NovelToon NovelToon
Bisikan Batu Nisan

Bisikan Batu Nisan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Kutukan
Popularitas:292
Nilai: 5
Nama Author: R.H Rahman

Sebuah kisah dengan intensitas teka-teki yang beruntun, corak gaib yang tiba-tiba menghiasi hari. Diawali romansa yang terputus kematian, mengundang esensi ikatan lain yang sarat akan muatan Apokalipstik. Berlanjut dengan hancur leburnya hati Laura, tenggelam dalam samudera kegelapan yang tak berdasar sejak kepergian demi kepergian orang-orang yang ia cintai. Namun, takdir itu rupanya belum usai menyiksanya; metanol kesedihan semakin pekat menyelimuti jiwanya saat rasa penasaran yang mematikan datang seperti racun, dan memabukkan seperti arak kadar tinggi, mulai mencengkram penuh pikirannya. Muncul melalui mimpi di tengah perasaan duka, tiga sosok gadis misterius, bagaikan bayangan dari alam berbeda, terus menghantuinya hari demi hari, merasuk pilu seperti bisikan penuh enigma yang menyimpan sebuah kunci rahasia besar. Kunci yang kemudian menuntunnya pada kisah yang datang merangkak dari bawah batu nisan tua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Di sudut meja yang nyaman menghadap taman luar ruangan sebuah restoran, Laura duduk bersama kedua orang tuanya sambil menikmati hidangan khas Kalimantan yang sudah dihidangkan. Aroma sambal tempoyak yang tajam bercampur dengan keharuman kembang henda yang berkembang di sekitar taman membuat suasana makan siang semakin menyenangkan.

Saat mereka tengah menikmati ikan gabus bakar yang lezat, ayahnya menepuk bahu Laura dengan lembut. "Sayang, besok pagi kita akan berangkat pukul delapan ke bandara," ujarnya dengan nada hangat. "Tiker penerbangan ke Jakarta sudah siap, kamu sudah pasti merindukan udara Bogor bukan? Jadi kemasi barang-barangmu malam ini."

Ibunya menambahkan sambil menuang sup pindang ke mangkuknya, "Kita akan berangkat lebih pagi, apabila kamu ingin memberitahu Amelia, kamu dapat mengunjunginya lagi hari ini."

Laura mengangguk sambil tersenyum, merasa bahagia bisa menghabiskan waktu bersama kedua orang tuanya, terlebih perhatian dan arahan yang membuatnya merasa terjaga.

Sementara itu, di dalam kamar isolasi yang serba putih dan sunyi, Amelia perlahan bangkit dari kegelapan yang pekat. Depresi telah mengunci dirinya dalam cengkeraman yang begitu kuat, merenggut setiap cahaya dari hidupnya. Ingatannya tentang bagaimana ia melukai dirinya sendiri masih samar, seperti mimpi buruk yang enggan pergi. Cermin di sudut ruangan yang semula ditutupi, kini menampakkan pantulan wajahnya yang babak belur, gigi depan yang tersapu sebagian besar, dan mata yang kehilangan bulu matanya. Setiap goresan, setiap memar, adalah bukti bisu perjuangannya. Namun di balik luka fisik itu, ada sesuatu yang berbeda.

Amelia kini benar-benar mulai merasakan dan meresapi kalimat demi kalimat perkataan yang ia dengarkan.

Awalnya, harapan itu hanya sekecil kunang-kunang di malam yang gulita. Ia mendengar suara perawat yang lembut, melihat senyum tulus para dokter, dan merasakan sentuhan tangan yang menenangkan dari ayahnya, ibunya dan Laura yang selalu menyempatkan diri mengunjunginya. Dalam hampir satu pekan yang terasa sangat panjang, mereka semua datang, bukan dengan tatapan kasihan melainkan dengan empati yang menembus dinding pertahanannya. Mereka berbicara tentang hal-hal kecil; tentang cuaca di luar, tentang bunga-bunga yang mekar di taman rumah sakit, tentang musik klasik yang kadang diputar. Sedikit demi sedikit, kata-kata itu menjadi obat penenang yang lebih ampuh dari segala pil.

