Li Yunru tidak pernah menyangka, bahwa cincin perak berukir naga yang menjadi hadiah saat membeli seekor kelinci akan mengubah seluruh hidupnya—menyeretnya ke dunia kuno tempat manusia dan beastmen hidup berdampingan.
Belum sempat memahami situasi, Li Yunru malah terikat sebagai pasangan hidup Raja Naga Putih wilayah utara, Bai Muzhi. Berkat cincin misterius itu, mimpi Li Yunru untuk menjadi koki akhirnya terwujud. Namun, kedatangannya ke dunia itu ternyata bukan kebetulan.
Sedikit demi sedikit, tabir asal-usulnya mulai terbuka. Dan musuh-musuh yang selama ini bersembunyi ikut bergerak. Di tengah bahaya, rahasia dan takdir yang menantinya ... mampukah Li Yunru bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memamerkan Keahlian
Ruu akhirnya menendang elang hitam itu tanpa memperhatikannya sama sekali, lalu melompat ringan ke atas tempat tidur. Tubuh bulatnya mendarat tepat di samping Li Yunru.
"Tuan, kamu tidak bisa makan daging sapi."
Li Yunru langsung mengernyit, jelas tidak setuju. "Mengapa tidak bisa? Sapi itu untuk dimakan, bukan dibesarkan lalu dibuang dan dibiarkan mati karena usia tua, bukan?"
Ruu menarik napas seolah sedang menjelaskan sesuatu yang sangat penting. "Para manusia setengah binatang percaya bahwa sapi adalah reinkarnasi Dewa Binatang."
Li Yunru langsung terdiam sesaat dan mengernyit. Lalu kemudian membalas tanpa ragu. "Omong kosong! Kalau Dewa Binatang bereinkarnasi jadi sapi, berarti selama ini aku makan dewa?"
Ia semakin kesal saat memikirkannya.
Siapa yang pertama kali menyebarkan teori aneh seperti itu?
Jika dewa benar-benar mati dan bereinkarnasi, lalu siapa yang menggantikan posisinya?
"Terlebih lagi, aku adalah manusia, bukan manusia setengah binatang. Bahkan jika Dewa Binatang merendahkan dirinya dengan bereinkarnasi menjadi sapi, lalu sapi yang mana?" lanjutnya, logikanya mulai berjalan liar. "Ribuan sapi di dunia ini—apakah semuanya reinkarnasi Dewa Binatang?"
Ia menyilangkan tangan di depan dada, jelas tidak akan percaya tanpa bukti yang masuk akal.
Akhirnya, Hei Sanfeng mendapat kesempatan untuk menyela. Ia mengibaskan sayapnya sambil mendengus.
"Jangan terlalu dianggap serius. Itu hanya sebagian kepercayaan saja," ujarnya santai. "Jelas aku dan naga sakit itu juga makan daging sapi."
Ia melirik Bai Muzhi dengan nada mengejek di kalimat terakhir.
Mereka hidup berdampingan dengan ras manusia yang memang mengonsumsi daging sapi. Jadi kepercayaan tentang Dewa Binatang itu, baginya, sama sekali tidak kredibel.
Bukankah lebih masuk akal jika Dewa Binatang bereinkarnasi menjadi singa atau naga? Mengapa harus menjadi sapi yang hanya makan rumput?
Hei Sanfeng kembali menatap Ruu dengan sinis. "Jangan munafik! Aku tahu kamu juga makan daging sapi."
"Aku belum menjelaskan semuanya!" Ruu memutar bola matanya kesal. Telinganya bergerak-gerak, lalu ia kembali menatap Li Yunru. "Tuan, apakah kamu lapar?"
"Ya. Tapi aku ingin masak sendiri."
"Mengapa memasak sendiri? Ada koki yang bisa memasak di istana ini," sahut Hei Sanfeng tidak setuju, suaranya terdengar sedikit meremehkan.
Li Yunru menggeleng pelan. Tatapannya berubah serius. "Aku hanya ingin membuktikan sesuatu saja."
