Cakiya dan Baruna, dua pendekar muda yang paling dicari-cari keberadaannya di kerajaan. Salah satu alasan dua pendekar itu begitu diburu karena mereka dituduh mencuri tiga dari Delapan Senjata Pusaka milik Kerajaan, yaitu gada Aqni Samaja, kujang Nagacita dan keris Rudra Arutala.
Mereka berdua juga diincar orang-orang dari Perguruan Harimau Bulan dan Perguruan Harimau Matahari, dua perguruan aliran putih terbesar di Kerajaan. Takdir seperti apa yang akan menanti mereka? Apakah mereka tertangkap? Akankah Baruna & Cakiya berhasil memulihkan nama baik mereka? Atau mereka justru bergabung bersama para pendekar dari golongan hitam?
Catatan : Boleh promosi karya di kolom komentar, mohon maaf kalau saya lambat merespon atau malah lupa merespon di kolom komentar 🙇♂️🙇♂️. Mari sesama pegiat industri kreatif saling mendukung...✊✊✊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ersa Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Wujud Asli
Aqni Samaja mengayunkan belalainya ke kanan, dan kemudian menjawab pertanyaan Cakiya. “Kyai Pralananta sebenarnya cukup lama malang melintang di dunia hitam kota Lamunarta. Mungkin selama empat ratus atau lima ratus tahun di dunia pendekar golongan hitam senjata itu menjadi pusaka yang diandalkan oleh para pendekar golongan hitam. Selama itu pula kuamati puluhan orang diperbudak jiwanya oleh pusaka tersebut dan hampir semua diantara jiwa-jiwa mereka disantap oleh Kyai Pralananta. Hanya tiga orang yang berhasil lolos dari kutukan Kyai Pralananta. Mereka berhasil lepas dari kutukan karena kemauan dan keinginan mereka. Meski demikian, dua diantara mereka harus mati di usia relatif muda karena jiwa mereka terlalu lelah saat berjuang melepaskan diri dari kutukan Kyai Pralananta. Sedangkan seorang lagi, hidup dengan berumur panjang serta hidup bahagia di tengah keluarga yang begitu menyayanginya. Orang itu adalah seorang pendekar dari aliran putih yang sengaja mengikat kontrak dengan Kyai Pralananta agar tombak itu tidak menyakiti orang terlalu banyak. Saat berada di dalam kuasa kutukannya pun orang itu tidak pernah membunuh orang lain, bahkan orang jahat sekali pun. Orang itu begitu luar biasa, karena hanya dengan kekuatan tekat berhasil melepaskan diri dari kutukan Kyai Pralananta. Karena kehebatannya, orang itu pun menjadi salah satu tokoh yang cukup disegani di kota Lamunarta. Di usia tua, orang itu pun memilih hidup sebagai seorang pertapa di Gunung Naga Bumi. Orang itu bernama Jaka Sakwari hidup sekitar dua ratus tahun yang lalu. Kudengar jasadnya dimakamkan di Pegunungan Naga Bumi.”
“Kyai Jaka Sakwari?” Gumam Cakiya. “Apakah orang itu ada hubungannya dengan senjata tongkat milik Baruna yang bernama Kyai Sakwari Warsita?”
“Mungkin saja senjata milik Baruna itu memiliki hubungan dengan Kyai Jaka Sakwari. Bisa jadi, Baruna juga merupakan kerabat jauh atau bahkan keturunan langsung dari Kyai Jaka Sakwari. Di dunia ini banyak hal yang seringkali saling berkaitan dan berhubungan satu sama lain dengan cara yang sangat misterius dan tidak terduga.” Jawab Aqni Samaja.
“Berbicara menganai keterkaitan dan hubungan, sepertinya dirimu cukup mengenal senjata pusaka Kyai Pralananta dengan sangat baik. Apakah kau sudah lama mengenal pusaka Kyai Pralananta?” Tanya Cakiya.
Aqni Samaja mengangguk dalam-dalam lalu menjelaskan. “Dahulu pemilik Kyai Pralananta dan pemilikku adalah teman dekat. Awalnya Kyai Pralananta hanya sebuah senjata pusaka yang baru selesai ditempa oleh seorang penempa senjata pusaka muda yang berbakat. Lalu terjadi perselisihan antara pemilikku sebelumnya dengan pemilik sah Kyai Pralananta. Perselisihan itu membuat mereka berpisah dan tidak saling bertegur sapa atau bahkan bertemu hingga akhir hidup mereka. Setelah itu, tidak ada yang kudengar kabar tentang Kyai Pralananta dan pemiliknya. Seratus tahun kemudian setelah diriku disimpan di sebuah batu kecoklatan di Kota Lamunarta, kusaksikan kemunculan kembali senjata pusaka Kyai Pralananta, tetapi sosoknya berubah menjadi sebuah senjata terkutuk yang demikian ganas. Sejak itu, selama ratusan tahun entah bagaimana Kyai Pralananta tetap berada di kota Lamunarta. Aku yang berada di alun-alun kota Lamunarta pun terus menerus mengamati setiap perkembangan senjata terkutuk itu. Dari awalnya hanya sebuah keris sepanjang sepuluh senti meter, menjadi tombak merah darah yang mampu mengoyak tubuh manusia dengan sangat mudah.”
