Vince adalah seorang guru sekaligus pemilik saham terbesar di SMA Taruna. Awalnya ia mau untuk menjadi kepala sekolah, namun setelah kedatangan murid dengan paras yang begitu mirip dengan cinta pertamanya.
Vince mengurungkan niatnya untuk menjadi kepala sekolah.
Ternyata muridnya itu adalah anak kandung dari cinta pertamanya yang bernama Naura, Naura di paksa menikah dengan vampir.
Murid Vince yang menjadi cinta pertamanya adalah Maura, Maura tidak tahu jika dia bukanlah anak kandung dari Stela.
Maura adalah anak dari raja vampir Liam, Lian dan juga Naura.
Lian maupun Liam dulu sangat mencintai Naura, namun Naura meninggal dunia setelah beberapa hari melahirkan bayi Maura.
Naura meninggal dengan cara mengenaskan dengan menjadi tawanan raja vampir.
Lian sendiri menikah dengan Stela, namun detik detik meninggalnya Naura. Lian mengatakan hal yang menyakitkan Stela, membuat Stela menaruh dendam kesumat bahkan kebencian pada Maura, apalagi wajah Maura itu sama persis dengan ibunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34.
Vince berusaha untuk memejamkan matanya, berharap akan segera tidur.
Karena besok bukankah dirinya juga akan mulai mengajar pelajaran sekolah.
Lagi kedua bola mata Vince terbuka lebar, kala bayang bayang wajah maura saat tersenyum manis terlintas di otaknya.
"Kenapa ... nih, sejak tadi aku sulit tidur? Semua gara-gara di otakku terus muncul wajah Maura saat dia tersenyum manis atau berkelakuan manis. Aduh Vince, seharusnya sekarang otakmu memutar adegan saat Maura menunjukkan ekspresi menyebalkan, tantrum, atau pose jelek. Ayo, otak, ganti ingatanmu sekarang!" Vince mengeluh sambil memukul kepalanya, berharap bayangan Maura yang begitu cantik bisa hilang dari benaknya.
Vince kembali memejamkan matanya, ia berusaha keras membayangkan saat muridnya itu dalam keadaan tantrum atau pun dalam posisi menyebalkan untuk di ingat.
"Aku yakin pasti ada momen yang bisa membuatku melupakan senyum manisnya, atau... Ah, mengapa memikirkannya saja malah membuatku merasa lebih jauh terjerumus ke dalam bayangannya?"
Tiba-tiba Vince tertawa terbahak-bahak saat teringat tingkah konyol yang dilakukan oleh muridnya itu.
"Hahaha, sepertinya memang ada beberapa saat ketika Maura terlihat tidak seperti biasanya."
Namun, senyum Vince segera sirna. Dia membuka kedua mata dan berkata, "Kenapa sih Maura itu harus begitu lucu? Kenapa saat seperti itu pun dia tetap saja cantik seperti Naura, ibunya? Astaga, bagaimana bisa perasaanku jadi begini? Kenapa aku itu terus saja memikirkan dirinya? Apa yang sebenarnya terjadi pada diriku? Apa jangan jangan aku jatuh cinta padanya?" Setumpuk pertanyaan sekarang ini benar benar memenuhi benak Vince.
Vince berharap segera menemukan jawaban yang bisa membantu menjernihkan perasaan bimbang yang sedang melandanya.
Vince kembali melirik ke arah jam di dinding, dan sekarang ini jam sudah menunjukkan waktu satu dini hari.
Akhirnya Vince pun menyadari kebodohannya. "Astaga Vince ... Vince ... Kenapa bodoh sekali? Dari pada berusaha dengan keras membuat otak mu itu memikirkan Maura saat tantrum dan konyol. Kenapa juga kamu itu tidak membuat otakmu itu agar tidak teringat bayang bayang tentangnya."
Setelah Vince puas berbicara sendiri dan juga menyadari kebodohannya. Ia pun mereset otaknya, membuat otaknya itu tidak memikirkan apapun sekarang ini.
Akhirnya tak berselang lama, Vince benar benar sudah larut ke dalam mimpinya, karena memang jam satu dini hari ini. Rasa capek dan juga kantuk benar benar sudah melanda dirinya.
Apalagi selama seminggu menjaga Maura di rumah sakit, setiap harinya Vince hanya tidur beberapa jam saja. Karena tidur dengan posisi meringkuk di sofa itu tidak membuat tidurnya itu nyenyak, di tambah dengan Maura saat malam sering mengigau, hal itu kadang mengejutkan dan membangunkan Vince secara tiba tiba.
*****
**
Jika dua orang seperti Vince dan Alan terlihat resah dan sulit untuk tidur. Hal yang berbeda di tunjukkan oleh Maura sendiri. Sekarang ini ia tertidur begitu pulas.
Namun tanpa sadar, dengan posisi mata terpejam, Maura berdiri. Lalu berjalan ke arah balkon kamarnya di rumah Cherly.
Kedua bola matanya membulat sempurna, namun pupil matanya tidak berwarna hitam. Namun berubah menjadi merah dadah.
Beberapa urat nadinya nampak menonjol keluar dari tubuhnya, dari balkon Maura turun dengan mudahnya ke atas tanah.
Ia melihat kelinci kecil peliharaan tetangga, dengan gerakan gesit memanjat dari pagar satu ke pagar lainnya.
Lalu Maura mengeluarkan seekor kelinci dari kandangnya. Ia nampak membuka mulutnya lebar lebar, terlihat gigi taring lumayan panjang tiba tiba tumbuh di ke kedua giginya.
Lalu Maura mengigit dan meminum darah kelinci itu langsung.