Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh membuat Nina Safira kehilangan akal sehatnya. Dia datang ke sebuah bar berniat untuk menghibur diri, namun hal tak terduga terjadi, akibat kecerobohannya dia mabuk berat dan bermalam bersama pria asing di sebuah hotel. Bukannya menyelesaikan masalah tapi malah menambah masalah. Lantas tindakan apa yang diambil Nina setelah kehormatannya terenggut oleh pria yang belum dikenalnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Akan Kutuntut
Tet..., tet..., suara bel terdengar cukup keras. Widya yang tengah berkutat di dapur meminta Nina untuk melihat, siapa yang tengah bertamu ke rumahnya. Suaminya belum juga pulang, bahkan di rumah hanya tersisa dirinya dan anak perempuannya saja, masih ada beberapa asisten rumah tangga, mereka sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
"Nina, coba lihat siapa yang datang? Apa Papa kamu sudah pulang?"
"Hm..., baiklah." Nina yang tengah menikmati es Doger langsung beranjak dan mencaritahu siapa orang yang datang ke rumahnya. Dengan berjalan cepat dia membuka pintunya dan mendapati seseorang yang begitu familiar namun bukan bagian dari keluarganya.
"Om Wiryo? Ada apa om?" Nina mengerutkan rekeningnya Ia hanya bingung kenapa pria paruh baya itu tiba-tiba datang ke rumahnya tanpa memberi kabar sebelumnya.
"Papanya ada dek?" tanya pria itu dengan menatapnya begitu dalam.
Tidak mungkin juga ia langsung mengatakan tujuan utamanya hanya ingin bertemu dengan Widya. Jika sampai ia ceroboh maka hubungannya dengan keluarga Hermawan bakalan berantakan, dan itu pasti akan berdampak buruk terhadap bisnisnya.
"Jam segini Papa masih belum pulang Om," jawab Nina. "Apakah Om mau tunggu?"
Tanpa memiliki kecurigaan Nina meminta pria itu untuk menunggu kehadiran ayahnya dia tidak pernah tahu menahu tentang masa lalu ibunya bersama pria itu.
"I—iya dek, kalau diizinkan Om bakalan tunggu pak Hermawan."
Berhubung sudah saling mengenal Nina memintanya untuk masuk ke dalam rumahnya. Sebenarnya Widya maupun Hermawan selalu mewanti wanti agar tidak mudah percaya pada orang asing.
"Mari silahkan masuk om, ditunggu di dalam."
Pria itu mengangguk. "Terimakasih dek."
Wiryo masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa ruang tamu. Sedangkan Nina langsung menuju dapur untuk memberitahu ibunya.
"Jadi dia itu anaknya Widya dengan pak Hermawan?" Pria itu menggumam kala melihat foto keluarga yang terpampang besar di ruang tamu. "Lalu anakku ke mana? Di mana Widya menyembunyikan anakku?" Ia masih ingat betul saat meninggalkan Widya kondisinya tengah hamil tua. Ia bertujuan ingin merubah nasib karena sudah bosan hidup miskin, tapi kenyataan berkata lain, ia diam-diam terjerat hubungan terlarang dengan seorang wanita yang menjanjikan hidup enak. Sudah terpengaruh oleh rayuannya ia memilih untuk meninggalkan istri beserta calon anaknya dan menikahi wanita tersebut.
"Ma, ada tamu di rumah, mendingan Mama temui dulu, biar aku buatkan minuman."
Di dapur Nina meminta ibunya untuk menemui tamunya. Sangatlah tidak pantas jika ada tamu yang datang tapi diabaikan.
Widya mengernyit. "Ada tamu? Siapa?"
"Itu Om yang datang waktu itu. Siapa namanya..., Om Wiryo, iya benar Om Wiryo."
"Hah?" Widya terkejut bukan main. Bisa-bisanya pria itu datang di saat suaminya tidak sedang ada di rumah.
"Om Wiryo yang waktu itu datang kemari maksudnya?" Widya berharap bukan Wiryo yang dimaksud, tapi Wiryo yang lain.
"Iya, Om Wiryo yang datang ke sini sama keluarganya waktu itu. Beliau lagi nungguin Papa, ya aku suruh aja nunggu di rumah. Mendingan Mama temui beliau dulu."
Widya bimbang, haruskah ia menemui pria itu? Ia sangat yakin kedatangannya pasti memiliki maksud lain.
"Bukankah Mama sering bilang ke kamu! Kalau nggak ada Papa kamu nggak usah memasukkan orang asing, Nina! Nanti kalau papamu marah gimana?"
