NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali: Membuang Pengkhianat

Terlahir Kembali: Membuang Pengkhianat

Status: tamat
Genre:Hari Kiamat / Ruang Ajaib / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Tamat
Popularitas:1M
Nilai: 5
Nama Author: Yulianti Azis

Naomi Allora mati membeku di tengah bencana cuaca ekstrem setelah dikeluarkan dari bunker oleh orang tua kandung dan tunangannya sendiri, dikorbankan demi anak angkat keluarga Elios, Viviane. Padahal Naomi adalah anak kandung yang pernah tertukar sejak kecil dan rela meninggalkan keluarga angkatnya demi kembali ke darah dagingnya, namun justru ditolak dan dibuang.

Diberi kesempatan kedua sebelum kiamat memusnahkan umat manusia, Naomi bangkit dengan ingatan penuh dan bantuan sistem. Kali ini, ia memilih keluarga angkat yang benar-benar mencintainya, mempersiapkan diri menghadapi bencana, mengumpulkan pengikut, dan membalas pengkhianatan. Dari kehancuran dunia lama, Naomi membangun peradaban baru sebagai sosok yang tak lagi bisa dikorbankan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Misi Naomi

Brak!

Akhirnya, keluarga Elios benar-benar pergi.

Pintu kamar rumah sakit tertutup dengan suara agak keras cukup untuk menunjukkan kemarahan yang masih mereka bawa. Langkah kaki mereka menjauh, disertai gumaman kesal yang perlahan menghilang di lorong.

Begitu suasana kembali sepi, Naomi menghembuskan napas panjang. Dadanya terasa jauh lebih ringan, seolah beban yang selama ini menindihnya akhirnya diangkat.

Keluarga Atlas masih berdiri di tempat, menatap Naomi dengan ekspresi tak percaya. Max memandang adiknya lama, seolah memastikan apa yang baru saja terjadi itu nyata.

Nyonya Arumi dan Tuan Bastian bahkan tampak seperti sedang bermimpi Naomi yang mereka kenal selama ini tak pernah berani melawan keluarga kandungnya, apalagi sampai setegas itu.

Menyadari tatapan mereka yang terlalu intens, Naomi langsung bertindak.

Ia melangkah kecil ke arah Max, lalu dengan wajah pucat yang dibuat-buat, ia bersandar manja ke dada pria itu. Untungnya tinggi badannya yang 165 sentimeter pas berada di bahu Max. Naomi pura-pura melemas, kelopak matanya setengah terpejam.

“Kak …” katanya lirih, suaranya sengaja dilemahkan. “Aku capek. Aku mau istirahat.”

Max langsung panik. “Hei—Naomi!”

Tanpa berpikir panjang, ia menggendong Naomi dengan hati-hati, memastikan selang infus tidak tertarik. Gerakannya lembut, seolah Naomi terbuat dari kaca. Ia meletakkan tubuh Naomi kembali ke ranjang rumah sakit dengan sangat pelan.

Naomi tetap memejamkan mata, napasnya dibuat teratur seolah tertidur.

Nyonya Arumi menatap pemandangan itu dengan mata berkaca-kaca. “Syukurlah …” katanya pelan. “Syukurlah Naomi sudah sadar.”

Ia mengusap dadanya sendiri. “Mereka memang bukan keluarga yang baik untukmu, Nak.”

Tuan Bastian mengangguk setuju. “Lebih baik cepat sadar daripada terus terluka.”

Ia lalu menoleh ke arah Max. “Jaga adikmu. Jangan biarkan siapa pun menyakitinya lagi.”

Max mengangguk mantap. “Aku akan jaga dia, Pa.”

Tuan dan Nyonya Atlas kemudian melangkah keluar dengan pelan memberikan waktu istirahat bagu Naomi, menutup pintu tanpa suara agar Naomi bisa beristirahat dengan tenang.

Max masih berdiri beberapa detik di samping ranjang, menatap wajah Naomi yang tampak lelah. Ia menghela napas panjang, lalu berbalik dan keluar sebentar, mungkin untuk menenangkan pikirannya sendiri.

Begitu langkah kaki Max menghilang, Naomi perlahan membuka matanya.

Ia menatap langit-langit putih di atasnya, lalu tersenyum kecil. “Akhirnya. Tenang juga,” gumamnya.

Namun belum sempat ia menikmati ketenangan itu lebih lama, Naomi tersentak kecil.

Ding!

Suara mekanis tiba-tiba menggema di kepalanya. Di depan matanya, sebuah layar transparan muncul begitu saja.

[Selamat, Tuan! Anda mendapatkan 1 poin karena telah memukul saudara tiri Anda.]

Mata Naomi membelalak. “Hah?!”