“Jadi selama ratusan tahun itu wujud Kyai Pralananta selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu?”
Aqni Samaja mengangguk pelan. “Sejak menjadi sebuah senjata pusaka terkutuk, Kyai Pralananta selalu memiliki wujud asli yang selalu berubah-ubah. Karena perubahannya menjadi sebuah senjata terkutuk, Kyai Pralananta tidak akan pernah mencapai wujud sejatinya. Wujud asli senjata itu akan berubah-ubah tergantung dari orang-orang yang diikat jiwanya oleh kutukan Kyai Pralananta.”
“Wujud Asli?” Cakiya mengerutkan dahi, Ia terlihat kebingunngan sewaktu Aqni Samaja menggunakan istilah itu. “Wujud Sejati?”
“Begini, pendekar muda, benda pusaka seperti kami memiliki dua wujud secara umum. Yaitu, wujud awal dan wujud asli. Sedangkan wujud sejati merupakan bentuk khusus dimana hanya dimiliki oleh pusaka-pusaka tertentu saja. Wujud awal merupakan wujud senjata pusaka yang terlihat pada umumnya, seperti wujud fana milikku yang berbentuk sebuah gada atau wujud Rudra Arutala yang berupa sebuah keris. Sedangkan wujud asli adalah wujud fisik terbentuk serta kemampuan yang muncul, ketika pemilik sah dan pusakanya membangun ikatan jiwa sangat erat, sehingga memunculkan wujud serta kemampuan aslinya. Apakah kau melihat pemilik keris Rudra Arutala itu menggubah pusakanya menjadi angin?”
Cakiya mengangguk. “Tidak hanya mengubah menjadi angin, Baruna juga mampu menggabungkan keris Rudra Arutala dengan senjata pusaka lain sehingga memunculkan jenis pusaka baru. Kalau tidak salah Ia menyebut istilah itu disebut dengan kemampuan khusus.”
“Benar, senjata pusaka yang telah mencapai bentuk wujud asli dapat mengeluarkan kemampuan khususnya seperti keris Rudra Arutala milik Baruna yang bilahnya dapat berubah menjadi hembusan angin atau bergabung dengan pusaka lain dan memiliki wujud baru.”
“Jika demikian, apakah wujudmu yang berwujud gada yang sekarang juga merupakan wujud asli?”
Aqni Samaja menggeleng. “Tidak Cakiya, wujud fana milikku yang berbentuk gada saat ini merupakan wujud asal, dan kemampuanku saat ini untuk menghasilkan ledakan dalam bwntuk jurus Raung Ledakan merupakan kemampuan dasar dariku. Kemampuan dasar milikku adalah mengubah dan menyimpan energi di dalam tubuhku,
dan kemudian melepaskannya dalam bentuk ledaka. Jika dirimu menggunakan kemampuanku dalam jusrus Jurus Raung Ledakan, sebenarnya itu merupakan tenaga yang kusimpan selama ratusan tahun dari cahaya panas matahari.“
“Jadi jika energimu habis, kau tidak bisa mengeluarkan jurus Raung Ledakan seperti yang kaulakukan pada gerbang kota Lamunarta itu?”
“Suatu saat, energi milikku bisa saja akan habis, akan tetapi ketika kita melakukan perjalanan, aku juga menyerap energi dari cahaya matahari. Menurutku kau boleh menggunakan jurus Raung Ledakan, akan tetapi untuk menghemat tenagaku, sebagiknya jangan terlalu sering menggunakan jurus itu.”
Cakiya mengangguk dengan antusias saat Aqni Samaja memberitahukannya tentang kemampuan dasar miliknya. “Lalu bagaimana sebuah senjata pusaka dapat mencapai bentuk yang disebut dengan wujud asli dan juga wujud sejati?” Tanya Cakiya.
“Wujud asli dan wujud sejati sebuah senjata pusaka akan terwujud bila ada harmonisasi jiwa antara pemilik pusaka dengan senjata pusaka miliknya. Hebat atau tidak sebuah pusaka dalam wujud sejati dan wujud asli juga tergantung antara ikatan pemilik dengan pusakanya ”
“Jadi, sebagai pemilik darimu, bagaimana agar dirimu dapat mencapai tahap dalam wujud asli. Jenis latihan atau ritual seperti apakah yang aku lakukan?"
