Hao Qi hanyalah seorang mahasiswa yatim piatu miskin yang tercekik hutang rentenir dan selalu dipandang sebelah mata oleh orang-orang di sekitarnya.
Namun, nasibnya berubah drastis ketika ia tanpa sengaja mengaktifkan Sistem Toko Sepuluh Ribu Alam di ponsel bututnya. Melalui sistem rahasia ini, Hao Qi bisa menjual barang-barang murah sehari-hari seperti mi instan dan korek api gas ke berbagai dimensi lain dengan bayaran selangit berupa koin sistem, emas batangan, pil penempa tubuh, hingga teknik bela diri kuno.
Sambil menyembunyikan identitas dan kekuatan barunya, Hao Qi mulai melunasi hutangnya, menyadari keberadaan energi Qi di dunia modern, dan melangkah naik untuk menghancurkan para orang sombong yang dulu meremehkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Wang Lei menghentikan aktivitas menghitung uangnya. Ia menatap Hao Qi dengan pandangan dingin.
"Hao Qi. Kupikir kau akan lari dari kota ini. Kau datang untuk memohon perpanjangan waktu lagi? Kebetulan sekali, aku sedang butuh samsak hidup pagi ini."
Hao Qi sama sekali tidak gentar melihat preman-preman itu. Ia justru merogoh saku celananya dengan santai dan berjalan mendekati meja di depan sofa Wang Lei.
"Pagi, Bos Wang! Pagi, Kak Ah Kun! Kalian terlihat sangat sibuk hari ini."
Hao Qi menyapa dengan nada ceria dan senyum ramah yang tulus, seolah ia sedang menyapa tetangganya.
"Jangan banyak omong kosong! Mana uang lima ribu Yuan yang kuminta semalam?"
Ah Kun membentak sambil menodongkan ujung tongkat biliar ke dada Hao Qi.
Hao Qi dengan lembut menyingkirkan ujung tongkat itu dengan jarinya. Ia masih tersenyum.
"Ah, soal uang itu... Aku pikir lima ribu Yuan saja tidak cukup untuk membalas kebaikan Bos Wang yang sudah merawat hutang orang tuaku selama ini."
Hao Qi membuka tas selempangnya.
"Bruk!"
Ia melemparkan dua ikat uang kertas seratus Yuan yang masih tersegel rapi dari bank ke atas meja kaca di depan Wang Lei. Totalnya dua puluh ribu Yuan.
"Itu dua puluh ribu Yuan tunai. Hutang pokok orang tuaku lima belas ribu, ditambah bunga konyol yang kalian buat. Semuanya lunas hari ini."
Keheningan menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik.
Mata Wang Lei terpaku pada tumpukan uang merah di atas mejanya. Ah Kun juga ternganga tidak percaya. Dari mana mahasiswa miskin yang bekerja sebagai penjaga minimarket ini mendapatkan uang tunai sebanyak itu dalam semalam?
Wang Lei mengambil satu ikat uang itu, menggosok pinggirannya dengan ibu jari untuk memastikan keasliannya. Matanya memancarkan keserakahan yang buas.
"Uang asli."
Wang Lei menyeringai lebar, memperlihatkan gigi-giginya yang kuning. Ia menatap Hao Qi dengan pandangan licik.
"Hebat juga kau, Bocah. Apa kau baru saja merampok bank? Atau kau menjual ginjalmu?"
"Itu bukan urusanmu, Bos Wang. Uangnya sudah kuberikan. Sekarang, mana surat perjanjian hutang orang tuaku? Berikan padaku, dan kita tidak perlu saling melihat wajah masing-masing lagi."
Hao Qi mengulurkan tangan kanannya, nada suaranya tetap tenang namun tegas.
Wang Lei tertawa pelan. Ia melemparkan kembali ikatan uang itu ke atas meja dan menyandarkan punggungnya ke sofa.
"Hahahaha!"
"Surat perjanjian? Hao Qi, Hao Qi... Kau pikir dunia ini berjalan semudah itu?"
"Maksudmu?"
Hao Qi memicingkan matanya sedikit, meski senyum di bibirnya belum sepenuhnya pudar.
"Dua puluh ribu Yuan ini memang melunasi hutang pokok dan bunganya sampai kemarin. Tapi, kau lupa satu hal. Semalam anak buahku, Ah Kun, kelelahan menagih hutang padamu sampai tangannya pegal. Kau juga membuat kami repot-repot menunggumu pagi ini. Ada yang namanya biaya administrasi dan biaya kelelahan."
Wang Lei menunjuk tumpukan uang itu dengan dagunya.
"Dua puluh ribu ini akan kuambil. Tapi kau masih berhutang padaku sepuluh ribu Yuan lagi sebagai biaya penutupan kasus. Bawa uangnya besok siang, baru surat hutangmu kuberikan."
Ah Kun tertawa keras mendengar perkataan bosnya. Ia melangkah maju, memukul-mukulkan tongkat biliar ke telapak tangannya sendiri.
"Kau dengar itu, Bocah? Bos kami sangat murah hati. Cepat pergi cari uang lagi sebelum tongkat ini mematahkan kakimu!"
"Hah..."
Hao Qi menghela napas panjang. Ia menundukkan kepalanya sejenak, bahunya sedikit bergetar.
Ah Kun mengira Hao Qi sedang menangis ketakutan.
"Kenapa? Kau mau menangis dan memanggil ibumu?"