Amelia mulai merespon. Awalnya hanya anggukan kecil, lalu gumaman pelan, hingga akhirnya ia sanggup bertukar pandang. Proses terapi intensif yang dijalaninya, dengan sesi konseling yang mendalam, membantu Amelia memahami gejolak batinnya. Ia belajar mengenali pemicu depresinya, menggali akar permasalahannya, dan perlahan-lahan menerima bahwa ia tidak sendirian.

Saat sore berada di ambang, saat senja merambat masuk melalui jendela, mewarnai kamarnya dengan nuansa oranye keemasan, Amelia mencoba menyentuh wajahnya. Jari-jarinya menyusuri bekas luka di pipi, merasakan tekstur kulit yang tak lagi sama. Air matanya menetes karena sebuah kesadaran. Ia telah melewati ini. Ia masih di sini. Dan ia layak untuk sembuh.

Luka fisik di wajahnya memang masih ada membekas seperti topeng duka, menjadi pengingat yang tak terhapuskan. Gigi depan ompongnya yang membuat senyumnya terasa canggung, dan bulu matanya yang hilang yang membuat ia kehilangan percaya diri, mungkin tidak akan kembali seperti semula dalam waktu dekat. Namun Amelia menyadari bahwa luka-luka itu bukan lagi simbol kehancuran, melainkan tanda sebuah perjuangan. Tanda bahwa ia telah melewati badai dan kini berlabuh di pelabuhan harapan, bersandar di dermaga yang menapak menuju hari yang lebih baik.

Ia mulai meminta cerminnya dibuka kembali. Sesekali ia menatap pantulan dirinya, mencoba melihat lebih dari sekadar luka. Amelia mencari kilatan di matanya yang dulu redup, mencari senyum tipis yang mulai terbit. Ia berlatih mengucapkan kata-kata positif untuk dirinya sendiri. "Aku kuat. Aku berharga. Aku akan sembuh."

Meskipun sampai detik ini ia masih di dalam kamar isolasi, perasaan terisolasi itu berangsur-angsur menghilang. Ia mulai merasakan koneksi, bukan hanya dengan para staf medis, tetapi juga dengan dirinya sendiri. Perlahan, Amelia menemukan kembali pecahan-pecahan dirinya yang hilang, menyatukannya kembali dengan benang-benang kesabaran dan kasih sayang. Amelia tahu bahwa ia punya kekuatan untuk melangkah maju. Ia sudah merasakan kesembuhan yang sesungguhnya: kesembuhan dari dalam yang jauh lebih berharga dari sekadar kulit yang mulus atau gigi yang utuh.

Suara ketukan lembut di pintu membuat Amelia tersentak. Perawat yang selalu setia menemaninya masuk dengan senyum ramah. "Mereka sudah menunggu, Amelia. Kamu siap?" tanyanya lembut. Amelia mengangguk, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia siap.

Ketika pintu kamar isolasi terbuka, sosok Ayah dan Ibunya terpampang nyata. Wajah mereka yang sebelumnya dilanda kesedihan dan kekhawatiran kini bersinar dengan campuran haru dan lega.

"Amelia..." suara Ibunya lirih, seolah takut mengagetkan.

Amelia mendongak, menatap kedua wajah yang sangat ia kenal itu. Bibirnya sedikit bergetar mencoba berusaha keras membentuk kata. "Ibu... Ayah..." Suaranya serak sebab jarang digunakan.

"Amelia, Nak... kamu baik-baik saja?" Ayahnya akhirnya bertanya, suaranya pecah. Ia duduk di kursi yang telah disediakan, tak jauh dari ranjang putrinya.

Amelia mengangguk pelan. "Aku... aku membaik, Ayah. Aku mencoba." Perkataan yang terputus-putus itu sederhana namun jujur, sebuah pernyataan kekuatan yang mengharapkan kebangkitan. Ia bukan lagi sosok yang pasif yang hanya bisa bersembunyi dari kenyataan.

