NovelToon NovelToon
TERJEBAK DI ANTARA DUA CERITA

TERJEBAK DI ANTARA DUA CERITA

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:520
Nilai: 5
Nama Author: Rhin Pasker

Dua penulis rival.
Dua dunia cerita.
Dua takdir yang seharusnya tidak pernah bertemu.
Namun sebuah kecelakaan mengubah segalanya mereka terlempar ke dalam dunia novel yang mereka ciptakan sendiri.
Mo Chen, pangeran ketiga yang dianggap lemah namun menyimpan kekuatan tersembunyi.
Gu Yanran, putri panglima perang yang difitnah dan ditakdirkan mati demi politik kekaisaran.
Masalahnya… mereka tidak masuk ke dunia mereka sendiri.
Mereka masuk ke dunia satu sama lain.
Dan ketika dua cerita yang berbeda mulai menyatu, alur yang seharusnya sudah ditentukan mulai retak.
Kini tidak ada lagi naskah yang pasti.
Hanya satu pertanyaan yang tersisa:
Apakah mereka bisa mengubah akhir… sebelum cerita mengubah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhin Pasker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JALAN PULANG YANG BERDARAH

Kepulan debu masih menyelimuti seluruh jalur sempit di antara dua tebing tinggi.

Jarak pandang bahkan tidak mencapai satu langkah.

Di atas tebing, para Pasukan Bayangan terus menghujani bagian bawah dengan anak panah tanpa henti.

Whoosh! Whoosh! Whoosh!

Suara anak panah yang membelah udara terus bergema.

Mereka sama sekali tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di bawah sana.

Di balik dinding debu yang tebal, Gu Yanran mengangkat tangan kanannya sebagai isyarat.

"Majulah."

Perintah itu terdengar pelan, tetapi cukup jelas untuk didengar oleh seluruh prajurit pilihannya.

"Siap!"

Tanpa membuang waktu, seluruh pasukan segera memacu kuda mereka secepat mungkin.

Derap kaki kuda menggema di dalam lorong sempit.

Namun, suara gemuruh anak panah yang terus menghantam tanah dan dinding tebing menutupi suara langkah kuda mereka, sehingga tidak seorang pun di atas menyadari pergerakan itu.

Memanfaatkan kepulan debu yang menghalangi pandangan, mereka melesat keluar dari jalur maut tersebut.

Tak seorang pun tertinggal.

Kereta logistik yang membawa Zhao Lie pun dikawal rapat oleh beberapa prajurit hingga berhasil keluar dengan selamat.

Hanya dalam waktu singkat, seluruh rombongan telah mencapai daerah yang lebih terbuka.

Gu Yanran kembali mengangkat tangannya.

"Berhenti."

Seluruh pasukan segera menarik kendali kuda secara serempak.

Mereka kini berada di tempat yang jauh lebih aman.

Sementara itu...

Di atas tebing, para Pasukan Bayangan masih terus melepaskan anak panah.

Hingga akhirnya, salah seorang di antara mereka mengangkat tangan.

"Berhenti!"

Hujan panah pun langsung terhenti.

Suasana mendadak sunyi.

Mereka semua menatap kepulan debu yang masih memenuhi dasar jalur sempit.

Salah seorang pasukan bertanya dengan ragu.

"Ketua... menurutmu, apakah kita berhasil?"

Pemimpin mereka tetap menatap ke bawah.

"Jangan terburu-buru."

"Kita tunggu sampai debunya menghilang."

"Baru setelah itu kita pastikan."

Semua mengangguk.

Mereka menunggu dalam diam.

Perlahan...

Angin mulai berembus.

Kepulan debu sedikit demi sedikit menghilang.

Pemandangan di bawah akhirnya mulai terlihat jelas.

Namun...

Apa yang mereka lihat membuat seluruh wajah mereka berubah pucat.

Di dasar jalur sempit...

Tidak ada seorang pun.

Yang tersisa hanyalah ratusan anak panah yang menancap di tanah.

Sebagian lainnya berserakan dalam keadaan patah, bekas ditebas pedang.

Keheningan langsung menyelimuti puncak tebing.

Salah seorang pasukan bayangan bergumam dengan wajah tak percaya.

"Bagaimana mungkin..."

"Mereka... menghilang?"

Pasukan lainnya segera melihat ke segala arah.

"Ke mana mereka pergi?"

Pemimpin Pasukan Bayangan mengepalkan tangannya erat.

"Sial!"

