"Jangan pernah berpikir untuk melangkah keluar dari bayanganku, Mika. Karena sedetik saja kamu menghilang, aku akan pastikan dunia ini mencarimu dengan cara yang tidak akan pernah kamu lupakan."
Mikaela siswi SMA cantik dari keluarga yang biasa. Suatu malam mengubah segalanya. Menyaksikan dan bertemu dengan Arlan Gavriel—pria berkuasa di Kota Glazy, menghabisi nyawa seseorang dan membuatnya menjadi tawanan yang harus dimiliki Arlan sepenuhnya. Terjebak dalam keadaan yang tidak menguntungkan, perlahan ada rasa tumbuh di benak Mika setelah mengetahui sisi lain dari Arlan. Arlan adalah monster berdarah dingin, tapi juga penyelamat bagi Mika.
Ada apa dengan Mika dan Arlan? Kenapa Arlan membuatnya sebagai Tawanan? Apakah hanya karena melihat kejadian malam itu? Atau ada sesuatu yang harus Mika bayar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Voyager, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengigau
"Ma—maaf, kayaknya aku naik bis umum aja!"
Mika langsung turun dari mobil. Ia berlari begitu cepat. Bahkan Arlan tak sempat berbicara dan menghentikannya.
Saat bis muncul, Mika bergegas naik. "Iiih, Mika, habislah nyawamu. Tatapan matanya bikin aku harus menyerahkan hidupku!" gumamnya pelan.
Sementara Arlan pergi ke kantor. Sesampainya di kantor, seperti biasa Arlan mengerjakan semua project yang akan diambil olehnya.
"Pak, bagian utara udah saya bereskan. Tiga hari lagi kita akan ada pertemuan penting dengan bos mereka!" kata Karyawannya.
"Ya, udah siapkan kebutuhannya. Untuk sekarang aku serahkan semua sama kamu!" perintah Arlan.
Wanita itu menunduk patuh. Ia adalah Citra, wanita cantik, seksi, dan menjadi populer meski hanya karyawan biasa.
"Baik, Pak! Terima kasih!" sahutnya lalu pergi.
Tak lama kemudian, ponsel Arlan berbunyi. Sebuah pesan Mika terlihat.
Tuan Arlan hari ini aku ada kerja kelompok, jadi aku akan pulang terlambat. Ets, jangan tiba-tiba muncul, ya. Apa kata temanku nanti?
"Cih, anak kecil kepedean." Arlan terlihat kesal. Ponselnya ditelungkupkan olehnya dan kembali melanjutkan pekerjaan.
Di ruang karyawan, semua berkumpul di meja Citra.
"Eh, Cit, kamu nggak kena marah Pak Arlan, kan?" tanya salah satu temannya.
"Ya, nggaklah! Justru Pak Arlan butuh aku menangani jadwal dia," ucap Citra percaya diri.
Semua karyawan terperangah. "Wah, hebat. Kamu jadi kepercayaan Pak Arlan!"
Citra tersenyum malu. Percaya dirinya semakin meningkat ke level maksimal.
"Tapi, memang cocok, sih. Lagian kamu kan udah lama kerja di sini, Cit. Kurasa hal itu udah sewajarnya dan aturannya kamu udah jadi seketaris Pak Arlan!" sahut karyawan lainnya.
Citra besar kepala. Ia tersenyum puas sambil membereskan beberapa dokumen yang berserakkan di meja.
"Ssstt, kalian jangan berisik. Kalau didengar Pak Arlan jadi nggak enak!" kata Citra, meski hatinya berkata lain.
Duk! Duk!
"Ngapain kalian berkumpul di sini!"
Seorang pria berjas coklat dengan tubuh bidangnya, berdiri di belakang karyawan. Ia adalah Vino Pradana, sahabat Arlan sejak SD.
Citra langsung spontan berdiri. "Selamat datang Pak Vino!"
"Kalian digaji cuma untuk bergosip?!" ketusnya persis dengan Arlan.
"Nggak Pak, kami lagi bahas pekerjaan!" bela Citra. Tangannya gemetar.
Vino memasukkan tangannya satu ke dalam saku. "Arlan ada?"
Citra mengangguk. "Ada Pak, mari saya antar!"
Vino langsung mengangkat tangannya. "Stop ... biarkan aku aja yang ke ruangannya! Kalian ... kerja, jangan gosip!"
Vino pun pergi. Vino ini adalah anak pertama dari Keluarga Pradana. Keluarganya orang terkaya kedua setelah Keluarga Gavriel.
Tok! Tok!
Klek!
Vino masuk dengan tenang. Arlan pun melakukan hal yang sama. Meski keduanya terlihat cuek, angkuh, dan sombong, bahkan kemiripan sifat keduanya sangat beda tipis. Mereka tetap sama-sama kurang tertarik dengan wanita.
"Kapan kamu balik dari luar negeri?" tanya Arlan sambil melihat laptopnya.
Vino menghela napas. Merebakan tubuh di sofa putih. "Baru aja! Lagian, kamu kan tau jadwalku kapan balik, kenapa nggak jemput!"
