NovelToon NovelToon
Cinta Dititik Nol Rupiah

Cinta Dititik Nol Rupiah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:687
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Agus adalah seorang pemuda yang hidup dalam jeratan ekonomi. Di rumahnya yang sederhana, ia harus berbagi beban dengan ayahnya, Marjuki, yang mulai sakit-sakitan, dan ibunya, Asmah, yang hanya bisa pasrah pada keadaan. Di tengah rasa sepi, Agus mengunduh sebuah aplikasi jodoh dan bertemu dengan Nor Rahma.

Bagi Agus, Rahma adalah sosok yang terlalu sempurna. Rahma memiliki pekerjaan tetap, pendidikan yang baik, dan paras yang menawan. Hubungan mereka yang bermula dari layar ponsel berlanjut ke arah yang lebih serius. Namun, tantangan muncul saat Rahma meminta bukti keseriusan berupa komitmen untuk melamar dan membangun masa depan yang stabil.

Agus terjepit. Di satu sisi, ia sangat mencintai Rahma. Di sisi lain, pendapatannya sebagai pekerja serabutan tidak pernah cukup untuk menabung, apalagi membiayai pernikahan yang layak. Keluarga Agus tidak memiliki simpanan sama sekali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Koridor panjang menuju ruang Instalasi Gawat Darurat terasa jauh lebih sunyi dibandingkan saat Agus meninggalkannya menuju kantin tadi. Lampu-lampu neon yang menggantung di langit-langit memancarkan cahaya putih yang tajam, memantul di atas lantai keramik yang licin dan seolah sengaja memperlihatkan betapa kotornya penampilan Agus malam itu. Setiap entakan kayu penyangga yang ia gunakan menimbulkan bunyi yang bergaung di sepanjang lorong, seolah-olah sedang menghitung sisa waktu yang dimiliki bapaknya.

Rasa panas di pergelangan kaki kiri Agus sudah mencapai titik yang tak tertahankan. Sensasinya bukan lagi seperti ditekan, melainkan seperti ada kawat berduri yang ditarik paksa di dalam sendinya. Namun, rasa sakit fisik itu terasa sepele dibandingkan dengan beban seribu ton yang menghimpit dadanya. Uang dua juta rupiah. Angka itu terus menari-nari di depannya, menertawakan kemiskinannya.

Saat Agus sampai di depan tirai nomor 4, ia melihat pemandangan yang membuat jantungnya seolah berhenti berdetak. Dua orang perawat sedang bergerak cepat di sekitar ranjang bapaknya. Salah seorang perawat sedang memompa kantong napas manual, sementara dokter jaga yang tadi memeriksanya sedang sibuk menyesuaikan parameter pada monitor jantung yang berbunyi tit-tit-tit dengan nada yang semakin cepat dan tidak beraturan.

"Gus... Bapakmu, Gus!" ibu agus berlari menghampiri Agus, memegangi lengan anaknya dengan tangan yang gemetar hebat. Wajah ibunya sudah basah kuyup oleh air mata, jilbabnya yang sudah kusam tampak berantakan.

Agus tidak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa berdiri terpaku di depan tirai yang setengah terbuka itu. Ia melihat ayahnya, yang tubuhnya tampak kejang kecil setiap kali oksigen dipaksakan masuk ke paru-parunya. Mata bapaknya terbuka sedikit, hanya memperlihatkan bagian putihnya saja. Pemandangan itu sangat mengerikan bagi Agus. Bapaknya, pria yang dulu memikul beban berat di sawah demi menyekolahkannya, kini tampak begitu rapuh dan tak berdaya.

Seorang perawat keluar dari balik tirai dengan wajah yang tegang. Ia melihat Agus dan segera menghampirinya. "Mas, kondisi Pak Marjuki kritis. Saturasi oksigennya terus menurun drastis. Kami harus segera memasang ventilator dan memindahkannya ke ruang ICU paru. Apakah administrasinya sudah selesai?"

Agus menelan ludah yang terasa seperti butiran pasir. "Belum, Sus. Saya masih... saya masih mengusahakan uang mukanya."