Hao Qi mengangkat kepalanya. Ia tidak menangis. Ia sedang tertawa kecil. Senyum di wajahnya kini terlihat sedikit berbeda. Bukan lagi senyum ramah yang hangat, melainkan senyum yang sangat tenang namun memberikan tekanan yang aneh.
"Bos Wang, aku datang ke sini dengan niat baik untuk menyelesaikan semuanya secara damai. Aku sudah membayar apa yang seharusnya kubayar. Jangan jadi orang serakah."
Suara Hao Qi terdengar datar.
"Beraninya kau menceramahiku, dasar Yatim Piatu?!"
Ah Kun merasa diremehkan. Tanpa aba-aba, ia mengayunkan tongkat biliar itu sekuat tenaga ke arah kepala Hao Qi.
"Wush!"
Angin berdesir akibat ayunan tongkat kayu yang tebal itu. Jika terkena kepala manusia biasa, tengkoraknya pasti retak.
Namun, di mata Hao Qi saat ini, gerakan Ah Kun terasa sangat lambat. Otot-ototnya yang telah diperkuat oleh Pil Penempa Tubuh merespons secara otomatis sebelum otaknya memberikan perintah.
Hao Qi tidak menghindar. Ia hanya mengangkat tangan kirinya dengan santai.
"Brak!"
Bunyi kayu beradu dengan daging terdengar keras.
Mata Ah Kun hampir keluar dari rongganya. Tongkat biliar yang ia ayunkan dengan tenaga penuh itu berhenti mendadak di udara. Tangan kiri Hao Qi mencengkeram ujung tongkat itu dengan sangat kuat, seolah tangan itu terbuat dari baja. Tidak ada luka sedikit pun di telapak tangan Hao Qi.
"A-apa?!"
Ah Kun mencoba menarik tongkatnya, namun benda itu tidak bergerak sedikit pun.
"Kak Ah Kun, mainan kayu seperti ini bisa berbahaya untuk orang dewasa,"
Hao Qi tersenyum ramah. Ia menarik tongkat itu ke arahnya, membuat keseimbangan Ah Kun goyah dan tubuh preman itu tertarik ke depan.
Tangan kanan Hao Qi bergerak dengan kecepatan kilat, mencengkeram pergelangan tangan Ah Kun.
"Krak!"
"Argh!!"
Ah Kun menjerit histeris. Wajahnya langsung pucat pasi. Ia jatuh berlutut di lantai sambil memegangi pergelangan tangannya yang kini terkilir parah dengan sudut yang tidak wajar.
Hao Qi melepaskan cengkeramannya dan membiarkan tongkat biliar itu jatuh ke lantai.
"Trang!"
Wang Lei yang duduk di sofa langsung melompat berdiri. Lemak di perutnya bergetar. Ia menatap Hao Qi dengan ketakutan yang tidak bisa disembunyikan. Ah Kun adalah petarung terbaiknya, tapi mahasiswa kurus ini bisa melumpuhkannya dalam satu detik tanpa mengeluarkan keringat sedikit pun.
"K-kau... apa yang kau lakukan pada Ah Kun?! Kau mau mati?!"
Wang Lei berteriak dengan suara bergetar. Tangannya merogoh laci meja, mencoba mencari senjata.
"Brak!"
Hao Qi menendang meja kaca itu dengan pelan, namun tenaganya cukup untuk mendorong meja kayu solid itu ke depan, menjepit kaki Wang Lei di antara meja dan sofa.
"Ugh!"
Wang Lei meringis kesakitan.
Hao Qi berjalan mengitari meja. Ia menunduk menatap Wang Lei yang kini terjepit tak berdaya. Pemuda itu kembali menampilkan senyum cerianya.
"Bos Wang, aku orang yang sangat sabar dan tidak suka kekerasan. Aku tanya sekali lagi dengan sopan... Di mana surat perjanjian hutang orang tuaku?"
Keringat dingin bercucuran di dahi Wang Lei. Menatap senyum Hao Qi dari jarak sedekat ini, ia merasa seperti sedang ditatap oleh monster yang menyamar menjadi manusia.
"D-di laci meja! Laci paling bawah! Ambil saja! Ambil semuanya!"
Hao Qi membuka laci yang ditunjuk. Ia mengaduk tumpukan kertas di dalamnya hingga menemukan sebuah dokumen usang dengan tanda tangan ayah dan ibunya. Hao Qi membaca isinya sekilas, lalu melipatnya dan memasukkannya ke dalam saku.
"Terima kasih atas kerja samanya, Bos Wang. Hutangku sudah lunas. Jika kalian berani mencari masalah denganku lagi..."
Hao Qi menepuk pundak Wang Lei dengan lembut.
"...aku akan memastikan klub biliar ini runtuh bersama kalian di dalamnya. Selamat pagi!"
Hao Qi berbalik dan berjalan keluar dari klub biliar itu dengan santai, meninggalkan Ah Kun yang masih mengerang kesakitan di lantai dan Wang Lei yang gemetar ketakutan di atas sofa.
Hujan gerimis telah sepenuhnya berhenti. Langit biru mulai terlihat di atas kota Jiangjing. Hao Qi menatap matahari pagi yang bersinar terang. Senyum tulus kembali mengembang di wajah cerianya. Beban berat yang bertahun-tahun mencekik lehernya akhirnya lenyap.
"Sekarang, saatnya pergi ke kampus."