"Ais, matamu nggak lihat ini aku sibuk. Beberapa hari ini lagi banyak kesibukan kantor dan hal yang lain!" jawab Arlan.
"Apa ... kesibukan lain?" Vino langsung duduk memandang Arlan dengan seksama. "Maksudmu ... dengan Kamalia?"
Tuk!
Arlan langsung menghentikan ketikkannya. "Heh, perjodohan itu nggak akan mungkin terjadi!"
"Kenapa?"
"Kamu baca berita atau nggak?!" Arlan pun naik pitam.
"Nggak akan sempat aku baca berita atau buka sosmed. Lagian kalau kamu nggak jadi sama dia, ya ... itu bagus!" sahut Vino. "Dari dulu aku juga nggak suka sama dia. Nah, kalau sekarang ada penggantinya nggak?"
Arlan terdiam sejenak. Ia memutar-putarkan pulpen hitamnya. Sambil bersandar dan berpikir.
"Hm, ketahuan!" Senyum ledek Vino terarah padanya. Vino langsung berdiri di samping Arlan. "Siapa?" tanya sambil main mata dan alis.
"Aih, sejak kapan sih, kamu suka gosip?!"
"Udahlah, Lan. Jawab aja ... siapa? Dari keluarga mana? Usianya berapa? Cantik nggak?" begitu banyak pertanyaan Vino.
Jelas ia akan bertanya dengan sedetail itu. Sebab, Arlan bukan tipe orang yang akan jatuh cinta pada seorang gadis.
Arlan cuma diam, dengan stay coolnya. Saat obrolan itu berlangsung, tiba-tiba pintu ruangannya terbuka.
Seorang wanita mengenakan dress berbelah samping, tinggi dan berambut pendek muncul.
"Kak!" panggil cewek tersebut. Vino langsung panik. Itu adalah adiknya bernama Mia Pradana.
"Ngapain kamu ke sini?!" tanya Vino memastikan adiknya baik-baik saja.
Mia mendengus marah. "Terus aku harus cari ke mana? Kamu bukan temuin adikmu malah langsung ke sini!" pukulan kecil mendarat di dada Vino.
"Hei ... di sini bukan acara jalinan kasih!" celetuk Arlan.
Ekspresi yang semula kesal, marah Mia berubah sumringah. "Kak Arlan."
Ia berlari kecil mendekati Arlan. "Kak, nanti malam mau makan bareng nggak?" tanyanya manja.
"Eh, Dek. Ini Abangmu lho, masa ngajak orang lain?" sahut Vino cemburu.
Arlan hanya tertawa kecil sambil menutup mulutnya.
"Wuueee—" Mia menjulurkan lidahnya ledek. "Gimana Kak, mau ya ... Please!"
Arlan sedikit ragu untuk menjawab. Namun, pada akhirnya ia mengangguk setuju. Saat Arlan setuju, Mia langsung kegirangan.
"Kak Arlan kalau bisa, nggak usah ngajak siapa pun!" geramnya sambil melirik Vino. "Ya, udah Kak. Aku pergi dulu, bye! Hm!" Mia membuang muka pada Vino dengan kesal dan pergi.
Vino tercengang. Ekspresinya sedikit konyol. "Lan, kenapa kamu setuju?!"
"Udahlah, biarkan aja. Lagian kita juga jarang ketemu!" jawab Arlan santai.
Mereka pun melanjutkan mengobrol. Waktu begitu cepat berganti. Langit kota sudah gelap. Vino pun sudah pulang sejak sore tadi.
Saat ingin merapikan barang dan pulang. Ponselnya memiliki banyak panggilan masuk dari Mika.
"Astaga, dari tadi dia telfon aku?" batin Arlan.
Tanpa berpikir panjang, Arlan langsung meluncur pulang. Saat sampai di aparteman, ia melihat Mika tidur di sofa.
"Kenapa dia tidur di sini?" bisiknya pada Pelayan rumah.
"Maaf Tuan, tadi saya udah suruh Nona Mika untuk tidur di kamarnya, tetapi dia mau nunggu Tuan pulang," jelas Pelayan.
Arlan pun mengangguk. "Baiklah, biar aku yang gendong!"
Arlan pun perlahan menggendong Mika masuk ke dalam kamarnya dan menyelimuti Mika. Saat Arlan mau berpaling pergi, ia mendengar Mika mengigau.
"Tuan Arlan, aku suka sama kamu!"
Arlan terkejut. Ia mengerutkan keningnya. Kembali duduk di samping Mika. Memastikan dirinya tidak salah dengar.
Arlan mengelus pipi Mika yang halus. Tiba-tiba tangan Arlan digenggam.
"Jangan pergi!" Ngigaunya kembali. Sambil memeluk tangan Arlan.
Saat Arlan ingin menarik tangannya pelan. genggaman Mika semakin erat. "Dasar bocah bodoh! Beraninya goda Bos saat tidur!" bisik Arlan.
Dengan terpaksa, Arlan mengatur posisinya. Kini, ia tidur di samping Mika. Mereka pun terlelap bersama.