HANCURLAH BERSAMA "SUAMI PARASIT DAN ADIK BENALU"
Selama dua tahun pernikahan, Violet hidup sebagai istri yang selalu mengalah. Ia tidak pernah menyangka suami yang dicintainya ternyata diam-diam berselingkuh dengan Eliana, adik tirinya sendiri.
Lebih kejam lagi, mereka hanya memanfaatkannya demi merebut perusahaan keluarga yang menjadi haknya. Saat kebenaran terungkap, Violet kehilangan segalanya—ayahnya koma karena sebuah kecelakaan yang ternyata direncanakan, hartanya dirampas, dan nyawanya dihabisi oleh orang-orang yang paling dipercayainya.
Dalam detik terakhir sebelum kematian, Violet mengutuk mereka dan memohon kesempatan untuk mengulang hidupnya.
Ketika membuka mata, ia kembali ke dua tahun lalu.
Ke hari saat Arga datang melamar.
Kali ini Violet tidak akan memilih pria yang menghancurkan hidupnya.
Sebagai gantinya, ia memilih Sherkan—paman Arga yang terkenal dingin, kejam, dan menjadi penguasa dunia bisnis.
Keputusan itu mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nila KingShop Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayo menikah denganku
Bab 14 - AYO MENIKAH DENGANKU
"Apa?"
Aku menegakkan punggung, berusaha menjaga agar suaraku tidak bergetar meski detak jantungku sendiri terasa bergemuruh di telinga. Selama berhari-hari aku menyusun rencana ini, menimbang segala kemungkinan, mempertimbangkan setiap risiko—namun saat berdiri tepat di hadapan pria yang paling berkuasa dan ditakuti di kota ini, aku tidak bisa sepenuhnya menyangkal bahwa ada ketakutan yang menyelinap di sudut hatiku. Takut ia akan menertawakan usulanku. Takut ia akan mengusirku begitu saja. Takut jika penolakannya datang, maka jalan satu-satunya yang kulihat untuk menyelamatkan diri akan tertutup rapat.
"Aku ingin menikah dengan Anda," ulangiku sekali lagi, lebih tegas kali ini, meski napasku sedikit tercekat.
Sekretaris yang berdiri di sudut ruangan nyaris terlonjak, tablet yang dipegangnya hampir terlepas dari genggamannya. Matanya melotot lebar, tidak percaya mendengar kalimat yang baru saja terucap dari mulutku. Di ruangan luas itu, hanya ada suara napas yang tertahan—kecuali dari satu orang.
Sherkan Satria tetap duduk tenang di kursi kulitnya yang besar. Tubuhnya bersandar santai, satu tangannya disandarkan di sandaran lengan kursi, sementara yang lain tergeletak santai di atas meja kerjanya yang luas. Tatapannya yang tajam, gelap dan dalam seperti malam tanpa bintang, tidak berkedip sedikit pun sejak aku menyampaikan niatku. Ia menatapku lama, sangat lama—seolah sedang membongkar setiap lapisan pikiranku, mencari kebohongan yang mungkin tersembunyi di balik mataku. Tidak ada ekspresi yang bisa kubaca di wajahnya. Tidak terkejut, tidak marah, tidak bahkan terhibur. Hanya ketenangan yang dingin dan menusuk, ketenangan yang membuat siapa pun merasa kecil dan terbuka.
"Dan kenapa aku harus melakukannya?" tanyanya akhirnya. Suaranya rendah, berat, dan datar—tidak ada nada sindiran, tidak ada nada penolakan, hanya pertanyaan sederhana yang seolah bisa menjatuhkan seluruh persiapanku.
Aku menarik napas panjang, membiarkan udara dingin memenuhi paru-paruku untuk menenangkan gemuruh di dadaku. Aku tahu pertanyaan ini akan datang. Aku sudah berlatih jawabannya berulang kali di depan cermin, namun kini di hadapannya, rasanya lidahku sedikit terasa kaku. Di dalam hati, aku berteriak: Bagaimana jika dia tidak mau? Bagaimana jika dia menganggapku terlalu berani dan mengusirku? Kalau begitu aku tidak punya tempat lain untuk berlari, Arga akan menemukanku dan kali ini aku tidak akan selamat lagi...
Namun aku menelan ketakutan itu dan menjawab dengan setulus yang bisa kusampaikan: "Karena saya membutuhkan perlindungan."
Alisnya sedikit terangkat, matanya menyipit samar. "Perlindungan? Dari siapa sampai Anda harus datang melamar orang yang hampir tidak Anda kenal?"
"Dari Arga," jawabku pendek. Hanya satu nama itu, namun sudah cukup menjelaskan segalanya.
Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Detik terasa berjalan sangat lambat. Sekretarisnya bahkan berani melirik ke arah tuannya, seolah menunggu reaksi apa pun yang mungkin muncul. Namun Sherkan tetap diam. Ia terus mengamatiku, meneliti ekspresiku, gerakan mataku, bahkan cara aku berdiri. Seolah ia sedang mempertimbangkan apakah aku berbohong atau tidak.
"Biasanya perempuan yang baru saja menolak lamaran dari keluarga kita tidak langsung berbalik datang melamar pamannya sendiri," ucapnya perlahan, nada bicaranya tetap datar tanpa emosi yang jelas. "Apakah ini semacam permainan yang ingin kau mainkan, Nona Violet?"
Aku tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke mataku. Di dalam hati, ketakutanku sedikit membesar. Dia berpikir aku sedang bercanda. Dia pasti menganggapku wanita yang tidak tahu malu. Bagaimana aku bisa meyakinkannya? Bagaimana jika dia memintaku pergi sekarang juga?
