Lin Fan, seorang pemuda dari Clan Lin yang hampir punah, dilahirkan dengan meridian tertutup—cacat bawaan yang membuatnya dijuluki "Sampah Klan" selama 16 tahun. Dihina oleh tunangannya, dicampakkan oleh kerabat, dan dipaksa bekerja sebagai pelayan, Lin Fan hidup dalam bayang-bayang rasa malu.
Namun, nasib berubah ketika ia secara tidak sengaja menemukan sebuah Manik Giok Hitam berdarah di reruntuhan kuno keluarganya. Manik itu tidak memberinya kekuatan instan, melainkan kemampuan terlarang: "Pemurnian Mutlak". Ia bisa mengubah limbah qi menjadi esensi murni, menyempurnakan pil sampah menjadi obat dewa, dan melihat kelemahan setiap teknik musuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Takindomaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Pertemuan Dua Naga Tua
Matahari terbit dengan cahaya yang menyilaukan, memantulkan kilauan pada genangan air sisa hujan semalam. Di Kota Qingyun, ketegangan tidak berkurang, melainkan berubah bentuk menjadi bisik-bisik yang lebih intens di setiap sudut pasar dan kedai teh.
Lin Fan menghabiskan pagi harinya dengan membersihkan kandang kuda, tugas rutinnya yang kini terasa seperti meditasi aktif. Setiap ayunan sekopnya presisi, setiap langkahnya efisien. Ia menggunakan kesempatan ini untuk melatih kontrol Qi-nya dalam kondisi fisik yang lelah, memastikan bahwa fondasi Level 6-nya benar-benar kokoh.
Namun, fokus utamanya hari ini bukan pada pekerjaan, melainkan pada informasi.
Saat istirahat siang, ia melihat Lin Yue berjalan cepat melintasi halaman, membawa nampan berisi teh herbal menuju paviliun tamu di sayap timur penginapan "Awan Terbang". Paviliun itu khusus disediakan untuk Elder Huo dari Clan Yan.
Lin Fan menunduk, pura-pura sibuk mengikat tali jerami, namun matanya mengamati setiap gerakan Lin Yue. Gadis itu masuk ke paviliun, tinggal selama sepuluh menit, lalu keluar dengan wajah yang sedikit lebih pucat dari biasanya.
Setelah shift-nya selesai, Lin Fan menunggu Lin Yue di tempat pertemuan rahasia mereka: sebuah pohon beringin tua di belakang perpustakaan yang akarnya menjalar hingga ke selokan kering.
"Apa yang kau dapatkan?" tanya Lin Fan segera setelah Lin Yue muncul dari balik semak-semak.
Lin Yue menarik napas dalam, tangannya masih gemetar sedikit. "Elder Huo... dia sangat menakutkan, Lin Fan. Auranya berat, seperti gunung yang siap runtuh. Dia tidak banyak bicara, tapi pertanyaannya tajam."
"Apa yang dia tanyakan?"
"Dia bertanya tentang siapa saja yang memiliki akses ke perpustakaan tua dalam sebulan terakhir. Dia juga bertanya tentang Lin Hu, dan apakah ada konflik internal di Clan Lin yang mungkin melibatkan pencurian atau sabotase." Lin Yue menatap Lin Fan dengan cemas. "Aku mencoba mengalihkan pembicaraannya dengan mengatakan bahwa Lin Hu adalah orang yang ceroboh dan sering kehilangan barang, tapi Elder Huo sepertinya tidak sepenuhnya percaya. Dia bilang, 'Kecerobohan adalah topeng yang buruk untuk kejahatan yang terencana.'"
Lin Fan mengerutkan kening. Elder Huo memang cerdas. Dia mencium adanya manipulasi.
"Apakah dia menyebutkan namaku?" tanya Lin Fan.
"Tidak secara langsung," jawab Lin Yue. "Tapi dia menunjukkan sebuah gambar sketsa kasar. Seorang pemuda berpakaian pelayan, postur kurus, wajah pucat. Itu... itu mirip sekali dengan deskripsimu saat pertama kali kau bertemu Yan Lie."