Perawat itu menghela napas panjang, gurat kelelahan dan sedikit kekesalan tampak di wajahnya. "Mas, kami tidak bisa menunda tindakan medis terlalu lama. Tapi prosedur rumah sakit untuk pasien umum memang ketat. Tolong, Mas, segera selesaikan. Nyawa bapak Anda sedang dipertaruhkan di sini."

Kalimat terakhir perawat itu seperti palu godam yang menghantam harga diri Agus hingga berkeping-keping. Ia berbalik, membelakangi tirai bapaknya, dan berjalan menjauh menuju deretan kursi tunggu yang kosong di sudut koridor. Ia duduk di sana, membiarkan kayu penyangganya jatuh ke lantai dengan suara keras.

Agus merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya yang kini memiliki daya baterai sekitar delapan persen. Layarnya yang retak memperlihatkan sepuluh panggilan tak terjawab lagi dari Nor Rahma. Ada satu pesan baru yang masuk satu menit yang lalu.

Nor Rahma: "Mas Agus, aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi kalau kamu memang ingin mengakhiri hubungan ini tanpa penjelasan, setidaknya beri tahu aku. Jangan biarkan aku seperti orang bodoh yang menunggu di depan telepon semalaman."

Air mata Agus jatuh, menetes tepat di atas layar ponselnya yang retak. Ia menyadari bahwa ia tidak bisa lagi berpura-pura. Ia tidak bisa lagi bersembunyi di balik kata-kata sibuk atau pekerjaan lapangan. Jika ia terus diam, ia akan kehilangan Rahma selamanya. Dan jika ia terus berusaha mencari uang itu sendirian, ia akan kehilangan bapaknya malam ini juga.

Dengan tangan yang gemetar hebat dan penglihatan yang kabur oleh air mata, Agus mulai mengetik. Kali ini, ia tidak menghapus satu kata pun. Ia membiarkan kejujuran yang pahit mengalir dari jempolnya yang kotor oleh semen.

Agus: "Rahma, maafkan aku. Aku tidak sedang menjauh. Aku sedang berada di IGD RSUP kota. Bapakku muntah darah hebat semalam dan sekarang kritis. Aku baru saja mengemis di rumah Pak RT dan pemilik toko kelontong hanya untuk membayar ambulans rujukan. Sekarang, pihak rumah sakit meminta uang muka dua juta rupiah untuk membawa Bapak ke ICU. Aku tidak punya uang itu, Rahma. Aku sedang duduk di lantai rumah sakit, kotor oleh debu semen, dan aku merasa menjadi laki-laki yang paling gagal di dunia ini."

Agus menahan napas sejenak. Ia merasa dadanya sesak. Ia merasa baru saja menelanjangi seluruh kemiskinannya di depan wanita yang ia puja. Namun, ia belum selesai.

Agus: "Aku malu, Rahma. Aku sangat malu harus menceritakan ini padamu. Aku ingin terlihat sebagai laki-laki yang punya rencana masa depan untukmu, tapi realitanya, untuk menyelamatkan nyawa bapakku malam ini saja aku tidak mampu. Tolong, jangan benci aku karena kemiskinanku ini."

Agus menekan tombol kirim. Sent.

Satu detik, dua detik, status pesan itu berubah menjadi Read. Centang biru. Jantung Agus berdegup kencang hingga ia merasa bisa mendengarnya di telinganya sendiri. Ia menutup wajahnya dengan sebelah tangan, tidak sanggup melihat balasan yang mungkin akan menghancurkan hatinya. Mungkin Rahma akan merasa risih. Mungkin Rahma akan merasa terjebak dengan masalah finansialnya.

Namun, hanya dalam hitungan detik, ponselnya bergetar. Bukan pesan, melainkan panggilan suara. Nama Nor Rahma terpampang jelas di layar yang retak.

Agus mengangkatnya dengan tangan yang sangat dingin. "Halo, Rahma..." suaranya pecah, ia terisak.

"Mas Agus... Ya Allah..." Suara Rahma di seberang sana terdengar tersedak, wanita itu menangis. "Kenapa baru bilang sekarang? Kenapa kamu menanggung semuanya sendirian? Kamu pikir aku ini apa?"