Kalimat yang hampir keluar dari mulutku adalah: Karena di kehidupan sebelumnya aku mati mengenaskan karena mempercayai Arga, jadi kali ini aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Namun aku menahannya. Belum waktunya. Tidak ada yang akan percaya hal seperti itu.
Sebagai gantinya, aku menatap matanya lurus dan berkata, "Karena saya percaya Anda lebih bisa dipercaya daripada Arga. Saya tahu reputasi Anda, Tuan Sherkan. Orang takut pada Anda, namun tidak ada yang pernah mengatakan bahwa Anda mengkhianati kepercayaan orang yang berani berdiri di sisi Anda. Berbeda dengan Arga, yang senang berpura-pura baik demi keuntungannya sendiri."
Untuk pertama kalinya, ada perubahan sekecil apa pun. Tatapannya yang datar itu terlihat sedikit berubah—sedikit lebih tajam, sedikit lebih penasaran. Sudut bibirnya tidak bergerak, namun sorot matanya memberi isyarat bahwa kalimatku itu telah menyentuh sesuatu dalam dirinya.
"Apa yang kau tawarkan padaku sebagai gantinya?" tanyanya lagi. Pertanyaan yang kutunggu-tunggu, meski detik ia mengucapkannya, jantungku kembali berdebar kencang. Dia bertanya apa yang kutawarkan. Artinya dia belum menolak sepenuhnya. Tapi bagaimana jika tawaranku dianggap tidak cukup berharga baginya? Bagaimana jika dia merasa tidak butuh apa pun dariku?
Aku menelan ludah pelan, lalu menjawab dengan suara yang setenang mungkin: "Pernikahan kontrak."
Sekretaris di sudut itu kembali terkejut, nyaris mengeluarkan suara. Hari ini pasti menjadi hari yang paling aneh dan tidak terduga sepanjang kariernya sebagai asisten pribadi Sherkan Satria. Namun tuannya itu tetap diam, hanya menatapku, memberi isyarat agar aku melanjutkan penjelasanku.
"Saya akan menjadi istri Anda secara hukum," lanjutku, menjelaskan satu per satu poin yang sudah kususun matang-matang. "Secara resmi, di depan orang banyak dan dokumen negara, saya adalah istri sah Anda. Namun saya berjanji tidak akan pernah mencampuri kehidupan pribadi Anda. Saya tidak akan masuk ke ruangan pribadi Anda tanpa izin, tidak akan menuntut perhatian atau kasih sayang, tidak akan meminta hak-hak istri pada umumnya, dan tidak akan mengganggu Anda dalam urusan bisnis maupun hubungan Anda dengan orang lain. Saya tidak akan menuntut warisan, tidak akan meminta uang belanja, tidak akan meminta apa pun selain perlindungan atas nama Anda."
Aku berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan tegas, "Selama lima tahun. Setelah lima tahun berlalu, kapan pun Anda mau, kita bisa mengakhiri pernikahan ini dengan damai dan bercerai. Tidak ada ikatan apa pun lagi di antara kita setelah itu."
Sherkan menyilangkan kedua tangannya di depan dada, tatapannya tetap menusuk. "Wanita yang datang menawarkan diri menjadi istri biasanya menginginkan dua hal: uang atau status sosial. Uangku berlimpah, dan statusku adalah yang tertinggi di negeri ini. Kau tidak meminta uang, katamu kau punya uang sendiri, dan kau juga berasal dari keluarga terpandang yang sudah punya nama. Kalau begitu apa yang sebenarnya kau inginkan di balik semua ini?"
Aku menarik napas panjang, berusaha menekan rasa gugup yang mulai merayap ke tulang belulangku. Dia menanyakan hal ini lagi. Dia curiga. Bagaimana jika dia menolak karena merasa ada bahaya yang menyertai tawaranku? Bagaimana jika dia memutuskan bahwa aku terlalu merepotkan dan mengusirku?
Namun aku tersenyum—kali ini senyum yang datang dari lubuk hatiku yang paling dalam, senyum yang menyembunyikan rasa takut sekaligus keteguhan yang baru aku dapatkan setelah mati dan hidup kembali.
"Saya hanya ingin hidup," jawabku jujur, pelan namun jelas terdengar di seluruh ruangan. "Itu saja. Saya ingin bisa hidup dengan aman, tanpa harus selalu melihat ke belakang, tanpa rasa takut setiap kali ponsel berdering, tanpa harus khawatir kapan saya akan disakiti. Itu harga yang saya bayarkan dengan menjadi istri kontrak Anda selama lima tahun."
Untuk pertama kalinya sejak aku melangkah masuk ke ruangan itu, tatapan Sherkan berubah sedikit lebih nyata. Ia bangkit berdiri perlahan, gerakannya tenang dan terukur, tidak tergesa sedikit pun. Ia melangkah mendekat, dan setiap langkahnya seolah membawa tekanan berat yang menekan udara di sekitarku. Namun aku memaksakan diri untuk tidak mundur. Aku pernah mati sekali. Aku tidak boleh mundur sekarang, meski lututku sebenarnya terasa sedikit lemas.
aku padamu Sherkan ♥️🫰
apa Sherkan juga mengulang waktu mengulang masa lalu, jadi dia tau semuanya yg disembunyikan Violet? 🤔
ternyata aku salah dgn pikirin ku sendiri 😁
semangat Mak Eva 💪🥰