NovelToon NovelToon
Dari Hidup Santai Ke Drama Antagonis

Dari Hidup Santai Ke Drama Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Romansa Fantasi
Popularitas:13.2k
Nilai: 5
Nama Author: ROGUES POINEX

Claire Sophia-- seorang Nona muda yang tidak pernah memikirkan hidup. Baginya untuk apa bekerja toh dia sudah kaya sejak lahir. Namun suatu hari saat dia memberikan pelajaran bagi sang kekasih yang telah berani berselingkuh darinya.

Claire mendapatkan sebuah notifikasi..

[Notifikasi: Tekan YA untuk Masuk!]

Untuk mengubah takdir dan alur hidup nya di drama itu. Claire memutuskan untuk merelakan Suaminya untuk pemeran Protagonis.

Namun satu yang Claire tidak tau-- alur dan peran yang berubah akan mengacaukan jalan cerita--juga mengungkapkan sebuah rahasia yang tidak pernah di sangka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kapan Bercerai?

Malam itu, detak jantung Claire berpacu lebih cepat dari deru mesin mobil yang ia kendarai membelah jalanan kota yang lengang. Pikirannya kalut, dipenuhi bayangan mengerikan setelah mendengar suara parau Ares di telepon yang mengaku seolah napasnya akan segera berakhir. Claire benar-benar dibuat kesal setengah mati sekaligus didera ketakutan hebat--- ia membayangkan Ares tergeletak tak berdaya karena terluka dan membuat penyakitnya memburuk di tengah kesendirian.

Namun, saat pintu apartemen terbuka dengan paksa, amarah yang sudah di ubun-ubun itu mendadak membeku. Tak ada genangan darah atau sosok yang mengerang kesakitan---- yang ada hanyalah Ares yang duduk tenang di meja makan, dikelilingi berbagai hidangan hangat yang aromanya memenuhi ruangan.

Pemandangan konyol itu seketika menciptakan pergolakan batin yang aneh—Claire ingin sekali melempar tasnya ke wajah pria itu karena drama bohongnya, namun di sisi lain, kehangatan yang menjalar di dadanya melihat Ares baik-baik saja justru membuatnya tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.

Ares menoleh santai dari balik meja makan, tangannya sedang menata piring dengan tenang. "Oh, kau sudah datang? Pas sekali. Duduklah, makanan nya baru saja matang."

Claire tertegun melihat Ares yang tampak segar bugar, lalu perlahan mendekat dengan tatapan tidak percaya. "Kau... kau sedang apa? Mana lukanya? Tadi di telepon kau bilang kau merasa akan mati!"

Ares tersenyum tipis, menarik kursi untuk Claire. "Memang. Rasanya jantungku berhenti berdetak setiap beberapa detik. Benar-benar tersiksa."

Claire memejamkan mata rapat-rapat, mengepalkan tangan hingga kukunya memutih. "Kau... sedang mengerjaiku, ya? Aku pikir kau terluka, tubuh mu tergores dan kau terkapar sendirian di lantai!"

Ares berjalan mendekat, menatap Claire dengan wajah tanpa dosa. "Aku tidak berbohong, Claire. Aku hampir mati... karena kelaparan. Dan melihatmu datang secepat ini, sepertinya aku baru saja mendapat pertolongan pertama."

Claire menunjuk wajah Ares dengan telunjuk yang bergetar karena geram. "Tuan Cadangan... kau benar-benar—! Kau gila?! Jantungku hampir copot hanya untuk mendengar lelucon kelaparanmu ini?"

Ares menangkap jemari Claire yang menunjuknya, lalu menurunkannya perlahan. "Marahnya simpan dulu. Aku belum makan malam sejak siang? Lagian... apakah aku se berarti itu untukmu?" goda Ares menaik turunkan alisnya.

"Heh, Tuan Jiplak! Apa yang kau lakukan di cini?" Suara cempreng Michel memecah ketegangan. Bocah itu berdiri di ambang pintu dengan remah kue bolu di sudut bibirnya.

Mikael menyusul di belakang adiknya, melipat tangan di dada dengan tatapan mengintimidasi yang sangat mirip dengan... Ares. "Mommy, bisa jelaskan semua ini? Apa ini alasan Mommy pergi terburu-buru dengan wajah panik?"

Claire memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. "Michel, Mikael, Mommy ada... urusan mendesak. Kenapa kalian malah turun dari mobil?"

Ares mengerutkan kening, menatap dua sosok mungil itu bergantian. "Kau bawa anak-anak malam-malam begini?"

"Mereka yang menyelinap!" seru Claire frustrasi.

Michel tidak peduli. Ia melangkah maju, menunjuk hidung Ares dengan jari kecilnya yang lengket. "Heh, Tuan Jiplak, kau macih ada hutang cama Michel celatus lebu!" ucapnya cadel, meski mulutnya masih sibuk mengunyah bolu.

Ares terkekeh pelan, rasa bersalah karena mengerjai Claire mendadak hilang digantikan rasa geli. " Kau masih ingat, ya? Sepertinya aku harus membayar bunganya karena kau sudah datang jauh-jauh ke sini, bocah."

Mikael menghela napas berat, menatap Claire dengan tatapan dewasa yang menghakimi. "Jadi, pekerjaan Mommy adalah menemani Tuan ini makan malam? Tapi kenapa Mommy terlihat sangat panik tadi, apa Mommy ada hubungan dengan pria ini di belakang Daddy?"

Claire meringis--- dia merasa seperti orang yang terciduk selingkuh dimata anak nya. Sementara Ares masih berdiri dengan tenang tanpa dosa di wajahnya.

