Mempunyai Mama yang tidak menyayanginya dan dikhianati oleh sang kekasih disaat lagi sayang-sayangnya membuat Belva memilih menjauh dan hidup sendiri tanpa cinta dari siapa pun.
Siapa sangka, Belva menjadi owner skincare sukses dan kaya raya. Disaat kehidupan Belva sudah sangat sempurna, Belva dipertemukan dengan seorang Tentara yang begitu sangat menyebalkan dan selalu membuat Belva darah tinggi.
Akankah Belva kembali menemukan cintanya? Adakah orang yang benar-benar tulus ditengah-tengah kondisi Belva yang sedang dilanda krisis kepercayaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16 Hari Baru, Kehidupan Baru
Setelah kenyang makan-makan, Irawan pun membawa Belva dan Yuri ke rumah baru yang sudah disiapkan oleh Irawan. Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mereka sampai di kawasan komplek elit bahkan lebih elit dari komplek rumahnya yang dulu. Semuanya keluar dari mobil, Belva memperhatikan rumah besar berlantai dua itu.
“Bagaimana Non, apa Non Belva suka?” tanya Pak Irawan sedikit khawatir.
“Suka banget Pak, terima kasih,”sahut Belva.
“Alhamdulillah kalau suka.”
Ketiganya masuk dan ternyata semua alat-alat rumah tangga sudah terisi membuat Belva semakin bahagia. “Apa Bapak yang beli barang-barang semuanya ini?” tanya Belva.
“Iya, Non. Dibantu sama istri saya karena saya kurang mengerti masalah furnitur,” sahut Pak Irawan malu.
“Oh iya, terima kasih ya Pak. Sampaikan ucapan terima kasih saya untuk istri Bapak,” seru Belva.
“Siap, Non.”
Irawan mengeluarkan surat-surat dari dalam tasnya. “Non, ini adalah surat-surat penting dan warisan dari Pak Ferdi, apa mau Non yang pegang? Soalnya Non sudah berusia lebih dari 21 tahun jadi Non sudah berhak memegang surat-surat ini,” seru Pak Irawan.
“Bapak saja yang pegang, takutnya kalau aku yang pegang ada yang berniat jahat sama aku. Lebih baik Bapak yang simpan, nanti kalau aku butuh aku minta sama Bapak,” sahut Belva.
“Baiklah. Non, kalau begitu saya pamit dulu,” seru Pak Irawan.
“Iya, Pak. Sekali lagi terima kasih.”
“Sama-sama, Non.”
Sebenarnya rumah itu dibangun di tanah milik Ferdi, dan Irawan hanya membantu membangunkan rumah untuk Belva. Belva memilih tinggal di Bandung dan tidak mau tinggal di Jakarta lagi. Belva sudah tidak ingin bertemu dengan Venny bahkan dengan semua orang yang dulu pernah dia kenal.
“Yur, sekarang kita tinggal di sini dan aku juga tidak mau ketemu sama Mama atau pun sama orang-orang yang pernah kenal sama aku. Sekarang aku akan hidup dengan identitas tersembunyi, aku gak mau orang-orang tahu kalau aku Owner sebuah skincare,” seru Belva.
“Iya, Bel. Kita berjuang sama-sama, pokoknya tidak akan ada lagi yang bisa nyakitin kamu karena aku akan menjadi garda terdepan untuk melindungi kamu,” sahut Yuri.
“Terima kasih, Yur,” ucap Belva.
Sementara itu, di sebuah perusahaan Venny terlihat sedang panik karena omset perusahaan menurun drastis. Apalagi Venny baru menemukan kalau uang perusahaan selalu hilang, ada yang memainkan keuangan perusahaan tapi Venny tidak tahu siapa orangnya. “Bagaimana ini, perusahaan diambang kehancuran dan aku tidak boleh membuat perusahaan ini bangkrut karena hanya dari sini, aku bisa hidup mendapatkan uang,” gumam Mama Venny.
Venny tidak sadar jika selama ini Bondan adalah musuh dalam selimut Venny. Awalnya Bondan memang mencintai Venny, tapi lama-kelamaan yang Bondan incar adalah harta Venny. Dia sengaja membuat usaha sendiri karena dia ingin meninggalkan Venny jika usahanya nanti sudah berjalan dengan lancar.
Sedangkan di tempat lain, Tissa sedang berada di kedai Coffee milik Mario. “Sayang, kapan kamu bisa liburnya? Aku ingin jalan-jalan,” rengek Tissa.
“Sabar sayang, aku lagi banyak pembeli ini tidak mungkin pergi begitu saja,” sahut Mario.
“Di sini ‘kan banyak pelayannya kamu serahkan saja semuanya kepada pelayan kamu,” rengek Tissa.
