"Sejak awal aku memang tidak pernah mencintaimu, Alin! Hatiku sepenuhnya masih milik Cindy!"
Kalimat kejam dari Elang menjadi penutup malam pertama yang dingin bagi Alin. Hanya karena rasa hormat pada Nenek Aisyah, sang CEO angkuh itu sudi mengikat Alin dalam pernikahan sepihak. Bagi Elang, menyelamatkan Cindy dan bocah kecil bernama Ega dari jalanan adalah segalanya, meskipun ia harus menginjak-injak martabat Alin sebagai istri sah.
Namun, Elang melupakan satu hal: Alin bukanlah wanita lemah yang akan mengemis cinta. Saat Alin benar-benar melepaskan cincin pernikahan mereka dan menghilang untuk menata hidupnya sendiri, dunia Elang justru runtuh seketika. Terlebih saat sebuah rahasia medis terbongkar dan membuktikan bahwa anak yang ia agungkan selama ini adalah sebuah kebohongan besar yang dirancang oleh mantannya.
Penyesalan itu datang terlambat. Elang yang dulu arogan kini harus melepaskan seluruh harga dirinya, merangkak di tengah badai, hanya untuk mendapatkan secuil maaf Alin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Selalu Kena Sindiran
Mendengar sindiran tajam dari mulut istrinya, Elang mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di dalam saku kemeja. Rahangnya kembali mengetat, dan sepasang mata elangnya berkilat penuh kemurkaan yang berbahaya. Ia melangkah maju dua langkah, mencoba memperkecil jarak di antara mereka untuk memberikan tekanan intimidasi.
"Alin, cukup! Jangan mulai memancing amarahku lagi di subuh hari begini!" geram Elang dengan suara rendah yang ditekan dalam-dalam, mencoba mengendalikan emosinya yang kian membubung tinggi ke ubun-ubun. "Aku baru saja menelepon untuk memastikan kondisi rumah dan Ega, tidak ada hubungannya dengan apa yang kamu pikirkan!"
"Oh, benarkah begitu, Mas Elang yang terhormat?" Alin terkekeh pelan, sebuah tawa hambar yang terdengar begitu dingin memantul di dinding dapur kering. Ia menegakkan tubuhnya, melangkah satu blok lebih dekat ke arah Elang tanpa ada rasa takut sedikit pun. "Mas tidak perlu berbohong atau berakting menjadi suami yang sibuk di depan saya. Dari nada suaramu yang panik di selasar tadi, semua orang di dapur ini juga bisa menebak kalau Mbak Cindy sedang berusaha mengontrol pergerakanmu, kan? Lucu sekali melihat seorang CEO hebat yang biasanya mengatur ratusan karyawan, ternyata malah bertekuk lutut dan sibuk membuat alasan di depan mantan kekasihnya."
"Alin! Jaga mulutmu!" bentak Elang rendah, wajah tegapnya seketika berubah merah padam akibat rasa geram yang luar biasa. Kepalan tangannya bergetar menahan sisa-sisa kesabaran yang kian menipis menghadapi watak keras istrinya. "Kamu tidak tahu apa-apa tentang apa yang terjadi di antara kami, jadi jangan berlagak seolah kamu adalah hakim yang paling suci di rumah ini!"
"Saya memang tidak tahu dan sama sekali tidak tertarik untuk tahu urusan menjijikkan kalian, Mas," balas Alin telak, tatapan matanya beralih menjadi sedingin es yang menguliti seluruh harga diri Elang. Ia membalikkan tubuhnya kembali ke arah kompor dengan gerakan yang teramat santai. "Saya hanya merasa kasihan saja melihatmu. Pria setinggi Mas Elang ternyata begitu mudah dimanipulasi oleh air mata palsu seorang pelakor. Silakan lanjut berakting menjadi pahlawan untuknya, Mas. Tapi ingat, jangan pernah bawa drama murahan kalian ke depan wajah saya atau di depan ranjang Nenek di kamar."
Elang hanya bisa mematung di tempatnya berdiri dengan napas yang memburu kencang dan dada yang kembang kempis. Ia menatap punggung Alin dengan pandangan mata yang sarat akan sisa kemurkaan yang mendalam, merasa kian geram karena tidak pernah bisa menemukan celah untuk menundukkan ketenangan dan keberanian istrinya yang luar biasa keras di hari kedua pernikahan mereka ini.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, udara Jakarta masih diselimuti kabut tipis dan sisa hawa dingin sisa hujan semalam. Di pelataran parkir rumah besar, sebuah mobil MPV premium berwarna hitam pekat sudah terparkir dengan mesin yang menyala halus. Denis, yang pagi-pagi sekali sudah dipanggil oleh Elang, berdiri sigap di samping pintu tengah yang terbuka lebar, siap membantu proses evakuasi medis Nenek Aisyah.
