aku.
Satu pesan yang membuat tubuh Wulan membeku. Satu pesan yang terasa sangat dingin, sedingin hembusan angin malam yang ada di luar sana. Satu pesan yang semakin menegaskan jika panggilan telepon dirinya adalah pengganggu kesibukan sang suami.
Air mata itu menetes perlahan. Cepat-cepat Wulan mengusap air matanya sendiri dengan jantung yang berdenyut nyeri. Ia meraup udara dalam-dalam dan ia hembuskan kasar.
"Aku tidak boleh cengeng. Aku harus bisa mengatasi ini sendiri."
Wulan berencana memesan taksi online. Namun rencananya itu terhenti ketika ia menyadari jika sudah tidak ada lagi sisa uang yang ia miliki. Mendadak, wanita itu terlihat begitu frustrasi. Hingga ingatannya tertuju pada seseorang yang ia rasa bisa menolongnya.
"Risma!" pekik Wulan. "Ya, aku harus meminta bantuan kepada Risma dan Toni. Semoga mereka bisa membantu."
.
.
.