Dengan bersimbah darah seorang pendekar wanita berjuang sekuat tenaga untuk melarikan diri dari kejaran para prajurit yang masih terus membuntuti nya . Tuduhan pengkhianatan yang di lemparkan seseorang padanya membuatnya terus menjadi buronan di kerajaan tempat tinggalnya .
Hingga dalam kesekian pelariannya di saat nyawanya terasa sudah di ujung tanduk takdir mempertemukannya dengan seorang pemuda desa yang pada akhirnya menyelamatkan nyawanya . Tanpa diketahui jika pemuda itu sebenarnya merupakan seorang pangeran yang sedang menyamar .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SecretPenaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ramuan pembeku
Nayan sendirian di rumah setelah Cakra dan Riu pergi. Mereka berdua masih harus menyelidiki siapa dalang di balik paceklik yang melanda desa , sesuai dengan tujuan awal mereka . Cakra pun berpamitan pada Nayan jika mereka pergi keluar untuk berburu dan akan kembali saat sore .
Kesempatan dalam kesunyian ini langsung dimanfaatkan oleh Nayan—yang sebenarnya adalah Sedra. Ia kembali mencoba memancing tenaga dalamnya. Berkali-kali ia memusatkan pikiran dan mencoba menarik energi dari inti tubuhnya, namun hasilnya nihil. Napasnya sampai tersengal-sengal, tetapi ia tetap tidak bisa merasakan aliran tenaga sedikit pun. Tubuh Nayan benar-benar kosong.
"Apa yang sebenarnya Pangeran Elias lakukan padaku...?" gumam Sedra dengan rasa frustrasi yang memuncak. Saking kesalnya, ia memukul meja di sampingnya sampai berderit keras.
Ia pun menyandarkan tubuhnya yang lelah, mencoba memutar kembali ingatannya. Siapa tahu ada petunjuk penting yang selama ini terlewat olehnya.
flashback...
Luka-luka di tubuh Sedra masih terasa perih saat ia berhasil diselamatkan dari medan pertempuran oleh seseorang .
"Siapa kau?" tanya Sedra waspada dengan napas memburu.
Orang itu perlahan membuka cadarnya. Begitu melihat wajah di baliknya, senyum Sedra langsung merekah di sisa-sisa ketegangan perang. "Pangeran... Elias!"
Tanpa ragu, Sedra langsung menghambur dan memeluk erat sang pangeran. Rasa takut dan leganya tumpah seketika.
"Jika tidak ada kau, mungkin aku sudah mati di tangan pemuda itu," bisik Sedra dengan suara bergetar.
"Mana mungkin aku membiarkan hal itu terjadi padamu, Sedra." balas Elias lembut sambil membalas dekapannya.
Namun, sorot mata Elias sangatlah bertolak belakang dengan suara lemah lembutnya .
"Tentu saja tidak untuk sekarang, Sedra..."batin Elias menyeringai licik di balik punggung gadis itu.
"Aku masih membutuhkanmu untuk menjadi kambing hitamku . Dan setelah ini, kau bukan lagi ancaman untukku."
Elias melepaskan pelukannya, lalu menatap Sedra dalam-dalam dengan tatapan penuh kepura-puraan."Ayo kita kembali ke istana . Aku akan mengobati luka-lukamu."
Sesampainya di istana, Elias langsung memanggil seorang tabib kepercayaannya untuk merawat luka Sedra.
"Aku tidak tahu siapa pemuda itu, Pangeran," ujar Sedra mulai bercerita saat lukanya diobati.
"Tapi dia benar-benar berbeda. Gerakan pedangnya hebat sekali, sampai-sampai aku kewalahan melawannya. Kita harus berhati-hati, Pangeran. Jangan-jangan dia berkomplot dengan para raja busuk itu ."
Mendengar kekhawatiran itu, Elias menyentuh lembut wajah Sedra dan tersenyum tenang. "Kau tidak perlu khawatir, Sedra. Aku sangat yakin dengan kemampuanmu."
Elias kemudian bangkit dan berjalan ke arah pintu. Ia mengambil semangkuk ramuan obat yang baru saja diserahkan seseorang secara diam-diam dari balik celah pintu.
"Minumlah ini, Sedra," ucap Elias sambil menyodorkan mangkuk tersebut.
"Tabib bilang ini ramuan khusus , lukamu pasti akan cepat pulih setelah meminumnya ."