Suasana di meja makan itu begitu kaku hingga suara denting sendok Ares yang beradu dengan piring terdengar seperti ledakan kecil. Claire duduk tegak, tangannya hanya mengaduk-aduk nasi tanpa minat, sementara matanya sesekali menghunus tajam ke arah pria di depannya.

Ares, sebaliknya, tampak sangat tenang. Ia memotong ayamnya dengan gerakan elegan, seolah-olah ia tidak baru saja melewati badai makian dari Claire sepuluh menit yang lalu.

"Kenapa tidak dimakan, Claire? Makan nya keburu dingin," ucap Ares ringan, suaranya terdengar sangat lembut—terlalu lembut bagi seseorang yang baru saja dituduh pembohong kelas kakap.

"Aku tidak lapar," jawab Claire ketus. "Melihat wajahmu saja sudah membuat kenyang."

Michel, yang masih polos, sudah asyik menggigit paha ayam gorengnya dengan lahap, tidak peduli dengan gravitasi emosi di sekitarnya. Namun, Mikael berbeda. Bocah itu meletakkan sendoknya, matanya yang cerdas bergerak waspada memerhatikan sang Mommy dan pria yang kini secara teknis tidak memiliki hubungan dengan mereka.

"Mommy..." bisik Mikael pelan, "Kenapa Mommy lihat Om Ares seperti mau menggigitnya?"

Ares terkekeh, suara rendahnya mengisi ruangan. "Mommy mu hanya sedang bersemangat, Mikael. Benar kan, Claire?"

Claire meletakkan sendoknya dengan suara klontang yang cukup keras. "Bersemangat? Tuan Cadangan, kau memanipulasi situasi agar aku tidak punya pilihan lain selain duduk di sini. Itu bukan semangat, itu tipu muslihat."

Ares meletakkan alat makannya, lalu menopang dagu dengan kedua tangan. Ia menatap Claire dengan binar yang tidak bisa disembunyikan. Hatinya benar-benar berbunga. Ada kehangatan aneh yang menjalar di dadanya melihat kedua bocah itu di antara mereka.

"Kau menyebutnya manipulasi, aku menyebutnya usaha," ujar Ares tenang. "Lihatlah, bukankah kita seperti keluarga kecil yang bahagia?"

"Keluarga tidak dibangun di atas kebohongan, Ares!" Claire setengah berbisik, berusaha menjaga volume suaranya di depan anak-anak.

" Setidaknya aku di sini sekarang," balas Ares tegas namun tetap santai. "Dan aku tidak berniat pergi ke mana pun. Makanlah, Claire. Kau butuh tenaga untuk terus menjagaku.. kau sendiri yang bilang, aku tidak boleh terluka.. karena aku adalah hartamu yang paling berharga sekarang." kata Ares dengan percaya dirinya.

Claire mendengus, memalingkan wajah, namun akhirnya ia menyuapkan sesendok nasi dengan kasar. Ia masih sangat kesal, tapi pemandangan Ares yang secara alami mengelap sisa nasi di pipi Michel membuat hatinya berdenyut dengan cara yang tidak ia sukai.

Ares tersenyum tipis. Baginya, kemarahan Claire hanyalah bumbu. Yang terpenting, malam ini meja makannya tidak lagi terasa sunyi.

" Berhenti tersenyum seperti itu, Ares. Kau terlihat mengerikan,” desis Claire tanpa mengalihkan pandangan dari piringnya.

Ares terkekeh, suara rendahnya mengisi keheningan yang tegang. “Aku hanya sedang menikmati pemandangan. Istri orang yang cantik, dua anak yang... sangat aktif. Bukankah ini yang kau sebut kebahagiaan?”

Claire berdecak. " Jika kau tau aku ini istri orang.. kenapa kau berusaha? Apa kau ingin berperang melawan keponakan ibu tirimu?"

Ares berpikir sejenak, matanya tatap memancarkan kelembutan. " Kalo begitu... kapan kau bercerai dari Julian?"

UHUK UHUK.. Claire tersedak ludah nya sendiri, dia menatap Ares tajam, tapi Ares tidak takut, dia justru semakin menjadi." Setelah itu... status mu akan berubah menjadi istri dari, " Ares berdiri dan membisikkan sesuatu yang membuat tubuh Claire meremang. " Ares.. Winston! Welcome.. Nyonya Ares Winston."

BERSAMBUNG

1
Enah Siti
jdi anak kembar itu bnar anakya ares👍👍👍👍💪💪💪💪
Anne
hmmm penisirin bingitss
Anne
kulkas kalo cair emang suka gtuuu.. damage bukan kaleng kaleng🤣
Anne Soraya
lanjut
Anne
tikungan yg kaya gini yg saya sukaaa...
Sulati Cus
tikung aja🤣
Murni Dewita
tetap double up y thor
ROGUES POINEX: Sehari Dua Kali UP ☺☺☺
total 1 replies
khzaa
kaka semangatttt
khzaa
kaka semangatttt
Anne Soraya
lanjut
Murni Dewita
next
Anne Soraya
lanjut
Anne
seruuuu... ehhh abisss... rasany kaya apa tauu🤭
Sulati Cus
semakin menarik
rajin up
Sulati Cus
lah lg seru2nya mlh di potong😔
Murni Dewita
double up lah thor
Sulati Cus
knp g cb tes DNA dg si twins🤔
Murni Dewita
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Murni Dewita
👣
Siti Sa'diah
wah jangan2 clair iniii
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!