Jantung Lin Fan berdebar kencang, namun wajahnya tetap tenang. "Dia sudah punya tersangka. Atau setidaknya, dia punya arah penyelidikan."
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Lin Yue panik. "Haruskah kita lari?"
"Lari ke mana?" Lin Fan menggeleng. "Jika kita lari sekarang, kita mengakui kesalahan. Dan Clan Yan akan memburu kita sampai ke ujung dunia. Selain itu, aku belum selesai dengan Lin Hu."
"Jadi apa rencanamu?"
Lin Fan tersenyum tipis, sebuah rencana berbahaya mulai terbentuk di kepalanya. "Kita tidak bisa menghentikan penyelidikan Elder Huo. Tapi kita bisa mengarahkannya. Kita perlu memberinya 'kambing hitam' yang lebih meyakinkan daripada seorang pelayan tak bernama."
"Siapa?"
"Lin Hu sendiri," kata Lin Fan dingin.
Lin Yue terbelalak. "Gila! Bagaimana caranya?"
"Elder Huo curiga ada konflik internal. Lin Hu baru saja dihukum berat dan kehilangan banyak uang. Dia putus asa. Jika Elder Huo menemukan bukti—atau setidaknya indikasi kuat—bahwa Lin Hu lah yang mencuri peta asli (yang sebenarnya tidak ada) dan menjualnya ke pihak ketiga untuk mendapatkan uang cepat, atau bahwa Lin Hu lah yang sengaja menjebak Yan Lie untuk merusak reputasi saingannya... maka Elder Huo akan fokus pada Lin Hu."
"Tapi itu bohong!"
"Di dunia ini, kebenaran seringkali ditentukan oleh siapa yang bisa membuktikan kebohongan mereka dengan lebih baik," kata Lin Fan. "Dan aku punya akses ke Gudang Obat Lin Hu. Aku juga tahu kebiasaan Lin Hu. Dia suka judi di pasar gelap. Dia punya utang. Itu motif yang sempurna."
Lin Yue menelan ludah. "Kau ingin memalsukan bukti bahwa Lin Hu adalah dalangnya?"
"Bukan memalsukan dari nol," koreksi Lin Fan. "Aku hanya akan memperjelas jejak yang sudah ada. Malam ini, aku akan menyusup ke kamar Lin Hu lagi. Bukan untuk mencuri, tapi untuk 'menanam' sesuatu. Sebuah surat palsu yang menunjukkan komunikasi antara Lin Hu dan seorang 'agen rahasia' dari klan saingan lain, membahas tentang penjualan informasi lokasi Lembah Hitam."
"Dan surat itu akan ditemukan oleh Elder Huo?"
"Tepat. Aku akan meninggalkan petunjuk kecil yang mengarahkan perhatian Elder Huo ke kamar Lin Hu. Mungkin sebuah sobekan kertas dengan tulisan tangan Lin Hu yang jatuh di jalur yang sering dilalui mata-mata Elder Huo."
Lin Yue memandang Lin Fan dengan campuran kekaguman dan ketakutan. "Kau benar-benar tanpa ampun, Lin Fan."
"Aku hanya bertahan hidup," jawab Lin Fan datar. "Siapkan tinta dan kertas yang mirip dengan yang digunakan Lin Hu. Aku butuh sampel tulisan tangannya. Kau bisa mendapatkannya dari tagihan-tagihan lama di kamarnya, kan?"
Lin Yue mengangguk pelan. "Aku bisa melakukannya. Tapi hati-hati, Lin Fan. Jika ketahuan..."
"Aku tidak akan ketahuan," janji Lin Fan. "Karena malam ini, Lin Hu akan terlalu sibuk dengan masalahnya sendiri untuk memperhatikan bayangan di belakangnya."
Malam itu, angin berhembus lebih kencang. Langit mendung, menjanjikan badai baru.
Lin Fan mengenakan pakaian hitamnya, wajahnya ditutupi kain, dan bergerak seperti hantu di atap-atap kediaman Clan Lin. Ia telah mempelajari pola patroli penjaga cabang utama selama tiga hari terakhir. Dia tahu celah waktunya.
