Lima tahun Riana menyerahkan hatinya untuk satu nama yaitu Irwan. Lima tahun pula ia percaya bahwa dirinya adalah satu-satunya.
Sampai sebuah kenyataan menamparnya dan menghancurkan segalanya.Ternyata selama ini Riana bukan kekasih Irwan tapi ia hanya... selingkuhan.
Riana ingin memutuskan untuk pergi. Ia muak. Tapi Irwan menolak melepasnya. "Kamu sudah terlalu dalam di hidupku" katanya, dengan nada yang membuat Riana takut sekaligus lemah.
Di tengah luka dan ancaman itu, hanya ada satu orang yang selalu ada dua lah Arif. Sahabat yang selalu menemaninya, yang hapal caranya menangis dalam diam. Arif yang ternyata sudah lama menyimpan rasa, tapi memilih pergi demi kebahagiaan Riana.
Kini Riana harus memilih. Bertahan dalam cinta yang memenjarakan, atau berani bebas meski harus kehilangan semuanya? Dan sanggupkah Arif tetap diam saat wanita yang ia cinta sedang tenggelam?
Lima tahun cinta, ternyata hanya lima tahun kebohongan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rika nopiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 34
Jalan itu berbelok-belok dengan penerangan yang seadanya,dulu Irwan sedikit takut melalui jalan itu sendiri namun kini karna sudah terbiasa ia sudah merasa familiar bahkan dengan tiap tikungannya.
Saat masih fokus menyetir tiba-tiba ponselnya berdering menampilkan nama Ara di sana seperti biasa ia mengacuhkannya sampai telponnya berhenti berdering.Ponsel Irwan kembali berdering kali ini penelponnya adalah Doni,Irwan melakukan hal yang sama ia abaikan dua manusia itu.
Tapi lama kelamaan ia jengah juga, akhirnya ia menjawab telepon dari Doni terlebih dahulu.
"Kenapa?" tanya Irwan sedikit kesal .
"Bro loe di mana?" Suara Doni terdengar sedikit panik.
"Biasa,kenapa loe panik gitu,ada masalah apa?" tanya Irwan penasaran.
"Tadi gue ketemu si Ara di club,dia nanyain loe dimana.Loe ngebohong pake bawa-bawa nama gue segala sih!?" Doni sedikit kesal.
"Gue bilangnya mau maen PS di tempat loe,kalo gue main sama loe kan pasti dia sama nyokap gue percaya aja.Lagian di club lagi ngapain tuh anak?" dahinya mengkerut dalam, sepengetahuannya walau Ara bukan anak yang dekat dengan agama tapi dia tak pernah mendatangi tempat seperti itu.
"Kayaknya sih ada acara sama temen-temenya! Dandanan nya ya kalo loe liat wiiidiiih mantep pokoknya,menonjol di tempat yang tepat" ucap Doni nyeplos seperti biasa
"Anj1ng loe,jangan mesum loe sama dia" umpat Irwan, membuat semakin meledak tawa Doni di ujung telepon sana.
"Tapi gara-gara loe,gue jadi harus pura-pura balik buat nyamperin loe, padahal tadi gue baru aja dapet cewe,baru juga pemanasan,lagi asyik-asyiknya malah keganggu sama si Ara" ucapnya agak kesal.
"Oohh ya udah deh, kalo udah beres masalahnya!" ucapnya datar.
"Tolol !!!! Bukan ya udah deh,gue takutnya si Ara nekat datengin apartemen gue buat mastiin loe ada di sana apa enggak" sembur Doni,andai orangnya ada di depan dia sekarang sudah pasti dia ajak gelut.
"Nanggung bego,gue gak mungkin balik lagi udah jauh ini!" Irwan berdecak kesal.
"Lagian kenapa sih,urusan loe gak langsung loe eksekusi aja,ngulur waktu terus sih loe" cerocos Doni.
"Sabar,,,,bentar lagi juga gue beresin,loe tolong urus dulu lah si Ara,pantesan tuh anak nelpon gue mulu dari tadi" keluhnya.
"Ya angkat bego,bilang loe lagi tidur kek di tempat gue ,biar dia gak gangguin loe lagi!" usul Doni.
"Ya udah ,ya udah oke!" telpon langsung di matikan. Irwan menepi sebentar sebelum mulai menelpon ponsel Ara,tak butuh waktu lama panggilan itu langsung di jawab.
"Halo" suaranya ia sengaja buat serak khas bangun tidur.
"Kamu dimana sayang?aku telponin dari tadi gak di angkat"
"Ketiduran di rumah Doni,kenapa?" Irwan pura-pura menguap lebar.
"Ooh kamu tidur?" Ara memastikan
"Iya,soalnya si Doni gak ada di rumahnya gak tau kemana" suaranya masih terdengar lemas.
"Oke deh,,,kalo gitu tidur lagi aja ya sayang" ucap Ara sebelum menutup telponnya.
Irwan tersenyum menang,berhasil menipu Ara seperti biasanya,ia kembali melajukan mobilnya menuju tempat tujuannya.