“Sabar ya, sayang sebentar lagi selesai,” sahut Mario dengan senyumannya.
Tissa kembali duduk dengan wajahnya yang cemberut. Setelah lulus kuliah, Tissa sama sekali tidak bekerja dia hanya diam di rumah dan tidak mau melakukan apa pun. Itu adalah hasil didikan Venny dan Bondan yang terlalu memanjakan Tissa akhirnya Tissa tumbuh menjadi anak yang sangat manja.
Malam pun tiba....
Tissa asyik memainkan ponselnya, sedangkan Venny sibuk dengan berkas-berkas yang harus dia pelajari. “Ma, lihat deh tas ini bagus banget, Tissa mau dong Ma. Kebetulan Tissa belum punya tas yang warna ini,” seru Tissa sembari menunjukan ponselnya.
“Lain kali saja, Mama lagi pusing masalah keuangan,” sahut Mama Venny tanpa menoleh sedikit pun.
“Ih, kok sekarang Mama gitu sih? Ma sudah gak sayang ya, sama Tissa?” kesal Tissa.
“Bukanya gak sayang, selama ini kamu sudah pakai tas milik Belva bahkan Mama gak tahu harus bicara apa kalau suatu saat nanti Belva pulang. Baju, tas, sepatu, semuanya kamu pakai dan Belva sama sekali tidak suka barang-barangnya dipakai oleh orang lain,” sahut Mama Venny.
“Kenapa sekarang Mama jadi mikirin anak itu, sudah bertahun-tahun dia pulang bisa jadi dia sudah jadi gelandangan di negara orang sana atau jangan-jangan sudah mati dibunuh orang,” geram Tissa.
Venny emosi, dia menggebrak meja dan menatap Tissa dengan tatapan kemarahan. “Diam kamu, Tissa! Kamu tidak berhak bicara seperti itu kepada Belva, bagaimana pun Belva anak kandung Mama. Kamu selalu minta ini dan itu tanpa tahu bagaimana kondisi keuangan Mama seperti apa. Kalau kamu mau uang, cari kerja!” bentak Mama Venny.
Tissa kaget, air matanya sudah menetes. “Mama jahat!” teriak Tissa sembari berlari ke kamarnya.
Bondan yang baru pulang, kaget mendengar teriakan Tissa. “Tissa kenapa?” tanya Bondan.
“Tanya saja sama anaknya, aku lagi pusing,” sahut Mama Venny.
Venny membereskan berkas-berkas itu, lalu pergi meninggalkan Bondan. Berbeda dengan Belva, dia saat ini sedang berusaha menjalani hidup dengan bahagia. “Yur, besok produk pertama aku akan sampai di sini. Kita harus persiapkan ruangan untuk kita jadikan tempat live. Penjualan pertama kita harus lewat sosial media, karena itu jalur paling cepat untuk mendapatkan konsumen,” seru Belva.
“Terus nanti yang live siapa?” tanya Yuri.
“Kamu lah,” sahut Belva.
“Hah, jangan bercanda kamu Bel. Aku orangnya panikan, gak bisa live kaya gitu bisa-bisa aku kejang-kejang nanti,” keluh Yuri.
“Kenapa kejang-kejang?”
“Bel, aku orangnya insecure gak percaya diri, aku gak mau muncul di hadapan penonton, aku pasti bakalan kencing di celana saking gugupnya,” sahut Yuri.
“Nanti aku ajarin, akun aku kebetulan masih banyak pengikutnya dan masih banyak yang beli produk aku karena merasa sudah cocok. Apalagi sekarang aku punya formulasi baru yang akan membuat wajah-wajah wanita Indonesia glowing dalam sekejap,” sahut Belva.
“Dulu kamu sendiri yang live?” tanya Yuri.
“Enggaklah, aku bayar orang buat live,” sahut Belva.
Yuri memperlihatkan wajah memelas. “Sudah jangan sedih kaya gitu, lihat wajah kamu sudah cantik dan putih tinggal kamu ajak semua netizen untuk memakai produk aku, ngomong aja seperti biasanya jangan sampai dijadikan beban,” ucap Belva memberikan semangat.
Yuri menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan. “Baiklah, kalau itu memang jalan satu-satunya,” lirih Yuri.
“Nah gitu dong. Mulai besok kita mulai gencar tawarkan produk aku, dan kalau perlu kasih diskon gede-gedean gak apa-apa rugi diawal semoga kedepannya produk aku laku di pasaran,” seru Belva penuh semangat.
“Hari baru, kehidupan baru, itu ‘kan slogan kamu!” seru Yuri.
“Betul sekali.”
Abi...iya pasti Abi bisa selamtin Belva