"Apakah kamu bisa memasak?" tanya Bai Muzhi tiba-tiba.
"Tentu saja." Li Yunru sedikit mengangkat dagu, nada suaranya mengandung sedikit kebanggaan. "Aku ini koki yang serba bisa."
Seekor kelinci, seekor elang, serta Bai Muzhi saling melirik satu sama lain. Sebenarnya, ketiganya sama-sama penasaran dengan rasa makanan yang akan dimasak oleh gadis manusia itu.
Setelah memastikan bahwa Li Yunru benar-benar baik-baik saja, mereka pun akhirnya menuju halaman belakang istana. Ada beberapa pohon rindang dengan batang besar dan daun lebat, serta sebuah sungai kecil yang mengalir jernih dari arah pegunungan.
Li Yunru tidak berniat menyembunyikan ruang spiritual dari mereka. Setidaknya, ia dengan santai mengeluarkan berbagai kebutuhan dari dalam ruang spiritual.
"Kamu masih punya ruang penyimpanan?"
Hei Sanfeng yang masih berwujud elang hitam, bertanya dengan nada penasaran. Kepalanya sedikit miring, matanya mengamati setiap benda yang muncul.
"Ya. Diberikan seseorang," jawab Li Yunru santai, tanpa menjelaskan lebih jauh.
Hei Sanfeng tidak melanjutkan pertanyaannya. Lagi pula, ruang penyimpanan bukanlah hal yang langka. Banyak manusia maupun manusia setengah binatang memilikinya, selama mereka memiliki energi spiritual untuk mengaktifkannya.
Melihat gadis itu mengeluarkan begitu banyak bahan, ketiganya tetap tidak bisa menahan rasa penasaran.
Sayuran segar, bumbu-bumbu beraroma kuat, serta berbagai peralatan dapur.
"Mengapa ada begitu banyak yang harus disiapkan?" Hei Sanfeng kembali bersuara.
"Makanan enak selalu memiliki banyak bahan," jawab Li Yunru datar.
Sebenarnya, ia sendiri tahu—ikan bakar yang hanya dibumbui garam pun sudah enak. Namun, jika ingin menguji kemampuan sebagai koki spiritual, tentu ia tidak bisa asal-asalan.
Li Yunru diam-diam merasa senang. Ruang spiritual itu benar-benar membantunya. Selain menyediakan alat masak, berbagai jenis bumbu, bahkan bahan-bahan yang mungkin sulit ditemukan di dunia ini pun tersedia di dalamnya.
Ruang spiritual bahkan menyediakan lebih banyak hal daripada yang di bayangkan. Namun sekarang bukan waktunya memikirkan semua itu.
Fokusnya saat ini adalah memasak.
Li Yunru mulai membersihkan daun bawang muda dalam jumlah cukup banyak. Daunnya panjang dan segar, sehingga ia memotongnya menjadi tiga bagian.
"Tuan, apa yang akan kamu buat?" tanya Ruu penasaran, matanya mengikuti setiap gerakan tangan Li Yunru. "Kenapa tidak ada daging?"
Li Yunru meliriknya sekilas. "Bukankah kelinci makan wortel dan buah?"
Ruu langsung mengangkat kepala dengan ekspresi tidak terima. "... Aku ini kelinci spiritual. Makan daging juga."
"Tidak heran kamu gendut."
"...."
Ruu terdiam.
Ia memilih untuk tidak menanggapi. Dalam hati, ia merasa itu tidak adil. Ia hanya makan, lalu berbaring—itu saja. Bagaimana bisa disalahkan jika tubuhnya menjadi gemuk?
Namun Li Yunru sudah tidak memperhatikannya lagi.
Setelah selesai memotong daun bawang, ia mengambil mangkuk porselen yang cukup besar.
"Tolong buat api untukku," katanya pada Bai Muzhi seraya melihat ke arah tungku batu sederhana yang sebelumnya dia susun.
