NovelToon NovelToon
Maaf Bu, Aku Bukan Anakmu!

Maaf Bu, Aku Bukan Anakmu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Ibu Tiri / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yeni Sri Wahyuni

Blurb

"Yang kubenci selama 6 tahun, ternyata malaikat tak bersayap"

Alina membenci Bu Kirana. Seorang guru SD sederhana yang dinikahi Papa dua tahun setelah Mama berpulang.

Selama enam tahun, Alina menolak kehadirannya. Alina menyia-nyiakan makanan yang Ibu masak, menyebarkan cerita yang menyakitkan, bahkan berteriak di depan semua orang: "Maaf Bu, aku tidak bisa memanggilmu Ibu."

Kirana tidak pernah membalas. Ia tidak pernah meninggikan suara. Ia hanya tetap ada. Memasak makanan yang sama setiap pagi, berjalan kaki menjemput Alina saat hujan, menjahit kancing baju Alina yang lepas sampai larut malam.

Sampai suatu hari, Papa kehilangan segalanya. Mansion dijual, teman-teman menghilang, orang-orang yang dulu memanggil "Tuan Aditya" kini berpaling.

Yang tetap tinggal hanya Kirana.
Perempuan yang diam-diam menjual kalung pemberian Papa, menjual motor tuanya, bekerja tiga waktu dalam sehari... hanya agar Alina tetap bisa makan, tetap bisa sekolah.

Semuanya terlambat Alina sadari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: ANTARA GENGSI DAN RINDU

...BAB 28...

...ANTARA GENGSI DAN RINDU...

Perjalanan pulang ke rumah terasa lebih lambat dari biasanya. Pikiran Alina terus melayang-layang, memutar kembali semua yang baru saja dilihat dan didengarnya. Di satu sisi, hatinya terasa lega karena akhirnya tahu keberadaan Kirana dan Dimas—mereka hidup sederhana namun tampak damai dan sehat. Namun di sisi lain, rasa malu dan gengsi masih menempel kuat di dadanya, seolah menjadi tembok tebal yang menghalanginya untuk segera melangkah mendekat.

“Apa yang akan aku katakan kalau bertemu? Dulu aku sering membentaknya, menganggapnya tidak berguna, bahkan membuang semua makanan yang dimasaknya. Sekarang tiba-tiba datang ingin meminta bantuan? Rasanya tidak pantas sama sekali,” gumamnya dalam hati sambil menggeleng pelan. Meskipun rasa rindu akan kelembutan dan kehangatan Kirana perlahan tumbuh di dalam hatinya, ia belum sanggup menyingkirkan rasa malunya itu.

Sesampainya di rumah, Aditya pulang tidak lama kemudian. Ia meletakkan bungkusan makanan yang dititipkan Kirana di atas meja makan, lalu tersenyum tipis.

“Ini, Nak. Tadi Papa beli di warung dekat toko. Katanya masakan hari ini cukup enak dan segar. Makanlah sebelum dingin,” ujar Aditya, tetap memegang janjinya pada Kirana.

Namun kali ini, Alina hanya menatap bungkusan itu dengan tatapan yang berbeda. Ia tahu persis siapa yang memasaknya, tahu tangan mana yang dengan penuh kasih sayang meracik bumbu dan membungkusnya rapi. Tanpa ragu lagi, ia membuka ikatannya. Aroma gurih dan harum yang segera tercium mengingatkannya pada masa lalu—rasa yang dulu sering ia abaikan, namun kini terasa begitu istimewa.

Tanpa menunggu lama, Alina mulai menyantapnya dengan lahap. Setiap suapan terasa lezat, bahkan terasa lebih nikmat dari makanan mewah apa pun yang pernah ia makan di masa lalu. Aditya yang melihatnya terkejut, selama ini putrinya selalu memakan makanan itu dengan biasa saja atau bahkan enggan jika sudah tahu asalnya.

“Kok hari ini makannya lahap sekali?” tanya Aditya penasaran.

Alina menelan makanannya, lalu mengangkat wajah dengan senyum kecil yang terasa tulus. “Enak, Pah. Rasanya pas sekali. Mungkin karena hari ini Alina merasa lebih lapar dari biasanya,” jawabnya sambil menyembunyikan senyum dan kebenaran di hatinya. Ia tidak mau mengungkapkan bahwa ia sudah tahu siapa sebenarnya yang memasaknya.

Setelah selesai makan dan membereskan peralatan, Alina duduk di hadapan ayahnya dengan sikap yang lebih tenang. Ia menarik napas panjang sebelum menyampaikan keputusan yang sudah ia bulatkan.

