Bima hanyalah "sampah desa" yang ringkih. Digerogoti penyakit jantung bawaan dan paru-paru basah akut, hidupnya dihabiskan untuk merangkak di bawah kaki orang-orang kaya yang arogan.
Puncaknya, di sebuah malam yang diguyur hujan lebat, Bima dihajar hingga sekarat dan jatuh ke dasar sungai.
Namun, maut justru membawanya menemukan batu mustika hitam misterius. Tak hanya sembuh total, fisik Bima bermutasi menjadi sekokoh karang, lengkap dengan kemampuan mata tembus pandang dan medis gaib.
Menariknya, energi baru di tubuh Bima membuat setiap wanita yang ia sentuh bergetar tak berdaya.
Berawal dari pijatan penyembuhan, Bima mulai menaklukkan hati para wanita cantik—
mulai dari Rasti si kakak ipar janda muda, Laras sang kembang desa, hingga Siska, istri pejabat kota—yang suaminya terlibat kasus perselingkuhan. Bersiaplah menyaksikan aksi Danu, si tukang pijat penakluk wanita!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Bab 13
Rasti langsung tersentak. Gimana ceritanya Rian terlihat sangat dendam sama Bima. Bagaimanapun insting kakak dia langsung bangkit, dia gak mau terjadi hal aneh-aneh sama adik iparnya.
“Bima … kamu sembunyi sebentar.”
Bima langsung menolak. “Tapi, mbak–”
“Udah turutin mbak.”
Dengan paksa Janda muda itu menarik tubuh Bima memasukkannya ke lemari dia. Bima tersentak di sana. Edan mungkin memang bukan ini saatnya berpikir, tapi di sana isinya dalaman doang.
Rasti buru-buru keluar dari kamar setelah merapikan kembali kaos oblong dan jariknya yang berantakan. Jantungnya masih berdegup kencang, bukan hanya karena ketakutan mendengar gedoran Rian, tetapi juga karena sisa-sisa pelepasan energi nikmat dari pijatan Bima yang masih terasa berdesir di selangkangannya.
Cklek…
Pintu bambu gubuk tua itu terbuka. Rasti berdiri di ambang pintu, mencoba bersikap setegar mungkin meski sepasang lututnya terasa lemas.
"I-iya, ada yang bisa dibantu, Mas Rian?" tanya Rasti dengan suara yang sedikit bergetar, berusaha mengatur napasnya yang masih memburu.
Begitu pintu terbuka, Rian yang semula siap mengamuk dan berteriak beringas mendadak bungkam seribu bahasa. Sepasang matanya yang merah karena arak langsung melotot lebar, terpaku mati pada sosok janda muda di depannya.
Rasti berdiri di sana dengan rambut yang agak acak-acakan karena baru bangun dari kasur.
Kaos oblong tipisnya agak basah oleh keringat halus siang hari, menempel ketat pada lekukan dadanya yang jumbo dan sintal. Terlebih lagi, hawa panas dari dalam kamar membuat aroma feminim yang sangat manis, ranum, dan memabukkan khas tubuh Rasti menguar kuat ke udara terbuka, langsung menusuk indra penciuman Rian dan belasan pemuda desa yang berdiri di halaman.
Glep.
Rian menelan ludahnya dengan kasar. Di sampingnya, Ayu yang ikut datang langsung cemberut dan mendengus sebal melihat pandangan Rian yang langsung terkunci total pada sang janda.
Sementara itu, belasan antek-antek preman di belakang Rian—termasuk Brian yang baru kembali—matanya mendadak berubah menjadi liar dan penuh nafsu.
"Wah, wah... Neng Rasti," sela Rian dengan seringai cabul yang menjijikkan, matanya turun naik menelanjangi tubuh Rasti.
"Siang-siang begini kok sudah keringatan begini? Habis ngapain di dalam rumah sendirian, hm?"
"Mas Rian, kalau mau menagih utang, utang Bima sudah dibayar satu juta tadi pagi lewat Brian, saya sudah dengar ceritanya dari Bima. Tolong jangan ganggu kami lagi," ucap Rasti tegas, mencoba mengalihkan pembicaraan. D
"Hutang? Hahaha! Perkara hutang itu urusan belakangan!" Rian melangkah maju, membuang puntung rokoknya ke tanah. "Adik iparmu yang ampas itu sudah berani memukul anak buahku sampai pingsan. Mana dia?! Suruh si Bima keluar! Jangan sembunyi di ketiak janda!"
"Bima... Bima gak ada di rumah, Mas. Dia belum pulang dari pasar," bohong Rasti, mencoba melindungi adik iparnya yang kini mendekam di dalam lemari kamar.
Niat mencoba melindungi itu malah membuat dia jadi objek bahaya.
Mendengar kata 'Bima gak ada', kilatan licik dan mesum langsung mendominasi wajah Rian. Dia menoleh ke arah anak buahnya yang sudah menatap Rasti seperti serigala kelaparan.
Jika si ampas Bima tidak ada, artinya janda montok ini sedang sendirian di gubuk terpencil ini tanpa ada yang melindungi.
Mereka bisa asik menikmati tubuhnya secara bergilirian. Bahka bisa menikmati terus tanpa ampun.
Mengimajinasi saja sudah membuat area bawah Rian dan anteknya mengeras.