Tampak rautnya berupaya membangun dialog, ia ingin menjelaskan semua rasa sakit yang dirinya rasakan, namun kata-kata terasa terlalu berat. "Aku... aku minta maaf, Ayah, Ibu," hanya itu kalimat yang kemudian mampu ia ucapkan.

Kedua orang tuanya menggeleng. "Tidak ada yang perlu dimaafkan, Nak. Kami hanya ingin kamu sembuh. Itu saja." Tatapan mata Ayah dan ibunya penuh pengertian tanpa menyalahkan.

Melihat ekspresi wajah mereka yang penuh cinta dan dukungan, Amelia merasakan sesuatu yang baru di dalam dirinya: penerimaan. Bukan hanya penerimaan dari orang tuanya, tetapi penerimaan terhadap dirinya sendiri, lengkap dengan segala kekurangannya dan luka-luka yang ia bawa. Sebuah senyum tipis, meski dengan celah di gigi depannya, akhirnya terukir di wajah Amelia. Itu adalah senyum mentari, senyum kesembuhan yang sesungguhnya.

Malam itu juga, saat ketignya masih menghabiskan waktu bersama, sebuah kejutan langkah tergesa-gesa tiba-tiba mengejutkan Amelia. Bukan oleh bayangan pilu yang menghantuinya, melainkan oleh suara tawa riang yang sudah lama tak disadarinya. Itu adalah suara Laura.

Laura, bersama Ayah dan Ibunya, memasuki kamar isolasi Amelia dengan senyum lebar. Wajah Laura yang cerah penuh semangat adalah pemandangan yang menyegarkan bagi Amelia. Di tangannya ada sebuah gambar yang baru selesai diwarnai, bergambar pemandangan kebun teh dan gunung, dengan tulisan besar: "Untuk Amelia, Cepat Sembuh!"

"Amelia!" seru Laura, langsung memeluk hati-hati. "Aku mau pamit. Besok pagi kami mau pulang ke Bogor!"

Amelia membalas pelukan sahabatnya, rasa haru yang tebal menyelimuti hatinya. Melihat Laura yang sudah terlebih dahulu pulih sepenuhnya, ceria seperti sedia kala, adalah salah satu kebahagiaan terbesar bagi Amelia saat ini. Ukiran yang memalukan di wajahnya terasa tidak berarti dibanding senyum tulus Laura yang tidak berubah kepadanya.

Ibunya Laura mendekat, matanya menunjukkan percampuran antara rasa lega dan sedikit kesedihan harus berpisah. "Amelia, nanti ketika kamu sudah pulang ke Jakarta, kunjungi kami, jangan lupa, ya," ucapnya sambil menyentuh lutut Amelia yang tersembunyi di bawah selimut.

Amelia mengangguk dengan semangat kepercayaan diri yang mengganda. Ia menatap ke sekelilingnya, ingin mengatakan banyak hal, ingin meminta maaf karena telah membuat banyak orang khawatir. Namun ia tahu, tindakan dan kesembuhannya adalah permintaan maaf terbaik.

"Hati-hati di jalan, ya," balas Amelia dengan suara yang masih sedikit lemah. Laura kembali memeluk sahabatnya, kali ini lebih erat. "Kamu harus cepat sembuh! Kamu orang yang kuat! Nanti aku yang akan lebih dulu berkunjung ke rumahmu."

Setelah pelukan terakhir, ketiganya lalu keluar dari kamar isolasi. Amelia melihat mereka pergi seraya melambaikan tangan, lambaian sampai punggung mereka menghilang di balik pintu. Di meja samping ranjangnya, gambar pemandangan kebun teh dan gunung dari Laura tergeletak manis. Amelia meraihnya sambil tersenyum. Ia bertekad untuk sembuh. Demi dirinya, demi orang tuanya, demi Laura, dan demi semua orang yang memberikan kehangatan kepadanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!