Gisel (23 tahun) adalah definisi "matahari" berjalan: ceria, blak-blakan, dan punya selera humor yang terkadang sedikit ‘nakal’. Hidupnya jungkir balik saat ia dipaksa menikah dengan Dewa, CEO dingin yang aura intimidasi-nya bisa membekukan ruangan. Dewa bukan cuma sekadar duda kaya, ia adalah pria yang menutup rapat hatinya demi mendiang istrinya dan ketiga anaknya yang super nakal.
Mampukah ocehan ceplas-ceplos Gisel mencairkan gunung es di hati Dewa? Dan bagaimana jadinya jika si gisel positive vibes ini harus menghadapi tiga anak tiri yang siap mengujinya, sementara sang suami masih bayang-bayang masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Curhat di Bawah Langit Malam
Setelah menghabiskan ramen pedas yang sukses membuat bibirnya merah—setidaknya rasa pedas itu mengalihkan rasa perih di hatinya—Gisel (23 thn) segera membersihkan diri. Ia meminjam kaos kebesaran milik Maya yang beraroma detergen murah, namun terasa jauh lebih hangat daripada daster satin mahalnya.
Gisel melangkah ke balkon kecil rumah Maya. Ia menyandarkan dagunya di pagar besi, menatap lampu-lampu jalanan yang temaram. Aroma white tea dari tubuhnya perlahan kembali menguar, bercampur dengan udara malam yang lembap.
Maya datang membawa dua cangkir teh hangat, menyodorkan satu ke Gisel. "Nih, biar rileks. Sekarang cerita... kejadiannya gimana? Masa iya baru satu bulan nikah kontrak, lo udah kabur begini? Biasanya lo kan paling kuat mental badaknya."
Gisel menghela napas panjang, kepulan uap teh menutupi wajahnya sejenak. "Gue pikir gue udah berhasil, May. Raka udah luluh, Alya udah mau curhat sama gue. Bahkan si 'Pendekar Dingin' itu udah mulai 'panas' kalau deket gue."
"Terus?" Maya menaikkan alisnya.
"Terus muncul 'hantu' masa lalunya. Bianca, kembaran almarhumah istrinya. Wajahnya sama persis, suaranya sama, bahkan parfum mawarnya pun sama," Gisel menunduk, memainkan pinggiran cangkir. "Pas dia dateng, Dewa langsung melepas tangan gue. Dia natap Bianca seolah-olah dunia ini cuma milik mereka berdua. Gue? Gue cuma figuran yang nggak sengaja lewat."
Gisel tertawa miris. "Gue dituduh matre sama nyokapnya di depan semua orang, dan Dewa cuma diem. Dia terhipnotis sama bayangan masa lalunya sampai lupa kalau gue masih berdiri di sampingnya."
Maya mendesis kesal. "Brengsek juga ya si Dewa itu. Terus lo mau gimana? Balik lagi?"
"Gue nggak tahu, May," Gisel menenggak tehnya. "Gue kangen Digo, gue khawatir sama Raka dan Alya. Tapi gue nggak mau balik kalau cuma buat jadi bayang-bayang orang mati. Gue Gisel, bukan Arumi."
Tiba-tiba, suara deru mesin mobil mewah yang sangat familiar terdengar di depan pagar rumah Maya. Sebuah SUV hitam berhenti dengan suara rem yang mencit.
Gisel dan Maya serentak melongok ke bawah. Sosok jangkung 191 cm dengan kemeja yang berantakan dan wajah panik keluar dari mobil. Dewa (35 thn) mendongak, matanya yang tajam di balik kacamata baca langsung mengunci pandangan ke arah Gisel di balkon.
"Gisel! Turun!" teriak Dewa, suaranya terdengar sangat parau dan putus asa.
Gisel membeku. Jantungnya berdegup kencang. "Gila... dia beneran nyariin gue sampai sini?"
Di dalam kamar, Gisel (23 thn) membenamkan wajahnya di bantal, sementara suara Dewa (35 thn) yang memanggil namanya dari arah balkon terdengar seperti guntur yang memekakkan telinga.
"May, bantuin gue..." isak Gisel, suaranya teredam kain bantal. Aroma white tea-nya kini bercampur dengan bau air mata.
"Bantu apa? Itu laki lo udah kayak pemain sirkus manjat balkon, Sel! Gue takut dia jatuh terus nuntut rumah gue!" Maya panik, mondar-mandir di dekat pintu.
"Tolong suruh dia pergi... biarin gue sendiri dulu. Gue nanti kalau udah tenang, baru gue ketemu dia. Bilang gue nggak mau liat muka 'hantu' Arumi lewat dia dulu," pinta Gisel, badannya yang mungil tampak bergetar.
Maya menghela napas panjang, lalu mendekat ke jendela dan berteriak pada Dewa agar menjauh sebentar. Ia kemudian kembali duduk di tepi ranjang samping Gisel.
"Sel, gue tanya serius. Kontrak nikah lo itu... berapa lama sih?"
"Satu tahun," jawab Gisel singkat, disusul isakan kecil.
Maya menepuk dahi, hampir pusing sendiri. "Satu tahun?! Gila, ini baru jalan sebulan lebih sedikit dan lo udah kabur-kaburan begini? Gimana mau tahan sebelas bulan lagi kalau tiap ada masalah lo lari ke sini?"
Gisel tidak menjawab. Ia hanya diam dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya yang biasanya merona ceria. Ia teringat bagaimana Dewa menatap Bianca tadi—tatapan yang tidak pernah ia dapatkan selama sebulan ini.
Maya mengusap punggung Gisel, merasa iba. "Gue nggak nyangka, muka badak kayak lo yang biasanya ceplas-ceplos mesum ke si Dewa itu, ternyata bisa nangis sesenggukan begini cuma gara-gara dilepas tangannya. Lo... beneran udah jatuh cinta ya sama si Pendekar Dingin itu?"
Gisel tetap bungkam, tapi isakannya yang makin keras menjadi jawaban bagi Maya. Di balik keberaniannya, Gisel hanyalah gadis 23 tahun yang mendambakan dicintai seutuhnya, bukan hanya sebagai "obat pelipur lara" atau "penjaga anak" di rumah mewah yang dingin itu.