Ini merupakan Novel Sekuel dari Melepas para Benalu,
Wina tak pernah menyangka kisah hidupnya yang tragis membuatnya akhirnya bisa bertemu dengan lelaki yang sangat kejam tapi sangat mencintai dan menyayangi dirinya yaitu Alexander
Alexander adalah seorang Mafia kelas kakap yang bahkan polisi juga sangat segan kepadanya.
Pertemuan tidak sengaja itu pun menjadikan Tuan Mafia yang terkenal kejam dan tidak berperasaan itu akhirnya memiliki tempat pulang dan orang yang dia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Erlangga membulatkan matanya mendengar ancaman Wina barusan padanya, dia menatap tajam Wina yang berbicara seperti merendahkan harga dirinya dihadapan anak-anak nya.
"Wina"? Tegurnya dengan gigi bergemeletuk nyaring
Tatapan keduanya bertemu, ada kilatan amarah dimata itu tetapi dia tahu jika Wina berusaha mengontrolnya agar tidak dilihat anak-anak nya.
"Kamu cukup mendengar apa yang kukatakan kan Er, aku tidak akan kembali kepadamu, kamu bisa lihat dan dengar sendiri apa yang dikatakan anak-anak, aku sejak awal katakan padamu jika aku tidak bisa apalagi keluargamu selalu menyerangku bahkan membahayakan nyawa orang-orang yang kucintai, aku juga tidak akan pernah lupa jika kalianlah penyebab orangtuaku meninggal". Jawabnya dengan dingin.
Tubuhnya bergetar karena emosi yang berusaha dia tahan sejak tadi, dia tidak ingin anaknya melihat bagaimana sangarnya ibunya jika menggunakan logikanya.
"Tapi Win, aku hanya ingin memberikan keluarga yang utuh untuk anak-anak seperti keluarga pada umumnya". Kekeh pada keinginannya.
Wina menggelengkan kepalanya menatap Erlangga dengan tajam bahkan jika itu bisa menembus maka Erlangga akan mati.
Erlangga mematung melihat tatapan yang tidak biasa pada Wina itu, dia kesulitan menelan Salivanya.
"Mereka tetap bisa memiliki kita berdua tanpa harus kita bersatu, aku tidak akan bisa dan tidak akan mau, cukup pembahasan ini, jangan buat aku melakukan hal yang tidak akan pernah kamu sangka Erlangga Pratama". Jawabnya dengan tegas
" Bunda". Ucap kedua anak itu dengan sendu.
Mereka merasa sangat sedih mendengar perdebatan kedua orangtua mereka, bagaimana mungkin keduanya bisa memiliki keluarga utuh dalam keadaan seperti ini.
"Maafin bunda nak, bunda dan Daddy tidak bisa bersama, kami tidak bisa sejalan dengan keadaan seperti ini, bunda hanya tidak mau kalau kalian hidup di keluarga yang penuh tekanan dan juga ambisi serta rasa egois yang tinggi, maafin bunda".
Wajah garang penuh emosi itu berubah menjadi sendu ketika berhadapan dengan kedua anaknya, matanya menatap lurus keduanya dengan penuh permohonan.
"Bunda hanya ingin menyelamatkan mental kalian dan juga mental bunda, kalian sudah merasakan bagaimana kelaurga Daddy kalian pada kalian berdua dan juga bunda, bahkan dengan terang-terangan mereka berusaha melenyapkan kita"
Wira mengangguk menyetujui perkataan sang ibu, dia tahu jika semua mereka alami adalah perbuatan keluarga sang ayah kandung.
Wira kini menatap sang ayah dengan tatapan tajam, khas tatapan dari sang ibu, matanya memancarkan kemarahan yang tertahan tapi tetap berusaha untuk bisa tenang.
"Daddy mendengar perkataan Bunda, jika Daddy tidak bisa memenuhi keinginan bunda dan memaksakan kehendak Daddy maka jangan salahkan Wira jika tidak mau ketemu lagi dengan Daddy".
Wajah Erlangga langsung pucat pasi, dia tidak menyangka anaknya akan berkata seperti itu padanya.
"Nak". Tegurnya pelan.
"Maaf Daddy, aku sudah hidup bersama bunda tanpa daddy selama ini, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti hati bundaku termasuk ayahku sendiri, jadi jangan paksa bundaku, jangan membuatku membenci Daddy".
"Tapi nak, Daddy hanya ingin kita bersama dan utuh, dimana salahnya? ". Tanyanya dengan memelas.
Dia berusaha mencari simPATI anaknya agar anaknya bisa membantunya untuk membujuk Wina agar memilihnya.