"Aku malu, Rahma. Aku tidak pantas untukmu," bisik Agus di tengah isak tangisnya yang tak lagi bisa ditahan.

"Jangan bicara soal pantas atau tidak sekarang! Mas, dengarkan aku. Kirimkan foto berkas administrasinya sekarang juga. Dan kirim nomor rekening rumah sakit atau nomor rekeningmu. Aku akan urus uang mukanya sekarang."

Agus terdiam. Ia merasa seperti ada petir yang menyambar batinnya. "Rahma, jangan... aku tidak ingin berhutang nyawa dan uang padamu. Aku tidak ingin orang tuamu berpikir aku memanfaatkanmu."

"Mas Agus! Ini soal nyawa bapakmu!" suara Rahma meninggi, tegas namun penuh kekhawatiran. "Lupakan harga dirimu sebentar saja demi Bapak. Cepat kirimkan, Mas! Aku tidak mau dengar alasan lagi!"

Agus menatap ke arah tirai nomor 4. Ia melihat ibunya sedang ditenangkan oleh seorang perawat karena mulai histeris. Ia melihat para dokter sedang bekerja keras di dalam sana. Agus menyadari bahwa di titik ini, harga dirinya benar-benar tidak ada harganya dibandingkan dengan satu tarikan napas bapaknya.

"Baik, Rahma. Tunggu sebentar," ucap Agus pelan.

Ia berdiri dengan susah payah, menyeret kakinya menuju meja administrasi. Dengan tangan yang gemetar, ia memotret surat permintaan uang muka tersebut. Ia mengirimkannya kepada Rahma. Setelah itu, ia hanya bisa bersandar pada dinding koridor, menunggu dengan perasaan yang campur aduk antara lega, syukur, dan rasa malu yang luar biasa hebat.

Lima menit berlalu. Setiap detik terasa seperti satu jam. Agus menatap layar ponselnya yang sisa lima persen.

Ting.

Sebuah bukti transfer masuk ke WhatsApp-nya. Dua juta rupiah. Nama pengirim: Nor Rahma.

"Sudah terkirim, Mas. Segera tunjukkan ke bagian administrasi. Aku sekarang sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Tunggu aku di sana," ucap Rahma melalui pesan suara yang suaranya terdengar sangat terburu-buru.

Agus menatap bukti transfer itu. Ia merasa seperti baru saja diberikan seutas tali saat ia sedang tenggelam di dasar sumur. Ia segera menghampiri meja administrasi, menunjukkan layar ponselnya kepada petugas pria yang tadi bersikap dingin padanya.

"Ini... sudah dibayar lewat transfer," ucap Agus dengan suara yang lebih mantap.

Petugas itu memeriksa sistem komputernya sejenak, lalu ekspresi wajahnya berubah. Ia mengangguk pelan. "Baik, uang muka sudah masuk. Saya akan segera informasikan ke tim medis agar Pak Marjuki bisa dipindahkan ke ruang ICU paru sekarang."

Agus kembali ke depan tirai nomor 4. Ia melihat tim medis mulai menyiapkan tabung oksigen transport dan monitor portabel. Ia melihat ayahnya mulai didorong keluar dari IGD menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai atas.

Ibu agus memeluk Agus dengan erat saat melihat suaminya mulai ditangani dengan lebih serius. "Alhamdulillah, Gus... uangnya dari mana?"

Agus terdiam sejenak. Ia melihat ke arah pintu masuk rumah sakit, menantikan kehadiran wanita yang baru saja menyelamatkan nyawa bapaknya, sekaligus wanita yang baru saja melihat bagian paling gelap dan paling miskin dari hidupnya.

"Dari Rahma, Bu," jawab Agus lirih.

Agus menyadari bahwa malam ini, ia bukan lagi laki-laki yang memikul semen. Ia adalah laki-laki yang baru saja menyerahkan seluruh martabatnya kepada cinta. Dan ia tidak tahu, apakah setelah ini ia masih bisa berdiri tegak di depan Nor Rahma atau justru ia akan selamanya menunduk karena rasa hutang budi yang terlalu besar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!