Pria berambut putih itu melangkah maju. Ia jelas tidak akan mengandalkan seekor kelinci gemuk dan seekor elang hitam kepala botak untuk urusan membuat api.
Sementara itu, Li Yunru menambahkan beberapa bahan ke dalam mangkuk porselen. Ia menuangkan tepung terigu, tepung beras, lalu memecahkan dua butir telur. Tambahkan juga sedikit lada, kaldu jamur dan garam secukupnya.
Setelah itu, ia menuangkan air perlahan sambil terus mengaduknya. Di bawah gerakannya yang cekatan, adonan perlahan berubah halus dan kental tanpa gumpalan.
Setelah adonan siap, ia memanaskan wajan kecil di atas tungku. Begitu wajan mulai panas, ia menuangkan minyak dalam jumlah cukup banyak agar adonan tidak lengket.
Li Yunru lalu menyusun potongan daun bawang di atas wajan, membentuk lapisan tipis. Setelah itu, ia menuangkan adonan tepung di atasnya hingga menutupi permukaan daun bawang dengan rata.
Aroma daun bawang mulai menyebar ketika adonan menyentuh minyak panas.
Ia membiarkannya matang sejenak sebelum membaliknya dengan cekatan. Warna cokelat keemasan mulai muncul di kedua sisi, tampak renyah dan menggoda.
"Aromanya wangi sekali!" Hidung Ruu berkedut-kedut, matanya berbinar penuh harap.
Li Yunru tersenyum kecil. "Tunggu sampai dimakan nanti."
Elang hitam jelmaan Hei Sanfeng bahkan diam-diam mendekat beberapa langkah hanya untuk melihat seperti apa rupa makanan itu.
Bai Muzhi juga mengangguk pelan. Untuk sekali ini, ia tidak menyangkal. Namun bukan hanya aroma yang menarik perhatiannya.
Di matanya, ia bisa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang biasa—aliran energi spiritual hijau yang perlahan mengalir dari tangan Li Yunru ke dalam makanan yang sedang ia masak.
Seolah-olah setiap gerakan, adukan dan sentuhan memiliki kekuatannya tersendiri.
Jadi ... gadis ini benar-benar mampu membuat hidangan spiritual yang dapat menyehatkan tubuh?
Tatapan Bai Muzhi semakin dalam.
Sementara itu, Li Yunru tetap fokus. Ia memang percaya diri dengan kemampuan memasaknya.
Setelah semua adonan selesai dimasak menjadi lembaran-lembaran berwarna keemasan, Li Yunru menyusunnya di atas piring. Namun ia ternyata masih belum selesai.
"Masih kurang," gumamnya pelan. Ia membutuhkan saus cocolan.
Li Yunru mengeluarkan mangkuk kecil dari ruang spiritualnya serta beberapa bahan tambahan.
Tuangkan kecap asin, air serta sedikit cuka dan gula secukupnya. Ia mengaduknya hingga larut sempurna, menciptakan saus berwarna cokelat gelap dengan aroma asam-manis yang menggugah selera.
"Akan lebih bagus jika ada wijen sangrai," katanya dengan sedikit penyesalan.
Namun meski tanpa itu, hidangan di depannya sudah tampak sangat menggoda.
Mata Bai Muzhi tidak lepas dari piring di depannya. Aroma harum itu terus menyebar bersama aliran energi spiritual hijau yang samar. Sekarang, dia benar-benar penasaran.
"Apa nama hidangan ini?"
ayo Yunru botakin aja Lan Peijun🤣🤣
Yunru hrs tetap sm Tuan Naga satu²nya.. ga boleh ada yg lain.. apalagi Merak bau.. bikin botak aj itu Merak...
Yunru kamu udah mulai berani ya minta cium dulu 🤣/Facepalm//Facepalm/
Klo kata Yunru, Narsistik sekali kelinci gendut ini 😒😒😒
Liatin aj noh pantatnya si Ruu yg montok dan seksih