"Oh, gak ada ya? Bagus kalau begitu..." Rian menyeringai kejam. Tanpa aba-aba, tangan kekar Rian maju mencengkram pergelangan tangan Rasti dengan sangat kasar. “ikut, mas sini. Kita main!”
"Ah! Mas Rian, lepas! Sakit!" jerit Rasti, mencoba meronta.
"Gak usah sok suci kamu, Rasti! Hari ini adikmu sudah bikin masalah besar sama aku. Sebagai gantinya, kamu harus melayani aku dan anak-anakku siang ini!" raung Rian beringas.
Dia menarik paksa tubuh Rasti hingga janda muda itu terhuyung jatuh ke tanah halaman yang berdebu.
"Seret dia ke dalam! Kita borong rame-rame janda ini sebelum si Bima balik! Hahaha!" teriak salah satu preman di belakang yang sudah kehilangan akal sehatnya akibat terangsang oleh aroma dan tubuh sintal Rasti.
"Lepas! Tolonggg! Bima... Tolong, Nu!" Rasti menangis histeris, pakaiannya mulai ditarik-tarik oleh dua orang preman yang hendak menyeretnya masuk ke dalam gubuk secara paksa.
Ayu yang melihat itu hanya melipat tangan sambil tersenyum puas, senang melihat saingannya dihancurkan.
Di dalam kamar, tepatnya di dalam lemari kain yang sempit, Bima yang dikelilingi oleh pakaian dalam Rasti yang harum sebenarnya sudah menahan amarah sejak awal. Namun, begitu mendengar jeritan histeris kakak iparnya yang meminta tolong dan mendengar niat bejat Rian yang ingin menggilir Rasti, darah di sekujur tubuh Bima seketika mendidih hebat.
Energi Mustika Hijau di dalam tubuhnya meledak tak terkendali, memancarkan hawa membunuh yang luar biasa pekat hingga membuat udara di dalam kamar terasa membeku.
Brakkk!!!
Pintu lemari kayu itu hancur berkeping-keping menjadi serpihan kecil. Bukan hanya itu, pintu utama gubuk bambu tersebut jebol terlempar ke depan akibat hantaman angin energi yang sangat dahsyat.
Bima melangkah keluar dari dalam gubuk dengan perlahan. Tubuh bidangnya tegap, wajahnya yang tampan kini sedingin es, dan kedua matanya berkilat hijau menyala, memancarkan aura kematian yang mengerikan.
"Rian... Lepaskan tangan kotormu dari Mbak Rasti, atau siang ini juga, aku kirim kamu ke neraka!" geram Bima dengan suara bass yang menggelegar, membuat seluruh preman yang sedang menyeret Rasti seketika membeku ketakutan.
Suara Bima yang menggelegar bagai petir di siang bolong membuat halaman gubuk yang semula riuh seketika hening mencekam. Tekanan energi gaib yang menguar dari tubuh tegap Bima membuat dua preman yang memegangi lengan Rasti gemetar hebat, hingga secara refleks melepaskan cengkeraman mereka.
Rasti yang terlepas langsung merangkak mundur dengan air mata yang bercucuran, buru-buru berlindung di balik punggung tegap adik iparnya. "D-Bima..." bisik Rasti lirih, tubuh matangnya bergetar hebat di antara rasa takut pada Rian dan takjub melihat perubahan drastis pada diri Bima.
Rian sempat melangkah mundur satu setapak karena terkejut mendengarkan dentuman pintu yang hancur.
Namun, begitu melihat sosok yang keluar adalah Bima, harga diri anak Kepala Desa itu kembali bangkit, disusul oleh rasa dongkol yang membakar dadanya.
"Bajingan! Ternyata kamu sembunyi di dalam, Ampas!" raung Rian, matanya memerah menatap Bima yang kini berdiri dengan postur tubuh yang jauh lebih tinggi dan atletis dibanding malam sebelumnya. "Gaya bener kamu sekarang ya? Pakai pamer ilmu sulap segala! Hei, anak-anak! Jangan takut! Dia cuma gembel kurus yang kebetulan lagi kesurupan! Hajar dia sampai cacat!"
Kok gak mikir konsekuensinya ya..🫣
Bersekutu dengan iblis menjanjikan keuntungan duniawi sesaat, namun selalu berujung pada petaka.
Konsekuensi utamanya meliputi ketergantungan spiritual, hilangnya kendali atas kehendak bebas, tuntutan tumbal nyawa, penderitaan batin, serta kehancuran dan penyesalan abadi di akhir.
Dampak fatal akibat praktik tersebut akan kehilangan Jiwa dan Kebebasan, harga yang harus dibayar untuk bantuan iblis adalah jiwa manusia itu sendiri.
Manusia yang awalnya merasa mengendalikan kekuatan tersebut akhirnya diperbudak dan kehilangan kehendak bebas mereka.
Untuk menghindari fitnah dengan cara membentengi diri dari perbuatan yang mendekati zina, pergaulan bebas dan pacaran.
Dengan melakukan pernikahan, seseorang dapat menyalurkan hasrat biologis secara halal, menjaga kehormatan, dan mencegah timbulnya tuduhan negatif serta prasangka buruk di masyarakat.
Menikah adalah salah satu keputusan terbesar dalam hidup seseorang.
Lebih dari sekadar menyatukan dua insan dalam ikatan resmi, pernikahan memiliki tujuan yang lebih dalam dan bermakna...🤭🤨😊