Tanpa rasa curiga sedikit pun pada pria yang sangat dicintainya, Sedra menerima mangkuk itu dan meminum habis isinya yang terasa pekat dan getir.
"Sekarang istirahatlah. Besok pagi kita akan menemui Ayahanda," kata Elias lagi.
Dahi Sedra sedikit berkerut heran. "Tapi bukankah kau sendiri yang bilang kalau Yang Mulia Raja tidak boleh tahu soal perang rahasia ini?"
Elias terkekeh pelan, seolah sedang menyiapkan sebuah kejutan manis. "Tentu saja kita tidak akan membahas soal perang. Besok, aku akan meminta izin kepada Raja untuk menikahimu, Sedra."
Mendengar kalimat itu, jantung Sedra rasanya seperti berhenti berdetak sesaat karena terlalu bahagia. Harapan yang selama ini ia pendam akhirnya terwujud. Tanpa bisa membendung buncahan emosinya, ia langsung memeluk erat tubuh Elias—sama sekali tidak menyadari bahwa ramuan yang baru saja ia tenggak adalah awal dari petaka yang mengunci seluruh kekuatannya.
Malam itu, setelah Sedra berhasil tertidur dengan ramuan pembeku , Elias melangkah dengan tenang menyusuri lorong istana yang sunyi. Tujuannya hanya satu , Kamar pribadi Raja Seno.
"Ayahanda, kau terlihat sangat lelah.." ucap Elias santai saat melangkah masuk.Di balik jubahnya, ia sudah menggenggam erat sebilah belati beracun.
Raja Seno yang sedang memeriksa gulungan kertas hanya menghela napas panjang tanpa menaruh curiga. "Ini memang sudah tugasku, Elias."
"Bukankah sudah seharusnya di usiamu ini kau tidak lagi mengemban tugas Yang Mulia ? Serahkan saja takhta itu padaku, aku akan meringankan bebanmu."
Mendengar itu Raja Seno tak langsung menjawab .Terlihat sangat jelas gurat keraguan di wajahnya . Ia tahu ambisi putranya terlalu besar dan berbahaya.
"Ini sudah terlalu larut untuk membicarakan soal takhta. Kembalilah ke kamarmu." Ucap sang Raja .
Elias terkekeh sinis. Penolakan halus ini sudah terlalu sering ia dengar.
"Ck... sampai berapa lama kau akan terus begini, Ayah? Lagipula tidak ada orang lain lagi selain aku yang nantinya juga akan berada di singgasana itu ." desis Elias tajam.
"Yoka... si anak cacat itu? Dia bahkan tidak bisa bicara ataupun berjalan." Elias menyinggung soal pangeran Yoka membuat amarah Raja meledak seketika .
"Elias! Jangan keterlaluan kau! Yoka itu kakakmu!" bentak Raja Seno dengan sisa-sisa wibawanya.
Elias perlahan mendekati Raja Seno, tatapannya sedingin es. "Sebenarnya aku ke sini hanya untuk bernegosiasi. Tapi sepertinya ayahku ini memang tidak bisa untuk diajak bicara."
Elias membungkuk, mendekatkan wajahnya tepat ke telinga sang Raja dan berbisik ngeri, "Matilah dengan tenang, Ayahanda."
Jlebbb... jleb... jleb...
Tanpa nurani sedikit pun, Elias menghujamkan belatinya berkali-kali ke dada sang ayah. Darah segar menyembur, mengotori jubah megah mereka berdua.
"Akkkh..."
Tubuh Raja Seno tumbang bersimbah darah. Dengan napas yang tersengal-sengal di ujung maut, ia menatap putranya dengan kepedihan yang luar biasa. "D... di mana nur... animu Elias... hanya demi takhta kau..."
Elias berjongkok di samping tubuh sekarat ayahnya, tersenyum puas.
"Jika kau tidak keras kepala, maka aku tidak perlu melakukan ini, Ayah. Begitu juga pada putra kesayanganmu itu."
Mata Raja Seno membelalak di tengah sekaratnya. Kesadaran mengerikan menghantamnya tepat sebelum maut menjemput. Ia akhirnya tahu siapa dalang yang telah membuat Pangeran Yoka, putra pertamanya yang cerdas, tiba-tiba menjadi lumpuh dan bisu.
Raja Seno mengembuskan napas terakhirnya dengan mata terbuka, tidak percaya bahwa ia telah membesarkan seorang iblis berwujud manusia.
Flash on....
Bersambung....
🎊🎊🎊