“Butuh waktu cukup lama bagi seorang pemilik pusaka dan pusakanya untuk melakukan harmonisasi dan mencapai wujud asli. Bahkan, butuh waktu seumur hidup pengguna pusaka, agar pusaka miliknya berada dalam tahap wujud asli. Baiklah pendekar muda, jika dirimu ingin aku dapat mencapai wujud asli , Mulai sekarang, berlatihlah menggunakan diriku dengan baik supaya mencapai wujud asli. Belajarlah bersama dengan majikan si serigala itu?”
“Si Serigala?” Cakiya mengerutkan alis serta ekspresi wajahnya terlihat begitu bingung.
“Oh, Maafkan Aku Cakiya, aku lupa memberitahumu.” Aqni Samaja mengeluarkan suara seperti terompet sambil menghentak-hentakkan kaki sebagai bahasa bahwa dirinya sedang tertawa. “Itu wujud lain dari keris Rudra Arutala.“
“Jika demikian, bagaimana dengan tahapan wujud sejati?”
“Kau akan mengetahui segala konsep dan pengetahuan tentang wujud sejati di waktu yang akan datang wahai pendekar muda.”
Selesai gada Aqni Samaja berkata demikian, Cakiya lalu terbangun dari tidurnya. Cakiya membuka mata lebar-lebar dan kemudian mengamati sekelilingnya sambil sesekali memejamkan mata berkali-kali. Cakiya mengambil udara dalam-dalam sambil mengumpulkan kesadaran serta mengingat-ingat kembali mimpinya sewaktu bertemu
dengan gada Aqni Samaja di dalam mimpi. Cakiya merlihat Baruna telah lebih dahulu bangin darinya, Ia tengah berdiri meregangkan urat-uratnya yang sudah kendur. Langit masih gelap, akan tetapi jauh di ujung timur, cahaya temaram jingga berpendar sabagai tanda pagi akan mulai mengampiri.
“Hei Baruna.” Panggil Cakiya yang bangkit berdiri perlahan-lahan dari tidurnya lalu menggaruk-garuk punggungnya.“Apakah salah satu wujud keris Rudra Arutala itu seekor serigala?”
Baruna tertegun ketika mendengar pertanyaan Cakiya, tetapi setelah mencernanya selama beberapa saat, Baruna sepertinya memahami apa yang baru saja dialami oleh Cakiya. Dengan sedikit mengangguk lalu Baruna kemudian menjawab.
“Benar, serigala, tetapi wujudnya lebih besar dari pada serigala pada umumnya, tingginya sekitar satu setengah meter dengan panjang dua meter. Dan penampilannya pun juga sedikit berbeda daripada serigala pada umumnya.”
“Kau pernah didatangi wujud lain senjata pusakamu di alam mimpi?” Tanya Cakiya sambil mengelus-elus gada Aqni Samaja.
“Sangat jarang, tapi semenjak aku sering mengobrol dan sering berbicara dengan Rudra Arutala, Ia hampir tidak pernah mendatangi diriku dalam mimpi."
“Berbicara?”
“Maaf Cakiya, mungkin ini terlihat kurang sopan untukmu, tetapi karena situasinya terburu-buru, aku tidak dapat memberitahukan padamu…kapan-kapan akan kuberitahukan caranya, sekarang waktunya kita sarapan dan berkemas. Ada hal yang lebih penting lagi, dan bila kita terlambat nyawa mereka bertiga taruhannya.” Kata Baruna dengan tegas.
Cakiya pun tidak banyak membantah dan bertanya. Mereka kemudian segera sarapan sisa-sisa makan malam, cuaca malam yang dingin membuat makanan tersebut cukup awet ketika disimpan. Baruna dan Cakiya lalu bergerak menuju salah satu tempat yang paling angker di Kerajaan, Hutan Pedang. Di dalam benak dua pendekar itu, mereka tidak habis pikir, bagaimana ketiga orang perempuan itu nekat memasuki Hutan Pedang, salah satu tempat paling angker di Kerajaan.
oke thor tlg masukan dr para reader yg. sekiranya itu membangun tlg di aplikasikan.
kita sangat menghargai perih payah author dlm membangun cerita dan klopun ada kata2 yg kasar dari kami ya itu semata2 Krn kami ingin sajian yg memanjakan imaginasi.
kalau cepat hasil ceritanya tidak akan bagus, seru dan menarik jadi pembaca harus sabar ya