" Niat daddy memang baik tapi caranya salah, aku tidak akan pernah bahagia adalah bundaku tidak bahagia dan mengorbankan dirinya untuk menerima daddy karena kami, tidak akan pernah, jangan buat bundaku terluka, aku tidak suka!! ".
Wira berjalan masuk kedalam rumah meninggalkan Erlangga yang terpaku bersama Tania, dia memandang langkah dan tubuh anaknya dengan perasaan hancur berkeping-keping.
"Kakak". Teriak Tania langsung menyusul sang kakak.
Dia tidak mau kakaknya sampai marah padanya karena ulah snag ayah, dia harus menyusul kakaknya untuk meminta maaf
Erlangga berdiri dari tempat duduknya kemudian kembali menoleh pada Wina yang menatapnya dengan senyum penuh kemenangan.
"Kamu meracuni otak anak-anak Win? ". Tanyanya dengan suara bergetar, dadanya bergemuruh hebat penuh amarah.
Dra tidak menyangka wanita yang dia cintai selama ini dan pernah mencintainya akan berbuat seperti itu.
"Aku bukan keluarga mu tuan Erlangga Pratama". Jawabnya dingin dan tajam
Tatapannya menusuk hingga ke relung hati terdalam Erlangga, tatapan yang dulu penuh cinta untuknya kini terganti dengan tatapan dingin dan asing.
"Tapi mengapa mereka tidak menuruti keinginanku, lagian apa yang kulakukan untuk kebaikan kita semua, aku mendapatkan cintaku, anak-anak punya keluarga utuh, kamu juga bahagia karena semuanya bahagia apa itu tidak bisa". Ucap Erlangga mengacak rambutnya dengan kasar.
"Terserah apa katamu Erlangga, aku tidak peduli".
"Tapi aku ayah kandung mereka Wina". Teriaknya dengan putus asa.
Wina terkekeh pelan terkesan mengejek, dia tidak menyangka Erlangga sama saja dengan Keluarganya yang egois.
"Biar bagaimanapun keturunan Pratama tetap saja sama, sebaik apapun kamu".
Ucap Wina dengan tatapan merendahkan sekaligus tajam, membuat Erlangga menatapnya dengan tatapan horor, dia tidak menyangka akan mendapatkan perkataan menyakitkan seperti itu.
"Wina, jangan seperti itu, aku tidak bisa memberikan toleransi". Ucapnya penuh penekanan.
Matanya kini menatap Wina dengan gurat kebencian sekaligus rasa cinta dan obsesi.
"Itu benar, kalian semua sama saja, egois dan haus akan obsesi, aku tidak akan membiarkan putra dan putriku tumbuh di lingkungan kalian, tidak akan pernah". Ucapnya penuh penekanan.
"Wina, kamu sudah keterlaluan". Bentaknya dengan suara menggelegar.
"Terserah apa yang kamu katakan, Kamu tahu, aku mendidik Wira menjadi lelaki sejati yang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tapi juga memikirkan perasaan orang lain dan peka terhadap keadaan orang yang dia cintai, Wira tahu apa yang kami alami selama ini, itu sebabnya dia tidak pernah membuatku kecewa karena dia tahu rasanya bagaimana rasa kecewa itu dan aku pastikan kedua anakku tak akan ada yang mengikuti jejak kelaurga Pratama".
Wina melipat kedua tangannya dan menegakkan wajahnya terkesan sombong tapi dia tidak akan mundur, dia tidak akan membiarkan Erlanggg membawa kedua anaknya bersamanya.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun merusak apa yang telah aku bentuk, aku tidak akan membiarkan anakku hidup dibawah tekanan, tidak akan!!, jadi pastikan kamu berhenti melakukan itu, atau kamu akan tahu akibatnya".
Wina masuk kedalam kamarnya meninggalkan Erlangga yang mengepalkan tangannya karena keinginannya tidak bisa terpenuhi.
"Aku tidak akan diam saja Wina, aku tidak akan membiarkan siapapun memiliki kamu dan juga anak-anak, tidak akan pernah, kalian hanya milikku". Ucapnya dalam hati sambil keluar dari rumah itu dengan tergesa-gesa dan dalam keadaan emosi
Pertengkaran itu disaksikan oleh Alex yang berada diruang kerjanya dan terhubung dengan taman, dia menyunggingkan senyum sinis dan penuh kemenangan melihat kepergian Erlangga dari rumahnya.
"Itu baru gadisku, aku sungguh beruntung jika mendapatkan nya".
certia cukup menarik🙏