Nina mencebik. "Ya maaf ma, sebenarnya aku berniat untuk mengusirnya, tapi nggak tega juga. Rumahnya cukup jauh dari sini, dan beliau ingin bertemu dengan Papa. Mungkin saja ini ada hubungannya dengan bisnis. Kita nggak boleh arogan gitu ma. Lagian Papa sudah mengenal Om Wiryo dengan baik."
"Ya sudah, lain kali jangan diulangi lagi. Mau Wiryo ataupun orang lain kalau nggak ada Papa nggak usah di suruh masuk. Usir aja!"
Sebenarnya Widya sangatlah malas untuk menemuinya, tapi berhubung pria itu sudah terlanjur ada di dalam rumahnya mau tak mau dia harus keluar untuk menemuinya.
"Mama mau temui dia dulu, kamu lanjutin masak. Nanti kalau sampai adikmu pulang les makanannya belum dimasak bisa tantrum."
Nina mengangguk. "Iya baiklah."
"Satu lagi! Tamunya nggak perlu dibuatkan minuman. Kalau kita kasih hati dia bakalan ngelunjak. Mama paling nggak suka sama orang seperti itu."
Widya langsung meninggalkan dapur menyisakan beberapa pertanyaan di otak kecilnya. "Mama itu kenapa ya? Kayak benci banget sama Om Wiryo? Apa karena anaknya Om Wiryo habis celakai aku? Tapi kan nggak harus membenci bapaknya? Om Wiryo kan nggak ikut-ikutan mencelakaiku. Aneh itu Mama! "
Widya menuju ruang tamu dengan ekspresi datar. Dia benar-benar marah kembali dipertemukan dengan mantan suaminya. Selama ini tidak ada kabar beritanya, tapi setelah tahu ia tinggal di kediaman Hermawan dia kembali menganggunya.
"Suami saya masih belum pulang pak Wiryo. Kalau ada hal penting bisa sampaikan pada saya, nanti akan saya sampaikan."
Wiryo menautkan alisnya. Begitu formal wanita itu menyambutnya.
"Widya, bagaimana kabarmu?"
Widya tersenyum miring. "Anda datang ke sini buat menanyakan kabar saya, atau ingin bertemu dengan suami saya? Kalau tujuannya cuma ingin basa-basi lebih baik segera pergi dari sini. Saya nggak ada waktu buat meladeni orang yang nggak penting."
Wiryo paham dengan sikap Widya, tentu dia sakit hati karena ulahnya, tapi ia tak mempermasalahkannya, ia hanya ingin menanyakan statusnya sebagai istri dari Hermawan.
"Aku memang sengaja datang ke sini buat menemuimu. Aku ingin tanya, apa hubunganmu dengan pak Hermawan?"
Widya melotot dengan tangan bertengger di pinggangnya. "Apa anda tuli? Saya bilang kalau pak Hermawan itu suami saya. Kalau saya berada di sini itu artinya saya nyonya di rumah ini."
Pria itu terkekeh. "Sudahlah Widya, nggak usah drama. Aku tahu hubunganmu dengan pak Hermawan itu nggak sah. Sekalipun kalian menikah itu hanya bisa nikah siri. Kamu itu masih sah menjadi istriku. Sebaiknya segera selesaikan urusanmu dengan pak Hermawan dan kembali padaku!"
Widya membelalak. "Apa anda bilang barusan? Tinggalkan pak Hermawan dan kembali pada anda?" Sungguh pria tak punya malu. Setelah berselingkuh dan meninggalkannya dengan percaya dirinya menginginkannya untuk kembali lagi. Hanya orang bodoh saja yang bakalan patuh.
"Memangnya anda pikir anda itu siapa? Hubungan diantara kita sudah berakhir, dan anda tidak memiliki hak untuk mengatur-ngatur hidup saya! Anda sudah bahagia dengan kehidupan anda sendiri, dan saya juga berhak untuk menentukannya hidup saya sendiri," bantah Widya.
Dengan cepat pria itu menyela ucapannya. "Tidak bisa! Statusmu masih sah menjadi istriku! Kamu tidak berhak untuk menikah kembali. Jika kamu masih tidak ingin meninggalkan pak Hermawan, aku bakalan tuntut kamu!"
Widya tahu hal itu bakalan terjadi, tapi untungnya hubungannya dengan Wiryo maupun Hermawan sama-sama bersih. Di saat Wiryo pergi meninggalkannya, di situ ia berjuang untuk mendapatkan surat cerai, dan melalui pengacara yang disiapkan oleh Hermawan ia berhasil menggugat cerai atas dasar perselingkuhan.
"Tuntut saja kalau bisa. Kalau kamu mengajakku bermain api, maka siap-siaplah untuk terbakar."