Sebuah tempat yang mirip villa bergaya modern dengan tembok tinggi di sekitarnya,ini adalah villa yang ia sewa selama beberapa bulan ke depan dengan harga yang lumayan menguras tabungannya,tempat ini sengaja ia pilih untuk menyembunyikan rahasia besarnya.
Begitu melihat mobilnya datang para penjaga membukakan pintu gerbang tinggi itu perlahan.Dengan langkah tenang ia menapaki teras rumah itu dengan senyum yang begitu mengembang sempurna, seorang wanita muda menyambutnya di depan pintu sambil menunduk hormat.
"Dia sudah tidur?" tanyanya langsung.
"Sudah tuan,makanannya juga sudah habis" lapornya pada tuannya.
Irwan mengangguk mengerti,sudah tak sabar ia segera mempercepat langkahnya menuju ke lantai dua rumah itu,setiap anak tangga yang ia pijak entah kenapa terasa lama sekali.
Dan di depan sebuah pintu besar berwarna coklat itu,Irwan berhenti sejenak menarik nafas mencoba mengatur debaran di dalam dadanya yang membuncah lalu ia mulai membuka pintu itu secara perlahan.
Sesosok gadis tampak tidur terlelap di ranjang yang luas itu,Senyum Irwan mengembang sempurna ia mendekat perlahan lalu duduk di samping tubuh wanita itu yang kini tampak lebih kurus.
"Sayang,,,,aku datang,,,," ucapnya pelan,sambil mengelus lembut rambut pendek berwarna hitam legam itu , ia menoleh pada nakas yang diatasnya ada nampan berisi bekas makan malam gadis itu, ia tersenyum puas karna sebenarnya setiap makan malam yang di sajikan pada gadis itu telah di campurkan dengan obat tidur.
Irwan mengecup wajah cantik itu mulai dari dahi,pipi,hidung kemudian turun ke bibir merah mudanya tampaknya apa yang Irwan lakukan sama sekali tidak mempengaruhi gadis itu.
"Apa gue eksekusi sekarang aja?" gumamnya tapi ia segera menggelengkan kepalanya menolak ide itu.Ia kemudian memilih untuk melepas sepatunya lalu merangkak naik ke atas ranjang dan bergabung di bawah selimut yang sama dengan gadis itu,Irwan mendekap erat gadis itu sambil menghirup dalam-dalam aroma buah-buahan segar yang menguar dari tubuhnya.
"Selamat tidur,sayang ku Riana!" kemudian tak lama ia ikut terlelap tidur dan akan terbangun sebelum ayam mulai berkokok,begitulah aktivitas yang selalu ia lakukan setiap malam.Entah sampai kapan karna dia belum siap melepaskan Riana dan benar-benar ingin memiliki gadis itu selamanya.
****
Sepulang kuliah Melly sempatkan diri untuk menemui Tante Hana di rumahnya,kemarin ia sempat drop lagi bahkan sampai harus masuk ke rumah sakit dan di rawat tiga hari di sana.
Melly membawakan sekeranjang buah mangga sebagai buah tangan,ia langsung mengupas buah mangga itu agar dapat langsung di nikmati oleh Tante Hana.Sepanjang mengupas mangga, Melly terus berceloteh riang untuk menghibur tante Hana yang sedang berbaring di sampingnya,sesekali Tante Hana tersenyum mendengarkan ocehan gadis ceriwis itu.
"Pokoknya Tante kita wajib banget datang ke situ,kemarin mamah Melly baru dari sana.Katanya tempatnya bagus,makanannya juga enak.Melly kan jadi ngiri" Melly menceritakan sebuah tempat makan yang sedang viral di dunia maya akhir-akhir ini.
"Jauh ya Mell?" tanya Hana.
"Enggak kok,pake mobil paling satu jam.Cuma emang akses jalannya aja yang masih jelek.Tapi kebayar kok sama pemandangannya." Melly sangat ingin membawa Hana pergi berjalan-jalan keluar agar pikirannya bisa sedikit fresh "Coba buka dulu mulutnya tante aaaa" Hana menerima suapan buah mangga itu dan mengunyahnya pelan,kepalanya mengangguk-angguk tanda sangat menikmatinya.
"Riana juga suka buah mangga" ucap Hana lirih.
Senyum Melly yang sejak tadi begitu lebar seketika perlahan luntur,setiap hari sampai saat ini, ia juga sangat sedih kehilangan sahabatnya itu tapi ia berusaha menyembunyikan rasa sedihnya dari banyak orang.
"Iya nanti Melly beliin lagi mangganya yang banyak" suaranya bergetar tanpa bisa ia tahan "Tante juga harus masakin Rendang kesukaan Riana,dia bisa ngabisin nasi sebakul kalo di sodorin nasi sama rendang" Melly terkekeh pelan,walau tertawa air mata turun begitu saja dari pipinya.Hana wanita paruh baya itu segera memeluk Melly yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri, mereka saling menguatkan di tengah jalan buntu yang mereka hadapi tetap harus ada ada harapan dan semangat yang tak boleh padam.
"Riana,kami pasti bisa menemukan kamu" gumam Hana dalam hati.
*****