Ia mendarat di balkon kamar Lin Hu dengan hening. Dari dalam, terdengar suara gelas pecah dan teriakan marah Lin Hu.
"Sialan! Sialan semua! 500 Batu Spirit hilang begitu saja! Dan sekarang aku harus memberikan akses gudang obat pada sampah itu?!"
Lin Fan tersenyum sinis di balik kain penutup wajahnya. Marahlah, Lin Hu. Kemarahanmu membuatmu ceroboh.
Ia menunggu hingga Lin Hu tertidur lelap karena kelelahan dan mabuk arak murah. Kemudian, ia membuka jendela kamar dengan hati-hati.
Di dalam kamar, bau alkohol menyengat. Lin Hu tidur pulas di atas tempat tidurnya, mulutnya terbuka, mendengkur keras.
Lin Fan masuk. Matanya cepat memindai ruangan. Ia menuju meja tulis Lin Hu. Di sana, terdapat tumpukan kertas berantakan. Ia mengambil selembar kertas kosong dan pena. Dengan tangan yang stabil, ia mulai menulis surat palsu.
Isinya singkat dan padat:
"Informasi lokasi Biji Api telah dikonfirmasi. Ledakan di Lembah Hitam akan mengalihkan perhatian Clan Yan. Pembayaran tahap kedua akan dikirim setelah kekacauan mereda. - X"
Tulisan itu dibuat meniru gaya tulisan Lin Hu yang agak miring dan tergesa-gesa, berdasarkan sampel yang diberikan Lin Yue siang tadi. Lin Fan bahkan menambahkan noda arak di sudut kertas agar terlihat autentik.
Setelah surat itu selesai, ia melipatnya kecil-kecil dan memasukkannya ke dalam saku jubah Lin Hu yang tergeletak di kursi. Tidak terlalu dalam, tapi cukup tersembunyi agar tidak jatuh sendiri, namun mudah ditemukan jika seseorang menggeledah saku itu.
Sebagai bonus, Lin Fan mengambil sebuah cincin perak murah milik Lin Hu—barang yang biasa dipakai Lin Hu saat berjudi ilegal—dan melemparkannya ke kolong tempat tidur, dekat dengan kaki Lin Hu. Cincin itu memiliki ukiran lambang sindikat judi bawah tanah "Naga Hitam", yang dikenal memiliki koneksi dengan mata-mata asing.
Ini adalah bukti pendukung. Surat itu menyatakan konspirasi, cincin itu menyatakan koneksi kriminal. Kombinasi yang mematikan.
Sebelum pergi, Lin Fan mengambil secarik kecil dari draft surat yang ia coret-coret sebelumnya, dan menjatuhkannya di koridor luar, tepat di jalur yang diketahui sering dilewati oleh salah satu pelayan pribadi Elder Huo yang sedang melakukan patroli diam-diam.
Tugas selesai.
Lin Fan keluar dari kamar, menutup jendela, dan menghilang ke dalam kegelapan malam.
Besok pagi, ketika Elder Huo menemukan petunjuk itu, kemarahannya akan bergeser dari misteri peta palsu menuju kemarahan terhadap pengkhianatan dan ketidakprofesionalan Lin Hu. Dan Clan Lin, demi menjaga hubungan dengan Clan Yan, akan terpaksa menghukum Lin Hu lebih berat lagi.
Lin Hu akan hancur. Dan Lin Fan akan bebas dari sorotan.
Namun, saat Lin Fan kembali ke gubuknya, ia merasakan tatapan aneh dari kegelapan. Sesuatu... atau seseorang... sedang mengamatinya dari kejauhan.
Ia berhenti, menoleh ke arah atap gedung sebelah. Kosong. Hanya angin dan daun-daun yang bergoyang.
"Mungkin hanya perasaan," gumamnya. Tapi instingnya berkata lain. Ada mata yang melihat.
Siapa?
Apakah Elder Huo sudah lebih cepat dari perkiraannya? Atau ada pemain ketiga di kota ini?
Lin Fan mempercepat langkahnya, kembali ke gubuknya, dan mengunci pintu. Malam ini, ia tidak akan tidur nyenyak.