Alin melangkah keluar terlebih dahulu dari pintu utama rumah kolonial. Rambut panjangnya yang hitam pekat pagi ini kembali terikat rapi dalam gaya high ponytail yang tinggi, bergoyang tegas seiring langkah kakinya yang mantap. Ia mengenakan celana kulot hitam yang dipadukan dengan blus terakota berpotongan elegan. Di kedua tangannya, ia memeluk sebuah tas travel kecil berisi perlengkapan darurat milik Nenek Aisyah.
Tepat di belakang Alin, Elang berjalan dengan langkah lebar, separuh tubuhnya condong ke depan untuk menyangga lengan ringkih Nenek Aisyah yang berjalan dengan sangat lambat. Di sisi lain sang nenek, Mbok Darmi memegangi tiang infus portabel dengan wajah yang dipenuhi guratan cemas tak berkesudahan.
"Pelan-pelan, Nek. Pegang lengan Elang yang kuat," bisik Elang, nada suaranya terdengar begitu lembut dan sarat akan kekhawatiran yang mendalam saat membantu neneknya menaiki undakan pintu mobil.
Nenek Aisyah tidak menjawab. Wajah sepuhnya masih pias dan sepasang matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong, enggan melirik cucu lak-lakinya yang sejak kemarin malam telah menorehkan luka teramat pekat di hatinya. Setelah Nenek Aisyah berhasil duduk nyaman di kursi tengah yang empuk, Mbok Darmi segera mengambil tempat di samping beliau, menggenggam jemari tua itu dengan telaten.
Alin bergerak taktis. Tanpa menunggu instruksi atau aba-aba dari siapa pun, ia langsung membuka pintu baris depan sebelah kiri—kursi penumpang di samping kemudi—lalu menyelinap masuk dan menutup pintu dengan debaman halus. Ia sengaja mengambil posisi itu agar tidak perlu duduk bersebelahan dengan Elang di baris tengah, sekaligus menciptakan jarak fisik yang mutlak.
Elang yang melihat tindakan Alin hanya bisa mengatupkan rahangnya kuat-kuat. Ia memutari moncong mobil dengan langkah gusar, lalu masuk ke kursi kemudi, mengambil alih setir dari Denis yang ia perintahkan untuk tetap tinggal dan mengurus beberapa berkas di rumah besar.
Begitu mobil bergerak membelah jalanan ibu kota yang mulai merayap padat, atmosfer di dalam kabin mobil premium itu seketika berubah menjadi medan perang dingin yang teramat mencekik. Tidak ada alunan musik, tidak ada obrolan hangat pagi hari, yang ada hanyalah desau pendingin ruangan yang berembus konstan membelai wajah-wajah yang mengeras ego.
Aura permusuhan antara Alin dan Elang menguar begitu pekat, mengunci ruangan sempit itu dalam kebekuan yang melelahkan. Elang sesekali melirik tajam ke arah kaca spion tengah, lalu beralih menatap profil samping wajah Alin yang terpantul di kaca jendela kiri. Istrinya itu benar-benar menganggapnya seperti angin lalu; Alin asyik menatap jalanan luar dengan dagu yang terangkat anggun, menolak sekadar menoleh ke arah kanan tempat suaminya berada.
"Mbok, tolong cek minyak angin di tas Nenek. Kalau Nenek merasa mual di jalan, langsung pakaikan saja," ucap Alin tiba-tiba, suaranya mengalun memecah keheningan kabin, terdengar begitu jernih namun sarat akan otoritas yang tenang.
"Sampun, Non Alin. Ini minyak anginnya sudah Mbok pegang di tangan," sahut Mbok Darmi sopan dari baris tengah.
Elang melirik ketus pada Alin, tangannya mencengkeram lingkar setir kulit dengan cengkeraman yang kian mengetat hingga urat-urat tangannya menonjol. "Aku menyetir dengan sangat halus, Alin. Nenek tidak akan merasa mual atau pusing hanya karena perjalanan singkat ini."
Alin tidak menoleh sedikit pun. Ia hanya mendengus pelan, sebuah kekehan hambar yang teramat tipis di sudut bibirnya. "Antisipasi itu jauh lebih baik daripada terlalu percaya diri secara berlebihan, Mas Elang. Mengingat apa yang terjadi kemarin malam, saya rasa kemampuanmu dalam memprediksi keadaan sedang berada di titik paling rendah."
Deg.
Sindiran telak itu menghantam dada Elang seperti godam besi. Ia tahu betul Alin sedang menyentil masalah keputusannya membawa Cindy ke rumah baru yang berujung pada kumatnya jantung sang nenek. Wajah Elang seketika memerah padam menahan geram di balik kemudi, namun ia terpaksa menahan makiannya di tenggorokan karena tidak ingin memicu emosi Nenek Aisyah yang sedang duduk di belakang mereka.
Bersambung ...
beristri duaaaaaaa??????
😡😤
😄😄
lanjut mommy