Ia berkedip beberapa kali, memastikan ia tidak berhalusinasi. “Poin?” gumamnya. “Terus … bisa dipakai buat apa?”

Layar itu berkilau lembut sebelum suara sistem kembali terdengar.

[“Poin dapat ditukar dengan dua pilihan: 1. Pemulihan tubuh. 2. Memaksa musuh menjadi sekutu selama 5 menit.”]

Naomi mengerutkan kening. “Paksa musuh jadi sekutu?”

Ia mendengus kecil. “Menarik sih … tapi cuma lima menit?”

Ia menoleh sedikit, merasakan nyeri samar di tubuhnya. Tulang-tulangnya masih terasa tidak nyaman sejak kecelakaan itu. Ada rasa sakit di dalam, seperti belum sepenuhnya pulih. Memang di kehidupan yng dulu, Naomi tidak pulih akibat cedera itu.

“Aku ambil yang pertama saja,” katanya mantap. “Pemulihan tubuh.”

[“Baik, Tuan.”]

Begitu suara itu selesai, Naomi langsung merasakan sesuatu yang aneh, ia langsung nerasa hangat.

Sensasi lembut mengalir dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Nyeri di tulang-tulangnya perlahan memudar. Rasa perih di bagian dalam tubuhnya menghilang sedikit demi sedikit. Nafasnya terasa lebih ringan, tubuhnya bahkan terasa lebih segar dari sebelum kecelakaan.

Naomi menggerakkan jarinya pelan. Tidak sakit. Ia mengangkat sedikit lengannya, akhirnya normal.

“Gila,” bisiknya kagum. “Sistem ini henar-benar ajaib. Kalau aku terus memukul si Vivian, poinku terus bertambah bukan?”

Naomi tersenyum kecil, matanya berbinar penuh kepuasan.

Suara sistem kembali terdengar di kepalanya.

["Tidak, Tuan!" Setiap penambahan poin berasal dari misi yang berbeda! Jadi, tidak selamanya memukul saudara jahat Anda itu bukan solusi."]

Senyum di wajah Naomi langsung memudar. “Oh,” gumamnya pelan. “Kupikir itu misi harian.”

Ia membayangkan harus terus menampar Viviane demi poin dan langsung menghela napas kecil. “Kalau begitu sudahlah.”

Naomi menggeser tubuhnya sedikit di ranjang, lalu menatap layar transparan di depannya dengan ekspresi penasaran.

“Ngomong-ngomong,” katanya santai, “kamu punya nama?”

Layar itu terdiam sejenak. ["Belum, Tuan."]

Naomi mengerutkan kening. “Masa sistem sepintar ini tidak punya nama?” Ia berpikir sebentar, lalu tersenyum tipis. “Kalau begitu aku yang kasih.”

Layar berkilau lembut, seolah menunggu.

“Aku akan memanggilmu Sila,” ucap Naomi mantap.

Beberapa detik hening berlalu, lalu.

Ding!

["Nama diterima. Terima kasih, Tuan."]

Naomi tersenyum kecil. “Sama-sama, Sila.”

Setelah itu, ekspres Naomi perlahan berubah serius. Senyum tipis itu menghilang, digantikan sorot mata yang dalam. Ingatan tentang badai salju itu kembali muncul langit gelap, angin menggila, dunia yang runtuh dalam dingin dan keputusasaan.

“Aku tidak punya banyak waktu,” gumamnya pelan.

Naomi menarik napas dalam.

“Sila,” katanya kemudian, “aku ingat badai salju besar itu. Bencana yang menghancurkan hampir seluruh dunia.”

Layar sistem muncul lebih jelas.

["Konfirmasi: Bencana Salju Global. Estimasi waktu: 1 tahun dari sekarang."]

Naomi mengepalkan tangannya. “Aku harus bersiap.”

Ia menatap lurus ke depan. “Apa saja yang harus kukumpulkan dan kulakukan sebelum bencana itu terjadi?”

Sila tidak langsung menjawab. Seolah sedang memproses.

["Untuk bertahan hidup dan membangun kembali peradaban, persiapan dibagi menjadi lima kategori utama."]

“Lima?” Naomi mengangguk. “Jelaskan satu per satu.”

["Pertama: Lokasi."]

Naomi langsung menyela. “Apa aku perlu mencari pulau terpencil? Tempat yang tidak terkena badai?”

["Tidak ada wilayah yang sepenuhnya aman, Tuan. Namun, tingkat kerusakan berbeda-beda. Pulau terpencil berisiko kekurangan sumber daya dan isolasi. Rekomendasi: wilayah dengan akses pegunungan rendah, sumber air bawah tanah, dan potensi bunker alami."]

Naomi mengangguk pelan. “Jadi bukan lari sejauh mungkin tapi memilih tempat yang bisa bertahan.”