“Pah, tadi Alina sudah memikirkan baik-baik soal sekolah. Alina ingin pindah ke SMA Al-Ahzar saja.”

Mendengar nama sekolah itu, mata Aditya terbelalak kaget. Ia terdiam sejenak, lalu mengerutkan dahi seolah memastikan tidak salah dengar.

“SMA Al-Ahzar? Nak, kau yakin? Itu sekolah yang pendidikannya lebih menekankan pada pelajaran agama, kan? Bukan sekolah umum biasa seperti yang dulu kau tempati.”

Alina mengangguk mantap. “Ya, Pah. Alina sudah tahu itu. Lingkungannya baik, tertib, dan biayanya juga terjangkau. Lebih cocok dengan keadaan kita sekarang.”

Aditya menghela napas, lalu menatap putrinya dengan tatapan prihatin namun jujur. “Tapi, Nak… Papa tahu betul kemampuanmu. Dulu kau tidak pernah tertarik pada hal-hal seperti itu. Kau bahkan belum bisa membaca Al-Qur’an dengan lancar, apalagi memahami maknanya. Di sekolah itu, pelajaran agama adalah mata pelajaran utama. Kalau kau masuk dan tidak menguasainya, nanti kau akan merasa kesulitan dan tertinggal jauh dari teman-temanmu.”

Kata-kata ayahnya itu seperti membuka mata Alina. Ia tertegun, baru menyadari hal yang sangat penting itu. Benar juga apa yang dikatakan ayahnya. Selama ini ia hanya memikirkan keamanan dan kenyamanan lingkungannya, tapi lupa dengan kemampuan dirinya sendiri.

“Alina juga baru sadar itu, Pah,” jawabnya pelan sambil menunduk. “Tapi… sekarang Alina ingin belajar. Hanya saja, siapa yang bisa mengajari Alina mengaji dan membaca Al-Qur’an dengan benar? Di sekitar sini kita belum kenal banyak orang, dan Alina juga malu meminta bantuan orang lain yang tidak dikenal.”

Pertanyaan itu menggantung di udara. Alina memutar otak mencari jawaban, namun hanya satu nama yang muncul paling jelas di benaknya—Kirana.

Ia teringat kembali pada masa-masa saat mereka masih tinggal di rumah besar itu. Malam-malam sunyi, saat semua orang sudah terlelap, sering kali ia mendengar suara lantunan ayat suci yang merdu dan menenangkan mengalir dari balik pintu kamar Kirana. Suara itu terdengar begitu indah, penuh ketenangan, dan ia tahu bahwa Kirana adalah wanita yang sangat taat, pintar membaca Al-Qur’an, dan mengerti ajaran agama dengan baik.

“Kalau ada Bu Kirana, pasti dia bisa mengajarkanku dengan sabar. Dia tidak pernah marah atau membentak saat mengajari sesuatu. Tapi bagaimana caranya? Aku malu sekali harus mendatanginya, apalagi setelah semua perlakuan buruk yang aku berikan padanya dulu,” batin Alina gelisah.

Ia mengangkat wajah, melihat ayahnya yang juga tampak berpikir keras mencari solusi. “Kalau saja ada seseorang yang sabar dan bisa mengajari Alina perlahan. Tapi siapa?” gumamnya lagi, seolah berbicara pada dirinya sendiri.

Aditya mengamati raut wajah putrinya yang tampak bingung dan penuh keinginan untuk berubah. Ia tahu betul siapa yang paling tepat untuk membantu Alina, tapi ia juga mengerti perasaan gengsi dan malu yang menyelimuti hati gadis itu.

“Yang paling bisa mengajari dan paling sabar tentu saja Bu Kirana,” ujar Aditya pelan, seolah membaca pikiran Alina. “Tapi Papa tahu, sekarang kau masih merasa canggung dan malu untuk mendekatinya, bukan?”

Alina terkejut, wajahnya langsung memerah karena ketahuan. Ia mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca. “Iya, Pah. Alina mengakuinya. Hati Alina sebenarnya ingin sekali belajar darinya, tapi gengsi dan rasa bersalah itu terasa begitu berat. Alina takut dia mengingat semua kesalahan Alina dan menolak, atau merasa terganggu.”

Aditya tersenyum lembut, lalu mengusap kepala putrinya dengan penuh kasih sayang. “Papa mengerti, Nak. Tapi ingat, kebaikan Bu Kirana tidak pernah mengenal balas dendam. Dia wanita yang pemaaf. Namun, Papa juga tidak akan memaksamu. Biarkan waktu yang menjawab. Sementara itu, kita cari jalan lain dulu. Kalau nanti hatimu sudah siap, Papa yakin dia tidak akan menolak membantumu.”