"Mereka memanfaatkan debu itu untuk meloloskan diri!"

Ia segera berteriak.

"Cepat!"

"Kejar mereka!"

"Kalau kita gagal..."

"...kepala kita sendiri yang akan menjadi gantinya!"

Mendengar perintah itu, seluruh Pasukan Bayangan segera melompat turun dari tebing.

Mereka bergerak dengan kecepatan tinggi menyusuri jalur yang baru saja dilewati Gu Yanran.

Tak seorang pun menyadari...

Bahwa mereka justru sedang melangkah menuju sebuah perangkap.

 

Matahari mulai condong ke barat.

Langit perlahan berubah jingga.

Beberapa saat kemudian...

Pasukan Bayangan tiba di sebuah dataran yang cukup luas.

Mereka serentak menghentikan langkah.

Seluruh tubuh mereka menegang.

Di hadapan mereka...

Gu Yanran berdiri dengan tenang.

Di belakangnya, seratus prajurit pilihan membentuk barisan yang rapi.

Mereka seolah memang telah menunggu kedatangan para pengejar.

Tak ada sedikit pun kepanikan di wajah mereka.

Yang terlihat hanyalah ketenangan yang mengintimidasi.

Pemimpin Pasukan Bayangan tersenyum tipis.

"Rupanya..."

"Kalian sudah menyadari keberadaan kami sejak awal."

Gu Yanran menatapnya tanpa berkedip.

"Aku memang sudah merasakan keberadaan kalian."

"Tetapi aku sengaja membiarkan kalian mengikuti kami."

Ucapan itu membuat beberapa prajurit bayangan saling berpandangan.

Pemimpin mereka tertawa pelan.

"Kalau begitu..."

"Aku terlalu meremehkanmu."

Gu Yanran hanya membalas dengan senyum tipis.

Namun senyum itu sama sekali tidak mengandung kehangatan.

Tatapannya dingin.

Begitu dingin hingga membuat suasana di sekelilingnya terasa semakin mencekam.

Para prajurit yang mengenalnya tahu arti senyum tersebut.

Jika Gu Yanran sudah tersenyum seperti itu...

Berarti...

Tidak akan ada belas kasihan.

Pemimpin Pasukan Bayangan kembali berbicara.

"Kau memang pantas menjadi Panglima termuda Kekaisaran."

Gu Yanran menjawab dengan nada datar.

"Sepertinya..."

"Aku sudah tahu siapa yang mengutus kalian."

Ucapan itu membuat beberapa Pasukan Bayangan kembali saling berpandangan.

Tak seorang pun berani berbicara.

Gu Yanran melanjutkan.

"Sayangnya..."

"Aku tidak tertarik mendengar pengakuan kalian."

Tatapannya semakin tajam.

"Aku juga tidak perlu mengotori tanganku."

"Sepuluh prajuritku sudah lebih dari cukup untuk menghadapi kalian."

Pemimpin Pasukan Bayangan tersenyum sinis.

"Kau terlalu meremehkan lawan."

Gu Yanran menggeleng pelan.

"Bukan aku yang meremehkan."

"Kalianlah yang salah memilih lawan."

Ia kemudian menoleh ke arah pasukannya.

Suaranya terdengar tegas.

"Bereskan mereka."

"Jangan sisakan seorang pun."

"Siap, Panglima Gu!"

Suara sepuluh prajurit di barisan depan menggema bersamaan.

Detik berikutnya...

Mereka serempak melompat turun dari kuda.

Brak!

Tanah bergetar pelan.

Dalam sekejap, sepuluh prajurit Gu melesat ke depan.

Kecepatan mereka begitu luar biasa.

Bahkan para Pasukan Bayangan yang terkenal sebagai pembunuh elit kekaisar pun terkejut.

"Mustahil!"

"Mereka secepat ini?"

Salah seorang Pasukan Bayangan mencoba mengayunkan pedangnya.

Namun sebelum serangan itu sempat mengenai sasaran...

Sebuah kilatan pedang telah lebih dahulu melintas.

Slash!

Tubuhnya langsung roboh ke tanah.

Pertempuran pun berubah menjadi pembantaian sepihak.

Para prajurit Gu bergerak dengan koordinasi yang nyaris sempurna.

Mereka saling menutupi setiap celah.

Tak memberi kesempatan sedikit pun kepada lawan untuk bernapas.

Pemimpin Pasukan Bayangan mulai panik.

"Formasi!"

"Jaga formasi!"

Namun semuanya sudah terlambat.