["Benar."]

“Lanjut,” titah Naomi dengan wajah semakin serius.

["Kedua: Sumber Daya. Anda harus mengumpulkan: makanan tahan lama, benih tanaman, alat pertanian, bahan bakar, obat-obatan, dan pakaian termal."]

Naomi menyipitkan mata. “Benih tanaman?”

["Peradaban baru membutuhkan pangan berkelanjutan. Benih lebih berharga daripada emas dan uang, setelah bencana."]

Naomi tersenyum miring. “Masuk akal.”

["Ketiga: Infrastruktur. Tempat berlindung tahan dingin, sistem pemanas non-listrik, penyaring air, dan gudang penyimpanan."]

“Non-listrik?” tanya Naomi.

["Listrik akan runtuh dalam 3 bulan pertama."]

Naomi terdiam sesaat. “Dunia benar-benar akan jatuh, ya.”

["Ya, Tuan."]

Ia menghela napas, lalu memberi isyarat agar Sila melanjutkan.

["Keempat: Manusia. Anda tidak bisa membangun peradaban sendirian."]

Naomi terdiam cukup lama kali ini. “Jadi … aku perlu orang.”

["Benar. Rekomendasi: individu dengan keahlian medis, teknik, pertanian, pertahanan, dan kepemimpinan."]

Sila kembali berbicara, ["Loyalitas lebih penting daripada jumlah."]

“Loyalitas .…” Naomi tersenyum pahit. “Yang itu paling sulit.”

["Kelima: Kekuatan pribadi."]

Naomi menegakkan tubuhnya sedikit. “Maksudmu … aku?”

["Ya. Fisik, mental, dan kemampuan adaptasi Anda harus meningkat. Sistem akan menyediakan misi dan hadiah untuk mendukung tujuan tersebut."]

Naomi menatap layar itu dengan mata menyala. “Jadi aku bukan cuma bertahan hidup.”

["Benar. Anda diproyeksikan sebagai pusat peradaban baru pasca-bencana."]

Jantung Naomi berdegup sedikit lebih cepat.

“Peradaban baru,” bisiknya.

Ia lalu tersenyum kecil, penuh tekad. “Baiklah, Sila. Kalau dunia akan membeku, maka aku akan membangun dunia baru di atas salju itu.”

Layar sistem berkilau terang.

["Perintah diterima. Misi persiapan akan segera dibuka."]

Naomi bersandar kembali di ranjang, menutup matanya perlahan. Kali ini ia sudah tahu ke mana langkahnya akan menuju..

1
Yue Li MZy
wah,amazing KA Yuli memang the best bikin cerita ada MC cewek kuat an Tangguh
Restu Siti Aisyah
Terimakasih thor
Restu Siti Aisyah
tentu
Restu Siti Aisyah
hebat thor
Restu Siti Aisyah
wowwww👍
Diana Puji Astuti
bagus cerritanya
ika
jangan kasih kendor Naomi..👍
Milaa Eka widya
hah
Dian
sukaaaa
Priskha
sangat sangat bagus ceritanya, tdk bertele2, alur dan bahasanya jelas bikin pembaca penasaran pingin baca trs.....
Priskha
Max.... Max jd org jangan terlalu kaku knp sih??? sdh kayak kanebo aja
Ko
Alexei volkov mana? 🤔
Priskha
sekali bodoh tetap bodoh....
Priskha
itulah sifat tamakmu tdk pernah berfikir sblm bertindak, kesombongan sdh menutupi akal sehatmu....
Priskha
dasar klg toxic untung si Naomi cpt2 klg dr lingkungan klg toxic itu.... kutunggu kehancuranmu klg Elios....
Priskha
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
𝓛𝓾𝓷𝓮𝓻𝓲𝓪𝓷𝓮
𝚠𝚘𝚠𝚠 𝚝𝚒𝚍𝚊𝚔 𝚋𝚒𝚜𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚔𝚊𝚝𝚊-𝚔𝚊𝚝𝚊 𝚊𝚔𝚞 𝚖𝚊𝚑 🤭
𝓛𝓾𝓷𝓮𝓻𝓲𝓪𝓷𝓮
𝚠𝚘𝚠𝚠 𝚓𝚍𝚒 𝚐𝚒𝚝𝚞 𝚊𝚕𝚊𝚜𝚊𝚗𝚗𝚢𝚊 𝚔𝚎𝚗𝚊𝚙𝚊 𝚜𝚒𝚜𝚝𝚎𝚖 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚖𝚒𝚜𝚒 𝚐𝚒𝚕𝚊 𝚝𝚊𝚍𝚒 🤭
zen
⭐⭐⭐⭐⭐
Shelvia Amanda Dika
aku paling suka dgn bab ini kk author. makan itu viviane
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!