Malam itu, Alina berbaring di kasurnya dengan perasaan yang bergejolak. Di satu sisi ada keinginan kuat untuk belajar dan bersekolah di tempat yang diinginkannya, di sisi lain ada satu-satunya jalan terbaik yang terhalang oleh rasa malu dan gengsi. Di dalam hatinya, ia pun bertanya pada dirinya sendiri—sampai kapan ia akan membiarkan perasaan itu menghalanginya untuk memulai sesuatu yang baik?

 

Bersambung...

1
Kam1la
Alina, yang kuat yah...!
❤️⃟Wᵃfᴛᴀͭʟᷴɪᷝᴛͥʜᷮᴀ 🤎
apakah hati alin perlahan menerima kehadiran Kirana dan Dimas
Kayla Rane: sudah Bab 23 kakak, ditunggu komennya. Krisan dari KK cantik 😍
total 1 replies
❤️⃟Wᵃfᴛᴀͭʟᷴɪᷝᴛͥʜᷮᴀ 🤎
lagian ngapain nikah lagi sih kalo ujung²nya kehidupan Dimas dan Kirana tetap sama bahkan menafkahi saja tampaknya jarang
Kayla Rane: lanjut terus k bacanya, nanti bakal ditemukan jawabannya..🤭 terimakasih komentar, dan likenya. 💞💞💞
total 1 replies
❤️⃟Wᵃfᴛᴀͭʟᷴɪᷝᴛͥʜᷮᴀ 🤎
sebenarnya si alin ini kayaknya peduli sama Kirana tapi dianya menyembunyikan rasa itu dan ditutup dengan rasa benci
❤️⃟Wᵃfᴛᴀͭʟᷴɪᷝᴛͥʜᷮᴀ 🤎
jujur sebenarnya si alin emang agak nyebelin ya, tapi mungkin karna hati nya sudah beku jadi ya gitu 😕
❤️⃟Wᵃfᴛᴀͭʟᷴɪᷝᴛͥʜᷮᴀ 🤎
pasti alin masih gak bisa terima kalo tiba² dia punya ibu baru yg cuma kerja jadi guru
falea sezi
😒 anak g tau diri bangke
Kayla Rane: sudah Bab 23 kk ditunggu komennya (Krisan dari KK cantik 😍)
total 1 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
hadiah nya sih keren, tapi nafkah setiap hari nya manaaaa? kata nya CEO, punya pulau pribadi 🤣🤣 sampai laptop rusak aja masih minta ganti, istri gak pegang uang samsek, hanya uang tabungan hasil usaha sendiri Pak Aditya gak punya gengsi kah? 🤣 atau Bu Kirana yg terlalu bodoh 🏃🏻‍♀️
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
lucu.. pelakuan Pak Aditya ke Bu Kirana dan Dimas, bukan seperti perlakuan seorang suami kepada istri, atau seorang ayah kepada anak, lebih seperti perlakuan kepada pembantu.
Suami istri tidur terpisah, istri sakit tidak tau, istri begadang tidak tau, lalu buat apa menikaaaahhhh..???? 🙄🙄🙄
Kayla Rane: sudah Bab 23 kakak.. ditunggu komennya, (kritik sarannya KK)😍
total 1 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
looh tadi katanya jalan kaki, kok tiba2 ada mobil?
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ: wkwkwkwk.. sama2 kak thor
total 2 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
pak.. pak.. jangan jadi kepala keluarga pajangan donk, situ boleh bangga jadi ceo, tapi anak sambung dan istri diperlakukan begitu, sama aja harga diri kamu yg diinjak2 pak.. 🙏 kalau gak bisa melindungi mereka, mending gak usah dinikahi, toh kehidupan dimas dan kirana gak ada perubahan 😏
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
papa nya aneh.. apa tujuannya menikah dengan Kirana? 🙄
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
emang gak ada cctv apa? 😏 mustahal syekali 😌
Kayla Rane: Alina lebih pintar,sebelum buat fitnah dia matiin dulu cctv nya di ruang kerja papanya
total 1 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
kan udh punya suami kaya, kok suaminya masih membiarkan aja bu Kirana dan Dimas kesusahan, terlepas dari sikap Alina dan pernikahan yg disembunyikan, setidaknya beri kehidupan yg layak untuk istri dan anak sambungnya, nafkah yg layak untuk mereka..
Kayla Rane: iya kan dari awal bab, si Alina udah gak suka udah berpikiran buruk duluan sama ibu tirinya bahwa Kirana nikahin papanya pasti mau nguras harta papanya saja. jadi Kirana walau sudah nikah sama papanya Alina masih berpenampilan sederhana, agar bisa diterima Alina bahwa penilaiannya tentang kirana salah.
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!