Satu demi satu anak buahnya tumbang.

Jeritan memenuhi medan pertempuran.

"Argh!"

"Tolong...!"

"Tidak...!"

Namun tidak ada seorang pun yang mampu menyelamatkan mereka.

Salah seorang Pasukan Bayangan yang masih bertahan menatap para prajurit Gu dengan wajah dipenuhi ketakutan.

"Apa..."

"Apa kalian ini manusia?"

"Tidak mungkin manusia bisa bergerak secepat ini!"

"Pantas saja..."

"...kalian mampu memusnahkan ribuan bandit di Perbatasan Utara."

Salah seorang prajurit Gu tersenyum tipis.

"Kau benar."

Ia mengangkat pedangnya.

"Di mata musuh..."

"Kami memang monster."

Kilatan pedang kembali melintas.

Seketika...

Suara itu menghilang untuk selamanya.

Dalam waktu yang sangat singkat...

Pertempuran berakhir.

Tak ada satu pun Pasukan Bayangan yang masih mampu berdiri.

Dataran itu kembali sunyi.

Hanya suara angin sore yang berembus pelan.

Gu Yanran berjalan perlahan melewati tubuh-tubuh yang telah tergeletak.

Tatapannya tetap tenang.

Seolah apa yang baru saja terjadi hanyalah sebuah latihan biasa.

Ia kemudian berhenti.

"Periksa semuanya."

"Geledah setiap tubuh."

"Jika menemukan sesuatu yang mencurigakan, segera laporkan."

"Siap!"

Para prajurit segera bergerak.

Mereka memeriksa satu per satu jasad yang berserakan di medan pertempuran.

Tak lama kemudian...

Seorang perwira berlari menghampiri Gu Yanran.

Ia berlutut sambil memberi hormat.

"Lapor, Panglima!"

"Aku menemukan sesuatu."

"Apa itu?"

Perwira tersebut menyerahkan sebuah lencana logam berwarna hitam.

Di permukaannya terukir lambang khusus yang sangat dikenal oleh kalangan militer Kekaisaran.

Gu Yanran menerimanya.

Tatapannya hanya menyapu benda itu sekilas.

Ekspresinya sama sekali tidak berubah.

Perwira itu berkata pelan.

"Panglima..."

"Mereka adalah Pasukan Bayangan milik Yang Mulia."

Beberapa prajurit yang mendengar laporan itu langsung saling berpandangan.

Mereka mengira Gu Yanran akan terkejut.

Namun...

Yang muncul justru senyum tipis di wajah panglima mereka.

"Aku sudah menduganya."

Nada suaranya tetap tenang.

Seolah semuanya memang telah berada dalam perhitungannya sejak awal.

Perwira itu menundukkan kepala.

"Apa perintah selanjutnya, Panglima?"

Gu Yanran memandang tubuh pemimpin Pasukan Bayangan yang tergeletak di tanah.

Beberapa saat ia terdiam.

Lalu berkata dengan suara dingin.

"Penggal kepala ketua mereka."

Seluruh prajurit terdiam.

Gu Yanran melanjutkan.

"Besok..."

"Kita akan membawanya sebagai hadiah untuk Yang Mulia."

Ucapan itu membuat sang perwira tanpa sadar merinding.

Tatapan Gu Yanran saat itu benar-benar berbeda.

Tidak ada amarah.

Tidak ada kebencian.

Justru ketenangan itulah yang terasa paling mengerikan.

Seolah-olah...

Ia sedang mengirim sebuah pesan.

Pesan bahwa siapa pun yang mencoba menghalangi jalan pulangnya...

Akan menerima balasan yang setimpal.

Perwira itu segera memberi hormat.

"Baik, Panglima Gu."

Beberapa prajurit langsung melaksanakan perintah.

Sementara yang lain mulai membersihkan medan pertempuran.

Matahari perlahan tenggelam di balik pegunungan.

Langit berubah menjadi merah tua.

Gu Yanran memandang sekeliling.

"Kita bermalam di sini."

"Dirikan tenda."

"Siapkan penjagaan berlapis."

"Jangan lengah."

"Siap!"

Seluruh pasukan bergerak cepat.

Sebagian mendirikan tenda.

Sebagian menyiapkan api unggun.

Beberapa prajurit mengambil posisi berjaga di berbagai arah.

Mereka tahu...

Perjalanan belum benar-benar berakhir.

Besok...

Mereka akan memasuki Kota Kekaisaran.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!